Judul: Cerita Rakyat Sulawesi Selatan, BUGIS
Penulis: Syamsuddin Simmau
Editor: Arifuddin A. Gadjong
Penerbit: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Sulsel
Tahun
Terbit: 2005
Jumlah
Halaman: ix + 161
ISBN: -
Penulis
Resensi: Suharman, S.S., MIM.
Buku
ini adalah bagian dari seri Cerita Rakyat Sulawesi Selatan. Ada seri yang
khusus untuk cerita rakyat Sulawesi Selatan dari Toraja, Makassar, dan kali ini
adalah cerita rakyat dari suku Bugis. Suku bangsa Bugis adalah suku bangsa
terbesar di Sulawesi Selatan yang umumnya bermukim di kabupaten Bone, Soppeng,
Wajo, Luwu, Sidrap, Pinrang, Sinjai dan lain lain.
Cerita
rakyat atau dongeng atau folklor dari suku Bugis cukup banyak, dan tradisi
lisan mendongeng atau bercerita sudah dikenal dikalangan suku Bugis sejak zaman
dahulu kala. Suku Bugis juga tidak hanya mengenal tradisi lisan, tetapi juga
tradisi tulis menulis yang dikenal dengan nama Lontara. Aksara Bugis disebut
Lontara, begitupun media penulisannya disebut Lontara. Sebagian cerita rakyat
diturunkan antar generasi ke generasi lewat cara bertutur atau lisan, namun
demikian ada pula yang dituliskan dalam Lontara.
Cerita
rakyat Bugis biasanya mengandung makna filosofi dan kearifan lokal. Ada juga
yang berkisah tentang kepahlawanan seorang tokoh, kisah legenda suatu tempat
atau daerah, asal usul suatu nama daerah, dan bahkan ada yang menceritakan
tokoh mistik dan dewa dewi.
Buku
ini ditulis dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggri. Cerita rakyat dalam bahasa
Indonesi diletakkan pada halaman ganjil, dan terjemahannya dalam bahasa Inggris
pada halaman genap. Mungkin karena diterbitkan oleh lembaga kebudayaan dan
Pariwisata, sehingga dirasa perlu menuliskan dalam bahasa Inggris juga, agar
dapat dinikmati pula pada wisatawan mancanegara yang tidak paham bahasa Indonesia.
Generasi muda yang membaca buku cerita rakyat ini, juga dapat diharapkan mampu
meningkatkan pengetahuan bahasa Inggris mereka, sehingga selain menambah
pengetahuan akan kearifan lokal, juga menambah pengetahuan bahasa Inggris
mereka.
Ada
7 cerita rakyat dalam buku yang dibahas dan dituliskan terjemahannya dalam
bahasa Inggris. Cerita rakyat yang ada yaitu : Bekas Tapak Kaki La Tenritatta,
Bubung Lameong dan Jallo’ To Unra, La Walenreng dan Putri Cina (We Cudai),
Badai Selat Makassar, La Maddukkelleng Raja Wajo di Perantauan, Gua Mampu Negeri
Kutukan, dan Singkerru’.
Dari
judul yang ada dalam buku ini, sebenarnya lebih tepat disebut sebagai ‘fiksi
sejarah’ (historical fiction) karena berkaitan dengan tokoh sejarah yang
pernah ada yaitu La Tenritatta Arung Palakka, Raja yang pernah memerintah kerajaan
Bone. Ada juga nama La Maddukkelleng yaitu nama Raja kerajaan Wajo dimasa lampau.
Buku
ini menambah koleksi cerita rakyat Sulawesi Selatan, khususnya yang berasal
dari suku Bugis. Cerita cerita rakyat ini dapat menambah wawasan dan memperkaya
kearifan lokal Bugis bagi pembacanya. Sayangnya, terjemahan bahasa Inggris
cerita rakyat ini kurang bagus. Seakan akan diterjemahkan kata kata sumbernya
satu persatu, sehingga orang asing yang berbahasa Inggris bisa jadi kurang
paham akan terjemahan cerita rakyat ini. Buku ini tidak ada illustrasi gambar
atau foto yang bisa menarik perhatian pembacanya. Cara penjilidan buku ini juga
tidak bagus, sehingga ada beberapa halaman yang terpisah dan sobek.
Buku koleksi Deposit,
Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.

