April 21, 2022

POTRET PEDAGANG KAKI LIMA


Kendati perkembangan Kota Makassar dalam sektor ekonomi; khususnya dengan kian banyaknya bermunculan berbagai pasar modern namun keberadaan pasar tradisional masih terpelihara dengan baik Perkembangan ekonomi di Kota Makassar tentu bukan hanya diakibatkan banyaknya pemodal besar yang masuk, tetapi juga tidak terlepas dari salah satu pelaku ekonomi yang berada di pasar-pasar tradisional yakni pedagang kaki lima atau biasa juga disebut pedagang informal. Keberadaan pedagang kaki lima merupakan salah satu unsur penting dalam perputaran ekonomi, khususnya di pasar tradisional.

Kontribusi para pedagang kaki lima di Pasar Pusat Niaga Daya menurut catatan organisasi pengurus pedagang kaki lima kepada pemerintah daerah dalam bentuk retribusi sangat besar jika dibandingkan dengan pasar tradisional lain yang ada di Kota Makassar. Tetapi kontribusi itu tidak diikuti dengan pemberian fasilitas dan layanan yang memadai, bahkan memperlihatkan kecenderungan adanya perlakuan yang tidak adil. Padahal pedagang kaki lima patuh membayar retribusi secara teratur kepada petugas. Sehingga tidak heran jika pedagang kaki lima secara nasional dapat menanggulangi sampai 13% pengangguran Indonesia. Pedagang kaki lima juga dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi yang ditarik oleh pemerintah dalam setiap harinya dengan ribuan pedagang kaki lima.

Para pedagang kaki lima tentu berada dalam pasar dengan jaringan-jaringannya, karena pasar sebagai tempat orang melakukan transaksi jual beli barang dan jasa. Pasar juga dianggap suatu pranata ekonomi dan sekaligus cara hidup, atau suatu gaya umum dari kegiatan ekonomi masyarakat, serta menjadi suatu dunia sosial-budaya. Di samping itu, pasar sebagai tempat terjadinya interaksi dan pembauran dari berbagai etnis, agama, kepentingan dan bahkan sebagai tempat memperoleh berbagai macam informasi dan hiburan. Sehingga pasar tradisional menjadi multi fungsi dan manfaat bagi masyarakat setempat, tetapi lambat laun semakin tergeser dengan berdirinya berbagai pasar-pasar modern, termasuk berdirinya berbagai supermarket, dan bahkan berdampingan dengan pasar-pasar tradisional.

Di dalam pasar tradisional inilah terjadi berbagai masalah yang mengitari para pedagang kaki lima untuk melangsungkan usahanya karena harus berhadapan dengan berbagai unsur-unsur yang ada dalam pasar. Mulai dari persoalan tempat atau lokasi lapak penjualan, adanya persaingan kepada para pedagang kaki lima, adanya retribusi yang dianggap terlalu tinggi, adanya sistem perkreditan dan eksploitasi terhadap pedagang kaki lima, adanya pungutan dari pihak keamanan pasar termasuk pungutan lainnya di pasar yang mewarnai para pedagang kaki lima, dan lain-lain.

Di dalam pasar tradisional inilah terjadi berbagai masalah yang mengitari para pedagang kaki lima untuk melangsungkan usahanya karena harus berhadapan dengan berbagai unsur-unsur yang ada dalam pasar. Mulai dari persoalan tempat atau lokasi lapak penjualan, adanya persaingan kepada para pedagang kaki lima, adanya retribusi yang dianggap terlalu tinggi, adanya sistem perkreditan dan eksploitasi terhadap pedagang kaki lima, adanya pungutan dari pihak keamanan pasar termasuk pungutan lainnya di pasar yang mewarnai para pedagang kaki lima, dan lain-lain.

Buku POTRET PEDAGANG KAKI LIMA mengkaji persoalan-persoalan yang dihadapi oleh pedagang kali lima, mulai dari keberadaannya di Kota Makassar sebagai golongan miskin atau migrasi dari pedesaan  dan persoalan setalah menjadi pedagang kaki lima, termasuk kualitas hidup para pedagang kaki lima. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


POTRET PEDAGANG KAKI LIMA 
Pergulatan Ekonomi di Pasar Tradisional Makassar (1998-2006)

Penulis: Sahajuddin
Editor: Suriadi Mappangara
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-602-9248-22-7


No comments:

Post a Comment