March 17, 2022

PONGGAWA-SAWI

Struktur lembaga Ponggawa-sawi pada masyarakat nelayan di Desa Tamasaju memiliki struktur organisasi yang sama dengan lembaga nelayan yang ada di daerah lain di Sulawesi Selatan, yang terdiri dari ponggawa/pappalele sebagai pemilik modal dan peralatan tangkap membawahi juragan/pinggawa dan sawi sebagai pelaksana dalam operasi penangkapan ikan. Lembaga ini terdiri atas kelompok-kelompok sosial (social groups) yang mengoperasikan berbagai alat tangkap seperti rengge (Purse seine), re’re (drift gill net), lanra (gill net), Jolloro ( motor tempel dengan alat tangkap pancing). Kelompok kerja nelayan terbagi atas dua kelompok kerja yaitu kelompok kerja nelayan dalam bidang penangkapan atau eksploitasi hasil laut, dan kelompok kerja nelayan dalam pemasaran yang terbentuk dalam kelompok kerja di TPI Beba.

Pappalele, pinggawa dan sawi menjalin hubungan kerja sesuai dengan peranan dan fungsi masing-masing. Pappalele menyediakan modal usaha yaitu perahu/kapal dan peralatan tangkap dan biaya operasional penangkapan, pinggawa memimpin operasi penangkapan dan dibantu beberapa orang sawi. Hubungan pappalele dengan pinggwa dan sawi merupakan hubungan timbal balik atau patron klien, di mana pembagian penghasilan dari kelompok kerja nelayan ini diatur dalam suatu perbandingan yang bersifat tetap, menimbulkan rasa keadilan dan kepuasaan masing-masing pihak yang terlibat. 

Kelompok nelayan yang terorganisir dalam bidang pemasaran dan distribusi hasil tangkapan nelayan melibatkan pappalele, pacato, pakulontong, dan pabissa yang menggunakan sarana Tempat Pelelangan ikan (TPI) Beba. Pappalele mendistribusikan dan memasarkan hasil tangkapan kelompok nelayan yang dipimpinnya kepada pacato (pedagang ikan di TPI yang membeli dalam partai besar) secara lelang, kemudian pacato menjual kepada pakulontong/pagandeng juku (penjual ikan keliling). Dalam melakukan aktivitas pemasaran ikan di TPI pappalele, pacato, dan pakulontong menggunakan jasa pabissa sebagai buruh angkut dan pengambil air.

Tempat pelelangan ikan (TPI) Beba mengalami perkembangan setelah Pemerintah daerah Takalar melalui Dinas Perikanan dan Kelautan membangun TPI di samping bangunan lama. Walaupun TPI Beba belum berstandar nasional, namun aktivitas masyarakat nelayan di TPI lebih padat dibanding TPI Bodia yang sudah dilengkapi fasilitas berstandar nasional. Kelompok nelayan lebih banyak menggunakan TPI Beba sebagai tempat pendaratan ikan, karena telah ditunjang oleh berbagai faktor yaitu lingkungan dan prasarana, sumber daya manusia dan faktor keamanan. Lancarnya sarana transportasi angkot yang ditunjang dengan akses jalan yang menghubungkan lokasi TPI dengan kota Makassar dan Sungguminasa, sehingga TPI ini ramai dikunjungi oleh masyarakat luar wilayah Takalar. Faktor keamanan merupakan pilihan para kelompok nelayan untuk mempergunakan sarana TPI Beba sebagai tempat pendaratan ikan, terutama apabila mereka melakukan aktivitas di malam hari.

Berkembangnya modernisasi dan motorisasi dibidang peralatan tangkap dan perahu yang bermesin, sehingga masyarakat nelayan dapat mengeksploitasi sumber daya hayati laut lebih besar yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat nelayan. Dengan demikian memberi pilihan sebagian masyarakat di Desa Tamasaju untuk berusaha menekuni sektor perikanan dengan membentuk kelompok-kelompok nelayan dalam lembaga ponggawa sawi. Lembaga ini telah memberi kontribusi berupa lapangan kerja bagi nelayan yang hanya memiliki tenaga dan pengetahuan tapi tidak memiliki modal dalam beraktivitas. Bagi masyarakat yang tidak terlibat dalam sektor perikanan mendapat peluang untuk berusaha dibidang pedagang dengan membuka pertokoan dan rumah makan untuk melayani kebutuhan logistik kelompok nelayan dan masyarakat pengguna TPI Beba.

Buku PONGGAWA-SAWI: Lembaga Ekonomi Nelayan Tradisional Makassar membahas tentang kelembagaan lokal masyarakat nelayan Bugis-Makassar yang tetap eksis, di tengah arus modernisasi sebagai organisasi perekonomian masyarakat nelayan, baik pada kelompok yang mengeksploitasi sumber daya hayati laut maupun pada kelompok nelayan yang beraktivitas di tengah pelelangan ikan. (TPI). 

Lembaga tradisional ini bukan hanya menjalin hubungan bisnis di antara anggotanya akan tetapi bersifat kekeluargaan di mana pappalele sebagai pemimpin unit kerja mengayomi nelayan paboya dan keluarganya dari kesulitan ekonomi dan keamanan. Siri na pacce menjadi motto dalam lembaga ponggawa-sawi menjadi satu kesatuan dalam mengarungi kehidupan masyarakat nelayan tradisional di Desa Tamasuja Kabupaten Takalar. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.

 

PONGGAWA-SAWI
LEMBAGA EKONOMI NELAYAN TRADISIONAL MAKASSAR

Penulis: Raodah
Penerbit: de la macca
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-263-045-6




No comments:

Post a Comment