Showing posts with label PSM Makassar. Show all posts
Showing posts with label PSM Makassar. Show all posts

June 4, 2025

Ramang Legenda Sepakbola Nasional asal Makassar

 


Judul:                           Ramang, Macan Bola

Penulis:                        M. Dahlan Abubakar

Editor:                         -

Penerbit:                     Identitas, Universitas Hasanuddin Makassar

Tahun Terbit:             2011

Jumlah Halaman:    cix + 523

ISBN:                            9789790431843

Penulis Resensi:        Suharman, S.S., MIM.

Nama ”Ramang” sudah sangat populer dan melegenda di Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar dan sekitarnya. Bahkan di Indonesia, karena pernah menjadi anggota tim Sepakbola Olimpade Indonesia yang berlaga di Olimpiade Melbourne, Australia 1956. Tim Indonesia waktu itu mengguncang dunia persepakbolaan dunia, karena berhasil menahan tim Uni Soviet dengan 0 – 0 pada perempat final Sepakbola Olimpiade XVI di Melbourne.   

Mungkin tidak ada yang tidak kenal namanya sebagai anggota tim sepakbola PSM (Persatuan Sepak Bola Makassar). Bahkan namanya menjadi sebuah frasa atau istilah yang biasa merujuk ke seseorang yang sudah mulai berkurang kekuatan atau prestasinya karena usia yang menua. Orang orang akan menyebutnya ‘toa mi Ramang’ (‘Ramang sudah tua’), meskipun faktanya beliau telah wafat sejak 1987, namun istilah itu masih digunakan sampai sekarang.  

Buku ini cukup tebal, halaman pendahualuannya (preliminer) saja ada 109 halaman, ditambah halaman utamanya 523 halaman. Bagian awal diisi dengan sambutan sambutan, mulai dari sambutan penulis, M. Dahlan Abubakar, Penyair Toha Muhtar, Jusuf Kalla, Andi Alfian Mallarangeng (Menteri Pemuda & Olahraga, waktu diterbitkan buku ini), dan Walikota Makassar yang sekaligus Ketua Umum PSM Makassar, Ilham Arief Sirajuddin. Bagaimana penulis memburu para narasumber penulisan, juga diuraikan pada bagian awal.   

Pembahasan utama terdiri dari 4 bagian, dimana bagian pertama adalah Rekam Jejak. Diuraikan pada bagian ini masa kecil Ramang di Sumpang BinangaE Barru, kelahirannya tanggal 24 April 1928, tentang keluarganya, kebiasannya main bola dengan menggunakan jeruk, bola gulungan kain karung, dan bola rotan, dan awal masuknya ke klub Sepakbola di Barru.

Atas ajakan Mayjen H. A. Mattalatta, Ramang kemudian pindah ke Makassar dan pada 1947 mulai bergabung dengan PSM yang pada masa itu namanya MVB (Makassar Voetbal Bond). 1952 Ramang ke Jakarta untuk berlatih karena menggantikan pemain lain yang sakit, dan akhirnya masuk tim inti PSSI. 1954 PSSI melawat ke berbagai negara Asia yaitu Filipina, Hongkong, Muangthai dan Malaysia, dimana PSSI memenangkan seluruh pertandingan tersebut. Dari keempat laga tersebut tim PSSI berhasil menciptakan 25 gol, dan 19 diantaranya lewat kaki Ramang.

Karir Ramang sebagai Pelatih juga dibahas. Ramang pernah menjadi pelatih PSM Makassar, PSBI Blitar dan PersiPal Palu. Disebutkan juga, Ramang pernah melatih di Bau Bau Buton Sulawesi Tenggara.

Ramang wafat di rumahnya yang sederhana di Jalan Andi Mappanyukki Makassar pada 26 September 1987 akibat penyakit paru paru yang dideritanya, dan dimakamkan di TPU Panaikang Makassar. Untuk mengabadikan namanya, patung Ramang pernah menghiasi salah satu pintu gerbang lapangan Karebosi, namun diruntuhkan pada saat program Revitalisasi Karebosi. Rencananya Pemda Kota Makassar akan membangun penggantinya di Stadion Barombong.

Bagian kedua adalah Kisah (tentang) Mereka, mengulas pengalaman para mantan pemain PSM yang pernah dilatih oleh Ramang, dan yang pernah bermain bersama Ramang di klub PSM. Mereka yang berkisah antara lain Baco Ahmad, Dony Pattinasarani, Harry Tjong, Keng Wie, Kusnadi Kamaluddin, Machful Umar, Maulwi Saelan, M. Basri, Najib Latandang, Piet Tio, Syamsuddin Umar dan lain lain.

Pada bagian ketiga yang diberi judul ‘Dokumen Terlacak’ berisi pengalaman pengalaman Ramang sebagai pemain bola baik di PSM maupun di PSSI, pelatih, kepala keluarga, prestasi PSM dan berbagai topik lainnya. Bagian terakhir adalah Testimoni dari orang orang yang pernah berinteraksi dengan Ramang, ada pemain PSM, wasit sepakbola, dan lain lain.

Buku ini sangat lengkap membahas tentang pesepakbola legend asal Makassar, Ramang. Mulai dari riwayat hidupnya, permainannya, debutnya di kancah Nasional, prestasinya, kepelatihannya bahkan testimoni dari orang yang pernah bersama beliau. Namun karena ditulis oleh seorang jurnalis, bahasanya lebih informatif daripada literer. Dokumentasi fotonya juga kurang sehingga pembaca yang lebih suka visual mungkin merasa terlalu datar. Dinamika persepakbolaan nasional pada masa itu juga tidak terlalu banyak dibahas.  

Buku ini Koleksi Deposit, Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.




January 21, 2020

Bola Itu Bundar, Tak sekedar Kisah Perjalanan Hidup Sang Coach



Buku berjudul “Bola Itu Bundar” merupakan memoir atau kisah perjalanan hidup H. Syamsuddin Umar, mantan pelatih (Coach) PSM Makassar, yang juga mantan Birokrat pada Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Ditulis oleh Andhy Pallawa, dan diterbitkan oleh Global Publishing pada 2018 lalu, buku setebal 497 halaman ini diawali dengan “Prakata” dari penulisnya sendiri, Andhy Pallawa, lalu kemudian “Sekapur Sirih” dari sang Coach, juga ada sambutan dari Wakil Presiden (waktu itu); Jusuf Kalla dan dari Gubernur Sulawesi Selatan waktu buku ini disusun: Syahrul Yasin Limpo. H.M. Nurdin Halid juga menulis Prolog buku bersampul serba hitam ini. 

Bagian pertama dari buku ini adalah yang paling menarik bagi saya sebagai pembaca. Pada bagian inilah yang menceritakan kisah perjalanan hidup Syamsuddin Umar. Mulai dari masa masa kecilnya bersama keluarga di rumah sederhana di Jalan Mawas Makassar, sejak kecil sudah kerja secara serabutan, saat belajar mengaji pada Dato seorang pedagang beras yang tinggal dekat pasar tradisional di Jalan Onta. Ada juga pengalaman lucu yang dikisahkan, misalnya saat naik sepeda bersama temannya yang bernama Wardihan dan melewati pekuburan Dadi menuju rumahnya, melewati jalan setapak dan menabrak penjual cendol.

Pengalaman lainnya saat sekolah di STN di Jalan Bandang 1971, lalu lanjut ke STM 3 di Gunungsari jurusan Mesin Kapal. Saat masih remaja, Syamsuddin Umar juga suka nonton di bioskop misbar alias “gerimis bubar” misalnya bioskop Ampera di Jalan HOS Cokroaminoto dekat pasar Sentral Makassar. Ada juga Layar Tancap di dekat kolam renang Mattoanging. Bioskop DKM (Dewan Kesenian Makassar) di Jalan Irian, yang sedikit elit karena dalam gedung dan ada tempat duduknya.
Pada bagian kedua adalah masa masa pak Sam kuliah di Universitas Hasanuddin, bagaimana kuliahnya yang putus nyambung, kisahnya dengan dosen dosen killer. Selanjutnya pada bagian ke-3 ini yang mungkin inti dari buku ini. Bagian inilah yang membahas tentang segala hal yang menyangkut Sepak Bola, hobi, kegemaran, dan darah daging Syamsuddin Umar. Awal karirnya dalam sepok bola dimulai pada klub Pormako (Persatuan Olah Raga Mawas Kompleks). Minaesa adalah klub selanjutnya, lalu PSM Junior, GASKO, dan lain lain. Pengalaman bermain diberbagai daerah dan berbagai Negara juga dikisahkan pada bagian ini, termasuk pengalaman lucu para pemain sepak bola ketika misalnya baru pertama kali naik pesawat. 

Bagian ke-4 adalah pengalaman hidup Syamsuddin Umar saat menjadi pelatih (Coach). Dimulai dengan pertemuannya dengan Ilyas Haddade, kursus pelatih di Brasil (dibagian ini juga banyak kisah menarik….), kursus sepakbola di Singapura, bertanding di Brunai, juara Pardede Cup, Berjaya di Vietnam. Bagian ini juga banyak mengankat issu issu mengenai sepak bola dalam negeri, mulai kontroversi pelatih asing, transfer pemain, terror dan honor dan lain lain. Bagian lainnya saat Syamsuddin Umar menjalani suka duka sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan relasinya dengan banyak tokoh, kehidupan rumah tangganya dan terakhir adalah kesaksian (testimony) para tokoh masyarakat, sahabat, rekan rekan dalam dunia sepakbola dan lain lainnya. Buku ini ditutup dengan Epilog oleh Andi Darussalam Tabussala.

Membaca buku ini lebih dari sekedar kisah hidup seorang Syamsuddin Umar. Pembaca juga dapat melihat “sejarah” kota Makassar dalam buku ini. Misalnya, Jalan Lanto Dg. Pasewang dulu namanya Jalan Banteng. Lapangan tempat Syamsuddin Umar berlatih saat masih remaja dulu di Jalan Mawas, sekarang sudah tidak ada lagi, karena disitu sudah ada kantor Koramil dan Mess Kowad berdiri. Dunia perbioskopan dan perfileman diera 1970an juga banyak dibahas dalam buku ini. Bagi anda yang tertarik meneliti persepakbolaan Makassar, inilah sumber yang tepat. Bukan Cuma sepakbola, dunia birokrasi juga ada pembahasannya dibuku ini. Tambahan informasi lainnya, ada beberapa kutipan kata kata bijak tentang Sepak Bola pada beberapa halaman awal buku ini. 

Buku yang saya bahas ini adalah koleksi pribadi,  pemberian khusus (lengkap dengan tandatangan) dari pak Syamsuddin Umar. Namun anda yang ingin membaca buku ini bisa datang ke Perpustakaan Umum DPK SULSEL di Jalan Sultan Alauddin, ada beberapa exemplar di bagian referensi.      

Judul : Syamsuddin Umar, Bola Itu Bundar
Penulis : Andhy Pallawa
Penerbit : Global Publishing, Makassar 2018.
ISBN  978-602-6782-05-2