Buku catatan harian, ternyata tidak hanya dikenal di abad modern ini, melainkan sejak abad XVII (1752-1762), seorang Raja Bone, mencatatkan segala kegiatannya dari hari ke hari. Isi catatan harian Raja Bone XXII, La Temmassonge' Toappaweling Matinroe ri Malimongeng mengungkapkan berbagai hal yang mungkin belum pernah ditemukan selama ini pada Lontarak, Silsilah ataupun sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan.
Buku CATATAN HARIAN RAJA BONE yang aslinya menggunakan kertas kuarto yang lebar, ditulis dengan pena ijuk (Kallang), tinta yang digunakan dari ramuan dedaunan, bahasanya betul-betul keseharian, ibarat pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugas dan tanggung jawab sebagai kepala pemerintahan yang dituntut untuk transparan dan akuntabel. Berikut makna yang termuat dari catatan harian sang Raja:
- Persatuan dan Kesatuan Orang Sulawesi Selatan
- Sebaran Wilayah Kerajaan di Sulawesi Selatan
- Sistem Transportasi dan Komunikasi
- Raja yang Berjiwa Sosial
- Raja Berpihak pada Ekonomi Kerakyatan
- Perdagangan Teripang
- Raja Pelopor Pembuat Bendungan (Irigasi)
- Raja yang Pembebas Budak
- Penegakan Hukum yang Adil
- Membangun Masjid
- Perjalanan Dinas dan Kunjungan Persahabatan
