Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang melakukan tugas melaksanakan kajian kesejarahan dan nilai tradisional daerah Sulawesi Selatan yang tercermin dalam sistem sosial, sistem kepercayaan, lingkungan budaya dan tradisi lisan. Buku LAPORAN PENELITIAN SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN sebagai salah satu usaha dalam rangka pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional.
Berikut empat laporan hasil penelitian yang di maksud:
- Transliterasi dan Terjemahan Naskah Kuno Bugis Surek Salleang oleh Dra. Fauziah dan Drs. Mappasere
- Latar Belakang Perjuangan Emmy Saelan oleh Drs. Syahrir Kila
- Hukum Adat Pertanahan di Kabupaten Maros oleh Abdul Hafid, SH
- Sistem Kepemimpinan Tradisional Masyarakat Toraja oleh Dra. Emiaty Limbong Lola'
- Transliterasi dan Terjemahan Naskah Kuno Bugis Surek Salleang oleh Dra. Fauziah dan Drs. Mappasere
Salah satu karya sastra lama, yakni "Naskah Bugis dari Perpustakaan Kongres Amerika, Jilid I". Naskah ini berisikan tentang peperangan antara pasukan Tobala Unnyi, Raja Sunra melawan pasukan I La Galigo, pangeran mahkota dari Kerajaan Cina, tanah Bugis. Sebab-sebab tenjadinya peperangan karena Raja Sunra terlalu sombong ingin menjadikan ayahanda Galigo sebagai penjaga istana, saudaranya yang tiga orang ingin dijadikan tukang urut, memasangkan kelambu, membersihkan tempat tidur, menjadikannya selir tempat persinggahan sewaktu-waktu. Dengan kekayaan serta kekuasaan pasukan peran yang dimilikinya maka ia berani menentang pasukan kerajaan Cina di tanah Bugis yang di pimpin oleh I La Galigo.
Pada mulanya pimpinan pasukan Galigo terdesak, namun akhirnya Kerajaan Sunra ditaklukkan. Ibukota Sunra dibumi hanguskan, raja dan keluarganya dijadikan tawanan perang dan harta kekayaannya disita sebagai pampasan perang.
Setelah pasuka I La Galigo memenangkan peperangan maka mereka segera berlayar. Di dalam perjalanan ia singgah di Sunra Rilau (pujananti) untuk menemui istrinya yang bernama Karaeng Tompo. Karena terlena I La Galigo merasakan sudah tiga bulan lamanya berada di Pujananti menyebabkan istrinya hamil. Namun dengan berat hati I La Galigo meninggalkan istrinya dan tidak membawanya ke Ale Cina (negeri Bugis) sebab ia tidak ingin kalau Karaeng Tompo menerima celaan dari istri-istri terdahulu I La Galigo bahwa dirinya hanyalah pampasang peran. Tiga bulan lamanya barulah pasukan I La Galigo tiba di Ale Cina dengan membawa panji-panji kemenangan.
- Latar Belakang Perjuangan Emmy Saelan oleh Drs. Syahrir Kila
Salah satu pejuang wanita di Sulawesi Selatan adalah Emmy Saelan (Salmah Soehartini Saelan) yang lahir di Makkasar tanggal 15 Oktober 1942. Gugur dalam pertempuran di Kasi-kasi, Tidung pada tanggal 22 Januari 1924. Perjuangan yang telah dilakukannya, dapat dikatakan relatif sangat singkat, karena sampai pertengahan tahun 1947, tetapi sumbangsihnya terhadap tanah air tidak kalah pentingnya dengan tokoh-tokoh pejuang lainnya yang sejaman. Keikutsertaannya dalam perjuangan membela dan mempertahankan kemerdekaan tanah airnya turut terukir pada relatif dan gambaran sejarah perjuangan Bangsa Indonesia, dan ini takkan terlupakan sepanjang sejarah.
- Hukum Adat Pertanahan di Kabupaten Maros oleh Abdul Hafid, SH
Tradisi pemilikan tanah pada dasarnya bermula pada proses pembukaan tanah oleh anggota persekutuan dan apabila kelak tanah yang sudah diolah secara terus menerus, maka pada akhirnya yang bersangkutan akan memperoleh hak memiliki. Diperoleh hak memiliki atas tanah seperti Kelurahan Torikale dalam wilayah Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, memungkinkan tanah itu dikuasai secara permanen, untuk kemudian akan menjadi warisan secara turun temurun dari satu generasi ke lain generasi. Bahkan dapat pula dialihkan atau dipindah tangankan, baik untuk selamanya maupun untuk sementara.
- Sistem Kepemimpinan Tradisional Masyarakat Toraja oleh Dra. Emiaty Limbong Lola'
Sistem kepemimpinan masyarakat Toraja mengikuti pola-pola tradisional yang berpijak di atas tatanan adat istiadat yang disebut Kombongan Ada'. Kombongan Ada' adalah Lembaga Dewan Hadat yang berwenang dalam menentukan tujuan maupun kebijakan pemerintahan dan pembinaan masyarakat Toraja menjadi tanggungjawab unsur-unsur pejabat hadat yang disebut To Ada'.
Kepemimpinan To Ada' terlihat dalam pranata religi, di samping pranata ekonomi. Kedua pranata tersebut berlangsung adanya dibawah prinsip dan konsep-konsep ajaran aluk todolo (kepercayaan leluhur) dengan tujuh asas utama di sebut Aluk Pitu Oto'na. Ketujuh asas tersebut merupakan konsep abstrak dari tatanan agama dan adat-istiadat.
Konsepsi agama bertumpu pada asas Tallu Oto'na, sedangkan konsepsi adat-istiadat berpijak di atas aluk appa oto'na. Aluk Tallu Oto'na terdiri atas keyakinan terhadap tiga obyek pemujaan, yaitu Puang Metua (Sang Pencipta), deata-deata (Pemeliharaan Ciptaan Puang Matua), dan To membali puang (arwah leluhur di alam puya).
Pelaksanaan aluk tallu oto'na maupun aluk appa'oto'na dalam kehidupan masyarakat Toraja berlangsung di bawah pimpinan dan binaan To Ada', maka To Ada atau pemimpin tradisional sampai sekarang tetap memegang peranan penting, baik dalam pembinaan kehidupan sosial ataupun kegiatan pembangunan.
Buku ini merupakan salah satu koleksi referensi, layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang Makassar,
LAPORAN PENELITIAN
SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN
Penerbit: Direktorat Jenderal Kebudayaan,
Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1995
ISSN: 0852-2686