Showing posts with label Gubernur Sulawesi Selatan. Show all posts
Showing posts with label Gubernur Sulawesi Selatan. Show all posts

November 13, 2025

Prof. Dr. H. Achmad Amiruddin, Untold Stories

 


Judul:                           Prof. Dr. H. Achmad Amiruddin, UNTOLD STORIES

Penulis:                        M. Dahlan Abubakar dkk.

Editor:                          M. Dahlan Abubakar

Penerbit:                     Identitas, Universitas Hasanuddin, Makassar

Tahun Terbit:             2014

Jumlah Halaman:    x + 380

ISBN:                            9786028405553

Penulis Resensi:        Suharman, S.S., MIM.

Buku ini adalah kumpulan tulisan testimoni dan juga wawancara dengan Prof. Dr. H. Achmad Amiruddin, Rektor Universitas Hasanuddin Makassar (1973-1982), Gubernur Sulawesi Selatan (1983-1993) dan Ketua MPR RI (1992-1997). Beliau juga tokoh penerima penghargaan Bintang Maha Putra Utama (1996). Tokoh yang sederhana ini berpulang ke rahmatullah pada 22 Maret 2014, di RSUP Dr. Wahidin Sudiro Husodo Makassar.

Pengumpulan tulisan testimoni ini dilaksanakan dalam rangka peringatan 40 hari berpulangnya Prof. Dr. H. Achmad Amiruddin. Selain testimoni dari para tokoh akademisi, birokrat, politisi, dan anggota keluarga beliau, ada juga tulisan dari wawancara editor.  Pada bagian Prolog, dikisahkan mulai dari kehidupan keluarga Achmad Amiruddin di kampung, masa pendidikan di Makassar dan kemudian masa kuliah di ITB Bandung, lanjut kuliah di University of Kentucky, Lexington, Amerika Serikat (AS) dan terakhir masa masa karir beliau di ITB, BPPT, menjadi Rektor Universitas Hasanuddin dan kemudian Gubernur Sulawesi Selatan.

Nama para tokoh yang memberikan testimoninya dalam buku ini antara lain: A.M. Sallatu, Abdul Razak Taha, Abu Bakar Paka, Amelia Tristiana (putri beliau), Alfian Nur, Aminuddin Ram, Andi Mappadjantji Amin, Amran Razak, Andi Tjonneng Mallombassang, Anwar Arifin, Aswar Hasan, Basri Hasanuddin, Ellong Chandra, Halide, Hamid Awaluddin, Idrus A. Paturusi, Ishak Ngeljaratan, M. Dahlan Abubakar, Wim Polii dan masih banyak lagi tokoh lainnya.

Semua tokoh yang memberikan testimoni kepada Prof. Dr. H. Achmad Amiruddin memberikan kesan yang baik tentang sosok dan pribadi beliau. Kebaikan, kecerdasan dan kebijaksaan beliau ketika berinteraksi dengan para tokoh tersebut diuraikan secara ringkas dalam buku ini. Ada banyak hal yang menyenangkan namun ada pula hal hal yang menjengkelkan, mengharukan dan hal lucu saat interaksi terjadi.

Pada bagian akhir ada Epilog yang berisi pembahasan hasil wawancara Prof. Achmad Amiruddin oleh tim penulis. Dikisahkan disini tentang, awal mula beliau menjadi Rektor Universitas Hasanuddin, atas permintaan Jendral Muhammad Yusuf supaya beliau kembali ke Makassar untuk membangun kampung halaman. Padahal waktu itu sebenarnya Prof. Achmad Amiruddin juga menjadi calon Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB).

Buku ini cukup lengkap menguraikan kehidupan karir dan interaksinya dengan para tokoh. Ada 40 orang tokoh masyarakat plus anggota keluarga beliau yang memberikan testimoni. Buku ini juga dilengkapi dengan foto foto dokumentasi beliau selama menjabat jadi Rektor dan Gubernur Sulawesi Selatan, dan foto dokumentasi keluarga. Foto yang menghiasi halaman buku ini masih hitam putih. Ada pula riwayat singkat Prof. Achmad Amiruddin pada bagian akhir buku ini.

Sumber utama pemberian testimoni dalam buku ini adalah tokoh masyarakat Sulawesi Selatan yang juga merupakan murid, rekan kerja yang mengagumi dan menghormati Prof. Achmad Amiruddin, sehingga buku ini kurang membahas tentang kritik atas segala kebijakan yang pernah dilaksanakan oleh beliau. Buku ini juga kurang dalam hal analisis sistematis dan metodologis, sehingga bagi pembaca yang membutuhkan penelitian akademis yang mendalam, mungkin kurang memuaskan.

Buku ini koleksi Referensi, Layanan Perpustakaan Umum, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.





June 21, 2022

Mata Air Peradaban (Memorial Gubernur Sulsel Syahrul Ysin Limpo)




Buku : Mata Air Peradaban (Memorial Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo)

Penulis : Asdar Muis RMS (Ketua Tim)

Penerbit : Citra Pustaka Yogyakarta bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan

Tempat : Yogyakarta

Tahun : 2012

Ukuran : 15 x 21 cm

Jumlah Halaman : xxxii + 308

ISBN : 978-602-99724-2-9

 

Syahrul Yasin Limpo, mantan Gubernur Sulawesi Selatan selama 2 periode dan sekarang menjabat sebagai Menteri Pertanian pada Kabinet Indonesia Maju 2019-2024. Di Sulawesi Selatan yang pernah dipimpinnya, cukup banyak buku yang membahas tentang beliau. Juga banyak koleksi buku yang ditulis sendiri oleh  SYL (panggilan akrab beliau) di berbagai perpustakaan baik di provinsi maupun di kabupaten kota. 

Buku ini adalah salah satu buku yang diterbitkan dan diprakarsai oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan dalam rangka peringatan hari lahir ke-57 SYL yang lahir pada 16 Maret 1955. Tim penulis diketuai oleh Asdar Muis RMS dengan anggota : Muhammad Irham, Fachruddin Palapa, Maxi Wolor, Ahmad Saransi,  Andi Aco Zulsafri, dan Irma Yanti.

Diawali dengan pengantar dari Ketua Tim Penulis, Asdar Muis RMS, kemudian pengantar dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Drs. Ama Saing, pengantar dari SYL sendiri dan juga dari Prof. Dr. Andi Ima Kesuma.

Terdiri dari 4 bagian, dimana bagian pertama berjudul Jejak Sang Penanda Sejarah yang merupakan testimoni orang orang dekat SYL serta perjalanan hidup dan karir beliau di pemerintahan, mulai dari lurah, camat, bupati sampai menjadi gubernur. Pada bagian ini ada tulisan dari Agus Arifin Nu’man, wakil beliau selama 2 periode memimpin Sulsel, juga ada dari Azikin Soltan, M. Dahlan Abubakar, Suprapto Budi Santoso, Jufri Rahman, Agus Sumantri, Adi Surya Culla, Ahyar Anwar, Bahar Merdhu, Sawedi Muhammad, dan N. Ikawidjaja.

Selanjutnya ada bagian tentang Gairah Kinerja Ekonomi, Pembangunan Fisik yang tak Terlupakan, dan Pengakuan Terbaik. Pada bagian kedua “Gairah Kinerja Ekonomi” membahas berbagai keberhasilan SYL dalam membangun Sulawesi Selatan di bidang ekonomi. Sedangkan bagian ketiga, “Fisik Tak Terlupakan” lebih menekankan pada keberhasilan pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur di Sulawesi Selatan. Sementara pada bagian terakhir, adalah berbagai pengakuan tentang keberhasilan beliau dalam memimpin Sulawesi Selatan.

Selama periode pertama kepemimpinannya bersama Agus Arifin Nu’mang, dari 2008 - Desember 2011 beliau menerima 105 penghargaan, baik dari Presiden, Menteri, dan lembaga lainnya. Hanya dalam waktu 3 tahun kepemimpinan beliau, penerimaan 105 penghargaan masuk dalam Museum Rekord Indonesia sebagai Gubernur dengan penghargaan terbanyak di Indonesia. Tahun 2011 beliau menerima pengahargaan Satya Lencana Karya Bhakti, sebuah penghargaan atas kinerja pemerintahan yang dianggap sangat memuaskan dari pemerintah pusat. Agustus 2011, SYL dianugerahi Bintang Maha Putra Utama dari pemerintah pusat sebagai tokoh sipil yang sangat berjasa kepada negara. SYL juga pernah menjadi “Gubernur para Gubernur” istilah yang diberikan kepada SYL saat terpilih sebagai Ketua Umum Assosiasi Pemerintahan Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-4 di Semarang pada 9 Desember 2011.

Bagian terakhir dihiasi dengan foto foto dokumentasi berwarna berbagai kegiatan SYL, saat menerima tamu dari luarnegeri, meresmikan suatu proyek, saat menerima penghargaan dan juga foto keluarga beliau.

 


 

December 17, 2020

Professor Nurdin Abdullah, Satu Dasawarsa Memimpin Bantaeng


Judul : Professor Nurdin Abdullah Satu Dasawarsa Memimpin Bantaeng

Penulis : Fenti Effendi

Penerbit : Idekini Berkah Abadi

Kota tempat Terbit : -

Tahun Terbit : 2018

Jumlah Halaman : xviii + 208

Ukuran : 15 x 23 cm

ISBN : 978-602-50345-1-0

Professor Nurdin Abdullah adalah seorang akademisi yang kemudian menjadi kepala daerah dan memimpin kabupaten Bantaeng di Provinsi Sulawesi Selatan selama dua periode. Selanjutnya beliau terpilih menjadi Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2019 lalu. Pertanian adalah bidang yang digeluti oleh Professor Nurdin Abdullah. Pendidikan S1-nya diselesaikan di Universitas Hasanuddin Makassar pada Fakultas Pertanian, kemudian beliau melanjutkan pendidikan Pasca Sarjana (S2 dan S3) di negeri matahari terbit, Jepang. Beliau menjadi Bupati Bantaeng dari tahun 2008 – 2013, 2013 – 2018. Pada pemilihan gubernur Sulawesi Selatan pada tahun 2019, beliau bersama Andi Sudirman Sulaeman berhasil mendapatkan suara terbanyak dan menjadi Gubernur Sulawesi Selatan.

Buku ini salah satu memoir perjalan hidup dan karir Professor Nurdin Abdullah. Terdiri dari 7 bab, diawali dengan Kata Pengantar dengan judul ‘Memimpin Adalah Kerja Ilmiah’, Parade Foto Hari Jadi ke-763 Bantaeng, dan Professor Nurdin Abdullah memimpin Bantaeng.

Pada bab pertama Butta Toa Punya Cerita. Bab ini mengisahkan tentang bagaimana Nurdin Abdullah memimpin Butta Toa, sebutan khusus untuk kabupaten Bantaeng. Kesaksian para warganya dan letak demografis Bantaeng, serta asal usul dan sejarah kabupaten Bantaeng. Suka duka memimpin Bantaeng yang awalnya merupakan daerah tertinggal di Sulawesi Selatan, prestasi beliau dan serta tanggapan BJ Habibie (mantan presiden RI) dan tokoh lainnya juga diuraikan dalam bab ini. Foto dokumentasi beliau bersama Presiden RI Joko Widodo menutup bab pertama ini.

“Menata Dari Hulu” adalah judul bab kedua buku ini. Penjelasan tentang bagaimana seringnya terjadia banjir di Bantaeng dan kadang menimbulkan banyak korban jiwa dan harta benda, dan bupati Nurdin Abdullah mewujudkan pembangunan cedam senilai 14 milyar di Balang Sikuyu, program penghijauan di tiga kecamatan, program hutan desa adalah program kerja beliau selama memimpin Bantaeng,  sebagai upaya pencegahan bajir. Selain upaya pencegahan banjir, juga dibahas tentang penertiban hewan ternak warga yang kadang kadang berkeliaran di dalam kota terutama pasar. Dibuatkan pula aturan aturan untuk penertiban bahu jalan, dan juga program ‘Jumat Bersih’. Pada bagian lain bab ini, ada tentang penertiban dan peremajaan Pasar tradisional Lambocca. Upaya Nurdin Abdullah dalam menyiapkan dan ambulans bagi warganya juga dibahas pada bab ini.

Bab ketiga ‘Menguatkan Desa’ diawali dengan persoalan pelik, yaitu mengubah perilaku masyarakat. Problem utama di Bantaeng adalah kemiskinan dan minimnya pengetahuan tentang pertanian, juga infra struktur yang parah, fasilitas jalan buruk dan rendahnya produktifitas sawah dan ladang. Bab ketiga ini juga dibahas tentang, taman bunga dan bibit loka serta kemandirian desa. Upaya pencarian mata air untuk keperluan warga juga diuraikan disini.

“Belajar dari Bantaeng” adalah judul pembahasan pada bab keempat. Bagian ini pembahasan utamanya adalah bagaimana kesibukan bupati Nurdin Abdullah, bagaimana beliau mengatur waktu dikantor dan diluar kantor, berkordinasi dan bekerja sama dengan para birokrat lainnya di Bantaeng serta pengaturan jam jam kerja di Bantaeng. Juga dibahas tentang bagaiman Nurdin Abdullah menghapus tunjangan kinerja yang tentu saja tidak semua ASN bisa terima.

Selanjutnya dibahas tentang Siasat Masa Depan yang menguraikan tentang investasi, penyiapan masyarakat industri, dunia maritim di Bantaeng dan opsi terbaik untuk kesehatan. The Professow Way adalah judul bab keenam dengan sub bagian ‘teladan itu pangkal’. Pada bagian ini, juga dibahas tentang penganugerahan Bung Hatta Anti Corruption Award kepada Nurdin Abdullah, yang diserahkan lansung oleh putri Bung Hatta, Meutia Hatta Swasono. ‘Belum sempurna namun langkah-langkah yang dilakukan sudah mengarah ke sana dan kami ingin mengapresiasinya ditengah sulitnya mencari teladan dari pejabat publik’, demikian kata Zainal Arifin, juru bicara Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA).

Pada bagian akir buku ini ada kutipan tentang Nurdin Abdullah. “Nurdin Abdullah telah mengubah paradigma berkarat yang mengambat Bantaeng berlari cepat: dari ‘bagaimana menghabiskan’ menjadi ‘bagaimana menghasilkan’, dari ‘bagaimana mengambil’ menjadi ‘bagaimana memberi’. Ia membuktikan bahwa keterbatasan anggaran bukanlah alasan pembangunan jalan ditempat.

Buku ini sangat menarik. Pembaca dapat mengambil banyak hikmah dari kepemimpinan Nurdin Abdullah. Selain itu juga banyak dokumentasi foto kegiatan beliau menghiasi buku ini.

Koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Sulawesi Selatan.