Judul: Ramang, Macan Bola
Penulis: M. Dahlan Abubakar
Editor: -
Penerbit: Identitas, Universitas
Hasanuddin Makassar
Tahun
Terbit: 2011
Jumlah
Halaman: cix + 523
ISBN: 9789790431843
Penulis
Resensi: Suharman, S.S., MIM.
Nama ”Ramang” sudah
sangat populer dan melegenda di Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar dan
sekitarnya. Bahkan di Indonesia, karena pernah menjadi anggota tim Sepakbola
Olimpade Indonesia yang berlaga di Olimpiade Melbourne, Australia 1956. Tim Indonesia
waktu itu mengguncang dunia persepakbolaan dunia, karena berhasil menahan tim
Uni Soviet dengan 0 – 0 pada perempat final Sepakbola Olimpiade XVI di Melbourne.
Mungkin tidak ada
yang tidak kenal namanya sebagai anggota tim sepakbola PSM (Persatuan Sepak
Bola Makassar). Bahkan namanya menjadi sebuah frasa atau istilah yang biasa merujuk
ke seseorang yang sudah mulai berkurang kekuatan atau prestasinya karena usia
yang menua. Orang orang akan menyebutnya ‘toa mi Ramang’ (‘Ramang sudah
tua’), meskipun faktanya beliau telah wafat sejak 1987, namun istilah itu masih
digunakan sampai sekarang.
Buku ini cukup tebal,
halaman pendahualuannya (preliminer) saja ada 109 halaman, ditambah halaman utamanya
523 halaman. Bagian awal diisi dengan sambutan sambutan, mulai dari sambutan
penulis, M. Dahlan Abubakar, Penyair Toha Muhtar, Jusuf Kalla, Andi Alfian
Mallarangeng (Menteri Pemuda & Olahraga, waktu diterbitkan buku ini), dan Walikota
Makassar yang sekaligus Ketua Umum PSM Makassar, Ilham Arief Sirajuddin. Bagaimana
penulis memburu para narasumber penulisan, juga diuraikan pada bagian awal.
Pembahasan utama
terdiri dari 4 bagian, dimana bagian pertama adalah Rekam Jejak. Diuraikan pada
bagian ini masa kecil Ramang di Sumpang BinangaE Barru, kelahirannya tanggal 24
April 1928, tentang keluarganya, kebiasannya main bola dengan menggunakan
jeruk, bola gulungan kain karung, dan bola rotan, dan awal masuknya ke klub
Sepakbola di Barru.
Atas ajakan Mayjen H.
A. Mattalatta, Ramang kemudian pindah ke Makassar dan pada 1947 mulai bergabung
dengan PSM yang pada masa itu namanya MVB (Makassar Voetbal Bond). 1952
Ramang ke Jakarta untuk berlatih karena menggantikan pemain lain yang sakit,
dan akhirnya masuk tim inti PSSI. 1954 PSSI melawat ke berbagai negara Asia
yaitu Filipina, Hongkong, Muangthai dan Malaysia, dimana PSSI memenangkan
seluruh pertandingan tersebut. Dari keempat laga tersebut tim PSSI berhasil
menciptakan 25 gol, dan 19 diantaranya lewat kaki Ramang.
Karir Ramang sebagai
Pelatih juga dibahas. Ramang pernah menjadi pelatih PSM Makassar, PSBI Blitar
dan PersiPal Palu. Disebutkan juga, Ramang pernah melatih di Bau Bau Buton Sulawesi
Tenggara.
Ramang wafat di
rumahnya yang sederhana di Jalan Andi Mappanyukki Makassar pada 26 September
1987 akibat penyakit paru paru yang dideritanya, dan dimakamkan di TPU Panaikang
Makassar. Untuk mengabadikan namanya, patung Ramang pernah menghiasi salah satu
pintu gerbang lapangan Karebosi, namun diruntuhkan pada saat program Revitalisasi
Karebosi. Rencananya Pemda Kota Makassar akan membangun penggantinya di Stadion
Barombong.
Bagian kedua adalah
Kisah (tentang) Mereka, mengulas pengalaman para mantan pemain PSM yang pernah
dilatih oleh Ramang, dan yang pernah bermain bersama Ramang di klub PSM. Mereka
yang berkisah antara lain Baco Ahmad, Dony Pattinasarani, Harry Tjong, Keng
Wie, Kusnadi Kamaluddin, Machful Umar, Maulwi Saelan, M. Basri, Najib
Latandang, Piet Tio, Syamsuddin Umar dan lain lain.
Pada bagian ketiga
yang diberi judul ‘Dokumen Terlacak’ berisi pengalaman pengalaman Ramang
sebagai pemain bola baik di PSM maupun di PSSI, pelatih, kepala keluarga,
prestasi PSM dan berbagai topik lainnya. Bagian terakhir adalah Testimoni dari orang
orang yang pernah berinteraksi dengan Ramang, ada pemain PSM, wasit sepakbola,
dan lain lain.
Buku ini sangat lengkap
membahas tentang pesepakbola legend asal Makassar, Ramang. Mulai dari riwayat
hidupnya, permainannya, debutnya di kancah Nasional, prestasinya,
kepelatihannya bahkan testimoni dari orang yang pernah bersama beliau. Namun
karena ditulis oleh seorang jurnalis, bahasanya lebih informatif daripada
literer. Dokumentasi fotonya juga kurang sehingga pembaca yang lebih suka
visual mungkin merasa terlalu datar. Dinamika persepakbolaan nasional pada masa
itu juga tidak terlalu banyak dibahas.
Buku ini Koleksi Deposit,
Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi
Sulawesi Selatan.





