Showing posts with label Drs. Muhammad Salim. Show all posts
Showing posts with label Drs. Muhammad Salim. Show all posts

May 14, 2020

Tolok Rumpakna Bone (Transliterasi dan Terjemahan Lontarak)


Buku : Tolok Rumpakna Bone

Penyusun : I Malla Daeng Mabela

Penerjemah : Drs. Muhammad Salim

Penerbit : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan), Makassar 1991

Jumlah Halaman : vii + 254

ISBN : -

Sejak zaman dulu kala, kesusastraan Bugis sudah berkembang pesat. Berbagai macam genre aliran sastra Bugis tertulis dalam lontara yang sampai sekarang masih tersimpan di berbagai lembaga pemerintah maupun dirumah rumah pribadi. Kesusastraan Bugis sangat besar dan penting peranannya dalam kehidupan masyarakat Bugis dan mengandung nilai nilai budaya yang sangat tinggi dan sangat perlu dilestarikan.

Salah satu genre sastra Bugis yang perlu dikembangkan dan dilestarikan adalah Tolok (biasa juga ditulis toloq atau tolo’). Jenis kesusastraan Bugis ini terdiri dari susunan larik larik dengan jumlah suku kata 8, atau jumlah huruf lontaranya ada 8. Jenis karya sastra Bugis yang sama dengan Tolok yang juga berjumlah 8 suku kata adalah kisah Meongpalo dan Menrurana.

Contoh bait Tolok :


Tettiq uwae matanna                                     Menetes air matanya    

Batara Tungkeqna Bone                                 Batara tunggalnya Bone

Mengkalingai adanna                                     Mendengar ucapannya

Anaq pattola lebbiqna                                    Putra mahkota mulianya

Naturusiang muani                                         Beliaupun mengiakan    

(penggalan dari Tolok rumpakna Bone)                                                               


Contoh bait Meongpalo :

Salamaq                                                          Selamat!

Iyanae galigona                                              Inilah galigo-nya

Meong mpalo Bolongnge                               Meong Mpalo Bolongnge

Rampe rampena cokie                                   Cerita tentang Kucing

Rerena Meong mpaloe                                   Senandung kucing loreng

Nau-naunna posaqe                                        Suara hati sang kucing

(Penggalan kisah Meong Mpalo Bolongnge, dari buku Kearifan Lingkungan Hidup manusia Bugis berdasarkan Naskah Meong MpaloE, karya Prof. Nurhayati Rahman)

Tujuan utama penerjamahan Toloq ini adalah untuk melestarikan salah satu nilai budaya yang sudah hampir punah, memasyarakatkan kembali lontara bagi masyarakat Bugis dan memperkenalkan kepada masyarakat luar, serta untuk menyajikan salah satu bentuk nilai sastra budaya daerah di Indonesia.

Buku ini diawali dengan Sambutan dari gubernur Sulawesi Selatan, Sambutan dari kepala kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Selatan, Pendahuluan dari penerjemah. Kemudian secara berkelanjutan kisah Rumpaqna Bone disusun dalam dua kolom, kolom pertama Tolok Rumpakna Bone dalam bahasa Bugis dengan menggunakan aksara latin, kemudian kolom kedua terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Pada bagian akhir, ada peta Zuid Sulawesi (Sulawesi Selatan), dan kemudian ada foto foto lukisan hitam putih

1.      I Page Daeng Parenring Arung Labuaja

2.      La Pawawoi Karaeng Segeri, Raja Bone ke-30

3.      Abdul Hamid Petta Ponggawae, Panglima Perang Kerajaan Bone 1905

4.      La Pawawoi duduk bersama beberapa orang

5.      Istana Haji Turuk di Bajoe 1905

6.      La Pawawoi diatas kapal S.S. Rochussen dalam perjalanan ke Pulau Jawa untuk diasingkan

7.      Penangkapan La Pawawoi Karaeng Segeri

Buku koleksi Perpustakaan Khusus, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.

 


May 1, 2020

Koleksi Naskah Lontara DISPUS-ARSIP Sul-Sel.


Katalog Induk Naskah Lontara 
Suku bangsa Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan, termasuk dua diantara sedikit suku bangsa di Indonesia yang memiliki tradisi tulis menulis. Huruf atau aksara yang digunakan oleh orang Bugis sejak ratusan tahun lalu adalah huruf Lontara yang dalam bahasa Bugis sendiri dinamai uki’ sulapa eppa’ (Dr. Mukhlis Paeni dalam Katalog Naskah Nusantara). Suku Makassar juga memiliki huruf tersendiri yang dinamakan aksara Jangang-jangang yang aslinya mirip bentuk burung / unggas sehingga disebut jangang-jangang. Pada perkembangan selanjutnya aksara jangang-jangang jarang digunakan dan lebih sering aksara uki’ sulapa eppa’-lah yang mendominasi penggunaan dalam penulisan bahasa Bugis dan Makassar.
Silsilah Raja yang Tertulis diatas daun Lontar

Menurut para ahli sejarah, aksara lontara uki’ sulapa eppa’ dan aksara jangang-jangang keduanya masih turunan aksara Nusantara yang juga dari India (Sansekerta). Naskah Bugis kuno yang banyak tersimpan di Unit Kearsipan Dispus-Arsip Sulawesi Selatan, terdiri dari berbagai macam aksara, yaitu lontara Bugis (Uki Sulapa Eppa’), lontara jangang-jangang, aksara serang (penulisan bahasa Bugis dan Makassar menggunakan aksara Arab), dan tulisan Arab asli terutama untuk naskah keagamaan. Banyak diantara naskah tersebut sudah susah dibaca, baik yang naskah aslinya maupun microfilm-nya. Hal ini disebabkan karena naskah naskah tersebut sudah sangat rapuh, tinta yang digunakan juga sudah banyak meresap kedalam kertasnya, ada juga yang halamannya sudah ada yang hilang atau sobek.

Di kantor DisPus-Arsip Sulawesi Selatan juga tersimpan dengan baik naskah Bugis kuno yang tertulis diatas daun lontar. Naskah ini berupa gulungan rol daun lontar yang sambung menyambung. Menurut para pakar orang dulu menggunakan semacam paku kecil (disebut kallang dalam bahasa Bugis) untuk menggoreskan huruf huruf diatas helai daun lontar dengan penuh kehati-hatian karena sifat daun lontar yang mudah sobek. Setelah satu helai ditulisi, kemudian ditaburi bubuk hitam sehingga tulisannya kentara dan dapat dibaca dengan jelas. Setelah selesai ditaburi, helai daun lontar kemudian disambungkan dengan helai sebelumnya dengan cara dijahit menggunakan jarum dan benang. Ketika satu naskah dianggap selesai, kemudian helai daun lontar tersebut digulung dan dibuatkan tempat gulungan untuk memudahkan membacanya. Cara membacanya yaitu dengan duduk bersila sambil kedua tangan memutar gulungan rol daun lontar. Biasanya disertai dengan ritual (upacara) kecil.

Jumlah naskah lontara’ Bugis, Makassar dan Mandar yang tersimpan di Unit Kearsipan DisPus-Arsip Daerah yaitu 4.049 naskah yang semuanya sudah dimicrofilm-kan. Bagi anda para peneliti atau mahasiswa yang akan membaca dan meneliti naskah lontara hanya akan membaca hasil microfilmnya saja. Naskah aslinya sudah tidak bisa diakses, karena sifat kertasnya yang sudah sangat rapuh. Naskah asli ini biasanya hanya untuk dipajang saat eksibisi (pameran) saja. Hasil microfilm naskah lontara ini selain bisa dibaca di layar Microfilm reader, juga bisa discan (dipindai) dan disimpan dalam format .tiff atau .jpg, sehingga bisa diprint langsung, dengan  biaya tertentu.

Berbagai macam topik naskah lontara Bugis yang ada koleksi DisPus-Arsip. Jenis jenis lontara :

1.      Lontara Kutika yaitu semacam astrologi nenek moyang orang Bugis dan Makassar. Dalam lontara kutika ini juga disebutkan tentang hari baik dan hari buruk untuk melaksanakan pernikahan, naik rumah baru (rumah orang Bugis dan Makassar zaman dulu berupa rumah panggung), hari permulaan mengerjakan sawah, dan ramalan lainnya;
2.      Kepiawaian orang dulu meramu obat juga banyak terekam dalam naskah lontara Pabbura’ . Berbagai jenis tanaman herba diramu dan digunakan untuk mengobati penyakit tertentu;
3.      Juga ada yang dinamakan lontara Baddili’ Lompo yaitu naskah lontara yang membahas tentang strategi perang dan pembuatan senjata;
4.      Ada Lontara yang membahas tentang cara bercocok tanam yang disebut lontara’ Paggalung;
5.      Lontara kisah kisah tasauf;
6.      Lontara ajaran Syech Yusuf;
7.      Lontara naskah keagamaan;
8.      Lontara pendidikan sex suami istri (lontara Akkalaibinengeng);
9.      Lontara tentang tabiat binatang;
10.  Lontara silsilah raja (lontara Pangoriseng);
11.  Lontara  Alloping-loping yang merupakan lontara yang mengupas tentang tata cara berlayar dan menangkap ikan;
12.  Ada juga lontara Pattaungeng yang merupakan catatan harian orang Bugis zaman dulu dan lain lain (Tolok Rumpakna Bone, terjemahan oleh Drs. Muhammad Salim 1991).

Karya sastra dalam lontara’ Bugis biasanya terdiri dari larik larik bersambung, namun tidak sedikit yang terdiri dari kalimat kalimat biasa yang sambung menyambung. Lontara yang berlarik larik misalnya :

1.      Epos I La Galigo;
2.      Tolo’, Meongpalo;
3.      Sure’ Selleyang;
4.       Elong Ugi.

Sedangkan lontara’ yang terdiri dari kalimat kalimat bersambung misalnya lontara hikayat, kisah, tasauf, dan lontara keagamaan lainnya. Jumlah huruf dari jenis lontara yang berlarik larik tersebut berbeda beda. Elong Ugi biasanya terdiri dari tiga baris masing masing jumlah huruf (lontara’)nya atau sukukata pada aksara latin 8’, 7 dan 6. Terkadang juga cuma dua baris namun jumlah huruf lontaranya harus 21. Adapun Tolo’, Menrurana, dan Meongpalo adalah terdiri dari larik larik yang sambung menyambung yang terdiri dari 8 sukukata atau 8 huruf lontara’ Bugisnya. I La Galigo dan Sure’ Selleyang berlarik 5, 5, 5 atau 10, 10, 10.

Koleksi dan jumlah naskah lontara dengan keterangan sebagai berikut : angka dalam kurung adalah jumlah naskah yang indeksnya adalah topik tertentu misalnya, Al-quran (132) artinya ada 132 naskah yang terindeks ‘Al-quran’.  Pada buku Katalog Naskah Nusantara, pada bagian akhir terdapat indeks topik masing masing naskah. Misalnya naskah dengan indeks kelong” ada pada Rol 17 No.1, artinya pada Rol microfilm no. 17 pada urutan 1 terdapat naskah ‘kelong’ atau pantun/ puisi Bugis atau Makassar.

Rincian Koleksi naskah di Unit Kearsipan DisPus-Arsip Sulawesi Selatan adalah :

Naskah Lontara pada kertas biasa


1. Lontara Keagamaan
a.      Al-quran (132)  
b.      Azimat  (209)
c.       Dialog (110)
d.      Doa-Doa (611)
e.      Hukum Islam (418)
f.        Jual Beli (13)
g.      Khutbah (65)
h.      Akhlak (64)
i.        Tauhid/ Keimanan (152)
j.        Tajwid (46)
k.       Tasawuf (369)
l.        Akhbaru Al-Akhirah, Tulqiyamah (47)
m.    Zikir (186)

2. Lontara Kesusastraan
a.      Cerita Rakyat (70)
b.      La Galigo (212)
c.       Sang Hyang Sri (15)
d.      Hikayat (196)
e.      Hikayat Syech Yusuf (85)
f.        Sejarah Nabi (221)
g.      Isra’ Mi’raj (75)
h.      Sure Makkellu Mallinrung (86)
i.        Kelong (54)
j.        Barzanji, Syaraf al-anam (117)
k.       Judul Buku (16)
l.        Orang terkenal, ajaran (67)
m.    Cina (26)

3. Lontara Umum
a.      Ayam (12)
b.      Catatan Harian (142)
c.       Hukum Adat (129)
d.      Kutika (299)
e.      Mantera (172)
f.        Obat-obatan (88)
g.      Pesan / Nasehat (319)
h.      Sejarah (251)
i.        Silsilah (197)
j.        Surat- Surat (35)
k.       Pendidikan Sex (43)
l.        Mimpi (19)
m.    Perahu (35)
n.      Perjanjian (98)
o.      Pertanian (37)
p.      Rumah (20)
q.      Senjata (21)
r.       Sarung (2)

Jika anda tertarik untuk meneliti Lontara, silakan hubungi Pustakawan atau Arsiparis yang bertugas di Ruang Baca Arsip, Unit Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



April 24, 2020

Elong Ugi, Kajian Naskah Bugis



Buku : Transliterasi dan Terjemahan ELONG UGI (Kajian Naskah Bugis)
Penulis : Drs. Muhammad Salim (Ketua Tim)
Editor : Drs. H. Andi Abubakar Punagi
Penerbit : Bagian proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan, Departemen Pendidikan dan kebudayaan. Makassar, 1990
Jumlah Halaman : vi + 97
ISBN : -

Tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki karya karya sastra lokal sendiri dan menggunakan aksara sendiri seperti daerah Sulawesi Selatan. Elong (Bugis) atau Kelong (Makassar) adalah salah satu genre sastra dalam kebudayaan Bugis dan Makassar. Didalam buku ini hanya Elong Bugis yang dibahas. Elong ini juga terdiri dari berbagai macam bentuk dan ragam. Elong Ugi ini adalah salah satu aspek budaya daerah yang dapat dijadikan bahan penelitian, pengkajian, dan pengembangan budaya bangsa Indonesia.

Elong ini dapat diartikan sebagai puisi, pantun atau nyanyian dalam bahasa Indonesia. B. F. Matthess, seorang missionaris Belanda yang pernah bermukim di Sulawesi Selatan pada abad ke-19, yang juga pernah mengumpulkan dan mendokumentasikan Elong Ugi, menyebutnya sebagai “poetzie” atau puisi. Tapi kalau dilihat dari jumlah suku kata dan barisnya, mirip pantun. Elong Ugi, hampir semua setiap satu bait terdiri dari 3 baris dengan jumlah suku kata 8 pada baris pertama, 7 pada baris kedua dan 6 pada baris ketiga, dan 21 suku kata pada setiap baitnya. Namun pada beberapa Elong, ada juga yang hanya 2 baris, tetapi jumlah suku katanya tetap 21 suku kata.

Fungsi dari Elong ini juga bermacam macam. Ada yang digunakan oleh kaum muda mudi untuk dijadikan semacam ungkapan cinta dan curahan hati, ada yang digunakan untuk menina-bobokkan anak bayi, nasehat orangtua kepada anak anaknya, dan pemuka agama pun menjadikannya bahan untuk memberikan nasehat nasehat agama (Islam) kepada umat.  Ada juga Elong yang berfungsi sebagai mantra mantra dalam pengobatan dan penyembuhan orang sakit dan bahkan Elong dapat dijadikan sebagai pemberi semangat kepada para prajurit dimedan perang.

Tantangan terbesar dalam memahami Elong adalah karena banyak yang masih menggunakan kosa kata Bugis kuno / lama yang sudah tidak digunakan dalam percakapan sehari hari. Ada pula banyak naskah lontara yang berisi Elong, namun sudah susah dibaca dan dipahami artinya.Termasuk juga kendala adalah banyak kata kata kiasan, atau kata kata perumpamaan dan bahkan menggunakan nama lokasi atau daerah tertentu.

Buku ini diharapkan kedepan, akan membantu para pembaca, utamanya generasi muda Bugis dalam memahami dan mengembangkan jenis karya sastra Elong ini.

Terdiri dari 3 bab (bagian), diawali dengan Prakata dan Kata Sambutan kemudian bab 1 Pendahuluan yang membahas secara umum tentang Latar Belakang dan Masalah, Tujuan dan hasil yang diharapkan, Kerangka teori, penjelasan tentang Elong Ugi, dasar suntingan naskah, transliterasi dan terjemahan, serta sumber data.

Pada bagian kedua, adalah pokok pembahasan dalam buku ini, berisi Transliterasi dan Terjemahan . Bagian ini dibagi menjadi dua sub bagian, pertama yaitu Elong Berlarik Tiga yang terdiri dari 13 sug-sub bagian :

1.      Pammulang Elong
2.      Elong Assimellereng (mappuji, maccacca, parere, malebba)
3.      Assiwolongpolongeng (pangaja, pappaita, padodo anak)
4.      Elong Toto’ (toto’ biu, toto’ peddi, toto’ maruddani)
5.      Elong Sibali (pangaja, maccacca, sibali bawang)
6.      Elong Madduta
7.      Elong Topanrita
8.      Elong Caddiorio
9.      Elong Sikai-kai
10.  Elong Mappong ri anak sure’e
11.  Elong Mappong ri aseng essoe
Bagian B terdiri dari Elong Sagala Rupa yaitu :
1.      Elong Osong (Osong Besse Langelo, Osong Andi Mandacini, Osong Makkuwaseng, osong I Patimang Daeng Makketti, Osong La Mappabali Daeng Tulolo, Osong La Makkarodda, Osong I Rannu Basse Balubu, Osong I Banynyak Daeng Sila,   Osong I Tolerang Daeng Pawolong, Osong I Sanre Daeng Palinge, Osong Lain-lainna Sidenreng, Osong Bawi Mabbosanna Maniangpajo, Osong Sidenreng)
2.      Elong To Panrita (Onronna Sempajang Lima Wettue, Pangajan Panrita Sulesanae)
3.      Elong Padodo Ana’-ana’
4.      Elong Mabbatangpatang
5.      Elong Eja-eja
6.      Elong Caddiorio
7.      Elong Sagala

Bab ke-3 adalah Penutup dimana yang terdiri dari 2 sub bagian yaitu Kesimpulan dan Saran-Saran.
Buku ini sangat bagus dijadikan bahan rujukan untuk penelitian dan pengkajian tentang Sastra Bugis, Elong, Tradisi Lisan, pantun Bugis, puisi Bugis dan  lain lain. Koleksi Perpustakaan Khusus, Dinas Perpustakaan dan Arsip Sulawesi Selatan.