June 4, 2025

Lontara Matutu: Tradisi Nyanyian Berkabung atas Kematian pada Masyarakat Pinrang


Dalam khazanah budaya Bugis, terdapat sebuah tradisi lisan yang sarat makna spiritual dan historis, dikenal dengan nama Lontara Matutu. Istilah ini berasal dari akar kata tuttung dalam bahasa Bugis, yang berarti “membaca”, sebagaimana dalam ungkapan narituttunngi surekna, yang berarti "dibacakan suratnya." Maka, Matutu secara harfiah dapat dimaknai sebagai tindakan membaca lontara, yakni manuskrip beraksara Bugis yang memuat pelbagai nilai, termasuk ajaran tentang kematian.

Tradisi Matutu dahulu sangat lekat dalam kehidupan masyarakat Pinrang, Sulawesi Selatan, terutama dalam konteks menghadapi duka. Ketika seseorang wafat, keluarga dan masyarakat akan melantunkan teks-teks Matutu sebagai bagian dari prosesi perpisahan. Namun seiring waktu, tradisi ini perlahan memudar dan kini hanya bertahan di lingkungan terbatas, seperti komunitas pesantren di Kaballangan.

Informasi mengenai tradisi ini dapat ditemukan dalam sebuah flyer berjudul Lontara Matutu: Tradisi Nyanyian Berkabung atas Kematian pada Masyarakat Pinrang, yang merupakan salah satu koleksi dari Layanan BI Corner Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam flyer tersebut dijelaskan bahwa Matutu bukan sekadar pembacaan teks, melainkan dilantunkan dalam bentuk nyanyian kelompok, di mana para lelaki dan perempuan bergantian menyanyikan syair yang mengandung petuah spiritual. Biasanya, nyanyian ini dimulai pada malam pertama setelah penguburan, seusai ceramah takziah, dan berlangsung hingga larut malam—bahkan hingga fajar menyingsing.

Tidak ada kewajiban untuk menuntaskan seluruh teks dalam satu malam; yang utama adalah proses perenungan yang disampaikan dengan kelembutan dan ketenangan hati. Menurut kesaksian salah seorang pembaca Matutu, yang mengenang pengalaman masa kecilnya, nyanyian ini dahulu dilangsungkan selama tiga malam, tujuh malam, bahkan sampai empat belas malam, tergantung pada tradisi keluarga dan semangat pelantunnya.

Teks Matutu berisi nasihat-nasihat mendalam mengenai kematian dan kehidupan setelahnya. Ia mengajak para pendengarnya untuk menyadari kefanaan dunia, dan menyiapkan diri menghadapi hari akhir. Diceritakan pula tentang detik-detik perpisahan antara roh dan jasad—momen yang senantiasa mengejutkan meskipun telah berkali-kali terjadi. Dalam syair-syair ini termuat pula ungkapan-ungkapan bernuansa sufistik, yang mencerminkan pemahaman tarekat yang berkembang secara turun-temurun dalam masyarakat Bugis.

Yang menarik, ajaran tarekat dalam tradisi ini tidak disampaikan secara elitis atau eksklusif. Sebaliknya, ia ditawarkan secara terbuka melalui simbol-simbol budaya, seperti nyanyian Matutu itu sendiri. Inilah bentuk dakwah yang halus namun mendalam: mengajak masyarakat mengenal kematian, bukan dengan ratapan, melainkan dengan perenungan. Matutu menolak ekspresi duka yang berlebihan. Sebagai gantinya, ia menawarkan jalan untuk mengendalikan kesedihan dengan mengenali makna kematian lewat syair-syair yang menguatkan jiwa.

Fenomena serupa dapat ditemukan dalam berbagai tradisi daerah lain di Indonesia. Misalnya, Male-Male di Ciacia, Andung pada masyarakat Batak Toba, Munaba di Waropen, Papua, Katoneng-Katoneng dalam upacara adat Karo, hingga Hau dalam ritual kematian di lingkungan Buddhis Go Hock Keng. Bahkan, dalam tradisi Kristen Aluk Todolo di Toraja, nyanyian kematian juga memegang peran sentral. Semua ini menunjukkan bahwa nyanyian kematian adalah warisan budaya lintas etnik yang berakar pada spiritualitas dan kemanusiaan.

Dalam konteks keagamaan, nyanyian ini merupakan ekspresi iman dan bentuk penghormatan terhadap takdir kehidupan. Di sisi lain, secara kemanusiaan, ia menjadi sarana solidaritas, empati, dan pengingat akan kefanaan. Maka tak heran jika nyanyian-nyanyian ini menciptakan ruang untuk refleksi spiritual, sekaligus mempererat ikatan sosial. Di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, Matutu dan tradisi serupa menjadi jangkar yang meneguhkan nilai-nilai etika dan spiritual, sekaligus menandai kesinambungan warisan budaya yang tak lekang oleh waktu.


Lontara Matutu: Tradisi Nyanyian Berkabung atas Kematian pada Masyarakat Pinrang
Penyusun: Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX
Tahun Terbit: 2024

No comments:

Post a Comment