Showing posts with label Opu Daeng Manambung. Show all posts
Showing posts with label Opu Daeng Manambung. Show all posts

October 18, 2021

LIMA PENDEKAR OPU DAENG DI NEGERI MELAYU

 


Nama Opu Daeng, itu merupakan perpaduan dua nama gelar bangsawan di Sulawesi Selatan, yakni “Opu” adalah gelar bangsawan dari Kerajaan Luwu, sedangkan “Daeng” biasanya dipakai oleh gelar bangsawan dari Kerajaan Gowa atau suku Makassar.

Petualangan 5 pendekar bangsawan Bugis Makassar ke negeri Melayu, telah banyak mengundang simpati dari masyarakat dan pemerintah setempat. Atas keberanian membela kaum tertindas membuat mereka disegani oleh lawan dan dihormati oleh kawan.

Lima pendekar dimaksud adalah: Opu Daeng Parani yang menjadi Panglima Perang di Kerajaan Selangor, Opu Daeng Manambung menjadi Raja Mempawah di Kalimatan Barat, Opu Daeng Marewa menjadi Yam Amtuan Muda pertama di Kerajaan Johor, Opu Daeng Cellak menjadi Yam Amtuan Muda kedua Kerajaan Johor, dan Opu Daeng Kamase menjadi Pangeran Mangkubumi Kerajaan Sambas.

Kisah pendekar Opu Daeng ini bermula ketika salah seorang putra Datu Luwu ke 24 dan 26 La Tenri Leleang bernama La Maddusila, yang diangkat menjadi Raja Tanete Barru. La Maddusila kawin dengan putri Datu Soppeng ke 23 bernama I Seno Tanribali Datu Citta. Hasil perkawinannya membuahkan seorang anak bernama Opu Tenriborong Daeng Lekka.

Opu Tenriborong itu kawin dengan gadis bangsawan dari Kerajaan Gowa. Dari hasil perkawinannya ini, membuah lima orang, yakni Daeng Parani, Daeng Manambung, Daeng Marewa, Daeng Cellak dan Daeng Kamase. Kelima bersaudara ini memiliki jiwa ksatria.

Dari modal keberanian tersebut, mereka merantau ke negeri Melayu. Sampai di sana mereka membantu perjuangan rakyat dan pemerintah tempat ia datangi. Beberapa negeri yang pernah dibantu diantaranya, membantu Sultan Zainuddin di Negeri Matan, Sultan Sulaiman di Negeri Johor, Sultan Adil di Sambas juga beberapa negara Melayu lainnya seperti Selangor, Keda dan Johor.

Dari hasil perjuangan itu, kelimanya selain diangkat menjadi raja juga sekaligus diangkat menjadi menantu. Seperti halnya Opu Daeng Manambung kawin dengan putri Kesumba yang merupakan anak sulung Raja Matan Sultan Zainuddin sekaligus menjadi raja di Mempawah bergelar Pangeran Emas Surga Negara. Daeng Parani kawin dengan putri bangsawan Kerajaan Siantan, salah satu kerajaan kecil di negeri Johor, dan sekaligus menjadi panglima perang Kerajaan Selangor dan Kedah. Daeng Marewa kawin dengan Ongku Encik Ayu anak dari Tumenggung Kerajaan Johor dan sekaligus menjadi Yam Amtuan Kerajaan Riau pertama, Daeng Cellak kawin dengan Tengku Tengah, adik dari Yam Amtum Kerajaan Johar dan sekaligus menjadi Yam Antum Kerajaan Riu kedua. Terakhir Opu Daeng Kamase yang merupakan adik bungsu kelima Opu Daeng ini, kawin dengan adek Raja Sambas bernama Urau Tengah atau Raden Tengah dan sekaligus menjadi Pangeran Mangkubumi Kerajaan Sambas.

Turunannya kemudian banyak menjadi pembesar, seperti putra Daeng Cellak bernama Raja Ali Haji yang menjadi pujangga terkenal di negeri Melayu dan kini dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Bahkan awal kedatangan Opu Daeng Manambung di Mempawah, yang ditandai dengan acara pesta Robo-robo setiap Rabu terakhirbulan Syawal setiap tahunnya.

Buku LIMA PENDEKAR OPU DAENG DINEGERI MELAYU membahas tentang kisah pendekar Opu Daeng yakni Opu Daeng Manambung, menjadi raja pertama Mempawa; Opu Daeng Marewa, Raja Muda Kerajaan Johor; Opu Daeng Cellak Yam Tuan Muda Kerajaan Riau; Opu Daeng Parani, panglima perang Kerajaan Selangor & Kedah serta Opu Daeng Kamase, Panglima Mangkubumi Kerajaam Sambas. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makasssar.

 

LIMA PENDEKAR OPU DAENG DINEGERI MELAYU
Penulis: Zainuddin Tika, Mas’ud Kasim, Rosdiana
Editor: Syarifuddin Kulle
Penerbit: Lembaga Kajian & Penulisan Sejarah Budaya Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2011