Alat-alat penangkapan ikan tradisional Sulawesi Selatan,
baik bentuknya maupun bahannya sangat dipengaruhi oleh keadaan alam setempat. Hal
ini dapat dilihat pada peralatan yang digunakan dilaut dan di danau, walaupun
namanya sama namun bentuk dan bahannya sering berbeda. Berikut berbagai jenis
alat penangkap ikan di Sulawesi Selatan.
- Memakai alat pengait: pangawang (Bugis), pakadok (Bugis) = pancing tancap, campak = bibbi (Bugis), meng (Bugis) = pancing,
- Memakai jaring: juluk (Bugis) = jaring kantong, lanrak (Bugis), jala buang, dakkang (Bugis) = jaring kepiting, bunre salo (Bugis) = jaring kecil, bunre loppo (Bugis) = jaring kantong yang lebih besar.
- Memakai klep: bubu, lawak (Bugis), salakka/salekko (Bugis), bellek
- Memakai alat tusuk: pamulu (Bugis), kanjai (Bugis), seppu (Bugis) = sumpitan
- Memakai Racun: Tua (Bugis) = racun ikan
Menangkap ikan sebagai salah satu bagian mata pencarian
hidup di Sulawesi Selatan erat hubungannya dengan sistim kepercayaan
masyarakat. Hal ini dapat dilihat pada rentetan upacara yang harus dilakukan
pada waktu-waktu tertentu oleh seorang nelayan. Berikut sistim upacara sebelum,
sesudah selesai musim penangkapan dan pemmali (pantangan).
Sebelum penangkapan dimulai (sebelum turun ke danau)
Maccera Tappareng
Maccera tappareng ialah suatu upacara makan bersama yang
diadakan pada bulan januari setiap tahun oleh para nelayan danau si Salo Wette
Kampung WeteE Kecamatan Panca Lautan Kabupaten Sidenreng Rappang. Tujuannya
ialah memohon doa restu kepada Tuhan (dewata) agar selama masa penangkapan ikan
diberi rezeki dan keselamatan.
Attoana Turungan (Makassar) = Maccera Tasik (Bugis)
Attoana Tutungan yaitu upacara makan bersama di perahu
dipinggir pelabuhan tempat berlabuhnya perahu-perahu nelayan. Maksud dan tujuan
upacara ini ialah sebagai doa bersama agar selama musim penangkapan ikan yang
akan berlangsung diberi reski berupa ikan yang banyak dan keselamatan di laut.
Mappanre Lopi/Biseang
Mappanre lopi adalah makan bersama di perahu yang akan
digunakan pada musim penangkapan ikan yang akan berlangsung. Ini merupakan
upacara mohon restu dari Tuhan agar diberi reski dan keselamatan selama
melaksanakan penangkapan ikan.
Sesudah selesai musim penangkapan
Setelah selesai musim penangkapan ikan baik di laut maupun
di danau, maka diadakan upacara syukuran yaitu memanjatkan puji syukur dan
terima kasih kepada Tuhan atas segala reski yang telah diberikan selama turun
ke danau.
Pemmali (pantangan)
Pemmali bagi seorang nelayan, yang akan berangkat kelaut/kedanau:
Makan sokko pulu bolong (ketan hitam) dan mendengar kata-kata yang mengandung
pengertian hampa atau kosong atau habis, seperti: degaga (tidak ada), leppe
(lepas), cappu (habis), dsb.
Pammali bagi seorang istri nelayan pada saat suaminya
berangkat menangkap ikan (maddilau) tidak boleh putuskan hubungan batinnya,
tetapi sebaliknya dia harus jalin terus hubungan itu seerat mungkin, karena
sesungguhnya mereka itu adalah satu.
Oleh karena itu bila suami sedang bertugas, maka istri
berkewajiban pula menjaga pantangan menurut adat pakkaja/pajukua yaitu:
- Si istri tidak boleh membuka rambutnya didekat pintu rumah
- Tidak boleh membakar tempurung kelapa
- Tidak boleh membelah atau memotong kayu atau tali
- Saji nasi tidak boleh jatuh ke lantai
- Tidak boleh memasak pada waktu sore hari
- Tidak boleh mengosongkan rumah