Buku Alih Bahasa Lontara’ Pallopi-lopiang: Siasat Menaklukkan Laut adalah sebuah karya filologis dan etnografis yang bersumber dari naskah kuno dari masyarakat Mandar, Sulawesi Barat. Naskah Lontara’ Pallopi-lopiang bukan sekadar dokumen pelayaran, melainkan pancaran utuh dari cara hidup, sistem kepercayaan, dan strategi bertahan hidup masyarakat pesisir yang telah diwariskan lintas generasi.
Naskah ini ditulis tahun 1936 di tengah kondisi sosial dan alam yang mengguncang: lembong tallu, gelombang bencana dahsyat yang menyerang kawasan Tinambung dan meninggalkan luka kolektif dalam ingatan masyarakat Mandar. Di tengah krisis itu, manuskrip ini lahir sebagai respons kultural dan spiritual terhadap laut, yang di satu sisi adalah sumber kehidupan, namun di sisi lain menyimpan potensi ancaman mematikan. Dalam konteks itu, Lontara’ Pallopi-lopiang hadir sebagai "siasat" dalam makna yang paling dalam: seni bertahan hidup dengan memahami alam semesta dan kehendak Tuhan.
Melalui buku ini, pembaca diajak menyelami proses alih bahasa naskah ke dalam Bahasa Indonesia modern, disertai transliterasi teks dalam aksara Lontara’, Arab dan Latin, serta penerjemahan isi yang memuat doa-doa, tata cara pelayaran, dan etika spiritual nelayan Mandar. Dibalut dengan pendekatan tafsir budaya, buku ini menjelaskan bagaimana setiap tindakan seorang ponggawa lopi (nakhoda) dari melangkah keluar rumah, menyentuh badan perahu, membaca doa, hingga menentukan arah pelayaran merupakan bagian dari kesatuan spiritual yang mendalam.
Ritual-ritual yang dimuat dalam naskah ini menunjukkan keyakinan bahwa perahu bukan sekadar alat transportasi, melainkan entitas hidup yang memiliki “batin”. Seorang ponggawa tidak bisa sembarang menurunkan atau menjalankan perahunya. Ia harus meraba, merasakan, dan mendengarkan “bahasa perahu” apakah ia sudah "bangun" atau belum. Jika belum, pelayaran akan tertunda, karena memaksakan diri diyakini akan mengundang bencana.
Lebih jauh, buku ini memperlihatkan bagaimana Islam sufistik dan kepercayaan lokal terjalin erat dalam kehidupan masyarakat Mandar. Doa-doa yang dilafalkan penuh khidmat, seperti:
“Bismillahir Rahmanir Rafii’ir Rahiimi yuharrisuni min kulli maa yu’dzinii”
dan:
“Alhamdu lillahil ladzii sakhkhara lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahuu muqriniin. Wa innaa ilaa Rabbinaa lamunqolibuun”
tidak hanya berfungsi sebagai mantra keselamatan, tetapi juga simbol kepasrahan, ikhtiar, dan hubungan transenden dengan Sang Pencipta. Sementara itu, elemen lokal seperti pamali dan ussul memperkaya aspek kultural dan kosmologis naskah ini, menunjukkan bahwa dalam melaut, tidak ada yang boleh disepelekan semuanya menyatu dalam siklus spiritual yang rumit namun bermakna.
Selain sebagai warisan sastra dan spiritual, naskah ini juga merupakan bentuk pengetahuan ekologis. Melalui ritual-ritual dan tafsir perahu, orang Mandar sejatinya telah memiliki sistem pengamatan terhadap cuaca, musim, arah angin, dan tanda-tanda alam yang mereka pelajari secara turun-temurun. Semua itu direkam dalam simbol dan bahasa metaforis yang hanya bisa dimengerti dalam konteks budaya yang mendalam.
Buku ini menghidupkan kembali teks yang nyaris dilupakan, dan mengajak kita untuk melihat laut dengan mata batin, bukan sekadar sebagai medan ekonomi, tetapi sebagai ruang spiritual dan kultural yang mengandung pengetahuan, kebijaksanaan, dan peringatan. Ia juga menjadi bukti bahwa masyarakat tradisional kita memiliki sistem pengetahuan yang kompleks, yang tak kalah dengan sains modern—hanya saja diekspresikan dalam bahasa dan keyakinan yang berbeda.
Alih Bahasa Lontara’ Pallopi-lopiang: Siasat Menaklukkan Laut adalah ajakan untuk membaca ulang peradaban bahari Indonesia dengan cara yang lebih dalam dan menghormati kearifan lokal. Sebuah kontribusi penting bagi dunia filologi, sejarah maritim, kajian Islam lokal, dan tentu saja—budaya Indonesia.
Buku ini dapat diakses secara digital melalui aplikasi iPusnas atau melalui laman resmi: https://ipusnas2.perpusnas.go.id
Penulis : Husnul Fahimah Ilyas
Penerbit : Perpusnas PRESS
Tahun Terbit : 2023
No comments:
Post a Comment