April 17, 2025

Melongok Kembali Para Empu Bugis Makassar


Sulawesi Selatan tak hanya menyimpan kekayaan alam, tetapi juga warisan spiritual dalam bentuk keris yang menyatu dengan jiwa pemiliknya. Buku Melongok Kembali Para Empu Bugis Makassar merupakan sebuah kajian budaya yang menggali secara mendalam warisan leluhur masyarakat Bugis-Makassar, khususnya tentang keris atau kawali sebagai simbol budaya, spiritualitas, dan identitas. Dengan memadukan narasi historis, mitologi, dan wawancara langsung dengan pelestari budaya, buku ini menyingkap lapisan-lapisan makna di balik eksistensi keris Bugis-Makassar yang selama ini belum banyak diketahui khalayak luas.

Dimulai dari mitos Tumanurung sebagai manusia pertama yang dipercaya turun dari kayangan dan menetap di Luwu, buku ini menempatkan Kerajaan Luwu sebagai pusat awal peradaban Sulawesi Selatan. Dari kerajaan inilah lahir karya epik Sureq Galigo, naskah sastra yang diklaim lebih tebal dari Mahabharata, menjadi bukti kejayaan literasi Bugis kuno sejak abad ke-12.

Lebih dari sekadar peninggalan sejarah, keris dalam budaya Bugis-Makassar bukan hanya alat pertahanan atau senjata, melainkan benda pusaka yang diyakini menyimpan pamor atau aura magis. Setiap jenis keris—seperti sambang, toasi, gecong, dan tappi—memiliki karakteristik dan fungsi spiritual yang berbeda. Ada yang diyakini mampu menolak bala, mendatangkan rezeki, menjaga rumah dari kejahatan, hingga memperkuat kharisma pemiliknya di hadapan pejabat atau penguasa.

Melalui kesaksian Putra Jaya, seorang kolektor dan penjaga lebih dari 160 keris pusaka, pembaca diperkenalkan pada berbagai dimensi keris Bugis-Makassar. Ia menjelaskan bahwa keris bukan sekadar benda logam, melainkan hasil tempaan spiritual. Banyak di antaranya bahkan tidak terdeteksi oleh detektor logam karena dibuat dari batu meteor yang telah mengeras. Pembuatan keris tidak bisa dilakukan sembarangan; harus melalui prosesi ritual yang khusyuk, penuh zikir, dan hanya dilakukan oleh panrita (empu) sejati. Tanpa ritual, keris hanya sebatas benda mati tanpa pamor.

Selain itu juga mengangkat keyakinan masyarakat Bugis-Makassar bahwa keris adalah "saudara kembar" yang harus selalu menyatu dengan pemiliknya—bahkan saat tidur. Di antara kalangan bangsawan dan aparat keamanan, keris dianggap lebih sakral dan melindungi dibanding senjata modern.

Buku ini diambil di aplikasi https://ipusnas2.perpusnas.go.id untuk mengajak pembaca mengenal lebih dekat warisan leluhur Sulawesi Selatan, tetapi juga menggugah kesadaran tentang pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi yang sarat nilai spiritual, estetika, dan sejarah. 


MELONGOK KEMBALI PARA EMPU BUGIS MAKASSAR
Penulis : Litbang Kompas, Rendra Sanjaya
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tempat Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2021
ISBN 978-623-241-892-9 (PDF)

No comments:

Post a Comment