Showing posts with label Sunda. Show all posts
Showing posts with label Sunda. Show all posts

April 7, 2020

LUTUNG KASARUNG



Salah satu pantun Sunda yang paling sering diceritakan adalah Lutung Kasarung, kisah tentang “Lutung dalam Kutukan”. Dengan syair yang panjangnya lebih dari 1.000 baris, kisah ini berasal dari sekitar abad ke-15. Pantun ini begitu popular sehingga menjadi bahan film cerita pertama yang di buat pada tahun 1926.

Cerita
Guriang Tunggal dan Sunan Ambu, ayah dan ibu dewa-dewa, memiliki seorang putra bernama Guru-Minda. Ketika sang remaja yang ganteng itu mencapai usia akil baliq, ia jatuh cinta kepada ibunya. Sebagai hukuman, Ambu mengutus anaknya ke dunia. Sebagai hukuman, Ambu mengutus anaknya ke dunia menyamar sebagai lutung, monyet hitam berekor panjang yang aslinya dari Jawa dengan wajah yang luar biasa miripnya dengan manusia serta rambut panjang dan tebal.

Tak lama kemudian sang lutung menemukan dirinya di hutan lebat dan diburu oleh pemburu, Aki Panyumpit, yang telah diperintahkan oleh raja untuk menangkap lutung. Tampaknya sang raja telah pergi bertapa dan ini satu-satunya daging yang beloh dimakannya. Ia memberi kuasa kepada yang tertua dari ketujuh putrinya, Purba Rarang, untuk mengurus kerajaannya. Betapa pun kerasnya ia berusaha, Aki tampaknya tak mampu menembus kulit sang lutung dengan sumpitannya.

Sang lutung memohon dilepaskan dan sang pemburu heran bertemu dengan lutung yang dapat berbicara, setuju mengangkatnya sebagai anaknya. Malam itu, sewaktu Aki dan istrinya tidur, sang lutung memanggil pasukan bujangga ibunya, makhluk kayangan yang berpengetahuan luas dan berkekuatan besar, membangun istana di sekelilingnya. Di pagi hari, Aki berterima kasih atas ganjaran itu namun putus asa ketika menyadari bahwa ia masih tetap harus membawa “anaknnya” untuk meja makan kerajaan.

Namun, baik jagal kerajaan maupun anjing pemburunya yang ganas tak dapat membunuh sang lutung, maka raja memberikan monyet itu kepada putrinya, Ratu Purba Rarang. Purba Rarang adalah makhluk yang irihati dan jahat. Ia telah mengusir adiknya yang cantik, Putri Purba Sari, ke hutan (setelah menghitamkan wajahnya dengan arang dan lemak) karena dituduh menarik perhatian suaminya, Pangeran Indrajaya. Pada  akhirnya, ratu yang congkak itu bosan dengan olok-olok sang lutung yang nakal dan mengirimkannya kepada adiknya di hutan. Purba Sari yang baik hati dan menyambut sang lutung dengan baik dan membagi makanannya yang serba sedikit. Sebagai ganjaran, sang lutung kembali meminta pembantu ibunya untuk membangun rumah bagus untuk Purba Sari, termasuk air mancur ajaib yang dapat menghilangkan warna hitam dari wajah sang putri. Sang ratu pun mendengar bahwa kecantikan adiknya telah pulih dan ia hidup dalam kemewahan dengan si monyet hitam.

Dengan sangat marah, ratu mengharuskan adiknya menjalani tujuh percobaan, harus diselesaikannya sebelum fajar menyingsing atau ia akan dipenggal. Pertama harus membangun bendungan, supaya Puba Rarang dapat pesta memancing di kolam dekat tempat itu. Dengan bantuan bujangga, pekerjaan itu selesai sebelum ratu bangun. Kemudian ia harus menemukan dan menjinakkan banteng putih, kerbau jantang liar yang sangat ganas. Tetap ketika pembantu kayangan membawa binatang itu, ia begitu jinak sehingga dapat diikat dengan dua helai rambut Purba Sari. Ia harus menghilangkan tujuh bukit dan menanaminya dengan padi, menyiapkan dan memasak biji-bijian itu (sang dewi-ibu sendiri, Sunan Ambu, yang melakukannya), menenun kain dan membuat kain tirai. Semua tugas diselesaikan dengan mudah berkat bantuan dewa-dewa.

Akhitnya, Purba Rarang menantang adiknya bertanding “kecantikan”. Sang ratu ingin tahu, suami siapa yang lebih ganteng: Pangeran Indrajaya atau sang lutung? Pada saat itu suara Sunan Amba terdengar dari atas, “Nak, anakku, waktunya telah tiba bagimu untuk tampil sebagai dirimu sendiri”. Berdirilah pangeran yang gagah, Guru Minda, dengan kulit seekor lutung tergeletak di kakinya. Purba Rarang mengakui kekalahannya, dicopot dari jabatan dan harta miliknya dan diperintahkan mengurus ayam. Indrajaya diperintakan bekerja sebagai pemotong rumput, pekerjaan terendah di istana.

Guru Minda dan Purba Sari menjadi raja dan ratu dan tertu saja hidup bahagia selamanya.

Indonesia Heritage: BAHASA DAN SASTRA
Penulis: L. K. Ara, Harry Aveling, Henri Chambert-Loir, et.all
Penerbit: Buku antar Bangsa untuk Grolier International, Inc
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2002
ISBN: 979-8926-23-4