Semenjak kedatangan Belanda di Soppeng (25 September 1905), Kolonel Van Loenen sebagai Panglima Belanda Ekspedisi Sulawesi Selatan. Tiga hari kemudian (28 September 1905) panglima Belanda mengajak Datu Soppeng ke-35 Sitti Zainab Arung Lapajung bersama beberapa pembesar dan raja-raja bawahannya. Pembesar lainnya tidak senang atas kehadiran Belanda tidak menghadiri pertemuan tersebut, seperti Sulle Datu Soppeng Baso Balusu (wakil datu Soppeng), Watan Lipu La Palloge (menteri/panglima Kerajaan Soppeng), Datu Mario ri Awa La Mappe dan beberapa bawahan lainnya.
Dalam usaha mempertahankan kedaulatan Kerajaan Soppeng terhadap campur tangan pemerintah Kolonial Belanda, maka La Palloge selaku Menteri/Panglima Kerajaan Soppeng sangat menentang kehadiran Belanda dalam daerah kekuatan Kerajaan Soppeng. Hal ini didasarkan oleh beberapa faktor, seperti politik, ekonomi dan sosial budaya.
La Palloge dalam menghadapi Belanda menggunakan tiga macam perlawanan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketiga macam bentuk perlawanan tersebut adalah penggalangan massa, taktik dan strategi perang gerilya serta bekerja sama dengan raja-raja terutama dari daerah-daerah terdekat.
Buku PERLAWANAN LA PALOGE WATAN LIPU KERAJAAN SOPPENG (Panglima Soppengg melawan Belanda) membahas tentang pahlawan dari Soppeng yang berjasa dan berkorban demi membela dan mempertahankan bangsa dan daerahnya dari serangan-serangan kerajaan lain atau bangsa lain. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
(PANGLIMA KERAJAAN SOPPENG MELAWAN BELANDA)
Penyusun: H. Nonci
Penyunting: Suhartono
Penerbit: Aksara
Tempat Terbit: Ujung Pandang
No comments:
Post a Comment