Showing posts with label Budaya Spiritual. Show all posts
Showing posts with label Budaya Spiritual. Show all posts

October 11, 2021

BUDAYA SPIRITUAL ORANG GOWA


Keberadaan tempat-tempat spiritual di Kabupaten Gowa, sampai saat ini masih tetap menjadi tempat pemujaan bagi masyarakat pendukungnya. Budaya spiritual ini telah berlangsung lama dan sebagian masyarakat menjadikan tempat-tempat yang dikeramatkan sebagai kunjungan rutin dan menjadi agenda tahunan. Berbagai bentuk pemujaan yang dilakukan melalui media makam-makam tua, saukang, batu bikulung dan rumah-rumah adat yang dianggap memiliki kekuatan supranatural yang memberi manfaat dan keberkahan dalam kehidupan mereka yang memujanya. 

Bangunan-bangunan bersejarah peninggalan Kerajaan Gowa dan makam Raja-raja Gowa dianggap keramat dan dijadikan sebagai wasilah untuk bermunajat dan melaksanakan ritual, serta melepas nazar setelah mereka merasa memperoleh berkah semisal rezeki, jodoh, jabatan dan kesembuhan dari penyakit, serta berbagai keinginan dan maksud peziarah. Pemujaan terhadap roh-roh  leluhur bagi sebagian masyarakat pendukung kepercayaan tersebut, sampai saat ini masih berlangsung, walaupun perbuatan tersebut menyimpang dari aqidah Islam.

Pengunjung yang datang berziarah ke tempat-tempat spiritual yang ada di Kabupaten Gowa, bukan hanya masyarakat setempat, melainkan dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan, bahkan dari luar provinsi. Ada dua makam tua yang tidak pernah sepi dari peziarah yaitu makam Syekh Yusuf dan makam Dato ri Pa'gentungan, keduanya adalah ulama besar penyiar agama Islam di Sulawesi Selatan.

Berikut contoh tempat-tempat yang dianggap keramat dan dianggap dapat memberi keberkahan, seperti:

  • Saukang
Tempat pemujaan yang berlokasi di dusun Sanrangan Desa Je'ne Ta'lasa Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa, tepatnya di samping SD Sanrangan jalan Benteng Sombaopu sekitar 3 Km dari jalan poros Sungguminasa-Takalar. Saukang ini berada di bawah pohon kenari besar yang sudah berusia ratusan tahun.

Menurut informasi yang diperoleh dari masyarakat di sekitarnya bahwa dahulu saukang itu berbentuk rumah panggung kecil, namun seiring dengan waktu rumah tersebut sudah lapuk dimakan usia, sehingga tak dapat digunakan lagi. Oleh sebab itu masyarakat yang masih tetap mempercayai keberadaan tempat tersebut sebagai tempat pemujaan maka mereka membuat bangunan permanen dan diberi atap seng yang didalamnya dibuat kuburan agak nampak lebih sakral.

  • Batu Bikulung.
Batu Bikulung merupakan salah satu tempat keramat yang berlokasi di jalan Karaeng Loe I Kampung Sero Kelurahan Pao-Pao Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Berjarak kurang lebih 10 kilometer dari Kota Sungguminasa. Bentuk Batu Bikulung menyerupai siput menggulung yang dalam bahasa Makassar disebut bikulung = biku berarti siput, gulung = menggulung. Karena bentuknya yang aneh sehingga masyarakat penganut paham sinkretisme menganggap bahwa batu ini memiliki kekuatan supranatural yang dapat mempengaruhi pola pikir penganutnya. Batu Bikulung ini dipercaya oleh masyarakat setempat dikuasai oleh pakkammik sejenis roh halus yang menguasai tempat tersebut.
  • Balla Lompoa di Sungguminasa
Balla Lompoa terletak di pusat kota Sungguminasa berdampingan dengan bangunan Istana Tamalate dalam kawasan sejarah dan budaya lapangan Bungaya. Balla Lompoa dulunya dijadikan Istana Kerajaan Gowa, kini berubah fungsi menjadi museum tempat peninggalan benda-benda pusaka Kerajaan Gowa, termasuk benda peninggalan Raja Gowa pertama Tumanurunga (1320) yaitu Salokoa berupa mahkota yang telah dipakai oleh raja-raja Gowa seperti Ponto Janga-jangaya (gelang naga melingkart) yang terbuat dari emas seberat 985,5 gram, Pedang Sudanga (pedang sakti peninggalan Karaeng Bayo), Rante Kalompoang (kalung kebesaran) yang terbuat dari emas seberat 2,182 gram. Tamadakkaya (mata tombak tiga buah), Subang (anting-anting yang terbuat dari emas murni beratnya 287 gram jumlahnya 4 buah) Tatarapang (keris yang bersarung emas), Kancing Gaukang (perlengkapam kerajaan), Kolara (Rante Manila, kalung emas beratnya 270 gram perlengkapan upacara) medali emas, penning emas (pemberian dari Kerajaan Inggris), Cincin Gaukang yang terbuat dari emas murni.

Balla lompoa mempunyai dua kamar yang digunakan pula untuk menyimpan benda-benda pusaka kerajaan, namun ada satu kamar yang dianggap kamar khusus yaitu tempat menyimpang barang-barang peninggalan raja pertama Kerajaan Gowa yaitu Tumanurung, selain sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusaka kerajaan, kamar ini digunakan pula sebagai tempat suci untuk melaksanakan ritual, dimana selalu tersedia sesajen dan beberapa peralatan makan yang tertata rapi di atas sebuah meja kecil yang digunakan para pengunjung untuk menjamu penguasa roh halus yang diyakini oleh sebagian masyarakat tetap setia menghuni tempat tersebut. Hal ini melambangkan bahwa istana Balla Lompoa memiliki suatu kekuatan magis yang dapat mendatangkan keberkahan bagi orang-orang yang mempercayainya.

Buku BUDAYA SPIRITUAL ORANG GOWA mengambarkan beberapa perilaku peziarah pada beberapa tempat dan makam yang dianggap keramat yang terdapat di Kabupaten Gowa, seperti Saukang, Batu Bikulung, Balla Lompoa di Sungguminasa, Batu Pallantikkang, Makam Sultan Hasanuddin, Makam Aru Palakka, Balla Lompoa di Bajeng, Makam syekh Yusuf, Makam Dato ri Pa'gentungang dan Makam Daeng Paccalayya. Buku ini merupakan salah satu Koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


BUDAYA SPIRITUAL ORANG GOWA 
Penulis: Raodah
Editor: Abdul Hafid
Penerbit: Pustaka Refleksi bekerjasama Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit:  2014
ISBN: 978-979-3570-75-4