Showing posts with label Kearifan Lingkungan. Show all posts
Showing posts with label Kearifan Lingkungan. Show all posts

May 20, 2022

MENGUNGKAP KEARIFAN LINGKUNGAN SULAWESI SELATAN

Kearifan lingkungan sebagai bentuk perilaku positif masyarakat lokal dalam berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitar, yang bersumber dari nilai-nilai agama, adat-istiadat, dan petuah-petuah baik yang diwariskan secara lisan maupun bukan lisan. Secara umum, sistem pengetahuan ekologi tradisional, seperti pengelolaan sumber daya laut dan hutan, tradisi pertanian dan pengelolaan sumber daya danau. Perhatian pada sistem pengetahuan ekologi tradisional terhadap kelompok masyarakat yang berbeda ini memperlihatkan bahwa kearifan lingkungan senantiasa berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain, yang disebabkan oleh tantangan alam dan kebutuhan hidup mereka berbeda-beda Dengan perkataan lain, pengalaman mereka dalam memenuh kebutuhan hidupnya memunculkan berbagai sistem pengetahuan baik yang berhubungan dengan lingkungan maupun sosial.

Buku MENGUNGKAP KEARIFAN LINGKUNGAN SULAWESI SELATAN, membahas tentang tradisi pengelolaan sumber daya alam oleh masyarakat setempat, di mana sumber nilai dan sistem pengetahuannya diartikulasikan melalui media-media tradisional, seperti mitos, pesan-pesan leluhur, ritual, aturan-aturan lokal, dan lain-lain. Berdasarkan topik dan fokus perhatiannya, terdapat tiga katagori tulisan dalam buku ini, di antaranya (i) penggalian sumber nilai dalam masyarakat lokal, seperti mitos, pesan-pesa. leluhur, dan ritual yang menyimpan sistem pengetahuan pengelolaan sumber daya alam yang ramah lingkungan; (ii) peran lembaga adat serta norma-norma dan aturan lokal dalam menjaga keseimbangan ekologi dan mengontrol pengelolaan sumber daya alam; dan (iii) pemanfaatan sistem pengetahuan dan teknologi dalam mengeksploitasi sumber daya alam.

Berikut bentuk-bentuk kearifan lingkungan yang dapat disinergikan dengan sistem pengetahuan modern dalam rangka mengembangkan sistem pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

  1. Kearifan Tradisional Komunitas Adat Karampuang dalam Memelihara Lingkungan, oleh: Muh Basir Said & Ummanah
  2. Upacara Tommanurung: Kearifan Lokal Masyarakat Massenrengpulu Kab. Enrekang Sulawesi Selatan, oleh: Tasrifin Tahara.
  3. Imperatif Sosial dalam Tradisi Pertanian Padi Sawah Orang Bugis di Belawa Wajo, oleh: M. Yamin Sani & Nurhaedar.
  4. Dare' Ampiri: Wanatani Khas Maros Sulawesi Selatan, oleh: Yuliati Marzuki.
  5. Kearifan Lokal pada Masyarakat Towani Tolotang di Amparita Kabupaten Sidrap, oleh: Safriadi & Supriadi Hamdat.
  6. Kelembagaan Tradisional dan Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Lingkungan pada Masyarakat Toraja, oleh: H. Hamka Naping.
  7. Pasang ri Kajang: Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Hutan Kawasan Adat Ammatoa di Kabupaten Bulukumba, oleh: Pawennari Hijjang & Basrah Gising.
  8. Palawang: Kearifan Tradisi Nelayan Nitue dalam Aktivitas Penangkapan Ikan di Perairan Danau Marioriawa Kab. Soppeng, oleh: M. Yamin Sani.
  9. Merajut Kembali Kearifan Lokal Masyarakat Nelayan Desa Appatana Kabupaten Selayar, oleh: Muhammad Neil.
  10. Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Lingkungan Laut pada Masyarakat Nelayan Bugis di Desa Madello, Kecamatan Balusu Kabupaten Barru, oleh: H. Mahmud Tang.
  11. Kearifan Lokal Tradisional yang Tersisa dan Munculnya Praktik Baru yang Potensial pada Komunitas Nelayan Pulau Sembilan, oleh: Munsi Lampe. 
  12. Kearifan Lokal dalam Pemanfaatan Hasil Hutan di Pampli Kabupaten Luwu Utara, oleh: Putu Oka Ngakan.
Bentuk-bentuk kearifan lingkungan dapat disinergikan dengan sistem pengetahuan modern dalam rangka mengembangkan sistem pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Buku ini merupakan salah satu Koleksi Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.



MENGUNGKAP KEARIFAN LINGKUNGAN SULAWESI SELATAN
Penanggung Jawab: Nur Rachmat
Penyunting: Andi M. Akhmar, Syarifuddin
Penerbit: Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sulawesi, Maluku dan Papua 
Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2007








March 31, 2021

KEARIFAN LINGKUNGAN HIDUP MANUSIA BUGIS: BERDASARKAN MEONG MPALOE

La Galigo biasa juga disebut Sureq Selleyang/Sureq Sennorang artinya kitab suci yang dinyanyikan karena memang La Galigo ditulis bukan untuk dibaca di dalam hati tapi untuk didendangkan di muka publik.

Meong Mpalo Bolongnge (MPB) dapat dilihat dalam 2 perspektif. Dari segi isinya masuk dalam salah satu episode sureq La Galigo, karena bercerita tentang tokoh-tokoh dalam La Galigo. Dari segi genre kesusastraan Bugis masuk kategori Toloq karena terdiri dari 8 suku kata seperti yang terdapat pada Toloq, sementara umumnya sureq galigo terdiri dari 5 suku kata .

Meong Mpalo Bolongnge menceritakan tentang petualangan Sangiang Serriq (Dewi Padi) bersama kucing dan pengawal-pengawalnya. MPB sebagai pegawal Sangiang Serriq disiksa oleh manusia, akibatnya tidak ada lagi yang menjaga dan mengawal Sangiang Serriq. Begitu pula perlakuan manusia terdapat Sangiang Serriq tidak dihargai oleh orang-orang Luwuq, ia tidak ditempatkan pada singgasananya (langkayan), penduduk tidak lagi mematuhi petuah pantangan dan larang-laranganny, dimakan tikus pada malam hari ditotok ayam pada siang hari, maka Sangiang Serriq sepakat dengan MPB dan pengawal-pengawalnya untuk pergi mengembara.

Mula-mula Sangiang Serriq dan rombongan tiba di Enrekang, lalu terdapar di Maiwa, kemudian berturut-turut ke Soppeng, Langkemme, terus ke Kessi, Watu, Lisu, sampai akhirnya tiba di Barru.

Perjalanan dari Enrekang sampai ke Lisu, penuh dengan berbagai derita dan tantangan, sikap dan perlakuan orang-orang yang tidak senonoh, kucing (MPB) disiksanya habis-habisan, ia dan rombongan tidak ditempatkan di langkayan. MPB bersama rombongan pun kelaparan, kehausan, belum lagi kepanasan yang menimpanya pada siang hari dan kedinginan pada malam hari. Tapi ketika tiba di Barru, ia menemukan sesuatu yang lain dari tempat-tempat yang telah dilaluinya. Sangiang Serriq dan rombongan disambut dengan penuh kehangatan, dijamu, diistirahatkan di langkayan, ditambah sikap keramah-tamahan penduduk, keadilan dan kebijaksanaan penguasa, membuat Sangiang Serriq dan rombongan betah.

Sayang sekali Sangiang Serriq sudah terlalu letih, lelah dan sedih mengingat suka duka perjalanannya, dan sifat-sifat anak manusia yang ditemuinya, sehingga ia bertekad untuk meninggalkan bumi, untuk kemudian kembali ke langit menemui kakeknya yang bertahta di Boting Langiq (kerajaan langit).

Tetapi sesampainya di langit, Sangiang Serriq beserta rombongan tidak diperkenankan oleh kakeknya untuk menetap di langit, sebab nasib dan kejadiannya telah ditakdirkan oleh Dewa untuk memberi kehidupan kepada orang-orang bumi. Akhirnya mereka terpaksa kembali ke bumi dan mereka sepakat memilih Barru sebagai tempat menetapnya.

Tujuh hari tujuh malam sesudah Sangiang Serriq tiba di Baru barulah ia memberikan petunjuk-petunjuk, petuah-petuah, nasehat-nasehat serta padangan-pandangan, khususnya yang berhubungan dengan pertanian dan norma-norma masyarakat Bugis, norma-norma itu menyangkut lapangan hidup pertanian, sikap-sikap yang patut dimiliki oleh manusia, sebagai pribadi dan anggota kelompok masyarakat dan menjaga hubungan dengan lingkungan, denganm dewa, dengan manusia, maupun dengan alam sekitar, agar masyarakat tetap makmur, tenteram dan sejahtera. Hal ini dimungkinkan karene Sangiang Serriq akan menetap di Barru, dan itu pertanda sebagai kemakmuran dan kesejahteraan.

Buku KEARIFAN LINGKUNGAN HIDUP MANUSIA BUGIS: BERDASARKAN MEONG MPALOE merupakan cerita Datu Sangiang Serriq yang didampingi oleh MPB merupakan pappaseng yang sarat dengan petuah dan pepatah dalam berkehidupan dan berpenghidupan di alam raya ini, khususnya di wilayah Ajatappareng. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KEARIFAN LINGKUNGAN HIDUP MANUSIA BUGIS: 
BERDASARKAN MEONG MPALOE
Penulis: Nurhayati Rahman
Pemeriksa Naskah: Marjan Mariani
Penerbit: La GAligo Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2009
ISBN: 978-979-9915-3-7