Tidak dapat dipungkiri bahwa (hubungan) antara Sulawesi Selatan (Bugis-Makassar) dengan Jawa (Mataram) dimulai pada masa Kerajaan Majapahit. Akan tetapi, intensif hubungan tersebut dimulai pada masa kekuasaan Sultan Agung (Raja Mataram) dengan Sultan Alauddin (Raja Gowa). Hubungan antara kedua kerajaan tersebut, setidaknya dapat diklasifikasi ke dalam empat kategori, yaitu hubungan perdagangan, hubungan politik, hubungan militer, dan hubungan sosial budaya.
- Hubungan dagang
Pada masa pemerintahan Tunipallangga Ulaweng (1546-1565), datang saudagar dari Jawa yang bernama Nahkoda Bonang sekaligus mewakili saudagar-saudagar dari Melayu menghadap menghadap kepada kepada raja, memohon untuk diizinkan menetap di Makassar. Pada saat itu hubungan Jawa dengan Makassar sudah terbangun, tetapi belum dapat dikatakan Mataram, karena Kerajaan Mataram baru muncul pada tahun 1575.
Setelah Sultan Agung, Raja Mataram III (16131645) berkuasa, beliau mengutus delegasi untuk menjalin persahabatan dengan Makassar, yang waktu itu di bawah kekuasaan Sultan Alauddin, Raja Gowa. Utusan tersebut meninggalkan Mataram pada tanggal 27 Januari 1633 di bawah pimpinan Ki Ngabehi Saradulla. Perjanjian persahabatan tersebut melahirkan kesepakatan untuk mengusir bangsa asing agar tidak menguasai dan memonopoli perdagangan di Nusantara.
- Hubungan politik
Hubungan politik yang terjalin antara Bugis-Makassar dengan Mataram juga berawal pada masa pemerintahan Sultan Agung (Mataram) dan Sultan Alauddin (Makassar). Kehadiran Ki Ngabehi Saradulla yang membawa misi hubungan persahabatan, juga mengembangkan misi politik yang melahirkan kesepakatan agar kedua kerajaan tersebut saling kunjung mengunjungi dan saling memberi hadiah.
Akibat hubungan tersebut memberi konsekuensi terhadap struktur ke tata negaraan negaraan masing-masing seperti, di Makassar dikenal adanya Patimataranna Gowa. Dalam perkembangan selanjutnya, pada pemerintahan Sultan Hameng Kubuwono VII dan VIII dikenal adanya prajurit Kesatuan Da(h)eng dan Kesatuan Bugis yang bertugas atas keselamatan Kraton Yogyakarta.
Pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat I, hubungan politik antara Bugis-Makassar dengan Mataram mengalami pasang surut. Hal ini disebabkan karena adanya campur tangan Belanda yang selalu menginginkan agar hubungan persahabatan dan politik antara kedua kerajaan tersebut putus, kemudian melakukan permusuhan. Akan tetapi hal itu tidak berhasil, akibat masih banyak ikatan-ikatan dapat mempersatukan, termasuk ikatan emosional keagamaan (Islam). Adanya campur tangan Belanda tersebut disebabkan Sunan telah bersahabat dengan Belanda, disisi lain Makassar merupakan musuh bebuyutan Belanda.
- Hubungan militer
Hubungan militer yang terjadi antara BugisMakassar dengan Mataram juga terbentuk pada saat kehadiran utusan Mataram, Ki Ngabehi Saradulla pada tahun 1633. Hubungan persahabatan dan politik yang terjadi sebelumnya, juga mengandung nuansa hubungan militer. Salah satu bunyi perjanjian antara kedua kerajaan itu adalah "bersepakat untuk mempertahankan kemerdekaan masing-masing, dan mengusir kekuasaan bangsa asing yang hendak menguasai Nusantara”. Adanya kesepakatan itu membuat kedua kerajaan itu membangun dan memperkuat kemiliterannya seperti, membangun benteng-benteng pertahanan, memperluas wilayah kekuasaan mengadakan hubungan persahabatan, politik, dan militer dengan kerajaan-kerajaan lain yang berpengaruh di Nusantara.
- Hubungan Sosial Budaya
Hubungan sosial budaya yang terjalin antara Bugis-Makassar dengan Mataram terwujud dalam hubungan kekerabatan dan hubungan keterlibatan secara aktif dalam berbagai upacara tradisional dan upacara kerajaan. Jaringan kekerabatan terbentuk, misalnya akibat hubungan pernikahan antara Karaeng Galesong dengan sepupu sekali Trunojoyo, yang neneknya (isteri Pangeran Cakraningrat I) adalah saudara Sultan Agung (Raja Mataram). Selain itu, dari silsilah Dr. Radjiman ditemukan bahwa beliau berasal dari Yogyakarta dan juga berdarah Makassar, yaitu keturunan Karaeng Nobo (Karaeng Naba), yang oleh Andi Zainal Abidin disebutnya sebagai Karaeng Daeng Manaba, Karaeng Galesong V.
Buku SEJARAH HUBUNGAN KERAJAAN BUGIS - MAKASSAR DI SULAWESI SELATAN DENGAN KERAJAAN MATARAM DI YOGYAKARTA merupakan salah satu peristiwa sejarah, budaya dan sosial-politik kerajaan nusantara masa lalu memiliki nilai penting dan dapat dimanfaatkan dalam upaya mengatasi pengembangan pembangunan di segala bidang serta keutuhan bangsa. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
Penerbit: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 2003
