Kehidupan masa kecil dan remaja Andi Jemma banyak-banyak ditempuhnya di luar istana Kedatuan Luwu. Hal inilah yang mempengaruhi sikap dan pola berpikirnya utamanya dalam menerima proklamasi kemerdekaan yang telah dikumandangkan pada 17 Agustus 1945 dan sekaligus merupakan faktor penentu untuk dekatnya Andi Jemma dihati rakyatnya, dimasa-masa menaiki takhta dan pada masa bergerilya di hutan-hutan.
Andi Jemma sebagai patriot sejati pada hakikatnya tidak mempunyai pamrih apa-apa dalam melaksanakan perjuangannya; hal ini nampak sewaktu beliau mengalami dan menjalani masa-masa pembuangannya oleh pemerintah kolonial Belanda. Dan bila mendapat bujukan untuk diberikan kedudukan dan hak-hak istimewa asal bersedia memihak pada mereka, namun hal tersebut tidak pernah diperhatikannya.
Kesetiaan Andi Jemma pada Negara Kesatuan - Republik Indonesia pada waktu hidupnya tak dapat disangsikan lagi mengingat sikap dan penerimaannya setelah terbentuknya N.I.T. - (Negara Indonesia Timur) salah sebuah Negara Boneka buatan Belanda untuk mencerai-beraikan Negara Kesatuan Republik Indonesia
Kesetiaan ibu Andi Tanripadang sebagai permaisuri dalam menyertai suaminya ke tempat-tempat pembuatan baik di dalam wilayah Sulawesi Selatan, ke Bantaeng dan ke Selayar maupun pembuangannya ke Ternate tidak dapat disangsikan.
Berikut pesan terakhir dari Datu yang merupakan ungkapan jiwa dan betapa sanggupnya beliau terhadap perubahan jaman dan syarat untuk menghadapinya:
- Jangan terlalu berpegang pada adat istiadat yang telah usang tak sesuai dengan perkembangan zaman Pancasila
- Yang akan selamat hanya mereka yang mampu berjalan di atas titian-titian kebenaran (peraturan-peraturan hukum yang berlaku)
- Beritahukan kepada segenap rakyat Luwu, agar menyekolahkan anaknya karena hanya mereka, berpendidikan, bersekolah yang dapat memimpin masyarakat dan bertahan hidup di tengah-tengah kemajuan zaman (pembaharuan modernisasi).
Akhir setelah sakit beberapa lama, maka tanggal 23 Februari 1965 Datu dengan tenang meninggal ditempat kediamannya di Jonggaya. Dan atas perintah Presiden RI atas nama pemerintah dan bangsa Indonesia Datu dimakamkan pada makam pahlawan Panaikang dengan ucapann kenegaraan dan kebesaran militer.
Buku PAHLAWAN ANDI JEMMA: DATU LUWU membahas tentang Riwayat perjuangan A. Jemma dalam menentang pemerintahan kolonial Belanda di Sulawesi Selatan dan khususnya di Luwu yang empat babak (pembagian): Keadaan umum Indonesia sebelum proklamasi; A. Jemma menentang Belanda; A. Jemma tertawan dan diasingkan; serta A. Jemma akhir hayatnya. Buku ini merupakansalah satu koleksi Layanan Deposit, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
PAHLAWAN ANDI JEMMA: DATU LUWU
Penyusun: Basri P, Rukmini
Penerbit: Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1979
