Showing posts with label Sejarah Islam. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Islam. Show all posts

July 18, 2022

SEJARAH ISLAM DI SULAWESI SELATAN

Islam masuk di Sulawesi Selatan agak terlambat dibandingkan dengan daerah-daerah sekitarnya, seperti Sulawesi bagian Utara dan Tenggara, Maluku, Kalimantan Selatan, dan pantai Utara Jawa, sekalipun mereka telah mengadakan hubungan dagang dengan para pedagang muslim selama kurang lebih 120 tahun. Hal ini disebabkan oleh keteguhan masyarakatnya yang sangat setia dengan adat-istiadat dan kepercayaan berlebih-lebihan terhadap mitos tumanurung (orang yang dianggap turun dari langit), mereka berkeyakinan bahwa para bangsawan leluhur mereka adalah berasal dari keturunan para dewa. Mereka khawatir, jika mereka memeluk Islam, maka akan menyebabkan adanya gangguan terhadap status mereka sebagai keturunan semi-dewa.

Pada Tahun 1575, Abdul Makmur Khatib Tunggal Dato' Ri Bandang, seorang Ulama dari Kota Tangah Minangkabau menjadi angin segar masuknya Islam di Sulawesi Selatan. Beliau mencoba menerobos dan melakukan pendekatan kepada masyarakat Sulawesi Selatan dan berupaya menyebarkan Islam, akan tetapi karena kondisi masyarakatnya yang masih menyenangi minuman keras dan makan babi, menyebabkan upayanya belum membuahkan hasil, nanti pada tahun 1605 sekembalinya dari kesuksesannya menyebarkan Islam di Kutai Borneo, barulah ia mencoba kembali mengadakan pendekatan dengan para penguasa di Sulawesi Selatan, dibantu oleh dua orang kawannya, Khatib Sulung Dato' Patimang dan Khatib Bungsu Dato' Ri Tiro.

Kerja keras yang dilakukan oleh ketiga Dato' tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan masuknya Islam secara berangsur-angsur para penguasa lokal di Sulawesi Selatan yakni di mulai oleh datuk Luwu, yang diikuti oleh penguasa-penguasa kerajaan lokal lainnya. Kerajaan Gowa yang memegang supremasi kekuasaan di belahan Timur Nusantara berhasil juga di-Islamkan dan bahkan memproklamirkan Islam sebagai agama resmi kerajaan di bawah kekuasaan Raja Gowa I Mangnga'rangngi Daeng Manrabia bergelar Sultan Alauddin beserta Mangkubuminya I Mallingkang Daeng Manyonri', dan bergelar Sultan Abdullah Awwalul Islam.

Upaya peng-Islaman selanjutnya diteruskan oleh Sultan Gowa dan mangkubuminya Sultan Tallo, yakni mengajak kerajaan-kerajaan Bugis dan daerah lainnya untuk masuk Islam. Ini merupakan realisasi dari adanya kesepakatan antara raja-raja di Sulawesi-Selatan, bahwa siapa (raja) yang menemukan jalan kebenaran, hendaknya memberitahukan kepada raja lainnya. Ajakan Sultan Gowa-Tallo tersebut mendapat respons positif dari beberapa raja, maka dengan tanpa paksaan mereka memeluk Islam.

Lain halnya dengan kerajaan Bone, Soppeng, Wajo, dan Sidenreng, serta beberapa kerajaan kecil Bugis lainnya, (Bacokiki, Suppa, Sawitto, Mandar), mereka menolak masuk Islam, sebab mereka menganggap bahwa ajakan untuk masuk Islam adalah siasat politik yang digunakan oleh Kerajaan Gowa untuk menguasai kembali kerajaan-kerajaan Bugis, maka dilancarkan serentetan serangan oleh Kerajaan Gowa terhadap kerajaan-kerajaan yang membangkang tersebut, yang dikenal dengan istilah musu' selleng (perang peng-Islaman). Pada tahun 1608 Bacukiki, Suppa, Sawitto, dan Mandar menyerah; pada tahun 1609 Sidenreng dan Soppeng ditaklukkan, dan pada tahun 1610 Wajo mengikuti jalur ini. Pada tahun 1611 dengan penaklukan terakhir Bone, seluruh Sulawesi Selatan menerima Islam kecuali Toraja.

Para penguasa di Sulawesi-Selatan juga pada akhirnya mengetahui bila perbedaan utama dengan Islam di Sulawesi Selatan dengan adat-istiadat mereka adalah persoalan mitos keturunan tokoh gaib (tumanurung) dari para rajanya. Hal-hal inilah yang menyebabkan pemicu Islam sehingga begitu cepat berkembang di Sulawesi Selatan, padahal awal kedatangannya lebih lambat dibandingkan dengan daerah lainnya, dan bahkan mampu mempengaruhi sistem sosial masyarakat di bumi Sulawesi Selatan.

Tersebarnya Islam di Sulawesi Selatan telah membuat perubahan yang begitu fantastis pada masyarakatnya, seperti yang tampak pada sistem sosial masyarakatnya diatur melalui pranata pangngadakkang/ yang panggaddareng yang sebelum diterimanya Islam sebagai agama, kepercayaan mereka hanya terdiri atas empat unsur, yaitu ade'; rapang; wari' dan bicara. Setalah Islam diterima sebagai kepercayaan masyarakat, maka sistem sosial yang memiliki empat unsur itu diperkaya, ajaran Islam sehingga unsur tersebut menjadi lima, karena diterimanya sara', yaitu syariat Islam ke dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar.

Buku SEJARAH ISLAM DI SULAWESI SELATAN membahas tentang Kebudayaan dan Kepercayaan Pra-Islam; Bangsa Asing dan Masa Awal Islam di Sulawesi Selatan; Penyerahan Islam di Sulawesi Selatan; dan Corak Islam dalam berbagai Aspek Kehidupan Masyarakat Sulawesi Selatan. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.



SEJARAH ISLAM DI SULAWESI SELATAN
Penulis: Suriadi Mappangara, Irwan Abbas
Penerbit: Biro KAPP Setda Provinsi Sulawesi Selatan bekerjasama
Lamacca Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2003
ISBN: 979-97452-5-x