Showing posts with label Bahasa dan Sastra. Show all posts
Showing posts with label Bahasa dan Sastra. Show all posts

May 9, 2025

Obrolan Urban: Tiada Ojek di Paris Karya Seno Gumira Ajidarma

Obrolan Urban: Tiada Ojek di Paris Karya Seno Gumira Ajidarma


Oleh: Nabila Wulandani


Obrolan Urban: Tiada Ojek di Paris Karya Seno Gumira Ajidarma


Pendahuluan

Obrolan Urban: Tiada Ojek di Paris karya Seno Gumira Ajidarma muncul sebagai kumpulan esai dan kisah pendek yang mengeksplorasi dinamika kota dengan sudut pandang segar. Terbit pada tahun 2015 oleh Penerbit Mizan buku ini menggabungkan pengalaman personal penulis saat menjelajah kota Paris dengan refleksi tentang realitas urban Indonesia. Judul yang menggelitik memberi sinyal bahwa apa yang biasa ditemukan di Jakarta terasa asing di kota mode dunia. Pembaca diajak menyelami obrolan ringan yang dibumbui keheranan, tawa, sekaligus kritik sosial. Gaya penceritaan Seno yang lugas dan jenaka membuat setiap kata terasa akrab dan memancing rasa ingin tahu lebih dalam.

Seno menghadirkan suasana kafe dan sudut jalan Paris sebagai panggung dialog antara dirinya dan berbagai narasumber tak terduga. Setiap halaman menampilkan potret kota global yang ideal dihadapkan dengan kondisi urban di Indonesia yang ramai namun kompleks. Tema perpindahan, mobilitas, dan budaya lokal menjadi benang merah yang mengikat bab demi bab. Melalui kombinasi esai, catatan perjalanan, dan fiksi pendek penulis menciptakan ritme baca yang dinamis. Sinopsis ini akan mengurai bagaimana buku ini membentuk gambaran urban penuh warna.


Isi

Bagian awal buku menampilkan cerita tentang ketika Seno mencari ojek yakni transportasi ikonik Jakarta, namun hanya menemukan trotoar berlapis dan tak satu pengendara pun. Kejadian sederhana ini berkembang menjadi renungan tentang identitas kota dan batasan budaya. Penulis lalu menelusuri sudut-sudut Paris, mencatat kebiasaan warga, arsitektur, dan cara berinteraksi di ruang publik. Interaksi dengan barista kafe, sopir metro, hingga gelandangan kota memunculkan beragam suara urban. Semua kisah diceritakan tanpa kesan menggurui, tetapi justru mengundang pembaca ikut mengamati.

Di bagian tengah pembaca disuguhkan fragmen cerita yang menggabungkan humor dan ketajaman kritik sosial. Seno menggambarkan antrean panjang di museum serta kebiasaan orang Paris nongkrong di trotoar sambil menyeruput kopi. Kemudian ia membandingkan rutinitas ini dengan keramaian terminal ojek di Jakarta yang penuh hiruk pikuk tawar-menawar harga. Cerita-cerita singkat itu menegaskan bahwa tiap kota punya “ritme” sendiri yang membentuk perilaku warganya. Gaya bahasa penulis yang ringan memudahkan pembaca merenungkan persamaan dan perbedaan budaya.

Keunikan Obrolan Urban terletak pada cara Seno menyulap pengalaman harian menjadi obrolan yang hangat dan berlapis makna. Ia tidak sekadar bercerita tentang perbedaan kota, tetapi juga menyorot kesamaan kebutuhan manusia akan kebersamaan dan kecepatan hidup. Perpaduan esai, catatan perjalanan, dan fiksi pendek menciptakan struktur antologi yang hidup. Judul-judul bab sering kali provokatif sehingga memancing senyum dan tanya. Pilihan kata sederhana namun kaya gaya sastra membuat buku ini layak dibaca ulang.


Penutup

Secara keseluruhan Obrolan Urban: Tiada Ojek di Paris menawarkan pengalaman baca yang menyegarkan sekaligus menggugah kesadaran tentang makna “kota” dalam kehidupan modern. Buku ini cocok bagi siapa saja yang ingin memandang ulang rutinitas sehari-hari lewat lensa penulis kreatif. Melalui kisah ringan dan peka, pembaca diundang untuk menemukan keajaiban kecil di kotanya sendiri. Sinopsis ini diharapkan memicu minat untuk menyusuri lembar demi lembar obrolan urban yang penuh kejutan. Buka buku ini dan biarkan Seno membawa Anda berkeliling dunia tanpa batas.


Buku ini dapat pembaca temukan pada koleksi deposit yang berada di lantai dua Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan yang berada di Jalan Alauddin Kota Makassar. 


Informasi Buku

Judul Buku: Obrolan Urban Tiada Ojek di Paris 
Karya: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Penerbit Mizan
Tahun: 2015


Buku Peyempuan 2 Karya @peyemp

Buku Peyempuan 2 Karya @peyemp


Oleh: Nabila Wulandani


Buku Peyempuan 2


Pendahuluan

Buku Peyempuan 2 karya @Peyemp yang terbit pada tahun 2014 oleh Transmedia Pustaka membawa pembaca ke dalam ruang narasi yang penuh warna emosi perempuan modern. Sejak halaman pertama pembaca disambut dengan suara hati tokoh utama yang jujur dan terbuka tentang kerentanan dan kekuatan diri. Gaya penulisan lugas namun puitis membuat setiap kalimat mudah dicerna namun menyimpan makna mendalam. Tema-tema seperti cinta luka dan kebebasan batin diangkat secara personal sehingga terjalin ikatan emosional yang kuat antara teks dan pembaca. Sinopsis ini akan memandu pembaca mengenal alur dan nuansa utama yang ditawarkan oleh kumpulan kisah ini.

Setiap cerita dalam buku ini berdiri sendiri sekaligus saling melengkapi dalam peta perjalanan jiwa perempuan. Pembaca akan menemui dialog yang terasa seperti bisikan teman dekat sekaligus luapan pikiran terdalam. Narasi berjalan tanpa polesan berlebihan namun tetap memikat melalui pilihan kata yang padat. Kejujuran penulis dalam menggambarkan luka dan harapan membuat bacaan terasa otentik. Sinopsis berikut akan menguraikan garis besar isi cerita dan rasa unik yang ditawarkan buku ini.


Isi

Pada cerita pertama pembaca diajak memahami kegelisahan tokoh utama yang baru saja keluar dari hubungan yang menyakitkan. Emosi duka dan rindu tergurat dalam setiap dialog singkat dan monolog batin. Lembaran berikutnya menampilkan kegembiraan sesaat saat menemukan cinta yang tulus dan kegamangan menghadapi harapan baru. Kerumitan perasaan ditangani dengan bahasa yang sederhana sehingga pembaca dapat merasakan denyut nadi karakter. Alur cerita bergulir cepat namun tidak memberi kesan terburu buru.

Di bagian tengah buku tema luka masa lalu dan upaya berdamai semakin menguat. Kisah tentang persahabatan perempuan muncul sebagai ruang penawar sekaligus cermin untuk melihat diri sendiri. Penulis menampilkan momen-momen kecil seperti tawa di kedai kopi atau tangis di bawah hujan yang menyimpan kekuatan penyembuhan. Interaksi tokoh terasa alamiah dan membumi sehingga pembaca seolah hadir di samping mereka. Transisi antara nuansa sendu dan cerah dikelola dengan rapi sehingga suasana hati pembaca berayun lembut.

Keistimewaan Peyempuan 2 terletak pada keberanian menyuarakan sisi rapuh perempuan tanpa menghilangkan kecemerlangan jiwa mereka. Setiap cerita ditutup dengan kalimat puitis yang memberi ruang refleksi panjang. Penulis menggunakan metafora sederhana seperti bunga layu dan jejak di pasir untuk menunjukkan proses pemulihan hati. Gaya singkat dan lugas membuat buku ini cocok dibaca ulang berkali kali. Kealamiahan dialog dan penggambaran suasana menjadikan setiap kisah terasa dekat dengan pengalaman banyak pembaca.


Penutup

Secara keseluruhan Peyempuan 2 menawarkan pengalaman membaca yang menyentuh sekaligus menguatkan. Buku ini cocok bagi siapa saja yang ingin menemani perjalan batin perempuan dengan segala kompleksitasnya. Melalui narasi yang padu dan koheren pembaca diajak merenung tentang cinta luka dan keberanian untuk terus melangkah. Sinopsis ini diharapkan menumbuhkan keingintahuan untuk menyelami setiap kisah yang tersaji. Buka halaman awal dan biarkan Peyempuan 2 menjadi teman setia dalam mengeksplorasi denyut emosi dan harapan.


Buku ini dapat pembaca temukan pada koleksi deposit yang berada di lantai dua Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan yang berada di Jalan Alauddin Kota Makassar. 


Informasi Buku

Judul Buku: Peyempuan 2
Karya: @Peyemp
Penerbit: Transmedia Pustaka
Tahun: 2014



Buku Memompa Ban Kempis: Esai Kearifan Pemimpin Karya Sukardi Rinakit

Buku Memompa Ban Kempis: Esai Kearifan Pemimpin Karya Sukardi Rinakit


Oleh: Nabila Wulandani


Buku Memompa Ban Kempis: Esai Kearifan Pemimpin


Pendahuluan

Buku Memompa Ban Kempis karya Sukardi Rinakit menghadirkan kumpulan esai yang menelaah kepemimpinan Indonesia dengan pendekatan metaforis dan reflektif. Terbit pada 2013 oleh Penerbit Buku Kompas buku ini menggunakan gambaran ban kempis sebagai simbol kepemimpinan yang kehilangan daya dorong. Sejak paragraf awal pembaca disadarkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar memimpin tetapi juga memelihara kepercayaan dan visi. Gaya penulisan penulis lugas namun hangat sehingga pembaca umum mudah memahami berbagai tema kompleks. Sinopsis ini akan menguraikan struktur isi esai ke dalam pendahuluan inti dan keunikan cara penulis menyampaikan gagasan.

Sukardi Rinakit membuka setiap esai dengan contoh konkret dari dinamika sosial politik yang sedang berlangsung di Indonesia. Pembaca diajak mengamati fenomena ban kempis di jalan raya sebagai metafora situasi politik yang stagnan. Melalui cerita singkat tentang perjalanan seorang pemimpin dan hambatan di jalan, penulis memancing rasa penasaran. Teknik ini membuat setiap pembaca merasakan langsung tekanan dan kebutuhan akan “memompa” semangat perubahan. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa esai ini bukan sekadar teori tetapi panduan praktis.


Isi

Bagian pertama berfokus pada kearifan dasar kepemimpinan yaitu integritas dan keberanian moral. Penulis menegaskan bahwa ban kempis akan tetap kempis jika tidak ada pemimpin yang berani mengoreksi kesalahan sendiri. Contoh tokoh berani dalam sejarah Indonesia diangkat untuk mengilustrasikan pentingnya keteladanan. Uraian tentang bagaimana seorang pemimpin mendengarkan rakyat menjadi pijakan argumen. Esai ini mengajak pembaca membayangkan bagaimana integritas dapat “memompa” kepercayaan publik.

Pada bagian selanjutnya pembaca diajak mengeksplorasi dimensi empati dan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan. Sukardi Rinakit memaparkan kisah nyata kegagalan kebijakan yang terjadi karena pemimpin abai pada suara bawahannya. Narasi singkat namun padat makna ini menegaskan empati sebagai pompa yang menjaga ban tetap kencang. Penulis juga mengupas cara memadukan nilai tradisi lokal dengan tuntutan modernitas. Ulasan tersebut menunjukkan koherensi antara teori dan penerapan dalam konteks pelayanan publik.

Keunikan buku ini terletak pada kombinasi gaya penulisan metaforis dan contoh lapangan yang aktual. Penulis tidak menggunakan jargon akademik yang rumit sehingga pembaca dari berbagai latar mudah mengikuti. Setiap judul esai mengundang rasa penasaran dengan kata kunci sederhana namun menggugah. Struktur ringkas dan paragraf pendek memudahkan pembaca menangkap poin penting tanpa merasa terbebani. Gaya seperti percakapan santai namun sarat wawasan menjadi ciri khas yang membedakan karya ini.


Penutup

Memompa Ban Kempis menegaskan bahwa kualitas kepemimpinan akan menentukan laju kemajuan suatu bangsa. Melalui kumpulan esai ini pembaca diajak tidak hanya bersikap kritis tetapi juga aktif mencari solusi. Buku ini cocok dibaca oleh pemimpin formal maupun informal serta siapa saja yang peduli pada masa depan Indonesia. Sinopsis ini diharapkan memberikan gambaran jelas mengenai ragam gagasan dan kekuatan narasi Sukardi Rinakit. Saat karya ini dibuka pembaca akan menemukan inspirasi untuk terus “memompa” semangat kepemimpinan yang lebih baik.


Bagi pembaca yang ingin menjelajahi cerita dalam Memompa Ban Kempis: Esai Kearifan Pemimpin, buku ini dapat dijumpai di koleksi deposit lantai dua Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan yang terletak di Jalan Alauddin, Kota Makassar. 


Informasi Buku

Judul Buku: Memompa ban kempis: esai kearifan pemimpin
Karya: Sukardi Rinakit
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tahun: 2013

May 6, 2025

Buku Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu Karya A.S. Laksana

Buku Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu Karya A.S. Laksana


Oleh: Nabila Wulandani


Buku Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu Karya A.S. Laksana


Pendahuluan

Buku Murjangkung: cinta yang dungu dan hantu-hantu karya A.S. Laksana menyajikan kumpulan cerpen yang berani memadukan komedi absur dan kisah gaib. Terbit pada 2013 oleh Gagas Media, buku ini membawa pembaca menelusuri sudut-sudut kehidupan yang tampak biasa tetapi menyimpan keanehan. Setiap cerita diawali dengan situasi sehari‑hari yang perlahan berubah menjadi pengalaman mistis. Gaya bahasa penulis ringan dan menggelitik, sehingga pembaca merasa terhibur sekaligus penasaran. Sinopsis ini akan mengupas struktur narasi, keunikan tematik, dan daya tarik emosi yang ditawarkan buku ini.

Dari kisah pematung pemabuk hingga hantu Jawa yang nyeleneh, Murjangkung memancing tawa dan ketegangan secara bergantian. Suasana desa dan kota dijalin dengan elemen folklor lokal yang otentik. Dialog sederhana sering tiba‑tiba menukik ke dalam absurditas penuh kejutan. Unsur cinta yang dungu muncul lewat pilihan tokoh yang lucu sekaligus mengundang simpati. Pembaca diajak mempertanyakan batas kenyataan saat senyum berubah cemas dalam sekejap.


Isi

Tema sentral buku ini adalah relasi manusia dengan takdir dan kenangan masa lalu yang tak pernah benar‑benar hilang. Dalam cerpen “Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut” penulis menggabungkan legenda pendirian kota dengan humor slapstick. Sementara “Perempuan dari Masa Lalu” menampilkan romansa sendu yang diselingi penampakan bayangan hantu. Alur setiap cerita berlangsung cepat, berpindah dari adegan humor ke kilasan misteri tanpa jeda panjang. Pergeseran mood tersebut menjaga ketertarikan pembaca.

Struktur episodik Murjangkung membuat tiap cerita berdiri sendiri tetapi tetap terhubung lewat simbol kunci seperti kentongan, patung setengah jadi, dan bekas jejak kaki di tanah lembap. Gaya realism magic dipakai secara halus sehingga elemen gaib terasa wajar. Transisi antara dunia nyata dan dunia hantu membentuk koherensi tema. Penulis juga menebar petunjuk kecil dalam dialog yang kemudian terjawab di akhir cerpen. Pengulangan tokoh sampingan menambah rasa kedekatan dalam keseluruhan kumpulan.

Keunikan Murjangkung terletak pada keberanian menyatukan kritik sosial, komedi nyleneh, dan horor ringan dalam satu napas cerita. A.S. Laksana menghindari horor murahan dengan menitikberatkan pada kejutan psikologis dan humor gelap. Elemen budaya Jawa dan peristiwa kontemporer dipadu tanpa terkesan dibuat‑buat. Dialog tokoh terdengar sangat alami meski membahas hal‑hal absurd. Pilihan judul setiap cerpen kerap bersifat provokatif sehingga memancing interpretasi ganda.


Penutup

Secara keseluruhan Murjangkung: cinta yang dungu dan hantu-hantu menghadirkan pengalaman baca yang segar, mengundang tawa sekaligus ketegangan. Kumpulan cerpen ini cocok bagi pembaca yang menggemari cerita pendek penuh kejutan dan nuansa folklor modern. Setiap lembar menawarkan detail kecil yang menumbuhkan rasa ingin tahu hingga halaman terakhir. Sinopsis ini diharapkan menggugah keinginan untuk menyelami lapis‑lapis makna dan keunikan narasi A.S. Laksana. Buka buku ini dan biarkan Murjangkung membawa Anda menyusuri jalan cerita penuh warna.


Buku ini dapat pembaca temukan pada koleksi deposit yang berada di lantai dua Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan yang berada di Jalan Alauddin Kota Makassar. 


Informasi Buku

Judul Buku: Murjangkung: cinta yang dungu dan hantu-hantu
Karya: AS Laksana
Penerbit: Gagas Media
Tahun: 2013


Buku Latopajoko dan Anjing Kasmaran Karya Badaruddin Amir

Buku Latopajoko dan Anjing Kasmaran Karya Badaruddin Amir 


Oleh: Nabila Wulandani

Sampul Buku Latopajoko dan Anjing Kasmaran


Pendahuluan

Buku Latopajoko dan Anjing Kasmaran karya Badaruddin Amir memadukan tradisi Bugis dengan imajinasi puitis dalam bentuk kumpulan cerpen. Terbit pada tahun 2007 oleh AKAR Indonesia kumpulan ini menghadirkan suasana pedesaan Sulawesi Selatan yang hidup melalui deskripsi alam dan kebiasaan masyarakat setempat. Setiap judul cerita mewakili sisi berbeda dari relasi manusia dengan lingkungan dan makhluk lain. Gaya bahasa penulis lugas namun kaya metafora sehingga mudah dinikmati oleh pembaca umum. 

Pada awal halaman pembaca disuguhi adegan sungai yang tenang namun menyimpan rahasia dan konflik. Suara gemericik air dan aroma lumpur menciptakan suasana magis yang sederhana namun kuat. Tokoh utama dalam judul “Latopajoko” membuka kisah dengan ujian kesetiaan yang dramatis. Kalimat pembuka cerpen-cerpen berikutnya dirancang untuk memancing rasa penasaran dan empati.

 

Isi

Alur cerita dalam buku ini episodik tetapi tetap menjaga kesinambungan tema kesetiaan keberanian dan kerinduan. Dalam “Latopajoko” sang towarani diuji dalam duel batin menghadapi Lataddangpali sambil mempertahankan sumpah setia kepada raja. Adegan pertarungan digambarkan sinematik dengan detail gerak tubuh suara keris dan hingar alam malam. Kehadiran anjing kasmaran sebagai teman setia menjadi metafora kesetiaan tanpa syarat. Pergulatan tokoh-tokoh sederhana seperti petani dan nelayan menambah kedekatan emosional dengan pembaca.

Selain kisah kepahlawanan cerpen-cerpen lain menyuguhkan warna berbeda seperti romansa sederhana dan kilasan realisme magis. Pada “Pipit Kecil Bermata Sayu” dan “Tahi Lalat Suster Ezra” pembaca menemukan kegelisahan cinta yang lembut namun menggugah. Elemen gaib muncul tanpa penjelasan berlebihan sehingga suasana misteri tetap terjaga alami. Deskripsi alam pedesaan tidak hanya latar tetapi ikut berbicara melalui simbol jejak kaki embun pagi atau bisikan angin. Transisi antara tawa ringan dan ketegangan mistis membuat pembacaan selalu segar.

Keunikan utama buku ini terletak pada perpaduan cerita folklor lokal dengan bahasa yang ringkas dan kuat. Metafora alam berperan ganda sebagai penanda suasana hati tokoh dan sebagai jembatan makna budaya. Penulis mampu menerjemahkan nilai tradisi Bugis menjadi narasi universal tanpa kehilangan keotentikan. Setiap cerpen menampilkan dialog sederhana yang padat makna dan menimbulkan resonansi emosional panjang. Penyusunan bab dan judul cerpen yang simbolis memancing interpretasi berlapis bagi pembaca.


Penutup

Latopajoko dan Anjing Kasmaran menegaskan bahwa sastra lokal dapat tampil memikat lintas generasi dan latar belakang. Kumpulan cerpen ini layak dibaca siapa saja yang tertarik pada kisah persahabatan keberanian dan nuansa mistis. Gaya penceritaan Badaruddin Amir memastikan pembaca tidak sekadar terhibur tetapi juga diajak merenung tentang makna kesetiaan dan takdir. Sinopsis ini diharapkan menjadi pintu gerbang yang memancing keingintahuan untuk menelusuri tiap cerita lebih jauh. Saat lembar pertama dibuka pembaca akan menemukan kedalaman makna yang terus berkembang hingga halaman terakhir.


Bagi pembaca yang ingin menjelajahi keajaiban kisah Latopajoko dan Anjing Kasmaran, buku ini dapat dijumpai di koleksi deposit lantai dua Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan yang terletak di Jalan Alauddin, Kota Makassar. 

Informasi Buku

Judul Buku: Latopajoko dan Anjing Kasmaran  
Karya: Badaruddin Amir  
Penerbit: AKAR Indonesia  
Tahun: 2007

April 7, 2020

CAP

Lebih dari seribu tahun, cap digunakan di masyarakat Indonesia untuk melambangkan wewenang. Konon raja Sriwijaya menggunakan cap dengan ukiran Sanskerta; banyak cincin stempel emas dengan tulisan Jawa Kuna berasal dari abad ke-9 hingga abad ke-12 telah di gali; dan arsip istana Cina merekam penyerahan cap perak kepada sultan Pasai dan Haru abad ke-15.

Rekaman cap Indonesia tertua ada pada naskah milik Sultan Alauddin Riayat Syah dari Aceh (1589-1604), ditemukan pada izin perdagangan dari tahun 1602. Namun, meskipun beribu-ribu cap telah ditemukan pada dokumen naskah Indonesia, kebanyakan berasal dari abad ke-18 dan ke-19, hanya sedikit dari capnya –disebut matris cap untuk membedakan mereka dari teraan cap –yang masih ada. Matris cap Indonesia dari perak, namun kuningan atau batu juga digunakan, cincin stempel dari batu setengah mulia dipasang pada logam.

Prasasti
Cap merupakan tanda keresmian, di Indonesia dokumen tempat teraan cap itu ditemukan dengan sendirinya sering ditulis dalam bahasa Melayu, bahasa perdagangan, perniagaan, dan diplomasi di Nusantara. Cap Melayu bagian dari cap Islam yang lebih luas dan ukirannya ditulis dalam bahasa Arab atau Melayu, huruf Jawi. Kadang-kadang digabungkan dengan aksara Romawi atau aksara daerahseperti Bali, Bugis, Batak, dan Jawa.
Matris cap Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah dari Aceh, 1296 H
(1878)

Kata-kata pada cap terdiri dari kombinasi nama pribadi, gelar, tanggal, tempat, dan ungkapan keagamaan seperti al-wathiq bin-Allah (ia yang menempatkan kepercayaan pada Allah). Cap Melayu selalu diukir dengan relief, dengan tulisannya ditorehkan ke dalam cap, dan ketika di cetak menghasilkan tulisan putih pada latar hitam atau berwarna ketika diterakan. Cap Melayu tertua dikenal salah satu yang tercanggih: cap Sultan Alauddin Riayat Syah dari Aceh diukir dengan relief timbul, satu-satunya cap Melayu diketahui demikian.

Bentuk
Cap Melayu mungkin yang terindah di antara semua cap Islami dalam bentuk dan memperlibatkan derajat hiasan yang tak ditemukan di tempat lain. Bentuknya mirip dengan ragam hias pada kerajinan perak Indonesia, pengaruh terkuatnya yaitu ragam hias daun teratai. Bentuk paling lazim dari cap Melayu adalah lingkaran dan lingkaran berdaun, biasanya dengan delapan daun.

Ciri-ciri wangsa dan daerah berlainan dibedakan dalam banyak bentuk segel Melayu, dan kadang-kadang bentuknya saja cukup untuk mengenali asal segel itu. Misalnya, cap sultan Pontianak berbentuk segi delapan, para penguasa Bima kebanyakan menggunakan cap oval. Rancangan cap Melayu yang paling terkenal dan menonjol adalah cap sikureueng lapis sembilan milik sultan Aceh –cap bundar delapan lingkaran besar di pusatnya berhias nama sultan yang memerintah, dikelilingi oleh delapan lingkaran lebih kecil yang memuat nama pendahulunya –dibuat meniru cap kaisar Moghul di India.
Teraan cap Melayut tertua aceh ± 1602.
Persetujuan perbatasan kabupaten Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta  1830 memuat delapan segel
Cap Jawa dan cap Bali lebih biasa daripada cap Melayu, bentuk yang paling lazim ialah segi delapan, lingkaran, dan oval, dengan rangka bertitik-titik atau bertakik sebagai satu-satunya unsure hiasan. Kebanyakan cap Melayu bergaris tengah antara 40 dan 70 milimeter, sedangkan cap Jawa dan cap Bali umumnya sedikit lebih kecil.

Wahana Pencetakan
Wahana yang paing lazim digunakan cap Indonesia untuk dicetakkan di atas dokumen kertas adalah jelaga. Cara peneraannya sebagai berikut: matris cap diminyaki dan dipegang di atas api hingga jelaga terbentuk. Cap kemudian dicapkan ke dokumen, yang kadang-kadang sudah dilembabkan dahulu agar cetakannya lebih nyata.

Cap jelaga di temukan di seluruh kepulauan Indonesia, namun wahana lain seperti tinta –terutama merah, tetapi kadang-kadang juga hijau, biru, coklat, dan ungu –dan “malam” atau lilin juga digunakan. Penggunaan “malam”, biasanya berwarna merah atau merah tua, dapat dilihat sebagai tanda pengaruh Eropa, khususnya di sekitar Jawa, termasuk Banten, Madura, dan Bali. Di Bali cap langsung diterakan pada lontar, tanpa menggunakan tinta atau pewarna apapun.

Posisi
Surat-surat Melayu dan Indonesia lainnya tidak ditulis oleh si pengirim sendiri, melainkan oleh jurutulis profesional, dan alih-alih memuat teraan cap tandatangan sebagai tanda keaslian. Posisi cap pada surat penting, artinya tergantung status relatif dari kudua orang yang bersurat-suratan. Pada surat antara dua orang yang setingkat pangkatnya, posisi cap sejajar dengan awal baris pertama. pada umumnya, semakin terhormat si pengirim, semakin tinggi dan semakin ke kanan posisi segelnya pada surat. Demikian pula, apabila surat dikirim oleh lebih dari satu orang, cap mereka  ditempatkan sesuai dengan kedudukan masing-masing pada surat.

Indonesia Heritage: BAHASA DAN SASTRA
Penulis: L. K. Ara, Harry Aveling, Henri Chambert-Loir, et.all
Penerbit: Buku antar Bangsa untuk Grolier International, Inc
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2002
ISBN: 979-8926-23-4

LUTUNG KASARUNG



Salah satu pantun Sunda yang paling sering diceritakan adalah Lutung Kasarung, kisah tentang “Lutung dalam Kutukan”. Dengan syair yang panjangnya lebih dari 1.000 baris, kisah ini berasal dari sekitar abad ke-15. Pantun ini begitu popular sehingga menjadi bahan film cerita pertama yang di buat pada tahun 1926.

Cerita
Guriang Tunggal dan Sunan Ambu, ayah dan ibu dewa-dewa, memiliki seorang putra bernama Guru-Minda. Ketika sang remaja yang ganteng itu mencapai usia akil baliq, ia jatuh cinta kepada ibunya. Sebagai hukuman, Ambu mengutus anaknya ke dunia. Sebagai hukuman, Ambu mengutus anaknya ke dunia menyamar sebagai lutung, monyet hitam berekor panjang yang aslinya dari Jawa dengan wajah yang luar biasa miripnya dengan manusia serta rambut panjang dan tebal.

Tak lama kemudian sang lutung menemukan dirinya di hutan lebat dan diburu oleh pemburu, Aki Panyumpit, yang telah diperintahkan oleh raja untuk menangkap lutung. Tampaknya sang raja telah pergi bertapa dan ini satu-satunya daging yang beloh dimakannya. Ia memberi kuasa kepada yang tertua dari ketujuh putrinya, Purba Rarang, untuk mengurus kerajaannya. Betapa pun kerasnya ia berusaha, Aki tampaknya tak mampu menembus kulit sang lutung dengan sumpitannya.

Sang lutung memohon dilepaskan dan sang pemburu heran bertemu dengan lutung yang dapat berbicara, setuju mengangkatnya sebagai anaknya. Malam itu, sewaktu Aki dan istrinya tidur, sang lutung memanggil pasukan bujangga ibunya, makhluk kayangan yang berpengetahuan luas dan berkekuatan besar, membangun istana di sekelilingnya. Di pagi hari, Aki berterima kasih atas ganjaran itu namun putus asa ketika menyadari bahwa ia masih tetap harus membawa “anaknnya” untuk meja makan kerajaan.

Namun, baik jagal kerajaan maupun anjing pemburunya yang ganas tak dapat membunuh sang lutung, maka raja memberikan monyet itu kepada putrinya, Ratu Purba Rarang. Purba Rarang adalah makhluk yang irihati dan jahat. Ia telah mengusir adiknya yang cantik, Putri Purba Sari, ke hutan (setelah menghitamkan wajahnya dengan arang dan lemak) karena dituduh menarik perhatian suaminya, Pangeran Indrajaya. Pada  akhirnya, ratu yang congkak itu bosan dengan olok-olok sang lutung yang nakal dan mengirimkannya kepada adiknya di hutan. Purba Sari yang baik hati dan menyambut sang lutung dengan baik dan membagi makanannya yang serba sedikit. Sebagai ganjaran, sang lutung kembali meminta pembantu ibunya untuk membangun rumah bagus untuk Purba Sari, termasuk air mancur ajaib yang dapat menghilangkan warna hitam dari wajah sang putri. Sang ratu pun mendengar bahwa kecantikan adiknya telah pulih dan ia hidup dalam kemewahan dengan si monyet hitam.

Dengan sangat marah, ratu mengharuskan adiknya menjalani tujuh percobaan, harus diselesaikannya sebelum fajar menyingsing atau ia akan dipenggal. Pertama harus membangun bendungan, supaya Puba Rarang dapat pesta memancing di kolam dekat tempat itu. Dengan bantuan bujangga, pekerjaan itu selesai sebelum ratu bangun. Kemudian ia harus menemukan dan menjinakkan banteng putih, kerbau jantang liar yang sangat ganas. Tetap ketika pembantu kayangan membawa binatang itu, ia begitu jinak sehingga dapat diikat dengan dua helai rambut Purba Sari. Ia harus menghilangkan tujuh bukit dan menanaminya dengan padi, menyiapkan dan memasak biji-bijian itu (sang dewi-ibu sendiri, Sunan Ambu, yang melakukannya), menenun kain dan membuat kain tirai. Semua tugas diselesaikan dengan mudah berkat bantuan dewa-dewa.

Akhitnya, Purba Rarang menantang adiknya bertanding “kecantikan”. Sang ratu ingin tahu, suami siapa yang lebih ganteng: Pangeran Indrajaya atau sang lutung? Pada saat itu suara Sunan Amba terdengar dari atas, “Nak, anakku, waktunya telah tiba bagimu untuk tampil sebagai dirimu sendiri”. Berdirilah pangeran yang gagah, Guru Minda, dengan kulit seekor lutung tergeletak di kakinya. Purba Rarang mengakui kekalahannya, dicopot dari jabatan dan harta miliknya dan diperintahkan mengurus ayam. Indrajaya diperintakan bekerja sebagai pemotong rumput, pekerjaan terendah di istana.

Guru Minda dan Purba Sari menjadi raja dan ratu dan tertu saja hidup bahagia selamanya.

Indonesia Heritage: BAHASA DAN SASTRA
Penulis: L. K. Ara, Harry Aveling, Henri Chambert-Loir, et.all
Penerbit: Buku antar Bangsa untuk Grolier International, Inc
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2002
ISBN: 979-8926-23-4


March 17, 2020

AKSARA

Tradisi tulis di Indonesia, dengan sejarah hampir 2.000 tahun, diawali oleh prasasti beraksara Palawa India, kemudian diikuti oleh aksara baru yang yang telah dikembangkan untuk menulis pada lembaran daun tal yang telah dipersiapkan. Selama milenium kedua Masehi, semacam aksara setempat mulai berkembang dari aksara kuna ini, termasuk aksara Jawa dan Bali yang secara langsung meneruskan kaidah penulisan sebelumnya, aksara yang ditemukan di Sumatera dan Sulawesi Selatan, mewakili modifikasi gaya sebelumnya, diciptakan untuk memenuhi aneka kebutuhan setempat. Huruf Arab yang dengan Melayu (Jawi) memberi matra tambahan iluminasi/sungging yang kaya dan lebih meningkatkan keindahan naskah dari berbagai pelosok Nusantara.


1. Naskah ini merupakan hadiah dari Raja Buleleng kepada John Crawford, yang mengunjungi Bali pada tahun 1814. Teksnya ditulis dengan huruf-huruf Bali pada daun al yang telah diolah (Borasssu flabellifer). Naskahnya dilindungi oleh dua pilah kayu yang kaya ukiran bunga-bunga dan pola bangun berulang (inset).


2. Keahlian seni menulis dianggap salah satu keberhasilan pribadi yang tertinggi di lingkungan istana Jawa. Ini menyebabkan maraknya variasi gaya dalam penulisan serta berkembang pesatnya seni naskah bergambar, keduanya digambarkan dengan baik dalam gambar depan Babad Sultanan Utawi Mangkunegara, sebuahn dinasti istana Mangkunegara di Sala, Jawa Tengah.


3. Mads Lange, orang Denmark, berhasil mendapatkan kepercayaan raja adat Bali selama di pertengahan abad ke-19, dengan demikian memastikan dirinya memainkan peran kunci baik dalam perdagangan luar negeri maupun diplomasi.. Tahun 1852 Lange mengirimkan kelima surat ini kepada penguasa lima kerajan Bali selatan (Klungkung, Bangli, Mengwi, Gianyar, dan Tabanan) memohon izin tukang kebun John Henshal melakukan perjalanan melewati daerahnya.


4. Aksara Rencong dari Sumatera selatan mewakili aksara setempat lain yang digunakan untuk bahasa Melayu, Rejang, dan Kerinci. Naskah dari tradisi ini biasanya ditulis pada tabung bambu atau kertas kulit kayu dan mempunyai serangkaian topik yang luas. Naskah ini memuat Syair Perahu karya sufi Melayu dalam bentuk puisi, ditulis pada naskah dari kulit kayu bunut (Calophyllum spp) yang dilipat.


5. Evolusi huruf Jawi dari model Arab dirangsang oleh bangkitnya sekolah yang mengajarkan orang muda dari negeri-negeri perdagangan Islam di Nusantara seni membaca dan mengaji Qur'an. Penekanan khas pada kaligrafi halus dan sunggingliluminasi terlihat dalam halaman muka berganda ini pada karya sastra Melayu klasik berjudul Hikayat Isma Yatim, mungkin disalin di awal abad ke-19.


6. Aksara setempat juga ditemukan di Sulawesi Selatan, jenis yang berbeda berkembang untuk digunakan dengan bahasa Makassar dan Bugis. Huruf Makassar yang lebih tua lebih banyak hiasan dan berbunga, dan mungkin berasal dari leluhur yang berbeda dengan huruf Bugis. Naskah tentang sejarah Kerajaan Talloq ini mengungkapkan peran penting naskah silsilah dan sejarah, baik dalam tradisi tulisan Makassar maupun Bugis.


7. Penggunaan aksara Jawi dan Jawa menyebar ke banyak daerah di Nusantara, dan para pengguna satu jenis aksara mungkin mengenal jenis aksara lainnya. Contoh kosakata Melayu-Jawa-Madura ini pernah dimiliki oleh Pangeran Suta Adinigrat, pangeran dari Madura menganggap mampu baca-tulis dalam bahasa Melayu, Jawa, dan juga Madura akan membawa keuntungan nyata dalam diplomasi dan perdagangan. Naskah ini di koleksi oleh Sir Thomas Stamford Raffles, mungkin berasal dari akhir abad ke-18.



8. Sepucuk surat dari tangan Ahmad al-Salih, raja kerajaan Bugis di Bone yang memerintah pada akhir abad ke-18, mewakili contoh bagus huruf Bugis yang sederhana tapi anggun, yang perkembangannya dipercayai telah dipengaruhi oleh walasugi, motif tablet yang penting dalam kosmologi Bugis.(Indonesia Heritage: Bahasa dan Sastra, 2002: 14-15).


Indonesia Heritage: BAHASA DAN SASTRA
Penulis: L. K. Ara, Harry Aveling, Henri Chambert-Loir, et.all
Penerbit: Buku antar Bangsa untuk Grolier International, Inc
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2002
ISBN: 979-8926-23-4

March 5, 2020

ALAT TULIS PRIBUMI

Contoh tulisan tertua yang dikenal orang Indonesia adalah prasasti pada batu dan logam yang berasal dari abad ke-5 M. Materi Organik seperti daun palem, kayu, bambu, dan kulit kayu mungkin telah digunakan selama ini, namun jarang bertahan lebih dari beberapa abad di lingkungan tropis. Penggunaan kertas yang di impor, dihubungkan dengan penyebaran agama Islam sejak abad ke-13, serta memungkinkan dihasilkannya naskah bergambar bagus. Sehelai kertas Jawa khas, disebut dluwang, terbuat dari kulit kayu pohon murbei yang ditumbuk.

Berikut penjelasan singkat mengenai alat tulis pribumibatu, perunggu, logam mulia, lontara, palem nipah, bambu, dluwang, kulit pohon, kayu, kertas dan kain. terdiri dari batu, perunggu, logam mulia, lontara, palem nipah, bambu, dluwang, kulit pohon, kayu, kertas dan kain.

1. Batu. Contoh tertua tulisan yang masih ada di Indonesia adalah prasasti monumental yang diukir pada batu. Prasasti Yupa adalah prasasti Indonesia tertua, sekelompok yang terdiri atas tujuh tiang berukir huruf Palawa yang ditemukan di Kutai di Kalimantan Timur, dan di perkirakan berasal dari sekitar tahun 400M.                                                                                
2. Perunggu. Prasti pada logam biasanya piagam perungguh-masih ada sejak lebih dari seribu tahun yang lalu. Format horisontalnya menandakan daun palem mungkin merupakan alas tulis yang biasa digunakan pada waktu itu. Prasasti Munduan, berbahan logam tahun 903 M zaman Majapahit (abad ke 13 – 15), ditulis dalam Jawa Kuna.





3. Logam Mulia. emas dan perak juga digunakan sebagai alat tulis untuk urusab yang bermakna penting secara simbolis. Kipas upaca ini, bagian dari tanda-tanda kebesaran kerajaan Johor-Riau, memuat sebuah prasasti Melayu yang menyatakan asal-usul sultan dari Bukit Siguntang (dekat Palembang) serta keturunannya dari Istana Agung.

4. Lontara. Daun palem tal (Borassus flabellifer) yang telah dikeringkan dan diolah banyak digunakan selama berabad-abad di Jawa, Lombok dan Bali, dan hingga kini masih digunakan di Bali. Tulisan di Toreh di kedua sisi daun dengan pisau tajam, lalu hurufnya dihitamkan dengan jelaga. Halam-halamnya dirangkaikan dengan tali melalui lubang di tengah, dengan dua papan kayu sebagai penutup.


5. Pelam Nipah. Daun nipah (Nipa fruticans) lebih tipis daripada daunt al, dan biasanya ditulis dengan pena tinta atau kuas, alih-alih ditoreh denga pisau. Sebuah naskah Jawa Kuna dipercayai berasal dari dari abad ke-14 kini disimpang di Perpustakaan Universitas Leiden merupakan naskah organic tertua yang masih ada di Indonesia.


6. Bambu. Penggunaan bamboo sebagai alat tulis terutama digunakan di Sumatera di antara orang-orang Batak, Lampung dan Rejang. Bambo dibelah menjadi lembaran dan dirangkaikan seperti daun palem, atau dibiarkan dalam bentuk tabung, dan teksnya ditoreh dengan pisau tajam. Tembai (tulisan pada kulit bambu) dari Sumatera Selatan, ditulis dalam bahasa melayu dengan huruf rencong.

7. Dluwang. Dluwang merupakan alat tulis halus dengan penampilan “seperti kayu” terbuat dari kulit pohon murbei (Broussonetia papyrifera) yang dipukuli. Meski dikenal sebagai “kertas Jawa” , sebenarnya dluwang bukan kertas karena tidak terbuat dari endapan encer. Dluwang kebanyakan digunakan di Jawa untuk naskah-naskah berbahasa Arab, seperti pawukan atau primbon.







8. Kulit Pohon. Kulit bagian dalam pohon alim (acquilaria) digunakan oleh peramal Batak untuk naskah-naskah buku-lipat khusus mereka yang dikenal sebagai pustaha, memuat catatan tentang sihir dan ramalan. Beberapa pustaha memuat diagram magis dengan tinta merah dan hitam, serta mempunyai penutup kayu yang penuh hiasan dengan pengangan terbuat dari bamboo anyaman, rotan, atau tali.


9. Kayu. Prasasti kayu dalam bahasa Melayu atau Arab sering dipadukan ke dalam arsitektur rumah dan masjid di Indoensia. Ukiran huruf Arab ini terpasang sepanjang panel di atas jendela depan sebuah rumah di Aceh barat.


10. Kertas. Pembuatan kertas ditemukan oleh orang Tionghoa sekitar tahun 103 M, dan teknik itu menyebar kepada bangsa Arab di abad ke-7. Penggunaan kertas yang meluas di Indonesia dihubungkan dengan penyebaran Agama Islam dari abad ke-13 dan seterusnya, dan khususnya untuk naskah bahasa Arab, Melayu, Jawa, Madura, Bugis, dan Makassar. Ktersediaan kerta Eropa bermutu tinggi belakangan merangsang produksi naskah yang digambari dengan halus, seperti naskah Jawa Serat Babad Mangkuratan yang salin pada tahun 1813.


11. Kain. Pakian yang ditenun atau dicat dengan inskripsi Qur‘an dalam bahasa Arab dipakai sebagai jimat untuk perlindungan gaib, seperti kemeja dari Lombok, disulam dengan susunan kata berulang merupakan bagian dari kalimat syahadat Islam yang berbunyi “Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah rasul-Nya”. (Indonesia Heritage: Bahasa dan Sastra, 2002:  16 - 17).


Indonesia Heritage: BAHASA DAN SASTRA
Penulis: L. K. Ara, Harry Aveling, Henri Chambert-Loir, et.all
Penerbit: Buku antar Bangsa untuk Grolier International, Inc
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2002
ISBN: 979-8926-23-4

SULAWESI SELATAN

Lontaraq
Orang bugis, Makassar dan Mandar dari Sulawesi Selatan memiliki sastra yang kaya, ditulis dalam aksara pribumi milik bersama. Teks bertahan sebagai naskah (lontaraq) berasal dari abad ke-18 dan seterusnya. Karya historiografinya luar biasa, khususnya buku harian, dan epo Bugis yang di sebut La Galigo.

Tulisan dan Tradisi Lisan
Empat suku bangsa di Sulawesi Selatan: Saqdan Toraja, Bugis, Makassar dan Mandar. Meskipun bertalian erat satu sama lain, keempat kelompok ini berbeda dalam bahasa dan adat kebiasaan. Kaum Saqdan Toraja tidak memiliki tradisi tulis, meskipun mereka memiliki banyak bahasa sastra yang disampaikan secara lisan.

Aksara yang Digunakan dalam Naskah dari Sulawesi Selatan
Aksara pribumi dari Sulawesi Selatan berasal dari puwa-rupa India. Ada empat aksara berlainan yang dibedakan pada naskah yang masih ada dari wilayah itu, yang tertua dari abad ke-18, yaitu aksara Makassar (Makassar Kuna), Bugis (Bugis/Makassar), Arab, dan Romawi. Banyak tumpang tindih waktu dalam penggunaan aksara ini dan serikali lebih dari satu digunakan pada naskah yang sama. Penggunaan tulisan Bugis dan Arab khususnya, berdampingan dalam naskah keagamaan. Sangat sedikit naskah yang ditulis dengan aksara Makassar yang masih ada. Selama abad ke-18  aksara ini ketinggalan zaman dan diganti abjad lain yang digunakan untuk menulis naskah Bugis. Sejak itu semua naskah dari Sulawesi Selatan ditulis dalam tulisan pribumi yang sama, disebut sebagai aksara Bugis. Penggunaan aksara Bugis ditemukan di daerah yang pernah kena pengaruh Bugis/Makassar pada masa lalu, seperti Bima di Sumbawa Timur dan Ende di Flores. Namun, contohnya sangat langkah.

Teks dan Bacaan
Hasil penulisan sejarah Sulawesi Selatan tampak unik di Indonesia. Obyektivitas dan kepedulian fakta menjadi ciri utama, membuat tulisan ini berbeda dari tulisan serupa yang ditulis di tempat lain. Mite ke pahlawanan Bugis (La Galigo), diperkirakan berjumlah 6.000 halaman, salah satu karya tertebal di dunia sastra. Dengan metrum lima sukukata, peristiwanya terjadi di Luwu pada masa pra-Islam (sekitar abad ke-14), kerajaan dianggap tempat kelahiran kebudayaan Bugis.

Mandar
Hanya sejumlah kecil tulisan Mandar  yang dikenal didalam koleksi umum, terdiri atas naskah hasil penulisan sejarah, tulisan tentang kebiasaan setempat dan pengajaran adat (pappasang), kumpulan syair empat baris (kalindaqdaq), serta lagu cinta tradisional (tilapayo).

Makassar
Naskah Makassar berbeda-beda isinya. Banyak mempunyai relevansi penulisan sejarah, seperti sejarah (patturioloang) kerajaan Makassar, Gowa, dan Tallo; catatan harian (lontaraq bilang); serta silsilah. Banyak bahan bacaan terbentuk oleh teks keagamaan (Islami) seperti cerita dari Qur’an, beberpa diantaranya mengandung sifat mistik yang kuat. Beberpa naskah mengandung teks tentang ahli tasawuf Makassar dari abad ke-17, Syekh Yusuf. Tulisan lainnya meliputi paraturan adat (rapang) serta kitab undang-undang.

Yang lebih menghibur adalah bermacam kisah (rapama, pau-pau) dan tulisan yang dikenal sebagai sinriliq. Ada dua jenis sinriliq, satu pendek dan berlirik, yang lain panjang dan bersifat sejarah kepahlawanan. Ada saduran paduan warisan sastra Arab/Melayu/Jawa, seperti kisah Jayalangkara mungkin memasuki sastra Makassar melalui versi Melayu, didasarkan pada kisah Jawa. Termasuk berbagai tulisan puitis pendek adalah “lagu-lagu” kelong-syair empat baris sebanding dengan pantun Melayu, bersumber pada bentuk lisan.

Bugis
Karya sastra Bugis termasuk yang paling menarik di Asia Tenggara, baik dalam mutu maupun jumlah. Banyak macam genre terwakili dalam tulisan seperti epos La Galigo, sejarah setempat (attoriolong), nyanyian upacara keagamaan, buku hukum, legenda dan traktat Islami, catatan harian, silsilah, kata bijak (pappaseng), cerita rakyat, syair pendek (ilong), dan lainnya.

Teks historiografi terpenting adalah kronik (attoriolong), catatan harian (lontaraq bilang), silsilah (lontaraq pangngoriseng). Genre yang menggabungkan unsur-unsur teks historiografis dengan teks mirip Galigo disebut toloq (syair sejarah-kepahlawanan yang rumit). Setiap kerajaan Bugis kroniknya. (Indonesia Heritage: Bahasa dan Sastra, 2002:  36 - 37).

Catatan.
Lontaraq, kata yang biasa digunakan untuk naskah di Sulawesi Selatan adalah lontaraq. Kata ini pinjaman dari bahasa Jawa/Melayu lontara, atau palem tal (Borassus flabellifer), dan menandakan aslinya naskah ditulis pada daunt tal. Memang ada sejumlah kecil naskah daun palem yang sangat aneh, mungkin merupakan bukti tradisi tulis kuna. Bentuk naskah lontara unik karena mirip dengan kaset audio/video, dan teksnya ditulis sebaris pada lontar sempit yang digulung, hanya dapat dibaca bila gulungannya diputar balik. Tulisan pada gulungan itu bergerak di depan mata si pembaca dari kiri ke kanan di antara kedua gulungan.