Dalam tubuh manusia menurut lontarak, terlukis adanya 4 (empat) macam cairan tubuh, ialah cairan darah, bolok=lendir, balakunnyi= empedu kuning dan essung= empedu hitam. Darah mempunyai hawa panas dan lebab, bolok mempunyai hawa panas dan kering, balakunnyi berhawa dingin-kering dan essung mempunyai hawa dingin lembab. Dalam lontarak, misalnya menyebutkan pengaruh substansi cairan tubuh terhadap timbulnya penyakit. Dikatakan "narekko pasauk-i assikorena balakonnyi-e poleni semmeng mapparelle-e", artinya kalau terlalu kuat pengaruh percampuran empedu-kuning, maka datanglah demam-panas yang berantara.
Dikatakan pula, bahwa perut itu adalah kolamnya tubuh.
Apabila sehat yang muncul dari perut (usus), maka sehatlah pula tubuh dan
sebaliknya, jika sakit muncul dari perut, maka sakit pulalah tubuh. Jika perut
sakit, maka berpokoklah segala penyakit yang akan dialami.
Klasifikasi watak dan sifat manusia, sering kali bertolak
dari sifat cairan tubuh dan disesuaikan dengan tingkat usia dan disesuaikan
dengan tingkat usia dan kondisi tubuh. Kelebihan dan kekurangan cairan tubuh tersebut dalam
tubuh akan tampak warna pada wajah, seperti kemerah-merahan, pucat, masam,
murung dan tenang. Semua itu sebagai alamat kelebihan atau kekurangan cairan
salah satu dan empat jenis tersebut. Usaha-usaha untuk mencapai harmonisasi
dalam pengobatan, selain ramuan obat dan doa, dilakukan pula tindakan-tindakan,
seperti pengaturan waktu makan dan jenis-jenis masakan, mappanyolong (minum
obat pencahar perut), malluwah (tindakan muntah) dari kekenyangan, mappasuk
dara (tidakan mendekam) dan lain-lain tindakan yang mengarah kepada
harmonisasi.
Apabila perut dianggap sebagai kolam dan sebagai pangkal
menjalarnya penyakit yang disebabkan oleh makanan dan minuman, disebabkan oleh
pengaruh kualitas alam, menjadi gejolak pada cairan tubuh, maka segala
gejala-gejala dis-harmonis dalam perut akan menyebabkan terjadinya penyakit.
Hal ini berarti bahwa perut merupakan pangkal dari makna sakit dan tidak sehat.
Dengan demikian dapat dipahami, bahwa tindakan-tindakan
pencegahan sebelum menderita sakit, adalah pertama sekali, menjaga kuantitas
dan kualitas makanan dan segala yang akan terkandung dalam perut. Kedua, adalah
menjaga tingkah laku dan kebiasaan yang tidak menciptakan harmonisasi menurut
usia dan kondisi tubuh. Semua kebiasaan yang dilakukan yang berlebihan atau
kekurangan, akan menimbulkan dis-harmonis. Ketiga, adalah memperhatikan
pamali-pamali menurut adat dan kepercayaan, kemudian melakukan interpretasi
berdasarkan harmonisasi.
Buku PENGOBATAN TRADISIONAL BERBASIS LONTARA DI SULAWESI
SELATAN merupakan sistem medis orang Bugis yang diangkat dari lontara, yang
berdasarkan prinsip harmonisasi tellu sulapa eppa, dengan sumber bahan-bahan
ramuan yang digunakan dalam pengobatan juga berasal dari prinsip ini, yang
didahului oleh suatu sistem pengetahuan tentang komposisi yang terkandung pada
sistem bahan ramuan berdasarkan lontara Wajo dan Bone.
Klasifikasi penyakit dan ramuan penyembuhan menurut lontara
Wajo
- Ramuan obat tentang penyakit mata
- Ramuan obat tentang penyakit hidung dan tenggorokan
- Ramuan obat tentang penyakit gigi, gusi, lidah dan mulut
- Ramuan obat tentang penyakit batuk, asma dan kemuntahan (muntah darah)
- Ramuan obat tentang penyakit bengkak
- Ramuan obat tentang penyakit luka dan selalu keluar darah
- Ramuan obat tentang penyakit perut
- Ramuan obat tentang penyakit berak-berak (darah)
- Ramuan obat tentang penyakit kencing
- Ramuan obat untuk menambah dan mengurangi syahwat
- Ramuan obat tentang kehamilan dan persalinan
- Ramuan obat tentang penyakit peluh
- Ramuan obat tentang penyakit pinggang
- Ramuan obat tentang penyakit bawasir (ambeien)
- Ramuan obat tentang penyakit campak-gabak
- Ramuan obat tentang penyakit kuning: muka, mata dan kuku
- Ramuan obat tentang penyakit demam-panas
Klasifikasi penyakit dan ramuan penyembuhan menurut lontara Bone
- Ramuan obat penyakit kepala
- Ramuan obat penyakit mata
- Ramuan obat penyakit hidung
- Ramuan obat penyakit-dalam
- Ramuan obat penyakit luar/kulit
- Ramuan obat penyakit panas
- Ramuan obat penyakit luka-luka
- Ramuan obat penyakit-penyakit lainnya
Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan
Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar yang membahas persoalan yang
menyangkut kausalitas penyakit dan penyembuhan serta praktek penyembuhan
menurut kepercayaannya. Berikut prinsip harmonisasi tellu sulapa dalam sistem
medis orang Bugis.
Unsur dasar kejadian manusia
- Tanah
- Air
- Api
- Angin
Kwalitas alam sekitar
- Panas
- Dingin
- Kering
- Lembab
Subtansi Cairan Tubuh
- Darah
- Empedu kuning
- Lendir (flegma)
- Empedu hitam
Penyusun: H. Abu Hamid
Penerbit: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008





