Showing posts with label Suharman Musa. Show all posts
Showing posts with label Suharman Musa. Show all posts

June 19, 2025

Suku Bugis, Pewaris Keberanian Leluhur

 



Judul:                          Suku Bugis, Pewaris Keberanian Leluhur

Penulis:                       Juma Darmapoetra

Editor:                         Aquarich

Penerbit:                    Arus Timur Makassar

Tahun Terbit:            2014

Jumlah Halaman:   viii + 128

ISBN:                           9786029057720

Penulis Resensi:       Suharman, S.S., MIM.

Penulis buku ini adalah alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan berasal dari Sumenep Madura. Menurut penulis, suku Bugis sangat menekankan adanya hubungan yang harmonis dengan sesama dalam kehidupan sehari hari. Suku Bugis juga dikenal sebagai pemberani dalam memperjuangkan haknya, sehingga dijuluki sebagai pewaris keberanian leluhur, sebagaimana judul buku ini.

Suku Bugis adalah suku bangsa yang menghuni sebagian besar daratan Sulawesi bagian Selatan. Selain itu hampir semua pulau dan provinsi di Indonesia juga dihuni oleh orang orang Bugis, termasuk di negeri jiran, Singapura, Malaysia, Brunei dan lain lain.

Buku ini dibagi menjadi 9 bagian, diawali dengan gambaran umum suku Bugis, dilanjutkan dengan sejarahnya, termasuk bagaimana suku Bugis dimasa kerajaan, konflik antar kerajaan, pada masa penjajahan Belanda dan masa masa kemerdekaan.

Suku Bugis dan kepercayaan yang dianutnya, dibahas pada bagian kedua. Pada bagian ini, diuraikan tentang kepercayaan orang Bugis pada masa pra-Islam dan pada masa setelah masuknya Islam di Sulawesi Selatan.

Aksara dan bahasa Bugis yang digunakan oleh orang orang Bugis. Aksara yang digunakan adalah aksara Lontara Sulapa Eppa atau Lontara Segi Empat yang merupakan simbol arah mata angin atau simbol 4 unsur utama kehidupan yaitu air, api, angin dan tanah.

Mata pencaharian orang Bugis yang sebagian besar adalah petani dan nelayan. Semangat kebaharian orang Bugis juga dibahas, dan disebutkan pula tentang hukum pelayaran dan perdagangan Bugis yang terkenal yaitu Ade Allopi-loping bicaranna pabbaluE yang disusun oleh Amanna Gappa pada abad ke-17.

Adat pernikahan suku Bugis juga diuraikan secara ringkas dalam buku ini. Sebelum pernikahan ada prosesi Lamaran, mengantar mahar, acara pernikahan dan lain lainnya. Ada pula tradisi Sabung Ayam, tradisi lainnya dan Pamali. Demikian pula jenis kesenian yang ada diantara orang orang Bugis. Ada alat musik, kecapi, suling, gendang atau ganrang. Berbagai jenis pakaian adat, tari-tarian menyambut tamu, dan senjata khas Bugis.

Jenis jenis perahu atau alat transportasi air juga diulas dalam buku in, misalnya pinisi, perahu pajala atau palorani, lambok, pa’dewakkang, sandeq, sampan, soppeng dan jarangka. Semangat melaut dan merantau orang Bugis telah menguatkan dan mengukuhkan suku Bugis dalam hal bertahan hidup terhadap perubahan.

Dalam buku ini diulas pula tentang falsafah hidup orang Bugis termasuk nilai dan tatanan tertentu yang telah menjadi bagian integral kehidupan masyarakat Bugis, misalnya Siri’ na Pacce, serta empat konsep utama dalam kehidupan mereka yaitu, keberanian (warani), kekayaan (asugireng), kejujuran (lempu’), dan kepintaran (amaccangeng).

Buku ini menyajikan ulasan yang mendalam tentang Suku Bugis, kelompok etnis terbesar di Provinsi Sulawesi Selatan. Suku Bugis dikenal karena keberanian, kehormatan, dan daya juang mereka. Melalui pendekatan naratif dan reflektif, Juma Darmapoetra mengangkat nilai-nilai budaya Bugis yang diwariskan secara turun-temurun, dengan fokus utama pada sikap keberanian sebagai identitas utama suku ini. Tidak hanya berani secara fisik, tetapi juga berani dalam merantau, dalam prinsip hidup, dan dalam mempertahankan harga diri (siri’) dan rasa empati (pesse).

Buku ini minim sumber referensi akademik, hanya ada 3 sumber referensi tercetak, lainnya berasal dari sumber informasi daring (online). Pemaparan topik pembahasan juga tidak terlalu sistematis. Illustrasi dan dokumentasi foto atau gambar pendukung sangat minim.

Buku Koleksi layanan Perpustakaan Umum, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.



Perkawinan Bugis

 



Judul:                                Perkawinan Bugis

Penulis:                             Susan Bolyard Millar

Editor:                               -

Penerbit:                          Ininnawa, Makassar

Tahun Terbit:                  2009

Jumlah Halaman:        xxv + 288

ISBN:                                9786029523133

Penulis Resensi:           Suharman, S.S., MIM.

Buku yang membahas khusus tentang perkawinan suku Bugis sangat langka ditemukan. Buku ini adalah salah satu yang membahas perkawinan Bugis secara mendalam dan lengkap. Berbagai topik yang muncul sekitar perkawinan dalam suku Bugis dibahas satu persatu dalam buku ini. Mula dari pesta, ritual, hingga teks undangan diuraikan secara rinci. Bahkan aspek sosial politik suatu perkawinan juga dijelaskan dalam buku ini.

Terbagi menjadi 3 bagian, dan 8 bab,  diawali dengan pengantar alih bahasa, karena aslinya buku ini ditulis dalam bahasa Inggris yang kemudian diterjemahkan (dialihbahasakan) kedalam bahasa Indonesia. Dilanjutkan dengan Pengantar penerbit, Prakata dan ucapan terimakasih penulis.

Pada bagian pertama diuraikan tentang latar belakang dan profil Sulawesi Selatan termasuk gambaran geopolitik, ekonomi dan politik Sulawesi Selatan. Organisasi Sosial dan jaringan kekerabatan orang Bugis dan jaringan Tau Matowa dalam sejarah Bugis juga di jelaskan secara rinci pada bagian pertama ini.

Mekanisme perkawinan Bugis diulas pada bagian kedua. Pada bagian ini dijelaskan tentang mekanisme perkawinan  misalnya bagaimana pesta perkawinan menjadi arena untuk menunjukkan status sosial. Prosedur perkawinan dan interaksi simbolis yang terjadi pada pesta perkawinan Bugis, dibahas pula pada bagian ini.

Millar (penulis) juga membahas tentang Studi Kasus yang ditelitinya selama tahun 1975 – 1976 di daerah Bugis terutama di kabupaten Soppeng. Bagaimana ritual-ritual pernikahan Bugis bukan sekadar seremoni personal atau keluarga, melainkan juga merupakan manifestasi simbolik dari posisi sosial, kehormatan, serta jaringan kekuasaan dalam masyarakat Bugis kontemporer.

Secara umum, buku ini memaparkan berbagai unsur dalam tradisi pernikahan Bugis, seperti: Penentuan jodoh yang melibatkan pertimbangan status sosial, genealogis, hingga kekayaan keluarga. Rangkaian tahapan upacara, mulai dari mappacci, akkorongtigi, hingga resepsi, yang sarat dengan makna simbolik. Peran penting keluarga dan komunitas, yang menandakan bahwa perkawinan adalah peristiwa kolektif, bukan hanya antar dua individu. Penggunaan simbol-simbol material, seperti pakaian adat, mahar, serta tata ruang, yang mencerminkan prestise dan pengaruh keluarga mempelai. Transformasi nilai-nilai tradisional dalam konteks modern, termasuk bagaimana masyarakat Bugis menegosiasikan antara adat, Islam, dan modernitas.

Penulis telah melakukan penelitian dan berpartisipasi langsung dalam berbagai upacara perkawinan Bugis terutama di Soppeng, sehingga data yang disajikan sangat kaya dan detail. Buku ini tidak sekadar menggambarkan upacara, tetapi juga menganalisis makna sosial di balik setiap praktik, menjadikannya bacaan yang reflektif dan kritis. Perkawinan Bugis yang dibahas dalam buku ini merupakan perpaduan Tradisi, Islam, dan Modernitas.

Sebagaimana karya tulis ilmiah yang diterbitkan menjadi buku, bahasa yang digunakan sangat akademik yang cenderung tidak mudah untuk dipahami bagi masyarakat umum, karena sangat formal dan teoritis.

Buku ini juga minim dokumentasi dan visualisasi fotonya. Illustrasi foto atau gambar akan memudahkan pembaca dalam memahami isi buku.

Koleksi Deposit, Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan. 



February 28, 2025

Silariang (Kawin Lari)

 



Judul:                           SILARIANG

Penulis:                        Zainuddin Tika & M. Ridwan Syam

Editor:                         -

Penerbit:                     Pustaka Refleksi

Tahun Terbit:               2005

Jumlah Halaman:        xiv + 304

ISBN:                            9793570148

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Topik utama pembahasa buku ini adalah Silariang. Silariang adalah istilah bahasa Bugis dan Makassar yang sepadan dengan ‘Kawin Lari’ dalam bahasa Indonesia. Silariang, menurut penulis buku ini, tidak hanya terjadi pada masyarakat Bugis dan Makassar, tapi hampir pada semua suku bangsa yang ada di Indonesia. Namun yang membedakannya adalah sanksi hukum adat yang terjadi pada masyarakat Bugis dan Makassar, seringkali berakhir fatal dan menimbulkan korban jiwa.

Silariang umumnya terjadi karena tidak adanya restu dari orangtua salah satu atau kedua pasangan yang saling mencintai yang ingin mengikat tali pernikahan. Tidak adanya restu dari orangtua biasanya karena adanya perbedaan suku, ras, agama, strata sosial dan perbedaan lain antara kedua orang yang saling mencintai itu. Akhirnya pihak laki laki membawa pergi  pihak perempuan untuk dinikahi di suatu tempat yang tidak diketahui oleh keluarga pihak perempuan. Biasanya, pasangan tersebut akan menetap di tempat baru tersebut sampai ada kabar ‘perdamaian’ dari keluarga kedua pihak.

Namun yang kadang terjadi adalah, pihak perempuan merasa dipermalukan atau “siri’” dalam bahasa Bugis dan Makassar, sehingga timbul keinginan untuk balas dendam kepada pihak laki laki. Biasanya keluarga pihak perempuan akan membunuh laki laki yang membawa lari anak atau keluarganya. Tetapi jika kedua pihak bernegosiasi dan berhasil mencapai kata sepakat perdamaian, maka pasangan yang kawin lari itu bisa kembali ke kampungnya lagi dan hidup bahagia.

Buku ini mengupas berbagai aspek yang menyertai peristiwa Silariang. Diawali dengan pengertian atau definisi Silariang menurut beberapa pakar, sebab sebab terjadinya Silariang, akibat yang bisa timbul, cara menghindari sanksi adat, siri’ dan silariang, perselingkuhan dan Silarian, Silariang pada era modern sekarang ini, dan Silarian dalam KUHP dan aspek aspek kriminologinya.

Pada bagian akhir buku diulas berbagai peristiwa kisah nyata yang terjadi dalam masyarakat Bugis dan Makassar akibat Silariang. Ada istri yang tewas ditangan suami sendiri, ada yang tewas karena perselingkuhan dan peristiwa sadis lainnya.

Buku ini cukup informatif membahas tentang Silariang atau Kawin lari. Dalam menyusun buku ini penulis menggunakan pendekatan mendalam terhadap Budaya Lokal.  Penulis berhasil mengangkat topik yang sensitif dan penting dalam budaya Bugis dan Makassar, memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang nilai-nilai adat dan konsekuensi dari pelanggarannya.

Buku ini tidak hanya membahas konsep umum Silariang, tetapi juga menguraikan berbagai jenisnya, seperti silariang, nilariang, dan erangkale, lengkap dengan sanksi adat yang menyertainya.

Buku ini sebenarnya adalah karya tulis ilmiah penulis saat menempuh pendidikan di Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah Jakarta. Sebagai seorang sejarawan dan budayawan yang telah menulis banyak buku tentang sejarah dan budaya Sulawesi Selatan, Zainuddin Tika dan Ridwan Syam membawa perspektif yang kaya dan autentik ke dalam karyanya.

Namun demikian ada keterbatasan Informasi Publik dalam buku ini, misalnya Informasi mengenai buku ini cukup terbatas sumber-sumber onlinenya, terutama diera digital sekrang ini, dimana cukup banyak sumber informasi online yang terpercaya dan akurat.

Kemungkinan buku ini tidak tersedia secara luas di toko buku nasional, mengingat fokusnya yang spesifik pada budaya lokal, sehingga pembaca di luar Sulawesi Selatan mungkin kesulitan untuk mendapatkannya. Apalagi buku ini terbit pertama kali  lebih dari 2 dekade yang lalu sehingga semakin sulit menemukan buku ini di Toko Buku.

Secara keseluruhan, "Silariang" karya Zainuddin Tika dan Ridwan Syam ini  menawarkan wawasan berharga tentang praktik kawin lari dalam masyarakat Bugis dan Makassar, meskipun akses terhadap buku ini mungkin memerlukan usaha lebih bagi sebagian pembaca.

Buku ini koleksi Layanan Umum Perpustakaan, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.





December 16, 2020

GUIDE 100 BUKU KONTEN LOKAL SULAWESI SELATAN


Guide 100 Buku Konten Lokal Sulawesi Selatan koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. Buku ini membahas mengenai kearifan lokal, budaya lokal, sejarah lokal, kebiasaan dan adat istiadat tertentu, tokoh masyarakat, ritual etnis dan kepercayaan tertentu yang ada di Sulawesi Selatan dan lain-lain. 

Buku setebal 284 halaman ini, sebagai salah satu akses (jalan masuk) untuk mengenalkan sebagian dari koleksi buku konten lokal Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. Buku ini diterbitkan atas kerjasama Dinas Perpustakaan dan kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan dengan PT. BANK SULSELBAR. Buku ini dapat diperoleh melalui https://bit.ly/37n6ZwN 


GUIDE 100 BUKU KONTEN LOKAL SULAWESI SELATAN
Penyusun: Suharman Musa, Desy Selviana
Penerbit: DPK Prov. SulSel bekerjasama dengan PT. BANK SULSELBAR
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2000