Salah satu pantun Sunda yang paling sering diceritakan adalah Lutung Kasarung, kisah tentang “Lutung dalam Kutukan”. Dengan syair yang panjangnya lebih dari 1.000 baris, kisah ini berasal dari sekitar abad ke-15. Pantun ini begitu popular sehingga menjadi bahan film cerita pertama yang di buat pada tahun 1926.
Cerita
Guriang Tunggal
dan Sunan Ambu, ayah dan ibu dewa-dewa, memiliki seorang putra bernama
Guru-Minda. Ketika sang remaja yang ganteng itu mencapai usia akil baliq, ia
jatuh cinta kepada ibunya. Sebagai hukuman, Ambu mengutus anaknya ke dunia.
Sebagai hukuman, Ambu mengutus anaknya ke dunia menyamar sebagai lutung, monyet
hitam berekor panjang yang aslinya dari Jawa dengan wajah yang luar biasa
miripnya dengan manusia serta rambut panjang dan tebal.
Tak lama kemudian sang lutung menemukan dirinya di hutan lebat dan diburu oleh pemburu, Aki
Panyumpit, yang telah diperintahkan oleh raja untuk menangkap lutung. Tampaknya
sang raja telah pergi bertapa dan ini satu-satunya daging yang beloh
dimakannya. Ia memberi kuasa kepada yang tertua dari ketujuh putrinya, Purba
Rarang, untuk mengurus kerajaannya. Betapa pun kerasnya ia berusaha, Aki
tampaknya tak mampu menembus kulit sang lutung dengan sumpitannya.
Sang lutung
memohon dilepaskan dan sang pemburu heran bertemu dengan lutung yang dapat
berbicara, setuju mengangkatnya sebagai anaknya. Malam itu, sewaktu Aki dan
istrinya tidur, sang lutung memanggil pasukan bujangga ibunya, makhluk kayangan
yang berpengetahuan luas dan berkekuatan besar, membangun istana di
sekelilingnya. Di pagi hari, Aki berterima kasih atas ganjaran itu namun putus
asa ketika menyadari bahwa ia masih tetap harus membawa “anaknnya” untuk meja
makan kerajaan.
Namun, baik
jagal kerajaan maupun anjing pemburunya yang ganas tak dapat membunuh sang
lutung, maka raja memberikan monyet itu kepada putrinya, Ratu Purba Rarang. Purba
Rarang adalah makhluk yang irihati dan jahat. Ia telah mengusir adiknya yang
cantik, Putri Purba Sari, ke hutan (setelah menghitamkan wajahnya dengan arang
dan lemak) karena dituduh menarik perhatian suaminya, Pangeran Indrajaya. Pada akhirnya, ratu yang congkak itu bosan dengan
olok-olok sang lutung yang nakal dan mengirimkannya kepada adiknya di hutan. Purba
Sari yang baik hati dan menyambut sang lutung dengan baik dan membagi
makanannya yang serba sedikit. Sebagai ganjaran, sang lutung kembali meminta
pembantu ibunya untuk membangun rumah bagus untuk Purba Sari, termasuk air
mancur ajaib yang dapat menghilangkan warna hitam dari wajah sang putri. Sang ratu
pun mendengar bahwa kecantikan adiknya telah pulih dan ia hidup dalam kemewahan
dengan si monyet hitam.
Dengan sangat
marah, ratu mengharuskan adiknya menjalani tujuh percobaan, harus diselesaikannya
sebelum fajar menyingsing atau ia akan dipenggal. Pertama harus membangun
bendungan, supaya Puba Rarang dapat pesta memancing di kolam dekat tempat itu. Dengan
bantuan bujangga, pekerjaan itu selesai sebelum ratu bangun. Kemudian ia harus menemukan dan menjinakkan banteng putih,
kerbau jantang liar yang sangat ganas. Tetap ketika pembantu kayangan membawa
binatang itu, ia begitu jinak sehingga dapat diikat dengan dua helai rambut
Purba Sari. Ia harus menghilangkan tujuh bukit dan menanaminya dengan padi,
menyiapkan dan memasak biji-bijian itu (sang dewi-ibu sendiri, Sunan Ambu, yang
melakukannya), menenun kain dan membuat kain tirai. Semua tugas diselesaikan
dengan mudah berkat bantuan dewa-dewa.
Akhitnya, Purba
Rarang menantang adiknya bertanding “kecantikan”. Sang ratu ingin tahu, suami
siapa yang lebih ganteng: Pangeran Indrajaya atau sang lutung? Pada saat itu suara
Sunan Amba terdengar dari atas, “Nak, anakku, waktunya telah tiba bagimu untuk
tampil sebagai dirimu sendiri”. Berdirilah pangeran yang gagah, Guru Minda,
dengan kulit seekor lutung tergeletak di kakinya. Purba Rarang mengakui
kekalahannya, dicopot dari jabatan dan harta miliknya dan diperintahkan
mengurus ayam. Indrajaya diperintakan bekerja sebagai pemotong rumput,
pekerjaan terendah di istana.
Guru Minda dan
Purba Sari menjadi raja dan ratu dan tertu saja hidup bahagia selamanya.
Indonesia Heritage: BAHASA DAN SASTRA
Penulis: L. K. Ara, Harry Aveling, Henri Chambert-Loir, et.all
Penerbit: Buku antar Bangsa untuk Grolier International, Inc
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2002
ISBN: 979-8926-23-4

No comments:
Post a Comment