March 25, 2022

INTEGRASI GERILYA: DI/TII KE NKRI

Kahar Muzakkar memproklamasikan Sulawesi dan daerah Indonesia Timur lainnya termasuk Irian Barat sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia yang berpusat di Jawa Barat, pada tanggal 7 Agustus 1953. Proklamasi itu dikumandangkan di Pasui (Baraka) Kabupaten Enrekang. Pasui pada masa itu, termasuk salah satu kampung dalam wilayah Swapraja Buntu Batu wilayah Kewedanaan Enrekang. Kewedanaan Enrekang pada masa itu dipimpin oleh seorang Kepala Pemerintahan Negeri (KPN Enrekang).

Dipilihnya Massenrempulu sebagai tempat mengumandangkan proklamasi Negara Islam Indonesia untuk wilayah Indonesia Timur, dilatarbelakangi oleh faktor-faktor sosial politik masyarakatnya. Faktor-faktor dimaksud adalah yang berkaitan dengan jaminan keamanan dan dukungan masyarakat di tempat pelaksanaan proklamasi tersebut. Faktor politik, utamanya berkaitan dengan ketegangan gerilyawan dan tentara.

Buku INTEGRASI GERILYA: DI/TII KE NKRI menjelaskan Gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TIT) di Massenrempulu, mulai dari Proklamasi DI/TII untuk Sulawesi dan Indonesia Timur lainnya sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia yang berpusat di Jawa Barat; DI/TII membangun sipil dan militer; Menjalankan fungsi-fungsi negara seperti pelaksanaan peraturan Darul Islam, membangun ekonomi, termasuk melaksanakan pendidikan kepada anggotanya.

Buku ini juga berupaya menggambarkan proses menggambarkan Proses Integrasi dan penyadaran gerilyawan DI/TII, terkait integrasi orang dan perubahan pola pikir dan pengakuan Ideologi Pancasila dan UUD 45 sebagai Ideologi dan Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Pembinaan jiwa nasionalisme-membangun jiwa kebangsaan gerilyawati DI/TII, juga diungkapkan secara gamblang dalam buku ini. Agaknya, seruan, ajakan, diplomasi, penumpasan dengan kekuatan militer, tidak sepenuhnya berhasil, sehingga upaya nyata berupa pembinaan di sentra-sentra eks Gerilyawan perlu dilakukan, bahkan Indoktrinasi menjadi sebuah pilihan. Membangun lembaga pembina sentra-sentra gerilya DI/TII, seperti pengangkatan Babinsa (Bintara Bina Desa), Hansip (Pertahanan Sipil) dari tentara dan kemudian ditambah dengan Binmas (Bimbingan Masyarakat) dari Kepolisian; Pembinaa melalui bantuan pekerjaan seperti pertanian dan pekerjaan lain; Pemberian bantuan, bagi pamongpraja dan mahasiswa atau pelajar korban kekacauan; pembinaan melalui pendidikan indoktrinasi terhadap gerilyawan DI/TII. 

Hal itulah yang kemudian melatarbelakang munculnya kebijakan pembentukan Koramil, Babinsa, Linmas, Hal yang cukup menarik, bahwa kemungkinan model indoktrinasi terhadap bekas gerilyawan DI/TII.  merupakan latar belakang historis dari pola penanganan keamanan di masyarakat dan munculnya partai Golkar kemudian, untuk hal in per bukti-bukti yang lebih kongkret dan valid. 


INTEGRASI GERILYA
DARUL ISLAM/TENTARA ISLAM (DI/TII)  KE 
NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI)
Penulis: Mohammad Natsir Sitonda
Penerbit: Yayasan Mohammad Natsir
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 976-602-17316-3-5 


No comments:

Post a Comment