Lebih dari
seribu tahun, cap digunakan di masyarakat Indonesia untuk melambangkan
wewenang. Konon raja Sriwijaya menggunakan cap dengan ukiran Sanskerta; banyak
cincin stempel emas dengan tulisan Jawa Kuna berasal dari abad ke-9 hingga abad
ke-12 telah di gali; dan arsip istana Cina merekam penyerahan cap perak kepada
sultan Pasai dan Haru abad ke-15.
Rekaman cap
Indonesia tertua ada pada naskah milik Sultan Alauddin Riayat Syah dari Aceh
(1589-1604), ditemukan pada izin perdagangan dari tahun 1602. Namun, meskipun
beribu-ribu cap telah ditemukan pada dokumen naskah Indonesia, kebanyakan
berasal dari abad ke-18 dan ke-19, hanya sedikit dari capnya –disebut matris
cap untuk membedakan mereka dari teraan cap –yang masih ada. Matris cap
Indonesia dari perak, namun kuningan atau batu juga digunakan, cincin stempel
dari batu setengah mulia dipasang pada logam.
Prasasti
Cap merupakan
tanda keresmian, di Indonesia dokumen tempat teraan cap itu ditemukan dengan
sendirinya sering ditulis dalam bahasa Melayu, bahasa perdagangan, perniagaan,
dan diplomasi di Nusantara. Cap Melayu bagian dari cap Islam yang lebih luas
dan ukirannya ditulis dalam bahasa Arab atau Melayu, huruf Jawi. Kadang-kadang
digabungkan dengan aksara Romawi atau aksara daerahseperti Bali, Bugis, Batak,
dan Jawa.
Kata-kata pada
cap terdiri dari kombinasi nama pribadi, gelar, tanggal, tempat, dan
ungkapan keagamaan seperti al-wathiq bin-Allah (ia yang menempatkan kepercayaan
pada Allah). Cap Melayu selalu diukir dengan relief, dengan tulisannya
ditorehkan ke dalam cap, dan ketika di cetak menghasilkan tulisan putih pada
latar hitam atau berwarna ketika diterakan. Cap Melayu tertua dikenal salah
satu yang tercanggih: cap Sultan Alauddin Riayat Syah dari Aceh diukir dengan
relief timbul, satu-satunya cap Melayu diketahui demikian.
Bentuk
Cap Melayu
mungkin yang terindah di antara semua cap Islami dalam bentuk dan
memperlibatkan derajat hiasan yang tak ditemukan di tempat lain. Bentuknya
mirip dengan ragam hias pada kerajinan perak Indonesia, pengaruh terkuatnya
yaitu ragam hias daun teratai. Bentuk paling lazim dari cap Melayu adalah
lingkaran dan lingkaran berdaun, biasanya dengan delapan daun.
Ciri-ciri wangsa
dan daerah berlainan dibedakan dalam banyak bentuk segel Melayu, dan
kadang-kadang bentuknya saja cukup untuk mengenali asal segel itu. Misalnya,
cap sultan Pontianak berbentuk segi delapan, para penguasa Bima kebanyakan
menggunakan cap oval. Rancangan cap Melayu yang paling terkenal dan menonjol
adalah cap sikureueng lapis sembilan milik sultan Aceh –cap bundar delapan
lingkaran besar di pusatnya berhias nama sultan yang memerintah, dikelilingi
oleh delapan lingkaran lebih kecil yang memuat nama pendahulunya –dibuat meniru
cap kaisar Moghul di India.
![]() |
| Teraan cap Melayut tertua aceh ± 1602. Persetujuan perbatasan kabupaten Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta 1830 memuat delapan segel |
Wahana
Pencetakan
Wahana yang
paing lazim digunakan cap Indonesia untuk dicetakkan di atas dokumen kertas
adalah jelaga. Cara peneraannya sebagai berikut: matris cap diminyaki dan
dipegang di atas api hingga jelaga terbentuk. Cap kemudian dicapkan ke dokumen,
yang kadang-kadang sudah dilembabkan dahulu agar cetakannya lebih nyata.
Cap jelaga di temukan di seluruh kepulauan Indonesia, namun wahana lain seperti tinta –terutama merah, tetapi kadang-kadang juga hijau, biru, coklat, dan ungu –dan “malam” atau lilin juga digunakan. Penggunaan “malam”, biasanya berwarna merah atau merah tua, dapat dilihat sebagai tanda pengaruh Eropa, khususnya di sekitar Jawa, termasuk Banten, Madura, dan Bali. Di Bali cap langsung diterakan pada lontar, tanpa menggunakan tinta atau pewarna apapun.
Cap jelaga di temukan di seluruh kepulauan Indonesia, namun wahana lain seperti tinta –terutama merah, tetapi kadang-kadang juga hijau, biru, coklat, dan ungu –dan “malam” atau lilin juga digunakan. Penggunaan “malam”, biasanya berwarna merah atau merah tua, dapat dilihat sebagai tanda pengaruh Eropa, khususnya di sekitar Jawa, termasuk Banten, Madura, dan Bali. Di Bali cap langsung diterakan pada lontar, tanpa menggunakan tinta atau pewarna apapun.
Posisi
Surat-surat Melayu dan Indonesia lainnya tidak ditulis oleh si pengirim sendiri, melainkan oleh jurutulis profesional, dan alih-alih memuat teraan cap tandatangan sebagai tanda keaslian. Posisi cap pada surat penting, artinya tergantung status relatif dari kudua orang yang bersurat-suratan. Pada surat antara dua orang yang setingkat pangkatnya, posisi cap sejajar dengan awal baris pertama. pada umumnya, semakin terhormat si pengirim, semakin tinggi dan semakin ke kanan posisi segelnya pada surat. Demikian pula, apabila surat dikirim oleh lebih dari satu orang, cap mereka ditempatkan sesuai dengan kedudukan masing-masing pada surat.
Surat-surat Melayu dan Indonesia lainnya tidak ditulis oleh si pengirim sendiri, melainkan oleh jurutulis profesional, dan alih-alih memuat teraan cap tandatangan sebagai tanda keaslian. Posisi cap pada surat penting, artinya tergantung status relatif dari kudua orang yang bersurat-suratan. Pada surat antara dua orang yang setingkat pangkatnya, posisi cap sejajar dengan awal baris pertama. pada umumnya, semakin terhormat si pengirim, semakin tinggi dan semakin ke kanan posisi segelnya pada surat. Demikian pula, apabila surat dikirim oleh lebih dari satu orang, cap mereka ditempatkan sesuai dengan kedudukan masing-masing pada surat.
Indonesia Heritage: BAHASA DAN SASTRA
Penulis: L. K. Ara, Harry Aveling, Henri Chambert-Loir, et.all
Penerbit: Buku antar Bangsa untuk Grolier International, Inc
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2002
ISBN: 979-8926-23-4

