Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengenang jasa seseorang. Ada yang memberi nama seorang tokoh pujaannya kepada anaknya karena kekagumannya terhadap tokoh tersebut. Ambil contoh, nama Hasanuddin yang merujuk kepada Sultan Hasanuddin. Nama ini sangat populer dan diharapkan mereka yang bernama Hasanuddin, dapat meniru atau bersikap seperti yang dilakukan Sultan Hasanuddin yang berpendirian 'satu kata dengan perbuatan'.
Demikian pula nama jalan yang menggunakan nama orang di kota Makassar cukup banyak. Dari sejumlah nama itu, ada yang sudah sangat kita kenal dan demikian pula sebaliknya. Penggunaan nama orang untuk jalan adalah bagian dari rasa hormat kita atas jasa-jasa yang pernah dilakukan.
Penggunaan nama orang untuk satu jalan bukanlah dimaksud semata-mata untuk mengenang nama tokoh tersebut, tetapi diharapkan masyarakat dapat mencontoh atau setidaknya dapat menarik pelajaran dari apa yang telah diperbuat tokoh tersebut di masa hidupnya.
Kota Makassar terdiri dari 14 kecamatan dan 144 kelurahan. Berikut 17 struktur utama anatomi jalan di Kota Makassar:
- Jalan dengan nama Baji atau kebaikan, seperti: Jalan Baji Dakka, Bahi Gau, Baji Ateka, Baji Bicara, Baji Gio, Baji Minasa dan lainnya.
- Jalan dengan karakter binatang yang hidup di darat, seperti: Jalan Serigala, Rusa, Badak, Landak, Kelinci, Beruang, Gajah dan lainnya.
- Jalan yang berbasis nama burung atau binatang yang memiliki kemampuan terbang, seperti: Jalan Kakak Tua, Belibis, Cendrawasih, Gagak, Rajawali, dan sejenisnya.
- Jalan dengan nama tumbuhan yang berguna untuk menjadi sayur, seperti: Jalan Labu, Sawi, Kangkung, dan sejenisnya.
- Jalan dengan nama tanjung, seperti: Jalan Tanjung Bunga, Tanjung Alang, dan sejenisnya.
- Jalan dengan nama karakter spirit, seperti Jalan Kebangkitan, Kesatuan, Kemajuan, Sepakat, Sehati, dan sejenisnya.
- Jalan dengan karakter nama pulau, seperti Jalan Banda, Sangir, Bali, Timor, Sumba, dan sejenisnya.
- Jalan dengan nama binatang-binatang laut, seperti: Jalan Sunu, Cumi-Cumi, Titang, Baronang, Cakalang, Bete-Bete, dan sejenisnya.
- Jalan dengan nama unsur "hati" atau sifat kemuliaan jiwa, seperti Jalan Hati Suci, Hati Mulia, Hati Senang, Hati Gembira, Hati Murni, dan sejenisnya.
- Jalan dengan nama-nama bunga, seperti: Jalan Matahari, Dahlia, Seruni, Tulip, Mawar dan Bunga Eja.
- Jalan dengan nama kampung bukit atau bonto, seperti: Jalan Bonto Langkasa, Bonto Bantaeng, Bonto Marannu, Bonto Nompo, Bonto Mangape, Mappala, Tidung dan semacamnya.
- Jalan dengan nama pohon atau jenis kayu, seperti: Jalan Meranti, Cemara, Kelapa, dan sejenisnya.
- Jalan dengan basis nama awal pada kata suka, seperti: Sukaria, Sukamaju, dan sejenisnya.
- Jalan dengan identifikasi aktivitas dan kampung, seperti: Jalan Penghibur, Pasar Ikan, Dakwah, dan semacamnya.
- Jalan yang berbasis ke nama sungai, seperti: Jalan Sungai Limboto, Cerekang, Saddang, dan sejenisnya.
- Jalan yang menggunakan nama gunung, seperti: Jalan Gunung Merapi, Gunung Latimojong, Gunung Bawakaraeng, Gunung Rinjani dan Gunung Lompobattang.
- Jalan yang menggunakan nama tokoh-tokoh penting, baik dalam sejarah Nusantara, nasional dan sejarah lokal.
- Jalan yang berkarakter tokoh lokal, baik yang heroik di masa pra-Republik Indonesia, seperti: Sultan Hasanuddin, Sultan Alauddin, Karaeng Patingalloang, Petta Ponggawae, Kajao Lalidong, La Madukelleng dan sebagainya.
- Jalan yang berkarakter tokoh-tokoh pada masa perjuangan merebut kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan, seperti: Jalan Sam Ratulangie, Wolter Monginsidi, Ali Malaka, Arief Rate, dan sejenisnya
- Jalan yang berkarakter tokoh-tokoh pahlawan nasional, seperti: Sutomo, Ahmad Yani, Jenderal Soedirman dan Gatot Subroto
- Jalan yang berkarakter tokoh berlatar keagamaan atau ulama, seperti: Abdullah Daeng Sirua, KH. Ramli, Muctar Lutfi, dan lainnya.
- Jalan yang berkarakter tokoh legenda dan mitologis lokal, seperti: Datu Museng, Lagaligo dan Saweringading..
No comments:
Post a Comment