Showing posts with label Benteng Ujung Panang. Show all posts
Showing posts with label Benteng Ujung Panang. Show all posts

September 6, 2022

BENTENG UJUNG PANDANG (FORT ROTTERDAM)

Arsitek dari Benteng Ujung Pandang dimulai dari Raja Gowa IX Daeng Matanre Tumaparisi Kallonna, dan diselesaikan oleh Raja Gowa X Karaeng Tunipalangga, kemudian diselesaikan oleh Raja Gowa X, Tunipallangga Ulaweng pada tahun 1545. Namun untuk lebih sempurnanya dalam menghadapi perang yang makin lebih modern yaitu dengan pemasangan batu oleh Raja Gowa XIV Sultan Alauddin yang sudah melihat bahaya yang mengancam Kerajaan Gowa yang datang dari Barat.

Fungsi Benteng Ujung Pandang dalam Kerajaan Gowa tidak sama dengan fungsi Fort Rotterdam dalam masa Kompeni Belanda. Benteng Ujung Pandang dalam kerajaan Gowa berfungsi sebagai benteng pengawal ibu kota Kerajaan Gowa yang bertempat dalam Benteng Somba Opu,

Penempatan lokasi Benteng Ujung Pandang oleh Raja Gowa IX Tumaparisi Kallonna didasari dengan pandangan yang cukup jauh ke depan, hal ini ternyata dipilihnya Benteng Ujung Pandang oleh Cornelis Speelman sebagai pusat pertahanan, pemerintahan dan perekonomian sesudah perjanjian Bungaya 18 November 1667 dan tidak memilih benteng-benteng lain dari Kerajaan Gowa yang sangat banyak pada masa itu.

Bangunan-bangunan dalam Benteng Ujung Pandang merupakan data dan dokumen otentik tentang telah pernah terjadinya hubungan antara Kerajaan Gowa dengan Kerajaan di Eropa dengan adanya peninggalan bangunan yang arsitektur Eropa dengan gaya Gotik yang pernah berkembang di Eropa pada abad XVII. Tentu saja bila hal ini dikembangkan dapat menjadikan Benteng Ujung Pandang sebagai alat untuk memupuk saling pengertian di kalangan bangsa-bangsa dengan melalui nilai-nilai sosial, budaya yang terdapat dalam situs Benteng Ujung Pandang.

Benteng Ujung Pandang sejak berdirinya pada abad XVI telah banyak merekam peristiwa-peristiwa historis yang bernilai tinggi, orang tua-tua yang masih sekali-kali menyebut nama KOTA TOWAYA untuk Benteng Ujung Pandang. Kota Towaya adalah bahasa Makassar yang dapat diartikan sebagai kota tua atau kota lama.

Benteng Ujung Pandang terletak di tepi pantai tidak jauh dari pelabuhan Makassar. Tempat tersebut sangat strategis untuk pertahanan dan sangat baik untuk pelabuhan karena terlindung oleh gugusan pulau-pulau di lepas pantai seperti Lae-Lae, Samalona, Kayangan dan lain-lain.

Secara administratif Benteng Ujung Pandang terletak dalam daerah Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Madya Ujung Pandang Provinsi Sulawesi Selatan. Benteng yang menghadap ke laut Selat Makassar berada persis di pinggir timur jalan Ujung Pandang menghadap ke Barat.

Orang Makassar menyebut Benteng Ujung Pandang dengan Benteng Panynyua karena bentuknya menyerupai seekor penyu. Penyu itu sedang merayap menuju ke laut (Selat Makassar). Jadi seolah-olah kepala penyu berada di bagian barat dan ekornya ke sebelah Timur. 

Benteng Ujung Pandang merupakan salah satu benteng pengawal dari Benteng Somba Ope yang merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Gowa. Benteng Ujung Pandang letaknya di sebelah Utara Benteng Somba Opu.

Pada masa jayanya kerajaan Gowa di pengujung abad XVII Kerajaan Gowa mempunyai 14 buah benteng yang berfungsi sebagai benteng pengawal dari benteng Somba Opu yang tersebar mulai dari daerah. Takalar di selatan dan Tallo di Utara.

Hancurnya benteng-benteng pengawal di Sulawesi Selatan disebabkan karena sesudah Gowa kalah perang dari Belanda dan menanda tangani perjanjian Bongaya pada tahun 1667, benteng-benteng tersebut dihancurkan kecuali Benteng Somba Opu dan Benteng Ujung Pandang. Benteng Somba Opu di pergunakan oleh Raja Gowa sebagai pusat pemerintahannya. Benteng Somba Opu pun kemudian dihancurkan juga karena setahun kemudian Raja Gowa Sultan Hasanuddin mengangkat senjata melawan Belanda (Tahun 1668). 

Tulisan "FORT ROTTERDAM" yang terpatri pada batu dinding Benteng Ujung Pandang masih dapat dilihat jelas terpampang pada bagian atas pintu gerbang sebelah barat Benteng Ujung Pandang. Penamaan ini diberikan oleh Belanda setelah Benteng Ujung Pandang diambil alih penguasaannya oleh kompeni Belanda sebagai realisasi perjanjian Bongaya 18 November 1667 pasal 11. Perubahan nama tersebut dari Benteng Ujung Pandang menjadi Fort Rotterdam adalah sebagai tanda kenangan Cornelis Speelman terhadap kota kelahirannya di negeri Belanda yaitu kota Rotterdam.

Buku BENTENG UJUNG PANDANG (FORT ROTTERDAM) membahas berdirinya yang hampir 4 abad yang telah lalu yang mengalami pasang surutnya Kerajaan Gowa dan kekuasaan Belanda antara pertengahan abad XVI sampai Jepang berkuasa di Indonesia kemudian sampai ke keadaan sekarang ini.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sualwesi Selatan sebagai media visual tentang sejarah perjuangan bangsa yang dapat mencerminkan cipta, rasa dan karya leluhur bangsa yang unsur kepribadiannya dapat diteladani oleh generasi sekarang dan yang akan datang dalam rangka mewariskan jiwa kejuangan dan kepahlawanan dan sekaligus dapat membina dan mengembangkan kebudayaan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.


BENTENG UJUNG PANDANG (FORT ROTTERDAM)
Penyusun: Masdoeki, Abdul Muttalib, Bahru Kaluppa
Penerbit: Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 1986


October 4, 2021

BENTENG UJUNG PANDANG

 

Benten Ujung Pandang adalah sebuah benteng kecil Kerajaan Gowa yang tembok lingkarnya masih utuh. Bentuk ini dibangun pada kira-kira tahun 1545 pada masa pemerintahan Raja Gowa yang ke X yang bergelar Karaeng Tunipallangga Ulaweng. Kalaupun ada unsur-unsur atau pengaruh gaya bangunan Portugis pada Benteng Ujung Pandang maka hal itu bukan mustahil, karena pada masa itu bangsa Portugis telah hadir di tanah air kita dan orang-orang Portugis memang berhubungan baik, bahkan bersahabat dengan Raja Gowa. Pada masa itu orang-orang Makassar (Gowa) memang banyak berhubungan dengan orang-orang Portugis. Jadi kalau ada unsur atau pengaruh Portugis pada bangunan-bangunan benteng atau alat persenjataan Kerajaan Gowa, maka hal itu bukanlah hal mustahil. Namun Benteng Ujung Pandang adalah benteng asli Kerajaan Gowa, bukan benteng rampasan atau benteng yang direbut dan kemudian diduduki oleh Kerajaan Gowa.

Benteng Ujung Pandang mempunyai bentuk yang khas, yakni menyerupai seekor penyu yang sedang merayap seolah-olah hendak terjun ke laut. Itu pulalah sebabnya mengapa Benteng Ujung Pandang oleh orang Makassar sering juga disebut “Benteng Panywa” artinya “Benteng Sang Penyu” (panyyu=penyu). Dinding Benteng Ujung Pandang mula-mula memang terbuat dari tanah liat. Akan tetapi kemudian, yakni kira-kira pada tahun 1634 pada jaman pemerintahan Raja Gowa yang ke XIV yang bergelar Sultan Alauddin Tumengnga ri Gaukanna, dinding Benteng Ujung Pandang diberi batu.

Setelah perjanjian Bungaya ditanda-tangani pada tanggal 18 Nopember 1667, Benteng Ujung Pandang diserahkan kepada Belanda (VOC). Kemudian Belanda (VOC) merombak bangunan-bangunan yang ada di dalam Benteng Ujung Pandang. Bangunan-bangunan itu aslinya adalah rumah-rumah khas Makassar dengan tiang-tiang yang tinggi dan terbuat dari kayu, bambu dan atap sirap atau daun nipa. Belanda (VOC) mengganti rumah-rumah Makassar itu dengan bangunan-bangunan yang bahan-bahannya lebih kokoh dan lebih tanah lama. Bangunan-bangunan yang didirikan oleh Belanda (VOC) itu merupakan gedung-gedung yang bergaya Eropa (Belanda) pada jaman abad ketujuh belas seperti yang dapat kita lihat sekarang setelah Benteng Ujung Pandang oleh Pemerintah Republik Indonesia. Kemudian Belanda mempergunakan Benteng Ujung Pandang yang semenjak itu diganti namanya menjadi Fort Rotterdam, sebagai benteng pertahanan dan pusat kekuatan serta pusat kegiatan pemerintah untuk Sulawesi Selatan, bahkan untuk Indonesia bagian timur. Perubahan nama Benteng Ujung Pandang menjadi Fort Roterdam diambil dari nama kota kelahiran Cornelis Janszoon Speelman yang memimpin serangan Belanda (VOC) terhadap Kerajaan Gowa.

Buku BENTENG UJUNG PANDANG membahas tentang Benteng yang menjadi bukti sejarah dan sejarah perlawanan menentang penjajah bangsa asing, serta menjadi bukti bahwa pahlawan-pahlawan Indonesia di Gowa (Sulawesi Selatan) pada abad ke tujuh belas rela mengorbankan jiwa raganya dengan membelah dan mempertahankan setiap jengkal bumi tanah airnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.

 

BENTENG UJUNG PANDANG
Penuslis: Sagimun M.D.
Penerbit: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1992