Showing posts with label Sejarah Sulawesi Selatan. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Sulawesi Selatan. Show all posts

May 6, 2025

Buku Latopajoko dan Anjing Kasmaran Karya Badaruddin Amir

Buku Latopajoko dan Anjing Kasmaran Karya Badaruddin Amir 


Oleh: Nabila Wulandani

Sampul Buku Latopajoko dan Anjing Kasmaran


Pendahuluan

Buku Latopajoko dan Anjing Kasmaran karya Badaruddin Amir memadukan tradisi Bugis dengan imajinasi puitis dalam bentuk kumpulan cerpen. Terbit pada tahun 2007 oleh AKAR Indonesia kumpulan ini menghadirkan suasana pedesaan Sulawesi Selatan yang hidup melalui deskripsi alam dan kebiasaan masyarakat setempat. Setiap judul cerita mewakili sisi berbeda dari relasi manusia dengan lingkungan dan makhluk lain. Gaya bahasa penulis lugas namun kaya metafora sehingga mudah dinikmati oleh pembaca umum. 

Pada awal halaman pembaca disuguhi adegan sungai yang tenang namun menyimpan rahasia dan konflik. Suara gemericik air dan aroma lumpur menciptakan suasana magis yang sederhana namun kuat. Tokoh utama dalam judul “Latopajoko” membuka kisah dengan ujian kesetiaan yang dramatis. Kalimat pembuka cerpen-cerpen berikutnya dirancang untuk memancing rasa penasaran dan empati.

 

Isi

Alur cerita dalam buku ini episodik tetapi tetap menjaga kesinambungan tema kesetiaan keberanian dan kerinduan. Dalam “Latopajoko” sang towarani diuji dalam duel batin menghadapi Lataddangpali sambil mempertahankan sumpah setia kepada raja. Adegan pertarungan digambarkan sinematik dengan detail gerak tubuh suara keris dan hingar alam malam. Kehadiran anjing kasmaran sebagai teman setia menjadi metafora kesetiaan tanpa syarat. Pergulatan tokoh-tokoh sederhana seperti petani dan nelayan menambah kedekatan emosional dengan pembaca.

Selain kisah kepahlawanan cerpen-cerpen lain menyuguhkan warna berbeda seperti romansa sederhana dan kilasan realisme magis. Pada “Pipit Kecil Bermata Sayu” dan “Tahi Lalat Suster Ezra” pembaca menemukan kegelisahan cinta yang lembut namun menggugah. Elemen gaib muncul tanpa penjelasan berlebihan sehingga suasana misteri tetap terjaga alami. Deskripsi alam pedesaan tidak hanya latar tetapi ikut berbicara melalui simbol jejak kaki embun pagi atau bisikan angin. Transisi antara tawa ringan dan ketegangan mistis membuat pembacaan selalu segar.

Keunikan utama buku ini terletak pada perpaduan cerita folklor lokal dengan bahasa yang ringkas dan kuat. Metafora alam berperan ganda sebagai penanda suasana hati tokoh dan sebagai jembatan makna budaya. Penulis mampu menerjemahkan nilai tradisi Bugis menjadi narasi universal tanpa kehilangan keotentikan. Setiap cerpen menampilkan dialog sederhana yang padat makna dan menimbulkan resonansi emosional panjang. Penyusunan bab dan judul cerpen yang simbolis memancing interpretasi berlapis bagi pembaca.


Penutup

Latopajoko dan Anjing Kasmaran menegaskan bahwa sastra lokal dapat tampil memikat lintas generasi dan latar belakang. Kumpulan cerpen ini layak dibaca siapa saja yang tertarik pada kisah persahabatan keberanian dan nuansa mistis. Gaya penceritaan Badaruddin Amir memastikan pembaca tidak sekadar terhibur tetapi juga diajak merenung tentang makna kesetiaan dan takdir. Sinopsis ini diharapkan menjadi pintu gerbang yang memancing keingintahuan untuk menelusuri tiap cerita lebih jauh. Saat lembar pertama dibuka pembaca akan menemukan kedalaman makna yang terus berkembang hingga halaman terakhir.


Bagi pembaca yang ingin menjelajahi keajaiban kisah Latopajoko dan Anjing Kasmaran, buku ini dapat dijumpai di koleksi deposit lantai dua Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan yang terletak di Jalan Alauddin, Kota Makassar. 

Informasi Buku

Judul Buku: Latopajoko dan Anjing Kasmaran  
Karya: Badaruddin Amir  
Penerbit: AKAR Indonesia  
Tahun: 2007

September 30, 2021

SEJARAH SULAWESI SELATAN JILID 2

 

Sejarah Sulawesi Selatan menempatkan batasan temporal dari periode sejak Pemerintahan Hindia Belanda melancarkan ekspedisi militer 1905 (Zuid Celebes Expeditie 1905) hingga pembentukan Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 1960 itu meliputi wilayah yang pada periode kolonial Belanda disebut Provinsi Sulawesi dan Daerah Bawahannya (Gouvernement van Celebes en Onderhoorigheden). Dalam pengembangan selanjutnya wilayah provinsi ini dimekarkan menjadi dua provinsi, yaitu Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tenggara.

Ekspedisi militer itu dicanangkan untuk menduduki dan menguasai secara keseluruhan wilayah kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan yang disebut Pemerintahan Sulawesi Selatan dan Daerah Bawahannya (Gouvernement van Celebes en Onderhoorigheden). Periode kolonial Belanda ini ditandai dengan gerakan-gerakan perlawanan rakyat yang terus menerus. Perlawanan yang terus berlangsung itu menyebabkan daerah ini dijuluki “pulau keonaran” (de onrust eiland). Dalam kondisi yang demikian, pemerintah mencoba bergiat meredakan dengan kebijaksanaan dengan otonomi daerah, memulihkan kembali kedudukan beberapa kerajaan. Status “swapraja” (zelfbestuur landschap) yang pertama diberikan pada Kerajaan Bone pada tahun 1931 dan berikutnya adalah Kerajaan Gowa pada tahun 1938. Sementara kerajaan-kerajaan lain tetap dalam pemerintahan langsung pejabat Hindia Belanda.

Tokoh-tokoh politik Sulawesi turut mendukung proklamasi dan ikut dalam rapat pertama Panitia Persiapan Kemerdekaan (PPKI) pada tanggal 18 Agustus hingga 22 Agustus 1945. Dalam rapat tanggal 19 Agustus dicapai kesepakatan Sulawesi menjadi satu provinsi dan Dr. Ratulangi dilantik menjadi gubernur. Proklamasi dan pembentukan negara dan pemerintahannya itu tidak segera mendapat pengakuan Sekutu mengingat tokoh-tokoh nasional yang tampil memproklamasikan kemerdekaan itu, Soekarno dan Moh. Hatta adalah pihak yang berkolaborasi dengan Jepang. Akibatnya Sekutu menerima Netherlands Indie Civil Administration (NICA) menjadi bagian yang integral dari pasukan Sekutu dalam menyelesaikan tahanan perang di Indonesia.

Berdasarkan pada pengakuan kedaulatan itu, tokoh-tokoh politik dan pemuda pejuang di Sulawesi Selatan mengorganisasikan demonstrasi massal untuk menuntut dibubarkan NIT dan RIS dan kembali ke negara kesatuan Republik Indonesia. Perjuangan mereka berhasil direalisasikan. Dalam pidato kenegaraan Presiden Soekarno pada tanggal 16 Agustus 1950, ia menyatakan pembubaran RIS dan kembali ke negara kesatuan RI.

Di Sulawesi Selatan berkobar peristiwa KNIL pada tahun 1950 kemudian diikuti dengan gerakan DI/TII pimpinan Abdul Qahar Muzakkar dan gerakan Permesta. Pergolakan yang terus terjadi itu mendorong pemerintah memikirkan cara untuk mengefektifkan pelayanan dan pembangunan. Untuk itu ditetapkan strategi memilah wilayah Sulawesi yang dipandang sangat luas atas dua wilayah provinsi yaitu Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 1964.

Berdasarkan penelusuran dan pengungkapan kesejarahan itu jelas tampak bahwa rakyat Sulawesi Selatan adalah rakyat yang sangat menentang pemerintahan kolonial. Penjajahan dipandang sebagai upaya mengeksploitasi dan memudarkan hak kemerdekaan dan kedaulatan setiap orang dan bangsa. Oleh karena itu, mereka terus berjuang menghapuskan penjajahan karena bertentangan dengan peri kemanusiaan. Selain itu juga menunjukkan bahwa penduduk Sulawesi Selatan mendambakan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan kenegaraan Indonesia.

Buku SEJARAH SULAWESI SELATAN JILID 2 membahas masa lalu Sulawesi Selatan, khususnya periode kolonial sampai kemerdekaan (1905-1960), yang masih berisi sejarah Provinsi Sulawesi Barat. Meskipun pada akhir tahun 2004 Provinsi Sulawesi Barat sudah berdiri. Buku ini merupakan koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.

 

SEJARAH SULAWESI SELATAN JILID 2
Tim Peneliti: Edward L. Poelinggomang, Suriadi Mappangara, Anwar Thosibo et.al
Editor: Edward L. Poelinggomang, Suriadi Mappangara
Penerbit: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda)
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2005
ISBN: 979-3633-09-3

November 17, 2020

Bingkisan Patunru, Sejarah Lokal Sulawesi Selatan

 


Judul : Bingkisan Patunru, Sejarah Lokal Sulawesi Selatan

Penulis : Abdurrazak Daeng Patunru

Penyunting : Abdul Latif dan Dias Pradadimara

Penerbit : Pusat Kajian Indonesia Timur (PUSKIT) bekerja sama dengan Lembaga Penerbitan Unhas (Lephas)

Kota tempat Terbit : Makassar

Tahun terbit: 2004

Jumlah Halaman: xvi + 135

Ukuran : 15 x 21 cm

ISBN : 979-530-062-8

Abdurrazak Daeng Patunru adalah seorang penulis buku sejarah lokal Sulawesi Selatan, yang karya karyanya sudah pernah dibahas dalam berbagai forum. Ada 3 buah buku karya beliau yang telah saya bahas pada kumpulan buku muatan lokal edisi pertama, yaitu Sejarah Gowa, Sejarah Bone dan Sejarah Wajo. Karya karya beliau banyak dikutip dalam penulisan karya ilmiah, baik oleh penulis lokal dan nasional maupun penulis asing. Beliau adalah seorang Birokrat sejak era Kolonial sampai era Orde Lama, pernah bertugas di Wajo sebagai Pamongpraja (1929-1932, 1935-1938). Beliau juga pernah menjadi Residen yang diperbantukan pada kantor Gubernur Provinsi Sulawesi. Terakhir beliau pensiun  sebagai pamongpraja pada pertengahan tahun 1959.

Buku ini adalah kumpulan karya karya Abdurrazak Daeng Patunru yang berada diberbagai tempat yang akhirnya berhasil dikumpulkan dalam satu buku dan diterbitkan. Buku “Bingkisan Patunru” ini adalah berkat usaha dari Program Pustaka Regional Makassar yang bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation, melalui proses pemilihan yang kompetitif dan selektif, untuk menerbitkan buku buku bermutu.

Diawali dengan “Abdurrazak Daeng Patunru dan Karyanya” sebagai perkenalan oleh Dias Pramadimara dari Fakultas Ilmu Budaya (Sastra) Universitas Hasanuddin. Pada bagian ini, Dias mengungkapkan tentang sejarah kepenulisan Abdurrazak Daeng Patunru, kehidupan beliau dan karya karya yang pernah dihasilkannya. Historiografi Sulawesi Selatan dan hubungannya dengan karya karya Abdurrazak Daeng Patunru, serta kontribusi beliau yang luarbiasa terhadap penulisan sejarah lokal Sulawesi Selatan.

Buku ini dibagi menjadi 8 bab, masing masing bab membahas satu topik tertentu. Pembahasan topik sejarah beberapa daerah dengan urutan sebagai berikut:
Bab I    : Talloq  (Sejarah Talloq, terbit tahun 1968)

Bab II   : Polombangkeng (Sejarah Polongbangkeng, terbit  1970)

Bab III  : Sanrabone (Sejarah asal usul nama Sanrabone, nama nama Hadat Sanrabone dan lain lain, terbit 1970)

Bab IV  : Kekaraengan Dalam Kabupaten Pangkajeneq Kepulauan (Sejarah  distrik kekaraengan yaitu Mandallaq, Bungoroq, Segeri, Maqrang, Labbakkang, Pangkajeneq dan Balocciq, terbit 1970).

Bab V  : Tanete (Sejarah kerajaan Tanete yang dulunya bernama kerajaan Agang Nionjoq, terbit tqhun 1967)

Bab VI : Sidenreng (Sejarah daerah Sidenreng, tanah tanah milik kerajaan, hubungan kekerabatan antara kerajaan Sidenreng dengan kerajaan Gowa, gabungan Ajattappareng pasca kemerdekaan, diterbitkan tahun 1968)

Bab VII: Soppeng (Awal mula Soppeng, perkembangan kerajaan Soppeng sejak 1905, terbit tahun 1967 -1968)

Bab VIII: Orang Orang Melayu di Makassar (Sejarah perkembangan Islam dan penyebarannya oleh 3 Datok, perjanjian dengan orang Melayu, diterbitkan tahun 1967).

Buku ini dapat dijadikan bahan rujukan bagi yang ingin meneliti sejarah kerajaan kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan. Koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan, unit Perpustakaan.

 


April 28, 2020

Living Through Histories, Culture, History and Social Life in South Sulawesi


Buku : Living Through Histories , Culture, History and Social Life in South Sulawesi
Editor : Kathryn Robinson and Muhlis Paeni
Penerbit : Department of Anthropology Research School of pacific and Asian Studies, The Australian National  University, Canberra 1998
Jumlah Halaman : v + 296
Bahasa : Inggris (English)
ISBN : 0-7315-3218-X

Buku ini merupakan kumpulan makalah (Papers) dari para pembicara pada acara Seminar Internasional Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan yang dilaksanakan pada 16 -17 Desember 1996 di Arsip Nasional Wilayah Sulawesi Selatan (Sekarang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan). Seminar ini dilaksanakan dalam rangka penerbitan Katalog Naskah Lontara yang baru dikumpulkan oleh Arsip Nasional Wilayah Sulawesi Selatan. Seminar Internasional tentang Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan ini merupakan Seminar internasional ketiga. Seminar pertama dilaksanakan di Melbourne pada tahun 1982 dan Seminar kedua dilaksanakan di Leiden, Negeri Belanda pada tahun 1987.

Seminar Internasional ini berlangsung dua hari dan dihadiri oleh pembicara dari berbagai negara dan dari beberapa provinsi di Indonesia. Juga dihadiri oleh para sejarawan, seniman dan budayawan serta pemerhati tradisi budaya Sulawesi Selatan lainnya. Seminar di Sponsori oleh Arsip Nasional RI dan BOSOWA Group Makassar.

Buku ini diawali oleh “Acknowledgement”, kemudian judul judul paper yang dipresentasikan dalam seminar. Yang tercetak dalam buku ini ada 14 paper (makalah) yaitu :

1.      Introduction and Overview of the Conference (Kathryn Robinson)
2.      Bugis Culture – A Tradition of Modernity  (Christian Pelras)
3.      The Chronology of The King List of Luwu’ to AD 1611 (I. A. Caldwell)
4.      Notes on The Chronicle of Bone (C. C. Macknight)
5.      The Diari of The Capitan Melayu (Helen Ceperkovic)
6.      Construction History and Significance of The Makassar Fortifications (David Bullbeck)
7.      Four Oral Versions of a Story About The Origin of The Bajo People of Southern Selayar (Horst H. Liebner)
8.      Sawerigading in Strange Places: The I Lagaligo Myth in Central Sulawesi (Jennifer W. Nourse)
9.      Symbolism, Spatiality, and Social Order (Elizabeth Morrell)
10.  Tradition of House-Building in South Sulawesi (Kathryn Robinson)
11.  “The Mangroves Are Declining, The Fishermen Are Lamenting”, The Political Ecology of Mangroves Degradation in South Sulawesi (Anton Lucas)
12.  Taka Bonerate: Developing A Strategy for Community-Based Management of Marine Resources (Jackie Alder and Linda Christanty)
13.  Fishing for Credit: Patronage and Debt Relations in the Spermonde Archipelago, Indonesia (Marie-Trees Meereboer)
14.  Forum on Cultural Change (Translation by Kathryn Robinson)

Pada bagian terakhir “Forum Cultural Change” ada diskusi sejarah dan budaya Sulawesi Selatan yang dihadiri oleh para tokoh yaitu Dr. Muhlis Paeni, Hj. Andi Nurhani Sapada (Ibu Nani Sapada), Syaiful Sinrang, Darmawan Mas’ud Rahman, Haji Zainuddin (Haji Gandaria), Zohra Andi Baso, dengan audiens dari berbagai kalangan, ada mahasiswa, ASN, pemerhati budaya, wartawan, seniman, sejarawan, buadayawan, dan masyarakat umum lainnya.

Terakhir adalah biodata para pemakalah dan Indeks.

Buku koleksi Perpustakaan Khusus, Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.