Showing posts with label Benteng Panywa. Show all posts
Showing posts with label Benteng Panywa. Show all posts

October 4, 2021

BENTENG UJUNG PANDANG

 

Benten Ujung Pandang adalah sebuah benteng kecil Kerajaan Gowa yang tembok lingkarnya masih utuh. Bentuk ini dibangun pada kira-kira tahun 1545 pada masa pemerintahan Raja Gowa yang ke X yang bergelar Karaeng Tunipallangga Ulaweng. Kalaupun ada unsur-unsur atau pengaruh gaya bangunan Portugis pada Benteng Ujung Pandang maka hal itu bukan mustahil, karena pada masa itu bangsa Portugis telah hadir di tanah air kita dan orang-orang Portugis memang berhubungan baik, bahkan bersahabat dengan Raja Gowa. Pada masa itu orang-orang Makassar (Gowa) memang banyak berhubungan dengan orang-orang Portugis. Jadi kalau ada unsur atau pengaruh Portugis pada bangunan-bangunan benteng atau alat persenjataan Kerajaan Gowa, maka hal itu bukanlah hal mustahil. Namun Benteng Ujung Pandang adalah benteng asli Kerajaan Gowa, bukan benteng rampasan atau benteng yang direbut dan kemudian diduduki oleh Kerajaan Gowa.

Benteng Ujung Pandang mempunyai bentuk yang khas, yakni menyerupai seekor penyu yang sedang merayap seolah-olah hendak terjun ke laut. Itu pulalah sebabnya mengapa Benteng Ujung Pandang oleh orang Makassar sering juga disebut “Benteng Panywa” artinya “Benteng Sang Penyu” (panyyu=penyu). Dinding Benteng Ujung Pandang mula-mula memang terbuat dari tanah liat. Akan tetapi kemudian, yakni kira-kira pada tahun 1634 pada jaman pemerintahan Raja Gowa yang ke XIV yang bergelar Sultan Alauddin Tumengnga ri Gaukanna, dinding Benteng Ujung Pandang diberi batu.

Setelah perjanjian Bungaya ditanda-tangani pada tanggal 18 Nopember 1667, Benteng Ujung Pandang diserahkan kepada Belanda (VOC). Kemudian Belanda (VOC) merombak bangunan-bangunan yang ada di dalam Benteng Ujung Pandang. Bangunan-bangunan itu aslinya adalah rumah-rumah khas Makassar dengan tiang-tiang yang tinggi dan terbuat dari kayu, bambu dan atap sirap atau daun nipa. Belanda (VOC) mengganti rumah-rumah Makassar itu dengan bangunan-bangunan yang bahan-bahannya lebih kokoh dan lebih tanah lama. Bangunan-bangunan yang didirikan oleh Belanda (VOC) itu merupakan gedung-gedung yang bergaya Eropa (Belanda) pada jaman abad ketujuh belas seperti yang dapat kita lihat sekarang setelah Benteng Ujung Pandang oleh Pemerintah Republik Indonesia. Kemudian Belanda mempergunakan Benteng Ujung Pandang yang semenjak itu diganti namanya menjadi Fort Rotterdam, sebagai benteng pertahanan dan pusat kekuatan serta pusat kegiatan pemerintah untuk Sulawesi Selatan, bahkan untuk Indonesia bagian timur. Perubahan nama Benteng Ujung Pandang menjadi Fort Roterdam diambil dari nama kota kelahiran Cornelis Janszoon Speelman yang memimpin serangan Belanda (VOC) terhadap Kerajaan Gowa.

Buku BENTENG UJUNG PANDANG membahas tentang Benteng yang menjadi bukti sejarah dan sejarah perlawanan menentang penjajah bangsa asing, serta menjadi bukti bahwa pahlawan-pahlawan Indonesia di Gowa (Sulawesi Selatan) pada abad ke tujuh belas rela mengorbankan jiwa raganya dengan membelah dan mempertahankan setiap jengkal bumi tanah airnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.

 

BENTENG UJUNG PANDANG
Penuslis: Sagimun M.D.
Penerbit: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1992