Showing posts with label DI/TII. Show all posts
Showing posts with label DI/TII. Show all posts

February 24, 2025

Tragedi Patriot & Pemberontakan Kahar Muzakkar

 


Judul:                         Tragedi Patriot & Pemberontakan Kahar Muzakkar

Penulis:                      Syafaruddin Usman Mhd

Editor:                       Ari Pranowo

Penerbit:                    Narasi

Tahun Terbit:              2009

Jumlah Halaman:       158

ISBN:                        9789791681902

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Buku “Tragedi Patriot dan Pemberontakan Kahar Muzakkar” adalah satu dari sekian banyak buku yang membahas tokoh kontroversial dari Sulawesi Selatan. Penulis buku ini berusaha menggambarkan sosok Kahar Muzakkar dari berbagai sisi kehidupannya; mulai dari kelahiran, masa kecilnya, kampung halamannya, pedidikannya, karirnya dalam militer, pemberontakannya kepada negara, dan aspek kehidupan lainnya.

Diuraikan pula dalam buku ini tentang tokoh tokoh yang terlibat dalam pemberontakan dan penumpasan pemberontakan Kahar Muzakkar, seperti Sjamsul Bachri, Andi Muhammad Yusuf Amir, JW (DEE) Gerungan, Andi Selle Mattola, Andi Sose, Joop F Warouw, Muhammad Bahar Mattalioe, dan Muhammad Saleh Lahade.

Nama nama anggota kabinet Negara Republik Islam Indonesi (RII) Darul Islam-Tentara Islam Indonesia (DII/TII) 1957-1959 juga dicantumkan pada bagian Lampiran buku ini. Ternyata nama nama Menterinya, ada juga nama yang sepertinya non-muslim dari bagian timur Indonesia.

Pada bagian awal buku, digambarkan suasana kampung Lanipa dekat kota Palopo tempat kelahiran Kahar Muzakkar yang nama kecilnya “La Domeng”. Selanjutnya Kahar Muzakkar melanjutkan pendidikanya ke Jawa dan kemudian masuk militer dan membentuk organisasi perjuangan. Pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) dan keadaan Sulawesi Selatan pada masa itu juga diuraikan pada bab kedua dan ketiga. Pertentangan ideologi dan dan sentimen kedaerahan juga dibahas pada bab keempat dan kelima. Pada bagian kelima ini dikisahkan tentang tertembaknya Kahar Muzakkar pada 3 Februari 1965.

Bab bab selanjutnya menggambarkan terjadinya pemberontakan anti-Belanda di Sulawesi Selatan, misalnya Gerakan Muda Bajeng yang diprakarsai oleh Karaeng Haji Pajonga Daeng Ngalle. Ada juga LAPRIS yang dipimping oleh anak muda Robert Wolter Monginsidi. Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI), KRIS Muda, dan Pasukan Laskar Harimau adalah sebagian dari organisasi yang terbentuk pada masa itu.   

Buku ini tidak terlalu banyak mengupas kehidupan pribadi Kahar Muzakkar. Organisasi Organisasi Militer, gerakan pemuda anti Belanda, konflik dalam organisasi militer adalah topik yang banyak dibahas dibuku ini.

Buku ini sangat informatif terutama jika pembaca ingin mengetahui banyak tentang pemberontakan militer pada masa masa pasca kemerdekaan. Pendekatan Komprehensif dari buku yang berupaya menyajikan gambaran lengkap tentang Kahar Muzakkar, termasuk latar belakang, motivasi, dan pandangannya, sehingga pembaca dapat memahami kompleksitas tokoh ini.

Sumber Referensi cukup banyak dan beragam dalam penyusunan buku ini. Penulis menggunakan berbagai sumber, termasuk tulisan pribadi Kahar Muzakkar sendiri "Konsepsi Negara Demokrasi Indonesia” yang terbit tahun 1961. Bahkan ada beberapa sumber referensi buku tentang Kahar Muzakkar dan DI/TII  yang ditulis oleh penulis dari luar negeri  seperti Barbara Sillars Harvey, Herbert Feith, Daniel S. Lev dan C Van Dijk.

Namun demikian, ada juga kekurangan buku ini misalnya sangat terbatas ulasannya dari pembaca, sehingga  sulit untuk mendapatkan gambaran umum tentang penerimaan dan kritik terhadap isi buku. Semakin banyak ulasan dari suatu buku akan semakin bagus penerimaan dan juga pemikiran kritis dari pembacanya.

Hal lain yang dapat dikatakan kekurangan buku ini adalah, jumlah edisi yang tercetak dan yang dijual sangat terbatas. Terbit tahun 2009 dan 2010, namun sangat susah untuk dapat membeli atau memiliki buku ini. Beberapa toko buku daring (online) menunjukkan bahwa stok buku ini tidak tersedia, yang dapat menyulitkan pembaca yang ingin memperoleh buku ini.

Secara keseluruhan, buku ini menawarkan wawasan mendalam tentang sosok Kahar Muzakkar dan peristiwa pemberontakan di Sulawesi Selatan, meskipun keterbatasan ulasan dan ketersediaan mungkin menjadi pertimbangan bagi calon pembaca.

Buku ini koleksi Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



December 8, 2020

Abdul Qahhar Mudzakkar, Dari Patriot Hingga Pemberontak


Judul : Abdul Qahhar Mudzakkar, Dari Patriot Hingga Pemberontak

Penulis : Anhar Gonggong

Penerbit : Ombak

Tempat terbit : Yogyakarta

Tahun terbit : 2004

Jumlah Halaman : xx + 519

Ukuran : 15 x 21 cm

ISBN : 979-3472-17-0

Banyak buku yang diterbitkan pada awalnya merupakan karya skripsi atau disertasi dari penulisnya saat menempuh pendidikan tinggi. Salah satunya adalah buku ini, yang merupakan karya ilmiah disertasi dari Dr. Anhar Gonggong ketika beliau menyelesaikan program doktornya di Universitas Indonesia. Menurut penulisnya, tema utama buku ini adalah sebuah pertanyaan, ‘mengapa seorang patriot dapat menjadi pemberontak?’ Lewat buku ini, Anhas Gonggong berusaha menjawab pertanyaan tersebut.

Buku setebal 519 halaman ini dibagi menjadi 8 bab, dengan didahului oleh Pengantar Penerbit, Pengantar Penulis (cetatakan pertama), Pengantar Penulis (cetakan kedua), Daftar Isi dan Daftar Tabel. Selanjutnya pada uraian bab pertama diuraikan masalah masalah teori dan metodologi penulisan. Sedangkan bab kedua  dan bab ketiga membahas hal hal yang menyangku keadaan geografi, penduduk dan sosial ekonomi serta keadaan sistem pendidikan yang berkembang pada masa periode berlangsungnya gerakan DI/TII di Sulawesi Selatan. Pada bab ketiga juga diuraikan tentang pengaruh budaya Siri na pesse sebagai unsur yang sangat penting dan menentukan dalam tata kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan.

Pada bab bab selanjutnya diuraikan tentang pasang surut keberlansungan gerakan DI/TII, termasuk lahirnya masalah gerilya setelah kemerdekaan RI, sambutan masyarakat Sulawesi Selatan terhadap proklamasi, serta bagaimana rakyat berusaha mempertahankan kemerdekaan dari penjajah Belanda dan Sekutu yang ingin kembali menguasai Sulawesi Selatan, dan Indonesia pada umumnya. Munculnya Abdul Qahhar Mudzakkar sebagai pemimpin yang disegani oleh para pengikutnya.

Pada bab kelima diuraikan masalah ide Negara Islam di Indonesia yang dirangkai kemudian dengan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara RI. Tokoh tokoh gerakan DI/TII juga menginginkan Islam dan Pancasila dalam kedudukan sebagai dasar negara.

Pembahasan pokok pada bab keenam yaitu usaha usaha yang pernah dilakukan oleh Pemerintah RI terhadap gerakan pemberontakan yang bertujuan mendidikan Negara Islam Indonesia. Gerakan ini diproklamasikan oleh R.M. Kartosuwirjo di Jawa Barat pada tanggal 7 Agustus 1949. Pemerintah RI berusaha menyelesaikan konflik konlik ini baik melalui jalan damai melalui perundingan, maupun jalan kekerasan senjata melalui operasi militer.

Bab VII membahas tentang berbagai pertentangan pertentangan secara intern antara para pemimpin dan anggota gerakan ini. Sedangkan bab terakhir adalah kesimpulan yang diambil dari uraian uraian peristiwa yang dijabarkan pada bab bab sebelumnya.

Bagian akhir buku ini daftar pustaka dimana berisi kumpulan dokumen, arsip, dan buku buku yang dijadikan bahan rujukan penulisan disertasi/buku dari Anhar Gonggong. Tak lupa juga ada Indeks yang dapat memudahkan pembaca mencari topik topik tertentu dalam buku ini. Terakhir riwayat hidup penulis secara ringkat.

Koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan (Ruang Deposit dan ruang Referensi).




January 29, 2020

Kisah Tertembaknya Kahar Muzakkar




Buku : Kisah Tertembaknya Kahar Muzakkar di Sungai Lasolo
Editor : A. Wanua Tangke & Anwar Nasyaruddin
Penerbit : Pustaka Refleksi, Makassar 2006
Jumlah Halaman : vii + 104
ISBN : 979-3570-18-0

Satu lagi buku yang membahas tentang Kahar Muzakkar (Qahhar Mudzakkar). Diawali dengan catatan Penerbit. Benarkah  Kahar Muzakkar telah meninggal dunia? Kahar Muzakkar  pemimpin DI/TII yang pernah bergerilya di hutan hutan belantara Sulawesi Selatan selama 15 tahun (1950 – 1965) telah menimbulkan mitos itu. Banyak yang beranggapan dan meyakini bahwa Kahar Muzakkar belum meninggal dunia sampai sekarang. Bahkan di group group media sosial seperti di Facebook, seringkali ada anggota group yang berdebat dengan anggota lainnya tentang status kematian Kahar Muzakkar. 


Buku ini dengan judul yang sangat jelas, kisah tertembaknya Kahar Muzakkar di Sungai Lasolo berusaha mengungkap tentang fakta sebenarnya. Diawali dengan kisah Pertemuan Bonepute, antara Kahar Muzakkar dan pasukannya dengan Kolonel Muhammad Yusuf dan rombongan Kodam XIV Hasanuddin. Untuk pelaksanaan pertemuan ini, Kahar Muzakkar mengutus istrinya Corry Van Stenus untuk menemui Kolonel Muhammad Yusuf untuk membicarakan kesediaan Kahar Muzakkar melakukan pertemuan di Bonepute (Luwu). Ada juga sosok Nurdin Pisok, sosok pemberani yang bergabung dengan pasukan DI/TII. Sosok kepercayaan Kahar Muzakkar lainnya yaitu B.S. Baranti yang mengumumkan lewat RRI Seruan kepada ke-34 komandan dan pasukannya untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Ada pertemuan antara pasukan TNI dengan pasukan Kahar Muzakkar di kampung Burung-Burung di sebelah timur Sungguminasa. 

Selanjutnya ada pembahasan tentag sosok Andi Selle Mattola, dan operasi penumpasan pemberontakan DI/TII di wilayah Sulawesi Selatan. Operasi Kilat penumpasan Gerakan DI/TII ada dua, yaitu Operasi Tekad I untuk wilayah Sulawesi Selatan dan Operasi Tekad II untuk wilayah Sulawesi Tenggara. Operasi pencarian jejak Kahar Muzakkar di sekitar Gunung Latimojong. Ada beberapa pasukan Kahar Muzakkar yang ditangkap dan diinterogasi namun tetap saja informasi tentang keberadaan Kahar Muzakkar tidak didapatkan.


Jejak persembunyian Kahar Muzakkar mulai tercium oleh pasukan TNI pada tahun 1964. Kahar Muzakkar memisahkan diri dan pasukannya dari istrinya Corry Van stenus bersama anaknya Abdullah. Di puncak bukit Kambiasu, Sulawesi Tenggara mereka berpisah. Kemudian seorang petinggi DI/TII bernama Djunaed Suleman menyerahkan diri di daerah Pakue, dekat Sua-Sua.
Kisah pengejaran Kahar Muzakkar berlanjut sampai ke tepian sungai Lasolo, dan ditempat inilah akhir dari pengejaran itu. Angota Pasukan TNI yang bernama Kopral Sadeli yang berhasil menembak mati Kahar Muzakkar ditepian sungai Lasolo dekat dari gubuk gubuk pasukan DI/TII. 

Kisah selanjutnya bisa anda baca pada bagian terakhir buku ini. Buku ini dapat and abaca dan pinjam di Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang DPK Sulsel di Sungguminasa.