Showing posts with label Cerita Rakyat Bugis. Show all posts
Showing posts with label Cerita Rakyat Bugis. Show all posts

May 23, 2025

Cerita Rakyat Sulawesi Selatan : Bugis

 


Judul:                             Cerita Rakyat Sulawesi Selatan, BUGIS

Penulis:                          Syamsuddin Simmau

Editor:                            Arifuddin A. Gadjong

Penerbit:                       Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Sulsel

Tahun Terbit:               2005

Jumlah Halaman:      ix + 161

ISBN:                               -

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Buku ini adalah bagian dari seri Cerita Rakyat Sulawesi Selatan. Ada seri yang khusus untuk cerita rakyat Sulawesi Selatan dari Toraja, Makassar, dan kali ini adalah cerita rakyat dari suku Bugis. Suku bangsa Bugis adalah suku bangsa terbesar di Sulawesi Selatan yang umumnya bermukim di kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Luwu, Sidrap, Pinrang, Sinjai dan lain lain.

Cerita rakyat atau dongeng atau folklor dari suku Bugis cukup banyak, dan tradisi lisan mendongeng atau bercerita sudah dikenal dikalangan suku Bugis sejak zaman dahulu kala. Suku Bugis juga tidak hanya mengenal tradisi lisan, tetapi juga tradisi tulis menulis yang dikenal dengan nama Lontara. Aksara Bugis disebut Lontara, begitupun media penulisannya disebut Lontara. Sebagian cerita rakyat diturunkan antar generasi ke generasi lewat cara bertutur atau lisan, namun demikian ada pula yang dituliskan dalam Lontara.

Cerita rakyat Bugis biasanya mengandung makna filosofi dan kearifan lokal. Ada juga yang berkisah tentang kepahlawanan seorang tokoh, kisah legenda suatu tempat atau daerah, asal usul suatu nama daerah, dan bahkan ada yang menceritakan tokoh mistik dan dewa dewi.

Buku ini ditulis dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggri. Cerita rakyat dalam bahasa Indonesi diletakkan pada halaman ganjil, dan terjemahannya dalam bahasa Inggris pada halaman genap. Mungkin karena diterbitkan oleh lembaga kebudayaan dan Pariwisata, sehingga dirasa perlu menuliskan dalam bahasa Inggris juga, agar dapat dinikmati pula pada wisatawan mancanegara yang tidak paham bahasa Indonesia. Generasi muda yang membaca buku cerita rakyat ini, juga dapat diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan bahasa Inggris mereka, sehingga selain menambah pengetahuan akan kearifan lokal, juga menambah pengetahuan bahasa Inggris mereka.

Ada 7 cerita rakyat dalam buku yang dibahas dan dituliskan terjemahannya dalam bahasa Inggris. Cerita rakyat yang ada yaitu : Bekas Tapak Kaki La Tenritatta, Bubung Lameong dan Jallo’ To Unra, La Walenreng dan Putri Cina (We Cudai), Badai Selat Makassar, La Maddukkelleng Raja Wajo di Perantauan, Gua Mampu Negeri Kutukan, dan Singkerru’.

Dari judul yang ada dalam buku ini, sebenarnya lebih tepat disebut sebagai ‘fiksi sejarah’ (historical fiction) karena berkaitan dengan tokoh sejarah yang pernah ada yaitu La Tenritatta Arung Palakka, Raja yang pernah memerintah kerajaan Bone. Ada juga nama La Maddukkelleng yaitu nama Raja kerajaan Wajo dimasa lampau.

Buku ini menambah koleksi cerita rakyat Sulawesi Selatan, khususnya yang berasal dari suku Bugis. Cerita cerita rakyat ini dapat menambah wawasan dan memperkaya kearifan lokal Bugis bagi pembacanya. Sayangnya, terjemahan bahasa Inggris cerita rakyat ini kurang bagus. Seakan akan diterjemahkan kata kata sumbernya satu persatu, sehingga orang asing yang berbahasa Inggris bisa jadi kurang paham akan terjemahan cerita rakyat ini. Buku ini tidak ada illustrasi gambar atau foto yang bisa menarik perhatian pembacanya. Cara penjilidan buku ini juga tidak bagus, sehingga ada beberapa halaman yang terpisah dan sobek.

Buku koleksi Deposit,  Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.