Showing posts with label Sinrilik. Show all posts
Showing posts with label Sinrilik. Show all posts

December 8, 2022

EPOS KARAENG TUNISOMBAYA RI GOWA

Pelestarian sastra daerah perlu dilakukan karena upaya itu bukan hanya akan memperluas wawasan terhadap sastra dan budaya masyarakat daerah bersangkutan, melainkan juga akan memperkaya khazanah sastra dan budaya Indonesia. Salah satunya cerita cerita yang mula-mula diungkapkan dalam bentuk sinrilik, yaitu sejenis prosa lisan Makassar yang dilagukan dan diiringi oleh rebab dan gong. Kemudian, sinrilik ini ditulis dalam bentuk naskah dan di beri judul Karaeng Tunisombaya ri Gowa.

Buku Epos Karaeng Tunisombaya, tentang hikayat Karaeng Tunisombaya  yakni raja yang dipertuan di Gowa, mempunyai kedudukan yang sangat tinggi sebab banyak raja yang tunduk kepadanya. Karaeng Tunisombaya mempunyai tiga orang putra, yaitu Karaeng Petta Belo, Karaeng Andi Patunru dan Karaeng Caddi-caddi atau Andi Pisona.

Epos ini menceritakan latar belakang terjadinya pertentangan Karaeng Andi Patunru dengan ayahandanya Karaeng Tunisombaya ri Gowa, yang berlanjut dengan peperangan antara Kerajaan Gowa dan Belanda. Pada mulanya, Karaeng Andi Patunru berusaha meminta bantuan kepada raja-raja lain untuk bersama-sama melawan Kerajaan Gowa. Akan tetapi, raja-raja tidak ada satu pun yang bersedia membantunya karena mereka merasa tidak mampu berhadapan dengan Kerajaan Gowa.

Akhirnya, Karaeng Andi Patunru meminta bantuan kepada Belanda di Batavia dan permintaannya itu dikabulkan oleh Belanda. Terjadilah peperangan antara Kerajaan Gowa dengan Belanda selama beberapa tahun. Peperangan utu berakhir dengan ditandatanganinya perjanjian perdamaian antara Karaeng Tunisombaya ri Gowa dengan Gubernur Jenderal Betawi.

Dalam perjanjian itu ditetapkan, antara lain Karaeng Tunisombaya tetap memerintah di Gowa sedangkan pembesar Belanda berkuasa di Ujung Pandang. Akan tetapi, apabila Tumalompo ri Jumpandang (Kepala Pemerintahan Belanda di Ujung Pandang) tidak ada, Sombaya (Raja Gowa) menjadi Tumalompo. Sebaliknya, apabila Sombaya ri Gowa berhalangan, Tumalompo ri Jumpandang menjadi Sombaya ri Gowa untuk memperhatikan kesejahteraan rakyat.

Buku ini merupakan karya sastra Indonesia lama yang berbahasa Makassar dan menjadi salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


Epos Karaeng Tunisombaya
Penerjemah: Muhammad Sikki, Sahabuddin Nappu, Syamsul Rijal
Penerbit: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1997

March 15, 2022

SINRILIKNA I MANAKKUK (LONTARAK MAKASSAR)

Naskah Sinrilikna I Manakkuk adalah salah sebuah naskah kuno yang berasal dari daerah Sulawesi Selatan. Naskah aslinya ditulis dengan aksara lontarak berbahasa Makassar. Dalam penyajiannya diiringi dengan instrumental yang dinamai gesong kesong semacam rabab di Pulau Jawa.

Tema sinrilik ini adalah cinta kasih yang murni antara I Manakkuk dengan kekasihnya I Marabintang Kamase. I Manakkuk pada akhirnya berhasil mempersunting kekasihnya I Mara bintang Kamase setelah melalui liku-liku dan perjuangan yang tidak ringan. Hal ini terbukti pada akhir cerita I Manakkuk meninggal demikian juga I Marabintang Kamase. Hanya karena keajaiban selembar sarung yang berasal dari Jawa sehingga keduanya dapat hidup kembali kemudian hidup rukun dan berbahagia.

Untuk pergi menemui kekasihnya di Labbakkang, I Manakkuk menyuruh membuat sebuah perahu yang kayunya diambil dari hutan di Luk (Luwu).

Dalam mengarungi lautan menuju Labbakkang, beberapa negeri dilalui antaranya Bantaeng, Jeneponto, Ujung Pandang dan akhirnya tiba di Labbakkang. Dibuatkanlah istana di Teko sesuai permintaan I Manakkuk. Pada akhirnya I Manakkuk dikawinkan dengan kekasihnya secara tergesa-gesa karena tiba berita bahwa I Nojeng kemenakan Somba Labbakkang bertolak dari Jawa menuju ke Labbakkang.

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa setelah melalui likuliku dan halangan, akhirnya I Manakkuk dapat hidup bahagia dengan I Marabintang Kamase.

Sesuai zamannya dalam naskah ini terdapat banyak hal yang ajaib atau ilmu hitam terutama yang terdapat di Bantaeng. Juga kejadian pada akhir ceritera disebutkan bahwa keduanya mati dan dapat hidup kembali atas keajaiban selembar sarung dari Jawa.

Buku SINRILIKNA I MANAKKUK (LONTARAK MAKASSAR) menceritakan tentang cinta kasih yang murni antara I Manakkuk dengan I Marabintang Kamase. Walaupun mengalami berbagai cobaan, tetapi pada akhirnya mereka hidup rukun dan bahagia. Kisah ini mengandung unsur-unsur: cinta kasih, jiwa keberanian, teknik pembuatan perahu, kasih sayang ibu pada anaknya, olah raga, adat, ilmu gaib (magic), dan unsur hiburan. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SINRILIKNA I MANAKKUK (LONTARAK MAKASSAR)
Peneliti: Ambo Gani, Husni Gani, Baco Dg Basse, Nurbiyah Saini
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1990


April 5, 2021

SASTRA SINRILIK MAKASSAR

Sinrilik adalah cerita yang tersusun dalam bentuk sastra yang diceritakan, mungkin dapat disebut nyanyian, oleh seorang ahlinya serta lazimnya diiringi alat musik, seperti kesok--kesok atau rebab. Sinrilik termasuk di antara bentuk-beentuk sastra yang digemari oleh penduduk yang berbahasa Makassar di Sulawesi Selatan. Sinrilik yang dapat dikumpulkan di Sulawesi Selatan berjumlah 15 judul, yaitu:

  1. Datumuseng
  2. Kappalak Tallung Batua
  3. I Makdik
  4. I Manakkuk
  5. Bosi Timorong
  6. Sitti Cina ri Bantaeng
  7. I Tolok Dg. Magassing
  8. Karaenna Bosia
  9. Karaeng Bosia
  10. Sitti Bunga Malige
  11. Sitti Laela
  12. Chodjah Maemuna
  13. 11 Desember
  14.  Pamileang Umunga
  15. Perjuangan Kamardekaang

Buku SASTRA SINRILIK MAKASSAR membahas tentang tema dan amanat; alur cerita serta penokohan dan latar sinrilik Makassar: Sinrilik "I Datu Museng", Sinrilik "I Makdik Daeng Rimakka", Sinrilik "I Manakkuk" dan Sinrilik "Kappalak Tallung Batua".

  • Sinrilik "I Datu Museng"
Tema sinrilik "I Datu Museng" termasuk dalam kategori manusia dan tanggung jawab, isi amanatnya bahwa setiap manusia memikul tanggungjawab yang besar dipundak masing-masing. Kesadaran akan adanya tanggungjawab memungkinkan suatu tugas dapat dikerjakan, baik oleh pengemban pengamanat, maupun oleh yang mempertaruhkannya, tanggungjawab itu bukan pasrah.
  • Sinrilik "I Makdik Daeng Rimakka"
Tema sinrilik "I Makdik Daeng Rimakka" termasuk dalam kategori manusia dan kehormatan, isi amanatnya bahwa pada hakikatnya manusia mempunyai rasa kehormatan, dan ia akan marah kalau rasa kehormatan dirinya tersinggung. Kehormatan dapat bersifat perseorangan dan dapat pula berupa kehormatan kelompok dan mempunyai dasar yang berbeda antara ujung yang satu dan ujung lain.
  • Sinrilik "I Manakkuk"
Sinrilik "I Manakkuk" bertema manusia dan cinta kasih, isi amanatnya bahwa dalam kehidupan manusia cinta kasi merupakan hal yang mendasar. Dalam perwujudan cinta dapat tertuju kepada Allah Yang Maha Pencipta, dan kepada setiap hasil ciptaan-Nya, baik manusia maupun alam dan segala isinya. Cinta kepada manusia dapat tertuju kepada diri sendiri. Cinta menurut keberanian, ketabahan, disiplin dan pengorbanan.
  •  Sinrilik "Kappalak Tallung Batua".

Sinrilik "Kappalak Tallung Batua" bertema kekuasaan dan kehormatan, isi amanatnya bahwa bagaimana sikap seorang (raja) agar tetap megang tampuk kekuasaan dan kehormatan. Tokoh sinrilik ini menggambarkan seorang raja yang selalu diliputi rasa kewaspadaan untuk memelihara kebesaran dan kekuasaannya. Kadang-kadang, bahkan harus mengorbankan apa saja demi cita-citanya.

Para pasinrilik menuturkan fungsi sinrilik sebagai hiburan dan alat untuk mendidik atau memberi nasehat, masih tetap ada. Fungsi sebagai alat untuk membangkitkan semangat bertempur dan rela berkorban tidak ada lagi. Buku ini merupakan salah satu Koleksi Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7-Makassar.


SASTRA SINRILIK MAKASSAR
Penulis: P. Parawansa, Sugira Wahid, Djirong Basang, Abd. Rajab Johari
Penerbit: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1992
ISBN: 979 459 187 4