Showing posts with label Segeri Mandalle. Show all posts
Showing posts with label Segeri Mandalle. Show all posts

December 22, 2020

BISSU DALAM MASYARAKAT PANGKEP

Upacara tradisional Mappalili yang dilakukan masyarakat Segeri Mandalle di Kabupaten Pangkep merupakan kegiatan awal dalam memasuki musim tanam. Upacara tradisional ini pada dasarnya merupakan manifestasi dari emosi keagamaan, yaitu emosi keagamaan yang menjadi latar belakang dari tiap-tiap kelakuan yang serba-religius. Di samping emosi keagamaan, masyarakat diliputi pula oleh perasaan keterbatasan akal. 

Hal-hal yang tidak dapat dipecahkan oleh akal sehat dan dicari jalan pemecahannya melalui kekuatan-kekuatan gaib yang hidup disekeliling mereka. Kekuatan-kekuatan gaib itu tidak dapat dihubungi oleh sembarang orang, melainkan hanya orang-orang tertentu yang dianggap suci. Mereka yang dianggap suci adalah Bissu dan karena itu merekalah yang dapat berkomunikasi langsung dengan dewa-dewa atau mahkluk halus. Hal ini dapat dilihat pada beberapa gerakan dan upacara pada nyayian pemujaan yang dilakukan oleh Bissu dalam upacara Mappalili.

Bissu adalah wakil Arajang dalam menjaga dan menaati tata tertib kosmos. Segala tingkah laku yang dilakukan oleh Bissu didasarkan pada pandangan kosmologi mereka. Mereka beranggapan bahwa dalam diri manusia terkandung unsur-unsur yang disebut sumanga' (semangat). Sumanga' ini merupakan ini dan terbentuknya sebagai adat-istiadat yang harus ditaati.

Berikut peranan dan fungsi sosial Bissu sebagai berikut:

  1. Pemeliharaan, perawat, pembawa Arajang
  2. Pemimpin upacara ritual khusus yang berhubungan dengan para leluhur
  3. Sanro (dukun) yang menyembuhkan penyakit dengan menggunakan mantra-mantra
  4. Guru bagi orang-orang yang akan menikah dan membentuk keluarga menurut tata cara yang diatur oleh adat
Tari Sere Bissu dilakukan oleh para Bissu dalam upacara-upacara suci yang menyangkut aliran kepercayaan lama yang mempercayai apa yang mereka sebut Dewata Seuwa-E. Sajian pertunjukkan tari tersebut hingga saat ini masih ditemukan dalam upacara tradisional, khususnya upacara tradisional Mappalili. Upacara tradisional Mappalili tersebut mencerminkan sistem sosial budaya yang berkaitan dengan produk budaya masyarakatnya.

Pada kenyataannya kehidupan Sere Bissu memang tidak terkait dengan kedudukan tari tersebut dalam masyarakat. Kehadirannya di masyarakat tidak sekedar untuk tontonan, tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lain yang dirasakan perlu dalam kehidupan masyarakatnya. Peranan penting Sere Bissu dalam kehidupan masyarakat menyebabkan tetap hidup dan berkembang sesuai dengan zamannya.

Pengungkapan nilai-nilai Sere Bissu yang terdapat dalam masyarakat adalah landasan kultural yang membentuk pola tingkah laku secara kumulatif pada masa lalu. Generasi belakangan mewarisi pola sosial budaya yang dipandangnya sebagai ide tradisi tersebut. Ide itu mengandung nilai yang berpengaruh terhadap masyarakat pendukungnya yang dalam hal ini adalah para Bissu.

Buku BISSU DALAM MASYARAKAT PANGKEP membahas tentang peran Bissu - laki-laki yang memiliki fisik dan seksual yang abnormal, atau sering kita sebut waria atau wadam dalam kondisi kehidupan sosial budaya masyarakat yang mengalami perubahan begitu drastis dan ekstensif, Sere Bissu dapat bertahan sebagai sarana upacara Mappalili sekaligus sebagai tontonan dalam acara khusus untuk para Bissu. 

Tarian tersebut menunjulkkan bagaimana ia terbentuk melalui rentang waktu yang panjang dan dalam perkembangannya senantiasa bertolak dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Sere Bissu terbentuk dari simbol dan laku simbolik kemudian menjadi satu arti yang memenuhi kreteria untuk dipertujukkan.

Buku ini merupakan koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang Makassar untuk menjelaskan bentuk Sere Bissu yang lahir dan berkembang di Segeri Mandalle Kabupaten Pangkep, keterkaitannya dengan adat dan upacara Mappalili, fungsinya dalam kehidupan masyarakatnya, serta bentuk sajiannya yang menyangkut susunan tari, iringan, rias, dan busananya.


BISSU DALAM MASYARAKAT PANGKEP
(Kedudukan, Upacara, dan Sejarahnya)
Penulis: Nurlina Syahrir
Editor: Abdul Rajab Johari, Syukur Saud
Penerbit: Badan Pengembangan Bahasa dan Seni UNM
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2003