Polongbangkeng di Kab Takalar,Sulawesi Selatan, setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 menjadi pusat perjuangan mendukung dan mempertahankan proklamasi oleh para pejuang Sulawesi Selatan.
Ketika NICA mendarat diboncengi tentara Belanda, Polongbangkeng pula yang menjadi basis pejuang mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia di tanah Makassar. Para pejuang yang bermarkas di Polongbangkeng berasal dari berbagai daerah seperti Robert Wolter Monginsidi (Minahasa), Muhammad Syah (Banjar), Raden Endang (Jawa), Bahang (Selayar), Ali Malaka (Pangkajene), Sofyan Sunari (Jawa), dan tentu saja Pahlawan Nasional, pimpinan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) Ranggong Dg. Romo putra asli dari Polongbangkeng.
Adapun nilai-nilai kejuangan yang dapat digali dari sejarah perjuangan rakyat Polongbangkeng dalam perang kemerdekaan adalah sebagai berikut:
Nilai Kesetiaan
- Nilai ini dijabarkan dalam tindakannya sebagai pejuang mempertahankan dan membela kemerdekaan itu, walaupun jiwanya yang menjadi taruhannya
- Nilai kesetiaan kepada amanat penderitaan rakyat, yang dalam pengabdiannya dinyatakan sebagai suatu tekad untuk membela kebenaran dan keadilan.
- Adanya kesamaan dalam berbagai hal dalam diri sikap pejuang, maka ia mampu menggerakkan kekuasaan perjuangan yang lebih besar dalam menghadapi setiap tantangan
- Dari sejarah perjuangan rakyat Polongbangkeng tercermin adanya kesamaan (1) Adanya kesamaan perasaan, adat istiadat, sehingga mudah menciptakan rasa keakraban dan solidaritas (2) Adanya perasaan antipati terhadap segala bentuk penindasan oleh banyak orang.
- Keberanian sebagai pelopor, yakni berani mengambil inisiatif dan keputusan serta kebijakan yang tepat, cepat dan tegas
- Kewibaan yang mampu menggerakkan massa rakyat maupun para pejuang
- Ketauladanan yang mampu menjadi panutan dan contoh bagi rakyat.
- Percaya pada kekuatan diri sendiri
- Memiliki semangat juang yang tidak mengenal menyerah
No comments:
Post a Comment