Showing posts with label Massenrempulu. Show all posts
Showing posts with label Massenrempulu. Show all posts

December 17, 2025

Pancaitana Bungawalie, Perjuangan Rakyat Maiwa, Enrekang, Duri Melawan Kolonialisme Belanda

 


Judul:                           Pancaitana Bungawalie, Perjuangan Rakyat Maiwa Enrekang Duri Melawan Kolonialisme Belanda

Penulis:                        Muhammad Natsir Sitonda

Editor:                         -

Penerbit:                     Yayasan Pendidikan Muhammad Natsir

Tahun Terbit:               2013

Jumlah Halaman:        xi + 93

ISBN:                            9786021731659

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Pancaitana Bungawalie adalah seorang pejuang kemerdekaan yang pemberani dan memimpin pergerakan rakyat Maiwa Enrekang Duri pada awal abad ke-20 melawan penjajan Belanda. Pancaitana Bungawalie bersama rakyanya menunjukkan keberaniannya melawan penjajah Belanda, walaupun dengan persenjataan sederhana yang dimilikinya. Keberanian dan nilai nilai perjuangan inilah yang ingin disebarluaskan oleh penulis kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada masyarakat Maiwa Enrekang Duri.

Penulis (Muhammad Natsir Sitonda) membagi tulisannya dalam bentuk buku dengan empat bagian, diawali dengan pengantar dari penerbit dan penulis, dan sambutan Bupati Enrekang waktu penerbitan buku ini yaitu Drs. H. Muslimin Bando, M.Pd.

Pada bagian pertama, diuraikan tentang Messenrempulu sebagai tanah kelahiran Pancaitana Bungawalie. Massenrempulu juga sebagai suatu wilayah, sebagai suatu kelompok masyarakat, sebagai suatu perserikatan kerajaan kerajaan di wilayah tersebut. Sejarah penyatuan kerajaan kerajaan kecil pada masa lalu serta bahasa, asal usul orang Massenrempulu dan juga strata sosial dijelaskan pula pada bagian ini.

Riwayat hidup Pancaitana Bungawalie dijelaskan pada bagian selanjutnya, mulai asal usul orang tuanya, tanah kelahirannya, dan masa masa kehidupannya: lahir, masa perkawinan, dan masa pengangkatan beliau sebagai raja yaitu Raja (Arung) Enrekang XI. Masa pemerintahannya dari 1878 – 1915. Dijelaskan pula pada bagian ini tentang para bangsawan kerajaan, ada Sulewatang, Pabicara, Jannang, dan jabatan jabatan kerajaan lainnya. Benteng benteng pertahanan yang dibangun, serta peperangan yang terjadi juga dibahas disini.

Penulis juga membahas bagaimana rakyat Massenrempulu dipimpin oleh Pancaitana Bungawalie berjuang melawan kolonialisme Belanda. Diawali dengan adanya perjanjian Bungaya yang berdampak pada kedaulatan kerajaan kerajaan yang ada d Sulawesi bagian selatan. Ada upaya pemerintah kolonial Belanda untuk menguasai kerajaan kerajaan yang tergabung dalam persekutuan Massenrempulu. Saat itulah terjadi perlawanan dari rakyat Massenrempulu, namun karena pasukan Belanda memiliki persenjaan lengkap akhirnya, dan banyaknya rakyat Massenrempulu yang gugur dalam perjuangan, akhirnya Pancaitana Bungawalie menandatangani Korte Verklaring (Pernyataan Pendek) pada 4 Maret 1906, yang mengharusnya bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda. Namun tenyata perlawanan rakyat Massenrempulu tetap berlanjut.

Buku ini diakhir dengan Epilog yang sekali lagi membahas tentang Pancaitana Bungawalie.

Buku ini memberikan gambaran mendalam tentang perjuangan rakyat di wilayah Massenrempulu (Maiwa, Enrekang, Duri) yang sering kurang terangkat dalam sejarah nasional. Ini membantu memperkaya khasanah sejarah lokal Indonesia. Buku ini juga menggambarkan nilai-nilai budaya dan semangat perlawanan masyarakat setempat terhadap kolonialisme, sehingga menambah pemahaman tentang identitas dan akar budaya daerah tersebut. Buku ini menjadi sumber penting untuk mengenang dan mengapresiasi perjuangan rakyat biasa, bukan hanya elite atau tokoh nasional, sehingga memperlihatkan sejarah dari perspektif rakyat kecil. Bisa menjadi sumber inspirasi bagi pembaca, khususnya generasi muda, untuk memahami pentingnya sikap perjuangan dan semangat nasionalisme.

Karena fokusnya sangat lokal, pembaca yang tidak familiar dengan wilayah Massenrempulu mungkin merasa kurang relevan atau sulit memahami konteks sosial-budaya dan politik yang melatarbelakangi perjuangan tersebut. Jika buku ini hanya mengandalkan sumber-sumber lokal atau cerita lisan, mungkin ada keterbatasan dalam verifikasi fakta historis yang bisa mempengaruhi keakuratan narasi. Jika bahasa yang digunakan terlalu akademis atau terlalu lokal, bisa menyulitkan pembaca umum untuk mengakses isi buku dengan mudah. Buku mungkin kurang menampilkan perspektif kolonial atau pihak lawan, sehingga narasi bisa terkesan sepihak atau kurang mendalam dalam analisis konflik.

Buku ini koleksi Layanan Perpustakaan Umum, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



August 23, 2024

Cerita Rakyat Massenrempulu "La'bo Balida"

 


Judul:                           La’bo Balida, Cerita Rakyat Massenrempulu

Penulis:                        Arham, dkk.

Editor:                         -

Penerbit:                     Pustaka Refleksi

Tahun Terbit:               2009

Jumlah Halaman:        vi + 61

ISBN:                            979-9673-23-6

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Sulawesi Selatan termasuk salah satu provinsi di Indonesia yang kaya akan tradisi lisan. Folklore atau cerita rakyat cukup dikenal luas di tengah tengah masyarakat Sulawesi Selatan. Berbagai suku atau etnis yang ada di Sulawesi Selatan, masing masing memiliki cerita rakyat atau kisah kisah tradisional / dongeng yang telah dikisahkan dari generasi ke generasi, dari masa ke masa sampai sekarang. Salah satu kelompok masyarakat yang juga memiliki kekayaan tradisi lisan berupa cerita rakyat adalah masyarakat Massenrempulu yang ada di kabupaten Enrekang. Masyarakat Massenrempulu berusaha melestarikan cerita rakyat yang sudah ada sejak ratusan tahun silam, yaitu dengan mengumpulkannya dalam bentuk buku ini.

Buku ini diterbitkan dalam rangka upaya pelestarian cerita rakyat Massenrempulu, yang dilaksanakan oleh sekelompok anak muda dan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi HPMM (Himpunan Pelajar Mahasiswa Massenrempulu). Anak muda kreatif ini berusaha agar cerita cerita rakyat dari daerah mereka harus dilestarikan dan didokumentasikan agar generasi muda Sulawesi Selatan, khususnya yang berasal dari daerah Massenrempulu dapat lebih mengenal kearifan lokal (local wisdom) yang ada didaerahnya.  Para mahasiswa ini, mewawancarai para tokoh masyarakat atau masyarakat biasa yang punya atau bisa mengisahkan suatu cerita rakyat Massenrempulu.

Dari hasil penelitian dan wawancara tersebut terkumpul sebanyak 24 cerita rakyat Massenrempulu. Cerita rakyat tersebut direkam dalam media digital lalu kemudian di terbitkan dalam bentuk buku. Buku cerita rakyat Massenrempulu ini tentu akan menambah khazanah folklore masyarakat Enrekang khususnya, dan Sulawesi Selatan serta Indonesia pada umumnya. Buku cerita rakyat ini juga memudahkan upaya pelestarian tradisi lisan kepada generasi muda.

Adapun ke 14 Cerita Rakyat dalam buku ini adalah : Ca’dodong, Bellang Langi, Buttu Kabobong, La’bo Balida, Beristrikan Daun Pacar, Tumaling Pemberani dari Tuara, Ceba Kalasi, Tomanurung di Maiwa, Jarum, Dua Bersaudara Menjadi Batu, “Jalan Pintas” Lajana, Buntu Mataran dan Kutu, To Bu’tu ri Tallang, dan Ulat Berbulu.

Pada bagian akhir buku, ada lampiran yang menguraikan nama nama para pengumpul (pewawancara), informan (orang yang bercerita), pekerjaan informan, dan alamat informan. Juga ditampilkan biografi ringkas 7 orang anak muda pengumpul cerita dari rakyat Massenrempulu.

Buku sangat menarik dijadikan sebagai rujukan cerita rakyat Massenrempulu di daerah Enrekang. Cerita rakyat yang terkumpul dapat memperkaya khazanah budaya khususnya folklore atau cerita rakyat yang ada di Enrekang. Buku ini juga bisa dijadikan contoh daerah lain yang juga memiliki sejumlah cerita rakyat untuk dapat mengumpulkannya juga dan menerbitkannya dalam bentuk buku. Generasi muda dapat menambah literasi budaya dengan adanya buku buku tentang cerita rakyat.

Kekurangan buku ini adalah tanpa ada satupun illustrasi yang dapat membantu membangun imajinasi para pembaca buku cerita ini. Kalau saja mau menambah illustrasi, baik gambar sketsa, foto, kartun, atau bahkan kalau perlu dibuatkan file Audio atau Audio-Visual, tentu akan sangat menarik lagi. Cerita cerita ini juga dapat dikonversi menjadi komik sehingga anak anak dan remaja akan semakin tertarik membacanya.

Buku koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Dg. Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.




 

June 24, 2023

Cerita Rakyat Massenrempulu : La'bo Balida

 


Buku : La’bo Balida, Cerita Rakyat Massenrempulu

Penulis : Arham dkk.

Penerbit : Pustaka Refleksi

Tempat : Makassar

Tahun : 2009

Jumlah Halaman : vi + 61

Ukuran : 14,8 x 21,6 cm

ISBN : 979-9673-23-6

Sulawesi Selatan termasuk salah satu provinsi di Indonesia yang kaya akan tradisi lisan. Folklore atau cerita rakyat cukup dikenal luas di tengah tengah masyarakat Sulawesi Selatan, termasuk masyarakat Massenrempulu yang ada di kabupaten Enrekang. Masyarakat Massenrempulu berusaha melestarikan cerita rakyat yang sudah ada sejak ratusan tahun silam, yaitu dengan mengumpulkannya dalam bentuk buku ini.

Buku ini diterbitkan dalam rangka upaya pelestarian cerita rakyat Massenrempulu, yang dilaksanakan oleh sekelompok anak muda dan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi HPMM (Himpunan Pelajar Mahasiswa Massenrempulu). Para mahasiswa ini, mewawancarai para tokoh masyarakat atau masyarakat biasa yang punya atau bisa mengisahkan suatu cerita rakyat Massenrempulu.

Dari hasil penelitian dan wawancara tersebut terkumpul sebanyak 24 cerita rakyat Massenrempulu, yang direkam lalu kemudian di terbitkan dalam bentuk buku. Buku cerita rakyat ini tentu akan menambah khazanah folklore masyarakat Enrekang dan dapat memudahkan upaya pelestarian tradisi lisan kepada generasi muda.

Adapun ke 14 Cerita Rakyat dalam buku ini adalah :

·         Ca’dodong

·         Bellang Langi

·         Buttu Kabobong

·         La’bo Balida

·         Beristrikan Daun Pacar

·         Tumaling Pemberani dari Tuara

·         Ceba Kalasi

·         Tomanurung di Maiwa

·         Jarum

·         Dua Bersaudara Menjadi Batu

·         “Jalan Pintas” Lajana

·         Buntu Mataran dan Kutu

·         To Bu’tu ri Tallang

·         Ulat Berbulu

Pada bagian akhir buku, ada lampiran yang menguraikan nama nama para pengumpul (pewanwancara), informan (orang yang bercerita), pekerjaan informan, dan alamat informan. Juga ditampilkan biografi ringkas 7 orang anak muda pengumpul cerita dari rakyat Massenrempulu. Sayangnya karena buku ini tanpa ada satupun illustrasi yang dapat membantu membangun imajinasi para pembaca buku cerita ini.

Buku koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Dg. Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.

 



March 31, 2023

Kumpulan Cerita Rakyat Massenrempulu

 



Buku : La’bo Balida, Cerita Rakyat Massenrempulu

Penulis : Arham dkk.

Penerbit : Pustaka Refleksi

Tempat : Makassar

Tahun : 2009

Jumlah Halaman : vi + 61

Ukuran : 14,8 x 21,6 cm

ISBN : 979-9673-23-6

Sulawesi Selatan termasuk salah satu provinsi di Indonesia yang kaya akan tradisi lisan. Folklore atau cerita rakyat cukup dikenal luas di tengah tengah masyarakat Sulawesi Selatan, termasuk masyarakat Massenrempulu yang ada di kabupaten Enrekang. Masyarakat Massenrempulu berusaha melestarikan cerita rakyat yang sudah ada sejak ratusan tahun silam, yaitu dengan mengumpulkannya dalam bentuk buku ini.

Buku ini diterbitkan dalam rangka upaya pelestarian cerita rakyat Massenrempulu, yang dilaksanakan oleh sekelompok anak muda dan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi HPMM (Himpunan Pelajar Mahasiswa Massenrempulu). Para mahasiswa ini, mewawancarai para tokoh masyarakat atau masyarakat biasa yang punya atau bisa mengisahkan suatu cerita rakyat Massenrempulu.

Dari hasil penelitian dan wawancara tersebut terkumpul sebanyak 24 cerita rakyat Massenrempulu, yang direkam lalu kemudian di terbitkan dalam bentuk buku. Buku cerita rakyat ini tentu akan menambah khazanah folklore masyarakat Enrekang dan dapat memudahkan upaya pelestarian tradisi lisan kepada generasi muda.

Adapun ke 14 Cerita Rakyat dalam buku ini adalah :

·         Ca’dodong

·         Bellang Langi

·         Buttu Kabobong

·         La’bo Balida

·         Beristrikan Daun Pacar

·         Tumaling Pemberani dari Tuara

·         Ceba Kalasi

·         Tomanurung di Maiwa

·         Jarum

·         Dua Bersaudara Menjadi Batu

·         “Jalan Pintas” Lajana

·         Buntu Mataran dan Kutu

·         To Bu’tu ri Tallang

·         Ulat Berbulu

Pada bagian akhir buku, ada lampiran yang menguraikan nama nama para pengumpul (pewanwancara), informan (orang yang bercerita), pekerjaan informan, dan alamat informan. Juga ditampilkan biografi ringkas 7 orang anak muda pengumpul cerita dari rakyat Massenrempulu. Sayangnya karena buku ini tanpa ada satupun illustrasi yang dapat membantu membangun imajinasi para pembaca buku cerita ini.

Buku koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Dg. Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.

 



March 25, 2022

INTEGRASI GERILYA: DI/TII KE NKRI

Kahar Muzakkar memproklamasikan Sulawesi dan daerah Indonesia Timur lainnya termasuk Irian Barat sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia yang berpusat di Jawa Barat, pada tanggal 7 Agustus 1953. Proklamasi itu dikumandangkan di Pasui (Baraka) Kabupaten Enrekang. Pasui pada masa itu, termasuk salah satu kampung dalam wilayah Swapraja Buntu Batu wilayah Kewedanaan Enrekang. Kewedanaan Enrekang pada masa itu dipimpin oleh seorang Kepala Pemerintahan Negeri (KPN Enrekang).

Dipilihnya Massenrempulu sebagai tempat mengumandangkan proklamasi Negara Islam Indonesia untuk wilayah Indonesia Timur, dilatarbelakangi oleh faktor-faktor sosial politik masyarakatnya. Faktor-faktor dimaksud adalah yang berkaitan dengan jaminan keamanan dan dukungan masyarakat di tempat pelaksanaan proklamasi tersebut. Faktor politik, utamanya berkaitan dengan ketegangan gerilyawan dan tentara.

Buku INTEGRASI GERILYA: DI/TII KE NKRI menjelaskan Gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TIT) di Massenrempulu, mulai dari Proklamasi DI/TII untuk Sulawesi dan Indonesia Timur lainnya sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia yang berpusat di Jawa Barat; DI/TII membangun sipil dan militer; Menjalankan fungsi-fungsi negara seperti pelaksanaan peraturan Darul Islam, membangun ekonomi, termasuk melaksanakan pendidikan kepada anggotanya.

Buku ini juga berupaya menggambarkan proses menggambarkan Proses Integrasi dan penyadaran gerilyawan DI/TII, terkait integrasi orang dan perubahan pola pikir dan pengakuan Ideologi Pancasila dan UUD 45 sebagai Ideologi dan Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Pembinaan jiwa nasionalisme-membangun jiwa kebangsaan gerilyawati DI/TII, juga diungkapkan secara gamblang dalam buku ini. Agaknya, seruan, ajakan, diplomasi, penumpasan dengan kekuatan militer, tidak sepenuhnya berhasil, sehingga upaya nyata berupa pembinaan di sentra-sentra eks Gerilyawan perlu dilakukan, bahkan Indoktrinasi menjadi sebuah pilihan. Membangun lembaga pembina sentra-sentra gerilya DI/TII, seperti pengangkatan Babinsa (Bintara Bina Desa), Hansip (Pertahanan Sipil) dari tentara dan kemudian ditambah dengan Binmas (Bimbingan Masyarakat) dari Kepolisian; Pembinaa melalui bantuan pekerjaan seperti pertanian dan pekerjaan lain; Pemberian bantuan, bagi pamongpraja dan mahasiswa atau pelajar korban kekacauan; pembinaan melalui pendidikan indoktrinasi terhadap gerilyawan DI/TII. 

Hal itulah yang kemudian melatarbelakang munculnya kebijakan pembentukan Koramil, Babinsa, Linmas, Hal yang cukup menarik, bahwa kemungkinan model indoktrinasi terhadap bekas gerilyawan DI/TII.  merupakan latar belakang historis dari pola penanganan keamanan di masyarakat dan munculnya partai Golkar kemudian, untuk hal in per bukti-bukti yang lebih kongkret dan valid. 


INTEGRASI GERILYA
DARUL ISLAM/TENTARA ISLAM (DI/TII)  KE 
NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI)
Penulis: Mohammad Natsir Sitonda
Penerbit: Yayasan Mohammad Natsir
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 976-602-17316-3-5 


December 15, 2021

PANCAITANA BUNGAWALIE: Perjuangan Rakyat Maiwa, Enrekang dan Duri Melawan Kolonialisme Belanda

 

Nama Pancaitana Bungawalie pernah dianugerahkan sebagai nama kehormatan kepada Ny. Hj. Hardiyanti Rukmana, dalam sebuah upacara di Balai Kemanunggalan ABRI-Rakyat (sekarang Balai Jend. M. Yusuf) di Ujung Pandang, pada tanggal 17 Agustus 1994. Pemberian nama kehormatan itu, didasarkan pada pengabdian dan perjuangan Pancaitana Bungawalie-melawan Imperialisme dan Kolonialisme Belanda pada awal abad ke XX.

Pemberian kehormatan tersebut, setidaknya dilandasi oleh suatu pemikiran “tentang kesamaan keduanya sebagai tokoh perempuan”, yang lahir dan hidup pada jaman yang berbeda, namun masing-masing memiliki semangat sesuai dengan kondisi jamannya.

Pancaitana Bungawalie adalah seorang putri bangsawan. Ia dibesarkan dalam lingkungan kerajaan dengan atribut kebangsawanannya. Pancaitana Bungawalie muncul sebagai pemimpin anutan, sampai diangkat menjadi arung/raja di Kerajaan Enrekang. Beliau tampil sebagai pemimpin pasukan melawan imperialisme dan kolonialisme Belanda sejak tahun 1905. Perlawanan itu cukup lama, karena perang itu diakhiri oleh suatu pernyataan antara Raja Enrekang dengan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1909 di Pare-Pare.

Pernyataan itu terpaksa ditandatangani oleh Pancaitana Bungawalie, tidak berhenti disitu. Perjanjian-perjanjian setelahnya seperti perjanjian Patta Ahmad dengan pemerintah Hindia Belanda tahun 1917, menjadi suatu fakta perjuangan rakyat Massenrempulu. Bahkan dalam perjuangan selanjutnya di awal-awal masa kemerdekaan perjuangan yang lebih terorganisir dalam bentuk organisasi pergerakan rakyat dan pemuda Massenrempulu semakin nampak jelas. Pembentukan organisasi-organisasi kelaskaran di tahun 1945 dan tahun 1946 seperti Harimau Indonesia yang diprakarsai oleh Andi Sose, PNI, BPRI, PRI, SERKAP yang di motori oleh para pejuang Massenrempulu, merupakan kelanjutan nilai-nilai kejuangan untuk kemerdekaan NKRI.

Buku PANCAITANA BUNGAWALIE: Perjuangan Rakyat Maiwa, Enrekang dan Duri Melawan Kolonialisme Belanda menjelaskan tentang gerakan perjuangan Pancaitana Bungawalie seorang wanita perkasa dan pergerakan rakyat Maiwa Enrekang Duri di awal abad ke XX, melawan penjajahan Belanda. Sebagai seorang pemimpin di Kerajaan Enrekang, ia bangkit melawan imperialisme dan kolonialisme Belanda yang berusaha menduduki tanah leluhurnya. Ia menunjukkan keberaniannya, walaupun dengan persenjataan yang sangat sederhana bersama rakyat Massenrempulu melawan Belanda dengan strategi dan kekuatan senjata yang kuat.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan berupaya menggambarkan proses perlawanan rakyat dan pejuang-pejuang Massenrempulu lainnya (wilayah Kabupaten Enrekang), seperti perjuangan rakyat Maiwa, Enrekang dan rakyat Duri.


PANCAITANA BUNGAWALIE: 
Perjuangan Rakyat Maiwa, Enrekang dan Duri Melawan Kolonialisme Belanda 
Penulis: Mohammad Natsir Sitonda
Penerbit: Yayasan Pendidikan Mohammad Natsir
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 978-602-17316-5-9

September 23, 2021

SASTRA LISAN MASSENREMPULU

 


Sastra lisan Massenrempulu adalah sastra yang lahir dan hidup di tengah-tengah masyarakat Massenrempulu, diwariskan turun-temurun dari mulut ke mulut dengan menggunakan tiga macam dialek, yaitu

  1.  Dialek Enrekang
  2. Dialek Duri dan
  3. Dialek Maiwa

Perbedaan ketiga dialek tersebut tampak pada penggunaan beberpa kata dan pengucapan fonem-fonem tertentu. Oleh karena perbedaan kosakata cukup banyak, maka masing-masing pemakai dialek kadang-kadang terganggu dalam hubungan pengertian ketiga dialek bahasa tersebut.

Cerita yang berhasil dikumpulkan diklasifikasi dalam beberapa jenis, yaitu mite, legenda, sage, fabel, cerita humor dan cerita dramatis. Berikut sastra lisan Massenrempulu yang berasal dari tiga macam dialek yaitu: 

  • Cerita Rakyat Daerah Enrekang 
  1. Kakaq Sammaraq
  2. Ariq Angin
  3. Janji
  4. Anangq Datu
  5. Bunnawasaq na Datu
  6. Asunna Bunnawasaq
  7. Anangq Pangaji
  8. Lera
  9. Onde-onden Kaccangq
  10. I Pagale
  11. Pulandoq na Buaja
  12. Sari Dukung
  • Cerita Rakyat Daerah Duri
  1. Bunga Mendoe
  2. Puang Buttu Marajo
  3. Londong di Rura sole Saqpang Digaletto
  4. Tattadu
  5. Pea Macca
  6. Tamasseung
  7. Caredukun
  8. Cadoqdong
  9. Indan Dibajaq Kada
  10. Tedong Simpo
  • Cerita Rakyat Daerah Maiwa
  1. Tomalando Badinna
  2.  La Geppo
  3. Laceppaga di Lembuang
  4. Buqtuq I Tallang
  5. Loqkoq Puq Salloq
  6. Tobaraninna Maiwang
  7. Toassa
  8. Passalang Ikkoq Bale

Buku SASTRA LISAN MASSENREMPULU untuk menginventarisasi sastra lisan Masserempulu, khususnya yang berbentuk cerita rakyat dalam bentuk mite, legenda, sage, fabel, cerita humor dan cerita dramatis. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.

 

SASTRA LISAN MASSENREMPULU
Penyusun: Muhammad Sikki, Abdul Rasjid Nusu, J.S. Sande, Zainuddin Hakim, Mahmud
Penerbit: Balai Penelitian Bahasa
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1986

September 22, 2021

MASSENREMPULU MENURUT CATATAN D.F. VAN BRAAM MORRIS


Federasi Massenrempulu atau Massere-Bulu terdiri atas 5 kerajaan yang masing-masing berdiri sendiri (onafhankelyk) yaitu: Maiwa, Enrekang, Duri, Kassa dan Batulappa. Duri adalah juga Federasi, terdiri dari kerjaan: Malua, Allaq dan Buntu Batu. Federasi ini populer juga disebut Tallu Batu Papan.

Dahulu Letta sebagai suatu kerajaan juga masuk dalam Federasi Massenrempulu. Akan tetapi dalam tahun 1685 Letta ditaklukkan oleh Bone yang disaat itu berada dibawah raja sangat besar kekuasaannya bernama Aru Palakka Petta Malampe'E Gemme'na. Letta ketika itu bertindak gegabah dan kurang perhitungan membunuh utusan dari Bone. Tindakan ini ditanggapi Bone sebagai suatu penghinaan yang harus diberi ganjaran. Demikianlah maka bersama dengan Wajo, Soppeng dan Sidenreng mengangkat senjata memerangi Letta. Namun tidak saja hanya letta sendiri yang dihancurkan, tetapi kerajaan yang ada dipinggirnya terseret pula diturut sertakan dalam status lili (vasal staat) dari Kerajaan Sawitto. Sedangkan orang-orang yang ditawan dinyatakan sebagai hamba dan dibagi kepada empat raja yang bersangkutan.

Pada kesempatan ini Maiwa yang tadinya menjadi lili dari Sidenreng, oleh keempat raja tersebut ditingkatkan kedudukannya menjadi kerajaan yang berdaulat kemudian dimasukkan kedalam Federasi Massenrempulu, mengisi kedudukan Letta yang telah ditaklukakannya itu. Sedangkan Bilokka, CerowaliE, Awanio dan WettaE yang tadinya berada dibawah kekuasaan dari Soppeng, dimasukkan menjadi lili (vasal staat) dari Kerajaan Sidenreng.

Mengenai sejarah tertua dari Kerajaan Massenrempulu tidaklah diketahui dengan pasti. Tetapi besar kemungkinan kerajaan-kerajaan (yang tergantung dalam Massenrempulu) dan Tana Toraja pernah dibawah kekuasaan Luwu bersama-sama sampai karena persekutuan kerajaan-kerajaan itu dan pula karena kemunduran kecemerlangan dari Kerajaan Luwu mereka mendapat kesempatan memerdekakan dirinya menjadi kerajaan-kerajaan yang merdeka dan berdaulat penuh dan meningkatkan dirinya membentuk perserikatan (federasi) yang mereka namai MASSENREMPULU atau dengan bahasa Bugis Ma'sinri-mpulu yang berarti daerah berdekatan dengan gunung. Adapun daerah Tana Toraja tetap menjadi daerah takluknya Kerajaan Luwu sampai pada tahun 1947 sejalan dengan pembentukan Hadat Tinggi oleh pemerintah N.I.T oleh Gubernemen Celebes dan daerah takluknya dimana seluruh rechtstreekbesturende gebieden (daerah-daerah pemerintahan langsung termasuk Tana Toraja ditingkatkan kedudukannya setaraf dengan swapraja asli, disebut juga Neo Swapraja.

Pada tahun 1686, karena kelicikan Aru Palakka Petta Malampe'E Gemme'na Massenrempulu berada dibawah supermasi Bone sampai pada kekuasaan pemerintahan La Patau, pengganti Aru Palakka Malampe'E Gemme'na.

Pada tahun 1724-1749 kembali Massenrempulu berada dibawah supermasi Luwu, saat pemerintahan putera La Patau Batari Toja yang sejak tahun 1715 memegang pemerintahan di Kerajaan Luwu.

Pada tanggal 26 Agustus 1660 Aru Letta dengan kemauan sendiri datang di Makassar dengan tujuan hendak mengadakan ikatan persahabatan dengan kompeni Hindia Timur maupun dengan Pemerintah Hindia Belanda tidak pernah lagi mengadakan ikatan kesepakatan dengan salah satu kerajaan dari Massenrempulu.

Pada tanggal 27 April 1671, Aru Enrekang datang juga diterima masuk menjadi anggota perserikatan Celebes. Sesudah itu baik dengan kompeni Hindia Timur maupun dengan Pemerintah Hindia Belanda tidak pernah lagi mengadakan ikatan kesepakatan dengan salah satu kerajaan dari Massenrempulu.

Pada tahun 1824 muncul didepan Gubernur General Van der Capellen di Makassar 5 orang utusan dari raja-raja Massenrempulu dengan maksud untuk mengadakan pembaharuan mengenai perjanjian Bungaiya. Akana tetapi mereka ini ditolak karena menginginkan kehadiran dari raja-raja sendiri.

Pada tahun tahun 1824 Federasi Duri ditaklukkan oleh Raja Sidenreng La Pangorisan. Dalam kunjungan singkatnya ke Makassar bulan November tahun itu juga, ia mengadakan pembaharuan mengenai perjanjian Bungaya. Akan tetapi mereka ini ditolak karena menginginkan kehadiran dari raja-raja sendiri.

Dengan keputusan tanggal 26 Desember 1825 No. 7 Gubernur Makassar dikuasakan memasukkan raja-raja dari Massenrempulu kedalam kontrak, kekuasaan mana sebegitu jauh tidak pernah terlaksana.

Pada tahun 1866 Federasi Duri ditaklukkan oleh Raja Sidenreng La Pangorisan. Dalam kunjungan singkatnya ke Makassar bulan Nopember tahun itu juga, ia mengadakan kunjungan tidak resmi kepada Gubernur Bakkers dan meminta agar Kerajaan Federasi Duri yang ditaklukkan itu mulai saat itu dapat menjadi bahagian dari Sidenreng.

Sejalan dengan permintaan itu, dengan surat tanggal 3 Desember 1866 No. 621 disarankan kepada pemerintah. Akan tetapi dengan surat kabinet tanggal 13 Juli 1867 disarankan kepada pemerintah. Akan tetapi dengan surat kabinet tanggal 13 Juli 1867 No. 108 diberikan pertimbangan bahwa akan lebih baik apabila persoalan tersebut didiamkan saja sebagaimana yang terjadi, karena Raja Sidenreng tidak pernah lagi muncul untuk menyelesaikannya.

Raja-raja dari Masserempulu yang dekat hubungan darahnya dengan Sidenreng, mengakui supermasinya. Keadaan mana sangat menguntungkan pemerintahan Belanda karena empat diantara mereka bersedia mengadakan ikatan kontrak.

Dengan Enrekang kontrak sedemikian itu belum ada, karena raja perempuan yang memegang tampuk pimpinan mengalami gangguan ingatan/gila sehingga disana mengalami kepakuman pimpinan yang tidak nyata. Terakhir masing-masing kerajaan anggota Federasi Masserempulu mengikat kontral perjanjian dengan Pemerintah Hindia Belanda. 

Buku MASSENREMPULU MENURUT CATATAN D.F. VAN BRAAM MORRIS merupakan koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar sebagai salah satu sumber data untuk mengungkapkan sejarah dan latar belakang budaya suatu bangsa adalah arsip-arsip tertulis peninggalan masa lalu. D F. Van Braam Morris Gubernur Selebes pada masa pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia telah membuat catatan perjanjian dengan raja-raja yang ada di Sulawesi pada waktu itu. Dalam catatan tersebujt terdapat lukisan etnografis tentang keadaan masyarakat Massenrengpulu yang sangat berharga sebagai bahan informasi untuk mengungkapkan latar belakang sejarah dan budaya masyarakat Massenrempulu. Arsip-arsip tersebut seperti:

  • Nota penjelasan atas kontrak yang dilakukan dengan Kerajaan Maiwa
  • Nota penjelasan tentang kontrak yang dilakukan bersama dengan Kerajaan Batu Lappa
  • Nota penjelasan tentang kontrak yang diadakan dengan Kerajaan Kassa
  • Nota penjelasan atas kontrak yang diadakan dengan Kerajaan Duri (Massenrempulu)
  • Nota penjelasan mengenai Kerajaan Allaq termasuk wilayah Federasi Duri
  • Nota penjelasan tentang Kerajaan Malua termasuk bilangan Federasi Duri
  • Nota penjelasan tentang Federasi Duri atau Tallu Batu Papan.

MASSENREMPULU MENURUT CATATAN D.F. VAN BRAAM MORRIS
Penerjemah: H.A.M. Mappasanda
Editor: M. Yunus Hafid
Penerbit: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1991



August 24, 2021

BIOGRAFI PERJUANGAN A. BIRITTA BIN BASO ENREKANG PUANG TOSANG TOALALA'


A. Biritta merupakan salah satu pejuang yang mempunyai keberanian dan kelebihan dalam memimpin rakyat Enrekang berjuang. Pengungkapan mengenai perjuangan Biritta Bin Baso Enrekang tidak lain agar semangat patriotisme dan jasa perjuangan dapat dihayati oleh generasi muda selaku penerus cita-cita perjuangan bangsa Indonesia. Sejarah perjuangan Biritta dalam melawan Belanda pada awal abad XIX dapat dianggap peristiwa nasional. Karena itu perlu diungkapkan agar dapat diterima sebagai rangkaian sejarah perjuangan menentang Kolonial Belanda dari tahun 1905-1907.

Sistem perlawanan Biritta menghadapi pasukan militer Belanda, yaitu dengan tiga cara yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Adapun ketiga macam bentuk perlawanan Puang Tosang tersebut, yaitu:

  • Penggalangan massa
Dengan cara menggalang persatuan dan kesatuan dengan rakyat membentuk pasukan inti atau pasukan khusus, yaitu pasukan berani mati yang tidak kenal menyerah dengan pasung Tandung Mataran, Taji Malela Pallaping Arona.

  • Perang Gerilya
Perang gerilya yaitu menghindari pasukan dengan pasukan Belanda yang memiliki peralatan persenjataan yang lebih lengkap dan modern dibanding senjata tradisional yang dimiliki para pejuang. Cara taktik perang gerilya yaitu menyerang musuh disaat lengah dan istirahat serta mundur setelah musuh menyerang.

  • Sistem Kerjasama dengan raja-raja baik dikerajaan Limae Masenrengpulu, maupun dikerajaan Lima Ajattapareng dan kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan, yang anti terhadap imperialisme dan kolonialisme Belanda khususnya mengusir Belanda dari tanah air tercinta.
Beliau dilahirkan di Enrekang sekitar tahun 1830 dari pasangan suami istri Baso Enrekang Bin Toalala' Raja Enrekang ke IX dengan Yellang. Berkat pembinaan yang dilakukan oleh Puang Baso dan segenap anggota kerabat keluarganya serta keluarga Toalala' kemudian dimatangkan oleh kondisi kehidupan masyarkat sekitarnya, akhirnya beliau sampai pada kepuncak karirnya menjadi raja di Kerajaan Tondalun Papi Bambapuang. Ketika itu Kerajaan Massenrengpulu dalam keadaan genting karena militer Belanda menyerang kerajaan-kerajaan di Lima Masserengpulu. Perlawanan terbilang cukup lama dan berlangsung bertahun-tahun bukan hanya peranan dan kemampuannya Biritta dalam mengorganisir perlawanan dan taktik perang gerilya saja, tetapi juga berkat lindungan Allah SWT dan dukungan penuh dari rakyat serta keadaan geografis yang memungkinkan untuk melancarkan perang gerilya.

Dengan semangat pantang menyerah semboyang beliau Bannang Kapa Mappesona, Malea Mamminasa Bidang Pa Passaranna, artinya "merah tanda berani kain kafan memisahkan saya dalam perjuangan, walaupun hancur lebur itulah cita-cita suci mengusir penjajah Belanda"

Buku BIOGRAFI PERJUANGAN A. BIRITTA BIN BASO ENREKANG PUANG TOSANG TOALALA' membahas tentang sejarah perjuangan menentang penjajah Belanda di Kabupaten Enrekang pada masa lalu yang difokuskan pada Kerajaan Tindalun Papi dengan rajanya yang bernama Arung Tosang penggelaran beliau sama dengan nama perjuangannya. Buku ini salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


BIOGRAFI PERJUANGAN A. BIRITTA BIN BASO ENREKANG PUANG TOSANG TOALALA' SEJARAH PERJUANGAN MENENTANG PENJAJAH BELANDA 
DI ENREKANG DAN SEKITARNYA TAHUN 1905-1906
Penyusun: Hj. R. Buapala


December 4, 2020

JEJAK PERJUANGAN PARA RAJA TANDUNG MATARANNA MASSENREMPULU KABUPATEN ENREKANG

Massenrempulu yang lebih dikenal dengan Kabupaten Enrekang memiliki banyak catatan sejarah yang belum diungkap secara gamblang, sehingga perlu adanya upaya-upaya yang mengara kepada pengkajian sejarah masa lampau Kabupaten Enrekang, baik yang menyangkut para pahlawan maupun yang berkaitan dengan sejarah kerjaan-kerjaan yang pernah ada. Buku JEJAK PERJUANGAN PARA RAJA TANDUNG MATARANNA MASSENREMPULU KABUPATEN ENREKANG untuk melestarikan sejarah Massenrempulu. Buku ini disertai Silsilah diantaranya 

  • Hubungan Tetesan Darah antara Para Arung Enrekang I s/d XIV 
  • Hubungan Tetesan Darah antara Kerajaan Luwu, Bone, Soppeng, Wajo Ajatappareng dan Enrekang
  • Silsilah Tolawe Arung Buttu X
  • Silsilah Pu. Marana di Kaluppang Enrekang
  • Silsilah Lawali Pabicara Pondi
  • Silsilah Keluarga Besar La Tanro I Puang Bungadea Arung Buttu V dan Saura Puang Baso CS
Sejarah perjuangan rakyat Massenrempulu Enrekang pada tahun 1905-1912, tampil beberapa tokoh perjuangan diantaranya Biritta Bin BE yang lebih dikenal Puang Tosang. Beliau di lahirnya di Enrekang sekitar tahun 1830  dari pasangan suami istri Baso Enrekang Bin Toalala' Raja Enrekang ke IX dengan Yellang. 

Berkat pembinaan yang dilakukan Puang Baso dan segenap anggota kerabat keluarganya serta keluarga Toalala' kemudian dimatangkan oleh kondisi kehidupan masyarakat sekitarnya, akhirnya beliau sampai ke puncak karirnya menjadi raja di Kerajaan Tindalun Papi Bambapuang. Beliau pula salah satu pemerkasa perang kerajaan di Enrekang. Ketika itu Kerajaan Massenrempulu dalam keadaan genting karena militer Belanda menyerang kerajaan-kerajaan di Lima Massenrempulu. Perlawanan terbilang cukup lama dan berlangsung bertahun-tahun bukan hanya peranan dan dan kemampuan Biritta dalam mengorganisasiperlawanan dan taktik perang gerilya saja, tetapi juga berkat lindungan Allah SWT dan dukungan penuh dari rakyat serta keadaan geografis yang memungkinkan untuk melancarkan perang gelilya.

Pemerintah Belanda mengagumi Biritta karena sosok pejuang yang mempunyai keberanian dan kelebihan dalam memimpin rakyat Enrekang untuk berjuang. Dengan semangat pantang menyerah semboyan beliau Bannang Kapa Mappesona, Malea Mamminasa Bidangpa Passaranna, artinya "Merah tanda berani kain kafan memisahkan saya dalam perjuangan, walaupun hancur lebur itulah cita-cita suci mengusir penjajah Belanda".

Biritta Puang Tosang menjadi Raja di Kerajaan Tindalun Enrekang pada abad ke XVIII-XIX. Beliau wafat pada tahun 1925 dengan usia kurang lebih 100 tahun, wafatnya di Tosang dan disemayangkan di rumah kediaman tempat jenazah beliau bernama Duni, jenazah beliau di diusung ke Papi dengan usungan Bulle Karua. Jenazah beliau dikembalikan ke kampung halaman, diusung bersama beberapa cucunya yang masih belia, sehingga sementara dalam perjalanan usungabn patah dan diganti lagi. Tempatnya di pekuburan raja/bangsawan yang diberi nama tradisional yaitu Pandan Puang di Gattungan papi. Dengan kata lain pekuburan raja/bangsawan di Gattungan Papi Enrekang.

Buku ini merupaka salah satu koleksi referensi, layanan perpustakaan umum berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salang Makkassar untuk memenuhi kebutuhan sejarah khususnya asal-usul Biritta Bin BE yang lebih dikenal Puang Tosang. 


JEJAK PERJUANGAN PARA RAJA TANDUNG MATARANNA 
MASSENREMPULU KABUPATEN ENREKANG 
Penulis: Hj. Buapala (Hj. ST. Rahmawati)
Tahun: 2003




November 19, 2020

INTEGRASI GERILYA DI/TII KE NKRI


Sejarah menjadi sumber inspirasi dengan sajian peristiwa  demi peristiwa serta peran masyarakat dan tokoh-tokoh Masserempulu di masa lalu. Perubahan dan dinamika yang terjadi di Bumi Masserempulu. untuk memperkaya pengetahuan masyarakat tentang Integrasi Gerilya DI/TII ke NKRI. Buku INTEGRASI GERILYA DARUL ISLAM/TENTARA ISLAM INDONESIA (DI/TII) KE NKRI menjelaskan Gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Massenrempulu, mulai dari Proklamasi DI/TII untuk Sulawesi dan Indonesia Timur lainnya sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia yang berpusat di Jawa Barat; DI/TII membangun pemerintahan sipil dan militer; dan Menjalankan fungsi-fungsi negara seperti pelaksanaan peraturan Darul Islam, membangun ekonomi, termasuk melaksanakan pendidikan kepada anggotanya.

Buku ini juga berupa menggambarkan proses integrasi dan penyadaran gerilyawan DI/TII, terkait integrasi orang dan perubahan pola pikir dan Pengakuan Ideologi Pancasila dan UUD 1945 sebagai ideologi dan Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pembinaan jiwa nasionalisme-membangun jiwa kebangsaan gerilyawan DI/TII juga diungkapkan. 

Sedangkan himbauan, seruan, ajakan, diplomasi, penumpasan dengan kekuatan militer, tidak sepenuhnya berhasil, sehingga upaya nyata berupa pembinaan di sentra-sentra eks Geriyawan perlu dilakukan, bahkan indoktrinasi menjadi sebuah pilihan. Membangun lembaga pembina di sentra-sentra gerilya DI/TII. Hal itulah yang kemudian melatarbelakangi munculnya kebijakan pembentukan Koramil, Babinsa, dan Linmas. 

Buku INTEGRASI GERILYA DARUL ISLAM/TENTARA ISLAM INDONESIA (DI/TII) KE NKRI menjadi historis dari pola keamanan masyarakat serta tidak untuk mencari "Pahlawan dan Pemberontak". Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Umum jalan Sultan Alauddin km.7 Tala'salang, Makassar.


INTEGRASI GERILYA 
DARUL ISLAM/TENTARA ISLAM INDONESIA (DI/TII) KE NKRI
Penulis: Mohammad Natsir Sitonda
Penerbit: Yayasan Pendidikan Mohammad Natsir
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 976-602-17316-3-5




August 5, 2020

SEJARAH MASSENREMPULU


Massenrempulu, dapat dilihat dari berbagai aspek, diantaranya Massenrempulu sebagai suatu wilayah, Massenrempulu sebagai suatu kelompok masyarakat, Massenrempulu  sebagai suatu perserikatan kerajaan-kerajaan di wilayah tersebut, dan Massenrempulu  dilihat dari sudut pandang manusia, penghuni wilayah itu, yang disebut “To Massenrempulu “.

Massenrempulu  sebagai suatu wilayah geografis, berasal dari kata Massere-bulu bahasa Bugis, yang berarti lereng gunung Secara geografis Massenrempulu  pada awalnya, meliputi wilayah kerajaan Kassa, Batu Lappa, Letta, Endekan/Enrekang, dan wilayah kerajaan Duri, Binuang dan Pituriase. Berdasarkan wilayah tersebut, sehingga disebut Pitu Massenrempulu.

Pada tahun 1685, sejak Letta ditaklukkan oleh Bone di bawa pimpinan Arung Palakka Petta Malampe’e Gemme’na, maka Letta dikeluarkan dari Federasi Massenrempulu. Bersama dengan itu, Maiwa yang sebelumnya merupakan bagian dari Sidenreng, dimasukkan dalam Persekutuan Massenrempulu. Sejak itu, Federasi Massenrempulu  terdiri dari kerjaan Kassa, Batulappa, Maiwa, Endekan dan Duri. Periode ini, dikenal dengan istilah Lima Massenrempulu

Lima Massenrempulu itu, dapat dibuktikan dengan adanya Nota Penjelasan yang dilakukan dengan Kerajaan Maiwa pada 8 Desember 1890, dengan Batulappa pada tanggal 23 November 1890,  dengan Kassa 23 November 1890, termasuk dengan kerajaan Enrekang dan kerajaan Duri pada tanggal 30 September 1890.

Buku SEJARAH MASSENREMPULU berusaha mengungkapkan tentang Massenrempulu dari berbagai aspeknya, termasuk asal usul kerajaan-kerajaan yanga da di wilayah Massenrempulu. Kerjaan-kerajaan dalam persekutuan Massenrempulu telah mengalami dinamika, dan masyarakat mengenalnya dengan istilah Pitu Massenrempulu dan kemudian Lima Massenrempulu.

Pendeskrepsian raja-raja yang pernah berkuasa di kerajaan-kerajaan yang terganbung dalam Federasi Massenrempulu baik pada periode Pitu Massenrempulu, maupun pada periode Lima Massenrempulu.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassar untuk memperkaya pengetahuan masyarakat tentang keberadaan Massenrempulu sebagai suatu wilayah yang mempunyai peradaban, sejarah dan nilai-nilai luhur, sebagaimana daerah lainnya di Indoensia.

 

SEJARAH MASSENREMPULU

Jilid I

Penulis: Mohammad Natsir Sitonda

Editor: Syamsul Arif

Penerbit: Yayasan Pendidikan Mohammad Natsir

Tempat Terbit: Makassar

Tahun Terbit: 2013

ISBN: 978-602-17316-1-1