Showing posts with label Lontara Pabbura. Show all posts
Showing posts with label Lontara Pabbura. Show all posts

September 27, 2021

PENGOBATAN TRADISIONAL BERBASIS LONTARA DI SULAWESI SELATAN


Dalam tubuh manusia menurut lontarak, terlukis adanya 4 (empat) macam cairan tubuh, ialah cairan darah, bolok=lendir, balakunnyi= empedu kuning dan essung= empedu hitam. Darah mempunyai hawa panas dan lebab, bolok mempunyai hawa panas dan kering, balakunnyi berhawa dingin-kering dan essung mempunyai hawa dingin lembab. Dalam lontarak, misalnya menyebutkan pengaruh substansi cairan tubuh terhadap timbulnya penyakit. Dikatakan "narekko pasauk-i assikorena balakonnyi-e poleni semmeng mapparelle-e", artinya kalau terlalu kuat pengaruh percampuran empedu-kuning, maka datanglah demam-panas yang berantara.

Dikatakan pula, bahwa perut itu adalah kolamnya tubuh. Apabila sehat yang muncul dari perut (usus), maka sehatlah pula tubuh dan sebaliknya, jika sakit muncul dari perut, maka sakit pulalah tubuh. Jika perut sakit, maka berpokoklah segala penyakit yang akan dialami.

Klasifikasi watak dan sifat manusia, sering kali bertolak dari sifat cairan tubuh dan disesuaikan dengan tingkat usia dan disesuaikan dengan tingkat usia dan kondisi tubuh. Kelebihan dan kekurangan cairan tubuh tersebut dalam tubuh akan tampak warna pada wajah, seperti kemerah-merahan, pucat, masam, murung dan tenang. Semua itu sebagai alamat kelebihan atau kekurangan cairan salah satu dan empat jenis tersebut. Usaha-usaha untuk mencapai harmonisasi dalam pengobatan, selain ramuan obat dan doa, dilakukan pula tindakan-tindakan, seperti pengaturan waktu makan dan jenis-jenis masakan, mappanyolong (minum obat pencahar perut), malluwah (tindakan muntah) dari kekenyangan, mappasuk dara (tidakan mendekam) dan lain-lain tindakan yang mengarah kepada harmonisasi.

Apabila perut dianggap sebagai kolam dan sebagai pangkal menjalarnya penyakit yang disebabkan oleh makanan dan minuman, disebabkan oleh pengaruh kualitas alam, menjadi gejolak pada cairan tubuh, maka segala gejala-gejala dis-harmonis dalam perut akan menyebabkan terjadinya penyakit. Hal ini berarti bahwa perut merupakan pangkal dari makna sakit dan tidak sehat.

Dengan demikian dapat dipahami, bahwa tindakan-tindakan pencegahan sebelum menderita sakit, adalah pertama sekali, menjaga kuantitas dan kualitas makanan dan segala yang akan terkandung dalam perut. Kedua, adalah menjaga tingkah laku dan kebiasaan yang tidak menciptakan harmonisasi menurut usia dan kondisi tubuh. Semua kebiasaan yang dilakukan yang berlebihan atau kekurangan, akan menimbulkan dis-harmonis. Ketiga, adalah memperhatikan pamali-pamali menurut adat dan kepercayaan, kemudian melakukan interpretasi berdasarkan harmonisasi.

Buku PENGOBATAN TRADISIONAL BERBASIS LONTARA DI SULAWESI SELATAN merupakan sistem medis orang Bugis yang diangkat dari lontara, yang berdasarkan prinsip harmonisasi tellu sulapa eppa, dengan sumber bahan-bahan ramuan yang digunakan dalam pengobatan juga berasal dari prinsip ini, yang didahului oleh suatu sistem pengetahuan tentang komposisi yang terkandung pada sistem bahan ramuan berdasarkan lontara Wajo dan Bone.

Klasifikasi penyakit dan ramuan penyembuhan menurut lontara Wajo

  • Ramuan obat tentang penyakit mata
  • Ramuan obat tentang penyakit hidung dan tenggorokan
  • Ramuan obat tentang penyakit gigi, gusi, lidah dan mulut
  • Ramuan obat tentang penyakit batuk, asma dan kemuntahan (muntah darah)
  • Ramuan obat tentang penyakit bengkak
  • Ramuan obat tentang penyakit luka dan selalu keluar darah
  • Ramuan obat tentang penyakit perut
  • Ramuan obat tentang penyakit berak-berak (darah)
  • Ramuan obat tentang penyakit kencing
  • Ramuan obat untuk menambah dan mengurangi syahwat
  • Ramuan obat tentang kehamilan dan persalinan
  • Ramuan obat tentang penyakit peluh
  • Ramuan obat tentang penyakit pinggang
  • Ramuan obat tentang penyakit bawasir (ambeien)
  • Ramuan obat tentang penyakit campak-gabak
  • Ramuan obat tentang penyakit kuning: muka, mata dan kuku
  • Ramuan obat tentang penyakit demam-panas

Klasifikasi penyakit dan ramuan penyembuhan menurut lontara Bone

  • Ramuan obat penyakit kepala
  • Ramuan obat penyakit mata
  • Ramuan obat penyakit hidung
  • Ramuan obat penyakit-dalam
  • Ramuan obat penyakit luar/kulit
  • Ramuan obat penyakit panas
  • Ramuan obat penyakit luka-luka
  • Ramuan obat penyakit-penyakit lainnya

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar yang membahas persoalan yang menyangkut kausalitas penyakit dan penyembuhan serta praktek penyembuhan menurut kepercayaannya. Berikut prinsip harmonisasi tellu sulapa dalam sistem medis orang Bugis.

Unsur dasar kejadian manusia

  • Tanah
  • Air
  • Api
  • Angin

Kwalitas alam sekitar

  • Panas
  • Dingin
  • Kering
  • Lembab

Subtansi Cairan Tubuh

  • Darah
  • Empedu kuning
  • Lendir (flegma)
  • Empedu hitam


PENGOBATAN TRADISIONAL BERBASIS LONTARA DI SULAWESI SELATAN
Penyusun: H. Abu Hamid
Penerbit: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008

May 1, 2020

Koleksi Naskah Lontara DISPUS-ARSIP Sul-Sel.


Katalog Induk Naskah Lontara 
Suku bangsa Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan, termasuk dua diantara sedikit suku bangsa di Indonesia yang memiliki tradisi tulis menulis. Huruf atau aksara yang digunakan oleh orang Bugis sejak ratusan tahun lalu adalah huruf Lontara yang dalam bahasa Bugis sendiri dinamai uki’ sulapa eppa’ (Dr. Mukhlis Paeni dalam Katalog Naskah Nusantara). Suku Makassar juga memiliki huruf tersendiri yang dinamakan aksara Jangang-jangang yang aslinya mirip bentuk burung / unggas sehingga disebut jangang-jangang. Pada perkembangan selanjutnya aksara jangang-jangang jarang digunakan dan lebih sering aksara uki’ sulapa eppa’-lah yang mendominasi penggunaan dalam penulisan bahasa Bugis dan Makassar.
Silsilah Raja yang Tertulis diatas daun Lontar

Menurut para ahli sejarah, aksara lontara uki’ sulapa eppa’ dan aksara jangang-jangang keduanya masih turunan aksara Nusantara yang juga dari India (Sansekerta). Naskah Bugis kuno yang banyak tersimpan di Unit Kearsipan Dispus-Arsip Sulawesi Selatan, terdiri dari berbagai macam aksara, yaitu lontara Bugis (Uki Sulapa Eppa’), lontara jangang-jangang, aksara serang (penulisan bahasa Bugis dan Makassar menggunakan aksara Arab), dan tulisan Arab asli terutama untuk naskah keagamaan. Banyak diantara naskah tersebut sudah susah dibaca, baik yang naskah aslinya maupun microfilm-nya. Hal ini disebabkan karena naskah naskah tersebut sudah sangat rapuh, tinta yang digunakan juga sudah banyak meresap kedalam kertasnya, ada juga yang halamannya sudah ada yang hilang atau sobek.

Di kantor DisPus-Arsip Sulawesi Selatan juga tersimpan dengan baik naskah Bugis kuno yang tertulis diatas daun lontar. Naskah ini berupa gulungan rol daun lontar yang sambung menyambung. Menurut para pakar orang dulu menggunakan semacam paku kecil (disebut kallang dalam bahasa Bugis) untuk menggoreskan huruf huruf diatas helai daun lontar dengan penuh kehati-hatian karena sifat daun lontar yang mudah sobek. Setelah satu helai ditulisi, kemudian ditaburi bubuk hitam sehingga tulisannya kentara dan dapat dibaca dengan jelas. Setelah selesai ditaburi, helai daun lontar kemudian disambungkan dengan helai sebelumnya dengan cara dijahit menggunakan jarum dan benang. Ketika satu naskah dianggap selesai, kemudian helai daun lontar tersebut digulung dan dibuatkan tempat gulungan untuk memudahkan membacanya. Cara membacanya yaitu dengan duduk bersila sambil kedua tangan memutar gulungan rol daun lontar. Biasanya disertai dengan ritual (upacara) kecil.

Jumlah naskah lontara’ Bugis, Makassar dan Mandar yang tersimpan di Unit Kearsipan DisPus-Arsip Daerah yaitu 4.049 naskah yang semuanya sudah dimicrofilm-kan. Bagi anda para peneliti atau mahasiswa yang akan membaca dan meneliti naskah lontara hanya akan membaca hasil microfilmnya saja. Naskah aslinya sudah tidak bisa diakses, karena sifat kertasnya yang sudah sangat rapuh. Naskah asli ini biasanya hanya untuk dipajang saat eksibisi (pameran) saja. Hasil microfilm naskah lontara ini selain bisa dibaca di layar Microfilm reader, juga bisa discan (dipindai) dan disimpan dalam format .tiff atau .jpg, sehingga bisa diprint langsung, dengan  biaya tertentu.

Berbagai macam topik naskah lontara Bugis yang ada koleksi DisPus-Arsip. Jenis jenis lontara :

1.      Lontara Kutika yaitu semacam astrologi nenek moyang orang Bugis dan Makassar. Dalam lontara kutika ini juga disebutkan tentang hari baik dan hari buruk untuk melaksanakan pernikahan, naik rumah baru (rumah orang Bugis dan Makassar zaman dulu berupa rumah panggung), hari permulaan mengerjakan sawah, dan ramalan lainnya;
2.      Kepiawaian orang dulu meramu obat juga banyak terekam dalam naskah lontara Pabbura’ . Berbagai jenis tanaman herba diramu dan digunakan untuk mengobati penyakit tertentu;
3.      Juga ada yang dinamakan lontara Baddili’ Lompo yaitu naskah lontara yang membahas tentang strategi perang dan pembuatan senjata;
4.      Ada Lontara yang membahas tentang cara bercocok tanam yang disebut lontara’ Paggalung;
5.      Lontara kisah kisah tasauf;
6.      Lontara ajaran Syech Yusuf;
7.      Lontara naskah keagamaan;
8.      Lontara pendidikan sex suami istri (lontara Akkalaibinengeng);
9.      Lontara tentang tabiat binatang;
10.  Lontara silsilah raja (lontara Pangoriseng);
11.  Lontara  Alloping-loping yang merupakan lontara yang mengupas tentang tata cara berlayar dan menangkap ikan;
12.  Ada juga lontara Pattaungeng yang merupakan catatan harian orang Bugis zaman dulu dan lain lain (Tolok Rumpakna Bone, terjemahan oleh Drs. Muhammad Salim 1991).

Karya sastra dalam lontara’ Bugis biasanya terdiri dari larik larik bersambung, namun tidak sedikit yang terdiri dari kalimat kalimat biasa yang sambung menyambung. Lontara yang berlarik larik misalnya :

1.      Epos I La Galigo;
2.      Tolo’, Meongpalo;
3.      Sure’ Selleyang;
4.       Elong Ugi.

Sedangkan lontara’ yang terdiri dari kalimat kalimat bersambung misalnya lontara hikayat, kisah, tasauf, dan lontara keagamaan lainnya. Jumlah huruf dari jenis lontara yang berlarik larik tersebut berbeda beda. Elong Ugi biasanya terdiri dari tiga baris masing masing jumlah huruf (lontara’)nya atau sukukata pada aksara latin 8’, 7 dan 6. Terkadang juga cuma dua baris namun jumlah huruf lontaranya harus 21. Adapun Tolo’, Menrurana, dan Meongpalo adalah terdiri dari larik larik yang sambung menyambung yang terdiri dari 8 sukukata atau 8 huruf lontara’ Bugisnya. I La Galigo dan Sure’ Selleyang berlarik 5, 5, 5 atau 10, 10, 10.

Koleksi dan jumlah naskah lontara dengan keterangan sebagai berikut : angka dalam kurung adalah jumlah naskah yang indeksnya adalah topik tertentu misalnya, Al-quran (132) artinya ada 132 naskah yang terindeks ‘Al-quran’.  Pada buku Katalog Naskah Nusantara, pada bagian akhir terdapat indeks topik masing masing naskah. Misalnya naskah dengan indeks kelong” ada pada Rol 17 No.1, artinya pada Rol microfilm no. 17 pada urutan 1 terdapat naskah ‘kelong’ atau pantun/ puisi Bugis atau Makassar.

Rincian Koleksi naskah di Unit Kearsipan DisPus-Arsip Sulawesi Selatan adalah :

Naskah Lontara pada kertas biasa


1. Lontara Keagamaan
a.      Al-quran (132)  
b.      Azimat  (209)
c.       Dialog (110)
d.      Doa-Doa (611)
e.      Hukum Islam (418)
f.        Jual Beli (13)
g.      Khutbah (65)
h.      Akhlak (64)
i.        Tauhid/ Keimanan (152)
j.        Tajwid (46)
k.       Tasawuf (369)
l.        Akhbaru Al-Akhirah, Tulqiyamah (47)
m.    Zikir (186)

2. Lontara Kesusastraan
a.      Cerita Rakyat (70)
b.      La Galigo (212)
c.       Sang Hyang Sri (15)
d.      Hikayat (196)
e.      Hikayat Syech Yusuf (85)
f.        Sejarah Nabi (221)
g.      Isra’ Mi’raj (75)
h.      Sure Makkellu Mallinrung (86)
i.        Kelong (54)
j.        Barzanji, Syaraf al-anam (117)
k.       Judul Buku (16)
l.        Orang terkenal, ajaran (67)
m.    Cina (26)

3. Lontara Umum
a.      Ayam (12)
b.      Catatan Harian (142)
c.       Hukum Adat (129)
d.      Kutika (299)
e.      Mantera (172)
f.        Obat-obatan (88)
g.      Pesan / Nasehat (319)
h.      Sejarah (251)
i.        Silsilah (197)
j.        Surat- Surat (35)
k.       Pendidikan Sex (43)
l.        Mimpi (19)
m.    Perahu (35)
n.      Perjanjian (98)
o.      Pertanian (37)
p.      Rumah (20)
q.      Senjata (21)
r.       Sarung (2)

Jika anda tertarik untuk meneliti Lontara, silakan hubungi Pustakawan atau Arsiparis yang bertugas di Ruang Baca Arsip, Unit Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.