Showing posts with label Rumpakna Bone. Show all posts
Showing posts with label Rumpakna Bone. Show all posts

July 12, 2022

NASKAH KUNO BUGIS TOLOK RUMPAKNA BONE

Dalam kehidupan masyarakat Bugis di daerah Bone peristiwa bobolnya Kerajaan Bone disebut "Rumpa'na Tana Bone" dan telah dipaterikan secara tertulis dalam sebuah naskah lontara Bugis dengan judul "Tolo Rumpa'na Bone". Lontara ini disusun oleh seorang putra daerah Bugis, Andi Mala Arung Manajeng sehingga dipandang perlu adanya usaha dan kegiatan pengamatan, sekaligus analisis terutama bagi kepentingan pembinaan serta pengembangan kebudayaan  daerah Sulawesi Selatan, sebagai potensi sumber daya kekayaan budaya bangsa.

Tolo Rumpa'na Bone tertulis dalam aksara Bugis dengan untaian kata dan susunan kalimatnya yang sulit dipahami arti dan maknanya. Naskah tersebut amat terbatas jumlahnya, bahkan termasuk salah satu jenis naskah yang hanya patut disimpan oleh orang tertentu, terutama mereka yang masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan raja-raja Bone.

Hasil kajian tentang Tolo Rumpa'na Bone, dapat diketahui bahwa penyebab terjadinya peperangan antara Kompeni Belanda dengan pihak Kerajaan Bone, terutama karena adanya perbedaan kepentingan dan kesalah pahaman. Pada satu pihak, jenderal Belanda menuduh Raja Bone telah lupa dan tidak mengindahkan perjanjian persahabatan antara Kerajaan Belanda dengan Kerajaan Bone (penjanjian Bungaya), sebagaimana yang telah disepakati oleh Arung Palakka pada tahun 1667. Sementara dipihak lain, Raja Bone mempertahankan hasil kesepakatan yang dimaksud , bahwa Kompeni Belanda tidak boleh mengganggu serta mencampuri urusan pemerintahan dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Bone.

Buku NASKAH KUNO BUGIS TOLOK RUMPAKNA BONE membahas latar belakang terjadinya peperangan antara Kerajaan Bone dengan Kompeni Belanda pada tahun 1905, mulai dari terjadinya pertikaian antara Kerajaan Bone dan Gowa, sampai kepada bobolnya Kerajaan Gowa yang menghasilkan perjanjian Bongaya. Selanjutnya diungkapkan  pertikaian/pertempuran antara Kerajaan Bone dengan pihak Belanda - Inggris dan Belanda sampai bobolnya Kerajaan Bone, diakhiri dengan pengasingan Raja Bone Lapawawoi Karaeng Segeri ke Bandung. 

Dalam peristiwa bobolnya Kerajaan Bone terhadap nilai-nilai luhur positif yang perlu di bina dan dikembangkan demi kelancaran pembangunan nasional, utamanya pembangunan bidang kebudayaan.

Peristiwa bobolnya kerajaan Bone bukan semata-mata terjadi karena keampuhan kekuatan perang maupun taktik dan strategi Kompeni Belanda saja, akan tetapi hal itu turut dipengaruhi oleh kurang mampunya pihak kerajaan Bone menggalang kekuatan yang terdiri atas kerajaan lokal lainnya di daerah Sulawesi Selatan.

Peristiwa bobolnya kerajaan Bone adalah termasuk peristiwa sejarah lokal, namun akibatnya turut terasakan oleh segenap kerajaan lokal yang tersebar di seluruh kawasan Jazirah Sulawesi Selatan. Peristiwa ini pun merupakan awal penjajahan pihak Belanda secara mutlak di kawasan tersebut. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


TRANSLITERASI DAN TERJEMAHAN 
NASKAH KUNO BUGIS TOLOK RUMPAKNA BONE
Penulis: Pananrangi Hamid, Mappasere
Editor: M. Yunus Hafid
Penerbit: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional 
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1995



May 14, 2020

Tolok Rumpakna Bone (Transliterasi dan Terjemahan Lontarak)


Buku : Tolok Rumpakna Bone

Penyusun : I Malla Daeng Mabela

Penerjemah : Drs. Muhammad Salim

Penerbit : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan), Makassar 1991

Jumlah Halaman : vii + 254

ISBN : -

Sejak zaman dulu kala, kesusastraan Bugis sudah berkembang pesat. Berbagai macam genre aliran sastra Bugis tertulis dalam lontara yang sampai sekarang masih tersimpan di berbagai lembaga pemerintah maupun dirumah rumah pribadi. Kesusastraan Bugis sangat besar dan penting peranannya dalam kehidupan masyarakat Bugis dan mengandung nilai nilai budaya yang sangat tinggi dan sangat perlu dilestarikan.

Salah satu genre sastra Bugis yang perlu dikembangkan dan dilestarikan adalah Tolok (biasa juga ditulis toloq atau tolo’). Jenis kesusastraan Bugis ini terdiri dari susunan larik larik dengan jumlah suku kata 8, atau jumlah huruf lontaranya ada 8. Jenis karya sastra Bugis yang sama dengan Tolok yang juga berjumlah 8 suku kata adalah kisah Meongpalo dan Menrurana.

Contoh bait Tolok :


Tettiq uwae matanna                                     Menetes air matanya    

Batara Tungkeqna Bone                                 Batara tunggalnya Bone

Mengkalingai adanna                                     Mendengar ucapannya

Anaq pattola lebbiqna                                    Putra mahkota mulianya

Naturusiang muani                                         Beliaupun mengiakan    

(penggalan dari Tolok rumpakna Bone)                                                               


Contoh bait Meongpalo :

Salamaq                                                          Selamat!

Iyanae galigona                                              Inilah galigo-nya

Meong mpalo Bolongnge                               Meong Mpalo Bolongnge

Rampe rampena cokie                                   Cerita tentang Kucing

Rerena Meong mpaloe                                   Senandung kucing loreng

Nau-naunna posaqe                                        Suara hati sang kucing

(Penggalan kisah Meong Mpalo Bolongnge, dari buku Kearifan Lingkungan Hidup manusia Bugis berdasarkan Naskah Meong MpaloE, karya Prof. Nurhayati Rahman)

Tujuan utama penerjamahan Toloq ini adalah untuk melestarikan salah satu nilai budaya yang sudah hampir punah, memasyarakatkan kembali lontara bagi masyarakat Bugis dan memperkenalkan kepada masyarakat luar, serta untuk menyajikan salah satu bentuk nilai sastra budaya daerah di Indonesia.

Buku ini diawali dengan Sambutan dari gubernur Sulawesi Selatan, Sambutan dari kepala kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Selatan, Pendahuluan dari penerjemah. Kemudian secara berkelanjutan kisah Rumpaqna Bone disusun dalam dua kolom, kolom pertama Tolok Rumpakna Bone dalam bahasa Bugis dengan menggunakan aksara latin, kemudian kolom kedua terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Pada bagian akhir, ada peta Zuid Sulawesi (Sulawesi Selatan), dan kemudian ada foto foto lukisan hitam putih

1.      I Page Daeng Parenring Arung Labuaja

2.      La Pawawoi Karaeng Segeri, Raja Bone ke-30

3.      Abdul Hamid Petta Ponggawae, Panglima Perang Kerajaan Bone 1905

4.      La Pawawoi duduk bersama beberapa orang

5.      Istana Haji Turuk di Bajoe 1905

6.      La Pawawoi diatas kapal S.S. Rochussen dalam perjalanan ke Pulau Jawa untuk diasingkan

7.      Penangkapan La Pawawoi Karaeng Segeri

Buku koleksi Perpustakaan Khusus, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.