Showing posts with label Lontara Bilang. Show all posts
Showing posts with label Lontara Bilang. Show all posts

February 27, 2025

Catatan Harian La Patau Matanna Tikka, Raja Bone XVI

 

Judul:                           Catatan Harian La Patau Matanna Tikka

Penulis:                        -

Penerjemah:                Andi Sofyan Hady

Editor:                         Muhammad Sapri Andi Pamulu, Ph.D. & Dr. Muhlis Hadrawi

Penerbit:                     Yayasan Turikalenna

Tahun Terbit:               2022

Jumlah Halaman:         xiv + 731

ISBN:                         9786239572150

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

La Patau Matanna Tikka adalah Raja Bone ke-16, juga Datu Soppeng ke-18 dan Ranreng Tua Wajo ke-18. Nama lengkapnya adalah La Patau Matanna Tikka Sultan Idris Azimuddin Matinroe ri Nagauleng, memerintah kerajaan Bone dari tahun 1692 – 1714. Beliau menggantikan Arung Palakka (La Tenri Tatta Sultan Saaduddin Matinroe ri Bontoala).

Selama masa pemerintahan La Patau Matanna Tikka, selalu ada catatan untuk merekam dan mendokumentasikan semua peristiwa yang terjadi dan kegiatan kegiatannya sebagai Raja Bone. Kemungkinan catatan harian ini tidak ditulis sendiri oleh sang Raja, karena ada profesi zaman dulu yang disebut  ’jurutulisi’ atau semacam sekretaris pada masa sekarang. La Patau Matanna Tikka, bukanlah satu satunya Raja Bone yang memiliki Catatan Harian. Raja Bone yang memerintah sesudahnya juga membuat catatan harian.   

Buku setebal 731 halaman ini termasuk catatan harian yang lengkap. Hampir setiap hari dicatat dalam aksara lontara Bugis. Buku ini adalah hasil alihaksara (transliterasi) dan hasil terjemahan (translasi) Catatan Harian La Patau Matanna Tikka. Catatan harian yang asli menggunakan aksara Lontara Bugis dan berbahasa Bugis, dan buku ini menggunakan aksara Latin dan bahasa Indonesia, tetapi bahasa Bugis juga disertakan dalam aksara Latin.    

Bagian awal buku diisi dengan kata pengantar dari Bupati Bone, Kepala Dinas Pariwisata Bone, dan Kepala Dinas Kebudayaan Bone. Selanjutnya, catatan harian dibagi pertahun, mulai tahun 1692 – 1714. Bagian akhir buku berisi lampiran daftar nama Raja raja Bone mulai dari yang pertama Matasilompoe Manurungnge ri Matajang (1392-1424) sampai Raja ke-23, La Temmasonge’To Appawelling Sultan Abdurrazak Jalaluddin Matinroe ri Mallimongeng (1749-1775).

Peristiwa apa saja yang catat dalam Catatan Harian ini? Ternyata sang Raja mencatat banyak hal dan berbagai jenis peristiwa. Ada banyak catatan penting misalnya kedatangan Raja atau keluarga kerajaan lain, peristiwa perang antar kerajaan, kedatangan orang Belanda, perayaan Maulid dan hari keagamaan lainnya, hari kelahiran (Ulang Tahun) dan hari kematian anggota kerajaan, peristiwa perburuan rusa di daerah, gerhana bulan, dan lain lain. Namun ada juga peristiwa yang mungkin dapat dianggap tidak terlalu penting, misalnya, sang Raja sakit demam (meriang), bisul atau giginya tanggal, saat berangkat ke kebun, ketika tumbuh uban di janggutnya, ketika beliau memberikan ikat pinggangnya pada orang lain dan peristiwa lainnya.

Begitu banyak informasi terekam dalam buku catatan harian ini. Misalnya di daerah Sulawesi Selatan pada masa itu begitu banyak Rusa di hutan. Pada suatu kesempatan berburu, sang Raja dan rombongannya berhasil menangkap 333 ekor rusa, bahkan di hari lain, sampai 700an ekor.

Pada masa lebih 300 tahun lalu, kuda dan kereta kuda serta perahu dan sampan adalah alat transportasi yang banyak digunakan. Tercatat pada buku ini:  Selasa 1 Januari 1692 bertepatan dengan 11 Rabiul Akhir 1103 H ”saya (mulai) mendayung di Palopo kembali ke Cenrana”. Selanjutnya 3 Januari 1692 ”saya berlabuh di Cenrana”. Artinya butuh 3 hari 2 malam naik perahu dari Palopo ke Cenrana. 

Catatan lainnya: Sabtu 15 Agustus 1699 (17 Safar  1111 H) ”kami pergi mandi / rekreasi di Bantimurung”.  Sabtu 26 September 1669 (30 Rabiul Awwal 1111 H) ”Istri Gubernur VOC (Isaac Van Thije) datang”. Bahkan tanggal peristiwa kedatangan kerangka jenazah Syech Yusuf dari Afrika Selatan juga ada dalam catatan harian ini.

Namun ada beberapa nama tempat yang masih perlu informasi lanjutan, misalnya catatan perjalanan dari Palopo ke Cenrana yang ditempuh dalam 3 hari 2 malam, namun tidak dijelaskan Cenrana yang mana yang dimaksud, karena ada beberapa nama Cenrana di Sulawesi Selatan. Cenrana yang dimaksud mungkin yang ada di Bone karena ini Catatan Harian raja Bone.

Nomor halaman pada Daftar Isi juga banyak yang tidak sesuai. Pada Daftar Isi, peristiwa awal tahun 1693 menyebutkan halaman 28, tapi dalam buku peristiwanya pada halaman 43.

Buku sangat direkomendasikan untuk dibaca terutama bagi para pencinta sejarah, khususnya sejarah kerajaan Bone.

Buku koleksi Pribadi.



August 31, 2022

LONTARA BILANG RAJA BONE KE-16

Lontara Bilang (catatan harian raja) merupakan naskah yang biasanya ditulis langsung oleh raja (penguasa) yang bersangkutan atau ditulis oleh orang-orang di sekitar raja. Isi naskah Lontara Bilang berisi catatan peristiwa yang tersusun sangat rinci berupa informasi nyata berdasarkan fakta/kejadian yang sebenarnya yang berlangsung pada saat itu, seperti hari, tanggal, bulan, dan tahun Masehi maupun Hijriah. 

Catatan peristiwa di dalam Lontara Bilang bukan hanya memuat keterangan tentang kunjungan dan kematian, tetapi juga kelahiran, perkawinan dan peristiwa lain di kalangan keluarga raja. Selain itu urusan kenegaraan, ekspedisi perang, perjanjian, peristiwa tentang gejala alam yang dianggap luar biasa (gempa bumi, gerhana matahari/bulan).

Buku LONTARA BILANG (CATATAN HARIAN) RAJA BONE KE-16 LA PATAU MATANNA TIKKA WALINONOE MATINROE RI NAGAULENG (JANUARI 1692 - SEPTEMBER 1714) berisikan naskah India Office Library (IOL) Bugis dalam bentuk manuskrip yang ditulis dalam aksara lontara. Naskah ini memuat secara lengkap informasi sejarah penting dalam kurun waktu (tahun 1692 - 1714) pada masa pemerintahan Arung Palakka sampai La Patau Matinroe ri Nagauleng. 

Di dalam naskah ini terdapat dua peristiwa penting dalam kurung waktu tahun 1692-1714 yakni: 1) wafatnya Arumpone (raja Bone) Arung Palakka Petta To Risompae; 2) suksesi/pemilihan La Patau Matinroe ri Nagauleng menjadi raja Bone menggantikan pamannya. 

Selain itu ada berbagai macam peristiwa yang melibatkan banyak orang atau lebih bersifat umum dan mencakup bidang yang luas karena isinya bukan hanya berisikan peristiwa sehari-hari, seperti jalan-jalan, berburu rusa, menyambung ayam dan lain-lain. Selain itu, berisi catatan peristiwa yang bersifat politis dan diplomatis. Beberapa peristiwa-peristiwa berikut:

  1. Musyawarah dalam pengambilan keputusan. Dalam naskah ditandai dengan adanya kata "nasitudangeng" yang artinya duduk bersama untuk membicarakan sesuatu.
  2. Raja berhak menetapkan dan memutuskan bahwa seorang yang berbuat kejahatan menjadi terpidana mati. Dalam catatan harian ini ada tiga peristiwa yang dicatat yang berkaitan dengan orang yang dibunuh karena perintah raja. Dalam naskah ditandai dengan adanya kalimat "kuassuro mpunoi”.
  3. Peristiwa perang dan penguasaan atas wilayah kerajaan lain. Dalam catatan harian ini disebutkan peristiwa penyerangan Bone terhadap Toraja dan Mandar yang dipimpin langsung oleh penulis dalam hal ini La Patau Matanna Tikka' MatinroƩ ri Nagauleng.

Selanjutnya, Lontara Bilang IOL Bugis juga berisi hal-hal yang berkaitan dengan diri pribadi dan keluarga. Di samping itu, aktivitas yang berhubungan dengan ritual atau upacara, yaitu ritual yang berhubungan dengan ibadah dan ritual yang berhubungan dengan pesta. Adapun ritual yang berhubungan dengan ibadah adalah: 1) awal bulan Ramadhan (puasa pertama); 2) hari raya Idul Fitri, Idul Adha; 3) Maulid Nabi Muhammad S.A.W; 4) dan perayaan hari Asyura.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


LONTARA BILANG (CATATAN HARIAN) RAJA BONE KE-16 LA PATAU MATANNA TIKKA WALINONOE MATINROE RI NAGAULENG (JANUARI 1692 - SEPTEMBER 1714)
Penyusun: Basiah
Penerbit: Perpusnas Press
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 978-623-200-106-0