Benten Ujung
Pandang adalah sebuah benteng kecil Kerajaan Gowa yang tembok lingkarnya masih
utuh. Bentuk ini dibangun pada kira-kira tahun 1545 pada masa pemerintahan Raja
Gowa yang ke X yang bergelar Karaeng Tunipallangga Ulaweng. Kalaupun ada
unsur-unsur atau pengaruh gaya bangunan Portugis pada Benteng Ujung Pandang
maka hal itu bukan mustahil, karena pada masa itu bangsa Portugis telah hadir
di tanah air kita dan orang-orang Portugis memang berhubungan baik, bahkan
bersahabat dengan Raja Gowa. Pada masa itu orang-orang Makassar (Gowa) memang
banyak berhubungan dengan orang-orang Portugis. Jadi kalau ada unsur atau
pengaruh Portugis pada bangunan-bangunan benteng atau alat persenjataan
Kerajaan Gowa, maka hal itu bukanlah hal mustahil. Namun Benteng Ujung Pandang adalah
benteng asli Kerajaan Gowa, bukan benteng rampasan atau benteng yang direbut
dan kemudian diduduki oleh Kerajaan Gowa.
Benteng Ujung
Pandang mempunyai bentuk yang khas, yakni menyerupai seekor penyu yang sedang
merayap seolah-olah hendak terjun ke laut. Itu pulalah sebabnya mengapa Benteng
Ujung Pandang oleh orang Makassar sering juga disebut “Benteng Panywa” artinya
“Benteng Sang Penyu” (panyyu=penyu). Dinding Benteng Ujung Pandang mula-mula
memang terbuat dari tanah liat. Akan tetapi kemudian, yakni kira-kira pada
tahun 1634 pada jaman pemerintahan Raja Gowa yang ke XIV yang bergelar Sultan
Alauddin Tumengnga ri Gaukanna, dinding Benteng Ujung Pandang diberi batu.
Setelah perjanjian
Bungaya ditanda-tangani pada tanggal 18 Nopember 1667, Benteng Ujung Pandang
diserahkan kepada Belanda (VOC). Kemudian Belanda (VOC) merombak
bangunan-bangunan yang ada di dalam Benteng Ujung Pandang. Bangunan-bangunan
itu aslinya adalah rumah-rumah khas Makassar dengan tiang-tiang yang tinggi dan
terbuat dari kayu, bambu dan atap sirap atau daun nipa. Belanda (VOC) mengganti
rumah-rumah Makassar itu dengan bangunan-bangunan yang bahan-bahannya lebih
kokoh dan lebih tanah lama. Bangunan-bangunan yang didirikan oleh Belanda (VOC)
itu merupakan gedung-gedung yang bergaya Eropa (Belanda) pada jaman abad
ketujuh belas seperti yang dapat kita lihat sekarang setelah Benteng Ujung
Pandang oleh Pemerintah Republik Indonesia. Kemudian Belanda mempergunakan
Benteng Ujung Pandang yang semenjak itu diganti namanya menjadi Fort Rotterdam,
sebagai benteng pertahanan dan pusat kekuatan serta pusat kegiatan pemerintah untuk Sulawesi Selatan, bahkan untuk
Indonesia bagian timur. Perubahan nama Benteng Ujung Pandang menjadi Fort
Roterdam diambil dari nama kota kelahiran Cornelis Janszoon Speelman yang
memimpin serangan Belanda (VOC) terhadap Kerajaan Gowa.
Buku BENTENG
UJUNG PANDANG membahas tentang Benteng yang menjadi bukti sejarah dan
sejarah perlawanan menentang penjajah bangsa asing, serta menjadi bukti bahwa
pahlawan-pahlawan Indonesia di Gowa (Sulawesi Selatan) pada abad ke tujuh belas
rela mengorbankan jiwa raganya dengan membelah dan mempertahankan setiap
jengkal bumi tanah airnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan
Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang
berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.
Penuslis: Sagimun M.D.
Penerbit: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1992

No comments:
Post a Comment