Showing posts with label Bulukumba. Show all posts
Showing posts with label Bulukumba. Show all posts

January 13, 2022

PINISI: PERAHU KHAS SULAWESI SELATAN

Terdapat tiga sisi dari Provinsi Sulawesi Selatan dikelilingi oleh laut yang luas, hal inilah menjadi salah satu unsur yang melatar belakangi kehidupan masyarakatnya, antara lain sebagian besar penduduknya mencari nafkah melalui laut, baik sebagai nelayan, nakoda/anak buah kapal atau perahu, maupun sebagai pembuat alat transpor di laut.

Salah satu di antara alat transpor laut yang sejak dulu diproduksi dan menjadi salah satu kebanggaan nasional saat ini adalah perahu pinisi sebagaimana telah diuraikan dalam bab terdahulu.

Perahu pinisi sebagai alat transpor laut di kepulauan nusantara ini walaupun belum diketahui dengan jelas siapa, dari mana dan sejak kapan mulai dibuat dan memakainya, namun telah memberi manfaat bagi sebagian masyarakat Sulawesi Selatan terutama yang tinggal di pesisir pantai.

Bentuk (jenis) perahu khas Sulawesi Selatan, yang lebih dikenal dengan pinisi pada dasarnya adalah hasil modifikasi dari perahu perahu sebelumnya seperti perahu salompong, perahu pajala/patorani, perahu lambok, perahu sande dan perahu lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Modifikasi bentuk perahu terus berlangsung sesuai perkembangan, kebutuhan dan kegunaannya dalam masyarakat pemakainya. Menurut M. Arief (informan) bahwa bentuk perahu pinisi saat ini jika di lihat dari kontruksi bangunannya maka terdapat 3 (tiga) tipe yaitu :

  • Tipe Salompong.

Tipe salompong mempunyai ciri khas pada bagian badan depan yaitu memakai undakan yang terdiri dari papan yang dilebihkan secara bersusun dan tidak berhubungan langsung ke sotting depan, hal inilah yang membentuk undakan dibagian depan. Perahu tipe salompong memiliki daya angkut 30 ton sampai 40 ton, memakai 2 (dua) tiang dan 7 (tuju) layar dan pada bagian haluan diberi anjong ( balok-balok yang mencuat dibagian depan pinisi).

  • Tipe Lambok.

Pinisi tipe lambok mempunyai layar tuju buah dan badannya lambok memiliki buritan berbentuk bulat sedang haluan sotting agak lurus dan condong kedepan, daya angkutnya dari 15 ton sampai 60 ton.

  • Tipe Asli.

Tipe asli tidak memakai undakan pada badan perahu terdapat dua tiang, 7 layar. 3 layar berada didepan berbentuk segi tiga lancip terpasang antara tiang depan dengan anjong, 2 layar besar pada tiang utama berbentuk trapesiun, dan 2 layar dipuncak tiang, ciri lainnya adalah haluan berbentuk jonggolan dan memakai anjong dan pada buritannya

Karena manfaat perahu pinisi tersebut dapat dinikmati secara langsung oleh masyarakat yang bermata pencaharian di laut, khususnya Suku Bugis-Makassar, telah dapat berhasil dikembangkan, sehingga sekarang telah mendapat penawaran dari provinsi lainnya di Indonesia dan bahkan membangkitkan minat bagi orang-orang dari mancanegara untuk memproduksi/dipakai sendiri, juga sebagai bahan kajian ilmu pengetahuan mereka. Bukan hanya itu bahkan kebiasaan membuat perahu orang Bugis-Makassar dibawa ke mana mereka pergi sehingga sekarang ini dijumpai di beberapa tempat pemakai perahu pinisi di Wilayah Nusantara ini, dan umumnya punggawa dan sawinya (pemilik dan pekerjanya) adalah orang dari Ara Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan.

Sedangka bentuk pinisi didasarkan pada fungsinya dan kegunaannya secara umum terdapat 2 bentuk yaitu bertipe lebar dan tipe ramping dan panjang. Tipe lebar dan besar digunakan untuk alat pengangkutan sedangkan tipe ramping dan panjang digunakan untuk lomba (palari).

Perahu khas Sulawesi Selatan atau pinisi terdiri atas beberapa bagian antara lain: lunas, sotting, papan pangepek, papan terasa (papan keras), papan lamma (papan lemah), papan tari, balok-balok dan katabang (dek perahu), bangkeng salara (tempat tiang agung melekat), ambing, patti-patti (peti-peti belakang perahu), rangka, timoang (pintu palka), kamar, sanrerang guling, jamba-jambangan/pagentung, lemba-lembarang, lete-lete balaho, anjong, pallajareng (tiang utama), guling (kemudi), layar serta lepe, bua-buaya dan naga-naga. 

Dalam proses pembuatan perahu pinisi di Ara Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan terdapat 5 (lima) uopacara adat yang dilaksanakan oleh punggawa, para sawi dan pemilik perahu, upacara tersebut 3 (tiga) dilaksanakan pada proses pembuatan dan 2 (dua) upacara dilaksanakan setelah badan perahu selesai dikerjakan dan siap berlayar. Upacara yang dimaksud adalah: upacara penebangan kayu, upacara annattara, appasili, ammosi dan upacara peluncuran. 

Sedangkan proses pembuatan perahu pinisi di Ara Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan berlangsung tiga tahap yaitu penebangan kayu dihutan, pembuatan perahu, dilaksanakan oleh sekelompok tukang yang dikepalai oleh punggawa dan tukan lainnya disebut sawi. Punggawa dan sawi memulai pekerjaannya setelah ada kesepakatan dengan pemesan. 

Setelah penebangan kayu di hutan, dilanjutkan proses pembuatan perahu di Bantilang (tempat pembuatan perahu), lalu pemasangan pangepek, pemasangan uru sangkara (papan pertam), pemasangan sotting (dasar perahu bagian depan dan belakang), pemasangan kanjai, pemasangan papan terasa, pemasangan rangka, pemasangan lepe dan bua-buaya, pemasangan kalang, pemasangan bangken salara, pattupuang anjong, pemasangan dek, pemasangan pallu-pallu, pemasangan kelengkapan bagian belakang perahu (sanrerang guling dan lain-lainnya), pemasangan anjong (anjungan), annisi, pamasangan gala-gala, pemasangan aleepa, mendirikan tiang agung serta pemasangan layar dan tali temali.

Buku PINISI: PERAHU KHAS SULAWESI SELATAN memberikan gambaran kepada masyarakat yang bermata pencaharian di laut, khususnya Suku Bugis-Makassar, yang telah berhasil mengembangkannya, sehingga sekarang telah mendapat penawaran dari provinsi lainnya di Indonesia dan bahkan membangkitkan minat bagi orang-orang dari mancanegara untuk memproduksi/dipakai sendiri, juga sebagai bahan kajian ilmu pengetahuan. Bukan hanya itu bahkan kebiasaan membuat perahu orang Bugis-Makassar dibawa ke mana mereka pergi sehingga sekarang ini dijumpai di beberapa tempat pemakai perahu pinisi di Wilayah Nusantara ini, dan umumnya punggawa dan sawinya (pemilik dan pekerjanya) adalah orang dari Ara Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PINISI: PERAHU KHAS SULAWESI SELATAN
Penyusun: Muhammad Masrury, Sangkala, Abbas
Editor: ST. Aminah Pabittei
Penerbit: Proyek Pembinaan Permuseuman Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 1994


November 3, 2021

Datuk ri Tiro: Penyiar Islam di Bulukumba

Datuk ri Tiro: santri, mubalig dan "pemberi berkah" bagi peziarah dan sering disebut "pelindung" (Al maulana). Bermula dari pribadi Minangkabau yang masih misterius asal keluarganya, bahkan sampai akhir hayatnya juga tidak meninggalkan keturunan. Ia menuntut ilmu di zawiah Aceh yang demi tegaknya agama Islam menerima tugas Sultan Aceh untuk berdakwah di komunitas Bugis dan Makassar.

Perjalanan hidup dari pendidikan di zawiah Aceh hingga berlayar mengarungi keganasan laut bersama Datuk Sulaiman dan Datuk ri Bandang mencerminkan sikap pribadi yang ikhlas serta cinta pada Allah, ciptaan-Nya dan agama-Nya. Dalam dakwah beliau memiliki sikap jujur/amanah, tegas, berintegritas dan yakin pada ilmunya sehingga perbedaan dengan Datuk ri Bandang terus didialogkan hingga menemukan solusi yang sangat baik bagi perkembangan Islam sampai sekarang.

Datu ri Tiro menemukan dan memilih negeri Tiro sebagai tempatnya mengabdikan segenap hidupnya sampai wafat tentu bukan secara kebetulan. Negeri Tiro berdasarkan fragmen artefak keramik asing telah ikut andil sebagai pelabuhan transit sejak abad XIV yang sangat terbuka dengan raja yang arif dan berpengetahuan tinggi. Pribadinya yang hormat, santun dan adaptif menjadikan Datu ri Tiro mudah diterima dan beradaptasi dengan komunitas adat yang telah memiliki kepercayaan lokal. Selain itu, sebagai pribadi yang percaya diri, kreatif dan pekerja keras, penempatan Datu ri Tiro berdakwah sangat tepat di Negeri Tiro. Datu ri Tiro terbukti mampu mengatasi tantangan "komunitas" yang senang dengan ilmu-ilmu kebatinan (klenik dan sihir) karena memiliki wawasan dan ilmu kebatinan Islam yang baik.

Dengan kemampuan ilmunya yang tinggi, Datu ri Tiro mampu menundukkan Raja Tiro dalam adu kesaktian. Kemenangannya disikapi dengan hormat, santun dan rendah hati menjadikan Raja Tiro yang diteladani bersedia menjadi muslim diikuti oleh masyarakatnya. Tasawuf yang dipihnya sebagai pendekatan dakwah telah mempermudah penyiaran ajaran agama Islam dengan pendekatan pribadi yang toleran, suka kedamaian dan persatuan.

Kehadiran Datu ri Tiro di Bulukumba tampak telah mewariskan ajaran dan pembelajaran dakwah serta sebagai pilar karakter. Selain itu, Datu ri Tiro juga mewariskan legenda dan artefak yang memiliki bobot nilai ajaran berupa naskah klasik, makam atau relik-relik ulama dan raja berkarisma. Pada nisan-nisan juga terabadikan konsep berpikir tasawuf yang diajarkannya. Beberapa artefak peninggalan zaman Datuk ri Tiro telah tumbuh menjadi objek ziarah di beberapa titik di kawasan Kecamatan Bonto Tiro yang tentunya harus dipelihara dan terus dikembangkan untuk kepentingan agama Ideologi), sosial (pendidikan) dan ekonomi (pariwisata).

Buku Datuk ri Tiro: Penyiar Islam di Bulukumba membahas lima hal yang difokuskan pada satu sosok tokoh ulama yang berasal dari Minangkabau yakni Datuk Tiro. Pertama-tama akan digambarkan kepercayaan pra-Datuk ri Tiro. Pertama-tama akan digambarkan kepercayaan pra-Datuk ri Tiro. Selanjutnya secara berturut-turut dibahas sejarah kehadiran Datu Tallua sebagai bagian tak terpisahkan dari proses Islamisasi di Negeri Tiro: asal-usul Datu ri Tiro; ajaran yang dikembangkan Datu ri Tiro; gagasan-gagasan yang mungkin menjadikan Negeri Tiro pilihan lokasi dakwah di Sulawesi Selatan; serta tradisi ziarah yang terkait dengan karisma Datu ri Tiro. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


Datuk ri Tiro: Penyiar Islam di Bulukumba 
Misi, Ajaran dan Jati Diri
Penulis: M. Irfan Mahmud
Penerbit: Ombak
Tempat Terbit: Yogyakarta
Tahun Terbit: 2012
ISBN: 978-602-7544-73-4


March 17, 2021

HAJI ANDI SULTAN DAENG RAJA: KARAENG GANTARANG BULUKUMBA


Penentangan kehadiran Belanda di Sulawesi Selatan menimbulkan peristiwa demi peristiwa yang melahirkan tokoh-tokoh pejuang yang tidak kenal menyerah antara lain, Haji Andi Sultan Daeng Raja. 

Haji Andi Sultan Daeng Raja bukan saja tampil sebagai penentang hadirnya kembali Belanda di Sulawesi Selatan, tapi juga termasuk salah seorang pencetus ikrar yang merupakan perjanjian luhur bangsa Indonesia yaitu proklamasi 17 Agustus 1945 di Jakarta bersama-sama dengan utusan bangsa Indonesia diseluruh wilayah Indonesia lainnya.

Bahkan bukan saja beliau memulai perjuangannya pada peristiwa 17 Agustus 1945 tapi jauh sebelumnya beliau (Haji Andi Sultan Daeng Raja) semasa diadakan Kongres Pemuda pertama 28 Oktober beliau turut hadir.

Haji Andi Sultan Daeng Raja dilahirkan pada tahun 1894 di Gantarang Bulukumba dalam kalangan keluarga yang sementara berkuasa masa itu. Masa kecil beliau ditempuh dengan segala suka-dukanya. Beliau dikenal termasuk anak yang patuh pada orang tua, serta mempunyai tabiat yang pendiam. Dikalangan teman-teman seangkatannya beliau dikenal sebagai anak yang keras pendirian serta senang pada pelajaran.

Pendidikan dasarnya dimulai dengan sekolah Bumiputra kelas dua atau sekolah Gubernement kelas dua. Setammat pada sekolah Bumiputra di Bulukumba beliau masuk sekolah khusus yang diperuntukkan bagi anak-anak Belanda yang tinggal di Bulukumba yaitu "Eropesche Lagere Scholl type B", yaitu sekolah dimana bahasa pengantarnya adalah bahasa Belanda.

Setammat beliau dari E.L.S. di Bulukumba pada tahun 1907 beliau melanjutkan pendidikannya pada OSVIA yaitu sekolah lanjutan tingkat atas jaman penjajahan Belanda yang menerima murid khusus dari anak-anak kalangan bangsawan untuk dipersiapkan menduduki jabatan-jabatan negeri masa itu seperti Ajun Jaksa, lambau (pegawai pertanian) calon pamong praja dan sebagainya.

Sewaktu beliau berhasil menamatkan pendidikannya pada OSVIA di Ujung Pandang tahun 1914 dengan hasil memuaskan, selanjutnya beliau di benum (diangkat) menjadi pegawai di Ujung Pandang. Karier kepegawaian beliau dimasa penjajahan dijadikan sebagai alat penunjang cita-cita perjuangan yang ingin melenyatkan bangsa penjajah.

Beliau pernah ditangkap oleh sekutu (Australia) yang membuktikan dirinya sebagai salah satu tokoh perjuangan Sulawesi yang dianggap mampu menghambat kembalinya penjajahan Belanda di Indonesia sehingga ia disingkirkan dari tengah-tengah masyarakatnya.

Pada tanggal 17 Mei 1963 (hari Jum'at) usia 70 tahun, beliau meninggal dunia di Rumah Sakit Pelamonia, setelah sakit beberapa lama, dan dimakamkan dibelakang Mesjid Raya Ponre, sesuai amanah beliau berdampingan dengan ayahandanya, walupun sebenarnya beliau berhak untuk dimakamkan pada Makam Pahlawan Bulukumba.

Dalam rangka mengabadikan nama beliau sebagai tokoh perjuangan dari Sulawesi Selatan, maka oleh panitia pemberi nama jalan pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Bulukumba menetapkan jalan arteri (protokol) yang kebetulan membentang didepan rumah beliau dengan nama jalan Haji Andi Sultan Daeng Raja.

Buku BIOGRAFI PAHLAWAN HAJI ANDI SULTAN DAENG RAJA sebagai pejuang yang menentang Belanda sejak masih menjadi pegawai pemerintah Belanda di jaman kolonial. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan jalan Sultan Alauddin KM. 7 Tala'salapang-Makassar.


KARAENG GANTARANG BULUKUMBA
Penulis: M. Basri Padulungi
Penerbit: Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1981


 



 

GAMBARA' TENUNAN TRADISIONAL BIRA KABUPATEN BULUKUMBA

Sulawesi Selatan mempunyai beraneka ragam tenunan dan bermacam-macam ragam hias. Hasil karya tenunan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan memiliki pengalaman historis serta penguasaan pengetahuan dan teknologi yang telah tumbuh dan berkembang. Hal ini tercermin benda-benda hasil kebudayaan yang dimiliki untuk mengolah sumber daya alam, yang langsung maupun tidak langsung dibutuhkan dan bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

Proses menenun hingga kini, tidak mengalami perubahan kecuali pada bahan baku dan ragam hias yang berkembang. Jenis tenunan Bugis-Makassar yang dikenal salah satu diantaranya berasal dari Bira Kabupaten Bulukumba yang disebut Gambara', selain itu dikenal pula Sutra Bugis Makassar, Seko Mandi, Rendong lolo, Kain tenun Tator dan Kain tenun Mandar.

Gambara' diartikan sebagai gambar-gambar. Penamaan tersebut disebabkan karena kain tenunan ini memiliki gambar-gambar atau yang dikenal dengan ragam hias/motif. Arti Gambara' tidak hanya terbatas pada gambar-gambar dan tidak hanya bersifat dekoratif saja, tetapi merupakan simbol-simbol yang mengambarkan kehidupan masyarakat Bira. Gambaran kehidupan yang dimaksud erat kaitannya dengan penggunaan kain Gambara' pada peristiwa daur hidup manusia (life cycle), yaitu peristiwa kelahiran, perkawinan dan kematian. Peristiwa ini sangat disakralkan, karena terjadinya berdasarkan ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT. Pemakaian Gambara' pada upacara-upacara tersebut merupakan suatu keharusan yang mengekspresikan suatu penghormatan bagi pelaku-pelaku upacara dan masyarakat yang terlibat. 

Buku GAMBARA' TENUNAN TRADISIONAL BIRA KABUPATEN BULUKUMBA memberikan gambaran tentang peralatan pengolahan bahan kain dan peralatan tenun, pengolahan tenun Gambara', jenis dan kegunaan tenun Gambara' serta ragam hias tenunan.Buku ini merupakan salah satu Koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang Makassar.


GAMBARA' TENUNAN TRADISIONAL BIRA KABUPATEN BULUKUMBA
Penulis: Suriasni, Nurhaedah, Mieke Lobo
Editor: H. St. Aminah Pabittei H
Penerbit: Bagian Proyek Penerbitan dan Permuseuman Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 1997





January 20, 2021

SISTEM PENGUASAAN WILAYAH PERIKANAN DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA HAYATI LAUT OLEH MASYARAKAT NELAYAN BUGIS MAKASSAR

Perairan Selat Makassar, Teluk Bone, dan laut Flores adalah beberapa wilayah perairan yang mengelilingi Provinsi Sulawesi Selatan sudah sejak lama berlangsung penguasaan perairan pantai untuk keperluan penangkapan ikan. Untuk penguasaan perairan pantai seperti itu, masyarakat nelayan Bugis Makassar dan Mandar secara umum menggunakan istilah ongko. Ongko juga digunakan oleh nelayan di danau di Danau Sidenreng untuk mengklain lokasi-lokasi perikanan tertentu di perairan pantai Teluk Bone di Luwu, nelayan bagang (penangkapan ikan teri) menggunakan istilah solo sebagai pranata yang mengatur sistem penguasaan wilayah perikanan di laut.

Terkait dengan pranata ongko, nelayan Bugis Makassar dan Mandar juga menerapkan teknik penangkapan ikan (yang terkenal adalah rompong) yang dinilai produktif dan adaptif, yang sekaligus tanda pemilikan suatu lokasi perikanan. Nelayan Bugis Makassar bersama dengan nelayan-nelayan setempat sejak dahulu menggunakan teknik rompong yang mengandung unsur pranata pemilikan dan penguasaan teritorial perikanan tertentu. Dalam zaman pemerintahan Hindia-Belanda menurut literatur lama, terbukti bahwa teknologi perikanan laut Belanda yang paling modern pada masa itu (pukat boomkor, tannekor, trawl, ottertrawl) tidak mampu menyaingi teknik rompong yang produktif dan adaptif lingkungan.

Buku SISTEM PENGUASAAN WILAYAH PERIKANAN DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA HAYATI LAUT OLEH MASYARAKAT NELAYAN BUGIS MAKASSAR DI SULAWESI SELATAN membahas mengenai ongko dan rompong yang dikelola oleh nelayan Bulukumba di Kampung Nipa dan Kassi', dengan beberapa kesimpulan diantaranya:

  1. Ongko dan rompong merupakan unsur kebudayaan maritim masyarakat nelayan Bugis-Makassar yang bertahan (surviva) dalam proses evaluasi dan perubahan kebudayaan yang panjang. Ongko mengacu pada pranata atau aturan adat yang mengatur sistem penguasaan wilayah perikanan di laut, sedangkan rompong berfungsi dua. Pada satu segi, rompong merupakan salah satu unsur pranata ongko, yaitu sebagai tanda kepemilikan seseorang atau masyarakat/kelompok terhadap suatu lokasi, dan pada segi lainnya rompong merupakan unsur teknologi dalam rangka pemanfaatan sumber daya hayati laut, khususnya ikan.
  2. Masyarakat nelayan Bugis-Makassar merupakan salah satu masyarakat etnis di dunia yang mampu mengubah bagian-bagian perairan di laut sebagai milik umum menjadi milik kelompok atau individu. Dengan pranata adat berupa ongko dan rompong tersebut masalah-masalah persaingan dan konflik antara nelayan di laut dapat dihindari, dan keseimbangan sumber daya hayati serta kelestarian lingkungan laut dapt dipertahankan.
  3. Dengan analisa mengenai komponen-komponen dan proses adaptif, produktif dan berwawasan lingkungan. Keunggulan adaptif mengenai kondisi bio dan abiotik laut yang bisa berubah-ubah sesuai dengan dan menciptakan kelompok-kelompok dan organisasi sosial dengan pembagian kerja yang ketat; menciptakan lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja yang banyak; adaptif terhadap tingkat-tingkat kehidupan sosial ekonomi yang subsistensi dan ekonomi pasar yang kapitalis dan industrial, dan terdapat perkembangan teknologi perikanan. Keunggulan produktif dari teknik rompong mengenai dua segi, yaitu pada jumlah tangkapan dan terjaminnya daya dukung atau persediaan sumber ikan yang akan diproduksi dalam jangka waktu yang lama. Wawasan lingkungan yang terkandung dalam rompong berwujud sebagai rangkaian ide dan teknik-teknik perikanan yang rasional dan canggih tanpa menganggu kondisi keseimbangan sumber daya hayati dan sistem ekologi laut, sebaliknya rompong lebih banyak mengandung ide perkembangan (reproduction) daripada ide penangkapan ikan (production).
  4. Oleh karena dinilai fungsi reproduksi rompong lebih tinggi daripada fungsi produksinya, maka perikanan dengan rompong lebih banyak menyerupai usaha perikanan budidaya laut daripada usaha perikanan dengan memburu ikan-ikan liar di laut. Melihat lapangan dan kondisi lingkungan fisik-geografis kerjanya, pengelola rompong tepat disebut sebagai nelayan rompong dan bukan petani rompong.
  5. Proses usaha perikanan dengan rompong di berbagai tempat di Bulukumba menunjukkan fenomena yang berbeda-beda. Diperairan pantai selatan dan barat Bulukumba, yang dikenal sebagai lokasi-lokasi lama, rompong mengalami kemerosotan ialah diterapkannya teknik penangkapan ikan berupa rengge' yang tidak mengindahkan pranata penguasaan wilayah/lokasi-lokasi perikanan di laut. Munculnya lokasi-lokasi rompong todang di perairan pantai Selayar dimungkinkan oleh tumbuhnya kesadaran para nelayan rangge' akan keunggulan teknik rompong di atas teknik rangge', yang menggunakan sinar lampu. Tumbuhnya kesadaran tersebut menyebabkan sebagian besar nelayan rangge' beralih keteknik rompong dan sebagian lainnya masih mengkombinasikan kedua teknik tersebut pada lokasi-lokasi yang saling berjauhan.
Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar yang membahas tentang Ongko dan Rompong yang dinilai merupakan unsur teknologi laut nelayan Bugis Makassar khususnya berkaitan dengan pengelolaan sumber budidaya laut dan pengaturan wilayah-wilayah perairan pantai, unsur-unsur teknik rompong dan ongko yang mempunyai prospek yang sangat baik dikembangkan. 


SISTEM PENGUASAAN WILAYAH PERIKANAN DAN PEMANFAATAN 
SUMBER DAYA HAYATI LAUT OLEH MASYARAKAT NELAYAN BUGIS MAKASSAR 
DI SULAWESI SELATAN 
Penulis: Munsi Lampe, Hamka Naping, Mustamin Naping, Hetty De Lopez
Penerbit: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Sulawesi Selatan
Tempet Terbit: Ujung pandang
Tahun Terbit: 1996


December 2, 2020

MENAPAK HARI ESOK BULUKUMBA YANG LEBIH BAIK

Bulukumba merupakan sebuah ladang "subur" yang amat potensial untuk melakukan eksperimentasi tentang apa yang sering disebut pembangunan. Tentu saja pembangunan dalam arti luas (fisik dan mental) secara seimbang dan dinamis. Potensi kebudayaan dan Sumber Daya Alam (SDA) Kabupaten Bulukumba akan menunjang terciptanya esensi pembangunan, terutama dalam konteks Otonomi Daerah (OTODA).

Buku MENAPAK HARI ESOK BULUKUMBA YANG LEBIH BAIK sebuah kumpulan tulisan untuk menemukan perbandingan gagasan yang pada ujungnya melahirkan kesimpulan-kesimpulan, bahkan akan menstimulasi lahirnya lgagasan-gagasan yang cerdas dari semua golongan, baik pemerintah, rakyat, mahasiswa dan peran Lembaga Swadaya Masyarakat serta penegak hukum. Berikut judul tulisan tersebut:

Pengembangan Potensi SDA, Ekonomi dan Pengembangan Industri

  1. Pengembangan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bulukumba oleh Ir. Nasrun M. Patadjai, MM
  2. Pemberdayaan Sumber Daya Alam dan Industri Kabupaten Bulukumba oleh Drs. Sadman, MBA
  3. Pengembangan Industri Kapal Kayu Tradisional Sulawesi Selatan oleh Ir. H. Amrullah Pase, MBA dan Ir. L. Asmar Parsan, M. Eng.
  4. Optimisme Pembangunan Pertanian di Kabupaten Bulukumba oleh Ir. H. Azikin Patedduri
  5. Membangun Kemandirian Daerah dengan Penguatan Basis Ekonomi Rakyat (Sebuah Langkah Strategis Mengusung Bulukumba Sejahtera) oleh Irham Ariandi, SE
  6. Harapan dan Tantangan Pengembangan Kehutanan di Kabupaten Bulukumba oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Bulukumba
Peran Perempuan Kabupaten Bulukumba dalam Pembangunan dan Kemandirian Lokal
  1. Fenomena Perempuan Bulukumba (Sebuah Wacana Sosial Perempuan dan Pembangunan Bulukumba) oleh Murniati, S. Ag
  2. Revolusi Teknologi Elektronika Digital dan Peluang Perempuan Berpartisipasi dalam Berbagai Pekerjaan oleh Dra. Lu'Mu, MN. Pd.
Kebudayaan, Kearifan Lokal dan Reposisi Peran Pemuda dan Mahasiswa dalam Pembangunan
  1. Benang Kusut Reformasi Berkesenian oleh Drs. A. Mahrus Andis
  2. Modern tanpa menjadi "To Bakka' Teka' na"oleh Yusuf Akib
  3. Pasangan Rikajang dan Pelestarian Lingkungan Hidup oleh Abdul Kahar Muslim
  4. Strategi Pengembangan dan Peranan Pemuda-Mahasiswa dalam Pembangunan Bulukumba oleh Siswan, Spd
Hukum dan Partisipasi Masyarakat terhadap Sistem Nilai Sosial menuju Terwujudnya Penegakan Syariat Islam

  1. Refleksi atas Penegakkan Supremasi Hukum oleh Marwan Mas, SH., MH
  2. Pelibatan Masyarakat dalam Pemberantasan Korupsi oleh Nasiruddin Pasigai 
  3. Peraturan Daerah Bulukumba dan Syariat Islam dalam Kehidupan Bermasyarakat oleh Drs. H. Mas Alim Katu, M. Ag
Konsep Pendidikan, SDM dan Kesehatan Masyarakat
  1. Pendidikan Lokal (Sebuah Pencarian Bentuk) oleh Prof. Dr. Ambo Anre Abdullah\
  2. Implikasi Otoda terhadap Pengelolahan Pendidikan oleh Drs. Mappasoro
  3. Peran Dinas Kesehatan dalam Meningkatkan Kualitas SDM di Kabupaten Bulukumba oleh dr. Abdul Sjafar
  4. Pola Pembangunan Kesehatan Masyarakat oleh Andi Asri, SKM
Buku ini merupakan salah satu koleksi referensi, layanan perpustakaan umum berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar untuk sebagai peluang besar bagi Bulukumba untuk menjadi cermin atas pelaksanaan gagasan otonomi daerah.


MENAPAK HARI ESOK BULUKUMBA YANG LEBIH BAIK
(Sebuah Kumpulan Tulisan)
Editor: Anis K Al-Asyari, Andhika Mappasomba, A. Mulyadi Mapparessa
Penerbit: BPPM, PP-KKMB dengan KKB
Tahun Terbit: 2004


April 18, 2020

PERAHU PINISI


Perahu Pinisi dilengkapi dengan 7 buah layar, masing-masing memiliki nama dan fungsi tersendiri. Layar Utama disebut sombala bakka, layar belakang dinamakan sombala riboko. Layar tengah disebut tampasere dan tampasere riboko. Tiga layar lain yang lebih kecil dinamakan cocoro bakka, cocoro tangnga dan cocoro pantara. Tempat pembuatan perahu pinisi di Kelurahan Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan.


Pembuatan perahu pinisi sekitar tiga hingga enam bulan. Kadang-kadang lebih lama, tergantung dari kesiapan bahan dan musim. Selain itu proses pembuatannya cukup unik, karena proses pembuatannya memadukan keterampilan teknis dengan kekuatan magis.

Proses awal pembuatan perahu pinisi

Tahap pertama dimulai dengan penentuan hari baik untuk mencari kayu (bahan baku). Hari baik untuk mencari kayu biasanya jatuh pada hari ke-5 dan ke-7 pada bulan yang sedang berjalan. Angka lima sendiri menyimbolkan naparilimai dalle‘na, yang berarti rezeki sudah di tangan, sedangkan angka tujuh menyimbolkan natujuangngi dalle‘na, yang berarti selalu mendapat rezeki.

Tahap selanjutnya adalah menebang, mengeringkan dan memotong kayu. Kemudian kayu atau bahan baku tersebut dirakit menjadi sebuah perahu dengan memasang lunas, papan, mendempulnya dan memasang tiang layar.

Tahap pembuatan lunas perahu, sotting (bagian depan dan belakang perahu), papan terasa’ (yang berada di dalam air) dan papan lamma (yang berada di atas air).

Pada saat peletakan lunas, juga harus disertai prosesi khusus. Saat dilakukan pemotongan, lunas diletakkan menghadap Timur Laut. Balok lunas bagian depan merupakan simbol lelaki. Sedang balok lunas bagian belakang diartikan sebagai simbol wanita. Usai dimantrai, bagian yang akan dipotong ditandai dengan pahat.

Pemotongan yang dilakukan dengan gergaji harus dilakukan sekaligus tanpa boleh berhenti. Itu sebabnya untuk melakukan pemotongan harus dikerjakan oleh orang yang bertenaga kuat. Demikian selanjutnya setiap tahapan selalu melalui ritual tertentu.

Tahap Penghalusan dan pemampatan tubuh perahu. Seluruh tubuh perahu di buat dari kayu jati dan kayu bayam. Sedangkan untuk tulang dan papan kulit memakai kayu bitti (cenrang).
Tahap terakhir adalah peluncuran perahu ke laut.Tiap-tiap tahap tersebut selalu diadakan upacara-upacara adat tertentu. Sebelum perahu Pinisi diluncurkan ke laut, terlebih dahulu dilaksanakan upacara Maccera Lopi (mensucikan perahu) yang ditandai dengan penyembelihan binatang. Jika Perahu Pinisi itu berbobot kurang dari 100 ton, maka binatang yang disembelih adalah seekor kambing, dan jika bobotnya lebih dari 100 ton, maka binatang yang disembelih adalah seekor sapi.

Alam, Manusia, Budaya Sulawesi Selatan
Nara Sumber: Mattulada, Darmawan Mas'ud
Penelitih: Muhammad Zubair
Penerbit: PT. Info Budaya Nusantara bekerjasama Pemda Tingkat I Sulawesi Selatan 
Tahun Terbit: 1992
ISBN: 979-8370-007