Showing posts with label Monografi Kebudayaan Makasssar. Show all posts
Showing posts with label Monografi Kebudayaan Makasssar. Show all posts

May 6, 2021

MONOGRAFI KEBUDAYAAN MAKASSAR DI SULAWESI SELATAN


Suku Makassar seperti halnya suku bangsa lainnya di Nusantara ini berasal dari India Belakang, mereka datang ribuan tahun lalu secara bergelombang. Menurut penelitian para ethnolog, orang Makassar digolongkan dalam turunan orang Melayu Muda (Deutro Melayu) yang datang pada gelombang kedua. Selanjutnya dikatakan sebelum orang Melayu Tua (Proto Melayu) yang datang pada gelombang pertama. Orang Melayu Tua sebagai penghuni pertama daerah ini, terdesak daerahnya dari pesisir pantai.

Berdasarkan keterangan tersebut, maka diduga keturunan Melayu Muda didukung oleh suku bangsa Bugis, Makassar dan Mandar.

Menurut Mitos, bahwa yang pertama-tama meletakkan dasar-dasar pemerintahan dan konsep kebudayaan di Sulawesi Selatan pada masa lampau adalah Tomanurung. Munculnya Tomanurung ini membawa suatu pandangan baru di bidang politik, kepemimpinan dan pemerintahan. Sebelum datangnya Tomanurung, kekacauan terjadi dimana-mana, kelompok-kelompok masyarakat tidak teratur, antara kelompok dengan kelompok lainnya saling bermusuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari suku Makassar umumnya masih terikat oleh sistem norma dan aturan adat yang dianggap luhur dan keramat. Keseluruhan sistim norma dan aturan-aturan ada itu disebut Pangngadakang.

Bahasa yang digunakan salah satu diantaranya bahasa Makassar (Mangkasara). Menurut lontarak Gowa, lontarak ini diciptakan oleh Daeng Pamatte, seorang pembesar Kerajaan Gowa dan syahbandar pertama di Gowa disaat pemerintahan Raja Gowa Tumapa'risi Kallona. Huruf ciptaan Daeng Pamatte ini dinamai Lontarak Gowa.

Kemudian lontarak ciptaan Daeng Pamatte mengalami perkembangan dan perubahan secara terus menerus sampai abad ke XIX. Huruf lontarak Makassar sekarang ini tetap terpakai disebut lontarak baru yang jumlahnya 18 buah ditambah satu huruf lagi yaitu HA, tambahan ini ada pada lontarak baru.

Pada abad ke XVII sesudah Agama Islam masuk di Sulawesi Selatan, disamping aksara lontarak tersebut digunakan juga aksara yang berasal dari huruf Arab dan aksara ini dinamai aksara serang (ukiri serang).

Adapun naskah-naskah lontarak dengan tulisan tangan orang Bugis-Makassar menurut himpunan kesusasteraan yang ragamnya bermacam-macam. Silsilah raja-raja disebut "patturioloang", himpunan peraturan disebut "rapang", himpunan amanat-amanat cendekiawan dan pemimpin-pemimpin ternama disebut "pappasang", himpunan untuk melihat waktu, hari, bulan dan tahun disebut "kutika", himpunan mengenai kejadian-kejadian penting, baik mengenai raja-raja maupun umum disebut "Lotarak Bilang".

Bahasa Makassar dapat dijumpai dalam beberapa turunan yang merupakan dialek yang hidup dan berkembang dalam kelompok dan dapat dibagi sebagai berikut:

  • Dialek Lakiung
  • Dialek Turatea
  • Dialek Bantaeng
  • Dialek Konjo
  • Dialek Bira Selayar.
Buku MONOGRAFI KEBUDAYAAN MAKASSAR DI SULAWESI SELATAN mengemukakan gambaran umum kehidupan orang Makassar yakni adat istiadat; bahasa; mata pencarian; peralatan perlengkapan hidup, struktur organisasi sosial orang Makassar; kepercayaan dan sistem pengetahuan; kesenian serta obyek-obyek wisata budaya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


MONOGRAFI KEBUDAYAAN MAKASSAR DI SULAWESI SELATAN
Penulis: Racmah, dkk
Editor: Muhammad Nur Rasuly
Penerbit: Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1984