Terdapat tiga sisi dari Provinsi Sulawesi Selatan dikelilingi oleh laut yang luas, hal inilah menjadi salah satu unsur yang melatar belakangi kehidupan masyarakatnya, antara lain sebagian besar penduduknya mencari nafkah melalui laut, baik sebagai nelayan, nakoda/anak buah kapal atau perahu, maupun sebagai pembuat alat transpor di laut.
Salah satu di antara alat transpor laut yang sejak dulu diproduksi dan menjadi salah satu kebanggaan nasional saat ini adalah perahu pinisi sebagaimana telah diuraikan dalam bab terdahulu.
Perahu pinisi sebagai alat transpor laut di kepulauan nusantara ini walaupun belum diketahui dengan jelas siapa, dari mana dan sejak kapan mulai dibuat dan memakainya, namun telah memberi manfaat bagi sebagian masyarakat Sulawesi Selatan terutama yang tinggal di pesisir pantai.
Bentuk (jenis) perahu khas Sulawesi Selatan, yang lebih dikenal dengan pinisi pada dasarnya adalah hasil modifikasi dari perahu perahu sebelumnya seperti perahu salompong, perahu pajala/patorani, perahu lambok, perahu sande dan perahu lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Modifikasi bentuk perahu terus berlangsung sesuai perkembangan, kebutuhan dan kegunaannya dalam masyarakat pemakainya. Menurut M. Arief (informan) bahwa bentuk perahu pinisi saat ini jika di lihat dari kontruksi bangunannya maka terdapat 3 (tiga) tipe yaitu :
- Tipe Salompong.
Tipe salompong mempunyai ciri khas pada bagian badan depan yaitu memakai undakan yang terdiri dari papan yang dilebihkan secara bersusun dan tidak berhubungan langsung ke sotting depan, hal inilah yang membentuk undakan dibagian depan. Perahu tipe salompong memiliki daya angkut 30 ton sampai 40 ton, memakai 2 (dua) tiang dan 7 (tuju) layar dan pada bagian haluan diberi anjong ( balok-balok yang mencuat dibagian depan pinisi).
- Tipe Lambok.
Pinisi tipe lambok mempunyai layar tuju buah dan badannya lambok memiliki buritan berbentuk bulat sedang haluan sotting agak lurus dan condong kedepan, daya angkutnya dari 15 ton sampai 60 ton.
- Tipe Asli.
Tipe asli tidak memakai undakan pada badan perahu terdapat dua tiang, 7 layar. 3 layar berada didepan berbentuk segi tiga lancip terpasang antara tiang depan dengan anjong, 2 layar besar pada tiang utama berbentuk trapesiun, dan 2 layar dipuncak tiang, ciri lainnya adalah haluan berbentuk jonggolan dan memakai anjong dan pada buritannya
Karena manfaat perahu pinisi tersebut dapat dinikmati secara langsung oleh masyarakat yang bermata pencaharian di laut, khususnya Suku Bugis-Makassar, telah dapat berhasil dikembangkan, sehingga sekarang telah mendapat penawaran dari provinsi lainnya di Indonesia dan bahkan membangkitkan minat bagi orang-orang dari mancanegara untuk memproduksi/dipakai sendiri, juga sebagai bahan kajian ilmu pengetahuan mereka. Bukan hanya itu bahkan kebiasaan membuat perahu orang Bugis-Makassar dibawa ke mana mereka pergi sehingga sekarang ini dijumpai di beberapa tempat pemakai perahu pinisi di Wilayah Nusantara ini, dan umumnya punggawa dan sawinya (pemilik dan pekerjanya) adalah orang dari Ara Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan.
Sedangka bentuk pinisi didasarkan pada fungsinya dan kegunaannya secara umum terdapat 2 bentuk yaitu bertipe lebar dan tipe ramping dan panjang. Tipe lebar dan besar digunakan untuk alat pengangkutan sedangkan tipe ramping dan panjang digunakan untuk lomba (palari).
Perahu khas Sulawesi Selatan atau pinisi terdiri atas beberapa bagian antara lain: lunas, sotting, papan pangepek, papan terasa (papan keras), papan lamma (papan lemah), papan tari, balok-balok dan katabang (dek perahu), bangkeng salara (tempat tiang agung melekat), ambing, patti-patti (peti-peti belakang perahu), rangka, timoang (pintu palka), kamar, sanrerang guling, jamba-jambangan/pagentung, lemba-lembarang, lete-lete balaho, anjong, pallajareng (tiang utama), guling (kemudi), layar serta lepe, bua-buaya dan naga-naga.
Dalam proses pembuatan perahu pinisi di Ara Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan terdapat 5 (lima) uopacara adat yang dilaksanakan oleh punggawa, para sawi dan pemilik perahu, upacara tersebut 3 (tiga) dilaksanakan pada proses pembuatan dan 2 (dua) upacara dilaksanakan setelah badan perahu selesai dikerjakan dan siap berlayar. Upacara yang dimaksud adalah: upacara penebangan kayu, upacara annattara, appasili, ammosi dan upacara peluncuran.
Sedangkan proses pembuatan perahu pinisi di Ara Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan berlangsung tiga tahap yaitu penebangan kayu dihutan, pembuatan perahu, dilaksanakan oleh sekelompok tukang yang dikepalai oleh punggawa dan tukan lainnya disebut sawi. Punggawa dan sawi memulai pekerjaannya setelah ada kesepakatan dengan pemesan.
Setelah penebangan kayu di hutan, dilanjutkan proses pembuatan perahu di Bantilang (tempat pembuatan perahu), lalu pemasangan pangepek, pemasangan uru sangkara (papan pertam), pemasangan sotting (dasar perahu bagian depan dan belakang), pemasangan kanjai, pemasangan papan terasa, pemasangan rangka, pemasangan lepe dan bua-buaya, pemasangan kalang, pemasangan bangken salara, pattupuang anjong, pemasangan dek, pemasangan pallu-pallu, pemasangan kelengkapan bagian belakang perahu (sanrerang guling dan lain-lainnya), pemasangan anjong (anjungan), annisi, pamasangan gala-gala, pemasangan aleepa, mendirikan tiang agung serta pemasangan layar dan tali temali.
Buku PINISI: PERAHU KHAS SULAWESI SELATAN memberikan gambaran kepada masyarakat yang bermata pencaharian di laut, khususnya Suku Bugis-Makassar, yang telah berhasil mengembangkannya, sehingga sekarang telah mendapat penawaran dari provinsi lainnya di Indonesia dan bahkan membangkitkan minat bagi orang-orang dari mancanegara untuk memproduksi/dipakai sendiri, juga sebagai bahan kajian ilmu pengetahuan. Bukan hanya itu bahkan kebiasaan membuat perahu orang Bugis-Makassar dibawa ke mana mereka pergi sehingga sekarang ini dijumpai di beberapa tempat pemakai perahu pinisi di Wilayah Nusantara ini, dan umumnya punggawa dan sawinya (pemilik dan pekerjanya) adalah orang dari Ara Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
Penyusun: Muhammad Masrury, Sangkala, Abbas
Editor: ST. Aminah Pabittei
Penerbit: Proyek Pembinaan Permuseuman Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 1994







