Showing posts with label Daeng Serang Dakko. Show all posts
Showing posts with label Daeng Serang Dakko. Show all posts

October 26, 2021

PAKARENA SAMBORI'NA DALAM ETNIS MAKASSAR


Tari pakarena sambori'na merupakan tari tradisional peninggalan masa lampau di Makassar. Kehadiran ini tidak diketahui dengan pasti, akan tetapi masyarakat etnis Makassar meyakini bahwa tari pakarena terkait dengan kemunculan tu manurung di bumi. Kisah tu manurung ini merupakan seorang manusia jelmaan (bidadari) yang turun dari langit dengan menggunakan selendang yang melambai tertiup angin. Bidadari tersebut turun di awal malam dan meninggalkan bumi ketika matahari mulai muncul dari ufuk timur, karena pakarena sebagai simbol dari gerakan tu manurung/manusia jelmaan (bidadari) yang datang ke bumi untuk mengajarkan pada manusia tentang tata krama dan tata kehidupan dalam masyarakat.

Penamaan pakarena sambori'na oleh Angrong guru pakarena Daeng Serang Dakko lebih memiliki makna yang lebih luas dan rasa kekeluargaan, yakni kita semua adalah satu ikatan darah, satu keluarga dan kerabat, dibanding pakarena paulu jaga dengan pakarena sambori'na

Kebiasaan masyarakat Makassar dalam setiap hajatan, misalnya upacara melepas nasar, pabbuntingan (pernikahan), khitanan adalah dengan mempertunjukkan pakarena semalaman. Hajatan bersifat sakral, terlebih dahulu melakukan appalili (pemotongan hewan, biasanya seekor kerbau dengan menyimpan kepalanya dalam wala suji), kemudian i-salonrengi. Setelah prosesi appalili dan salonreng selesai dilanjutkan dengan paula jaga dengan menampilkan pakarena sambori'na/samboritta dan pada pertengahan malam pakarena bisei ri lauk dan ditutup dengan jangan lea-lea.

Adapun ragam gerak tari pakarena sambori'na akan dideskripsikan sesuai dengan teknik volume (ukuran fisik) yang digunakan sebagai berikut:

  1. Ragam Bunga Karena (penghormatan)
  2. Ragam Amme'lu (meliuk)
  3. Ragam Ammempo (duduk rapat)
  4. Ragam Tile (seretan kaki diikuti lirik mata)
  5. Ragam Alleko Bo'dong (melingkar sempurna)
  6. Ragam Kipasa Ta'sungke (kipas terbuka)
  7. Ragam Sitaklei (berganti tempat)
  8. Ragam Appalakkana (mohon pamit/izin)
Masyarakat tradisional Makassar yang mempercayai keberadaan pakarena, tidak sekedar menampilkan pakarena sebagai ajang tontonan dalam sebuah hajat yang mereka sebut a'jaga atau appaenteng jaga (pesta jaga), melainkan menempatkannya sebagai sebuah keharusan bahkan kewajiban untuk dilaksanakan dalam daur hidup. Mereka mempercayai bahwa manakala kebiasaan leluhurnya tidak dilaksanakan, maka kelak akan ditimpa ketidaktentraman dalam menjalani hidup dan penghidupan. Akan tetapi bagi masyarakat yang mempercayai ajaran islam secara murni, pakarena ditempatkan sebagai hiburan, sekaligus sebagai prestise bagi status sosial penyelenggara, serta penanda adanya ikatan leluhur sebagai pewaris pakarena.

Buku PAKARENA SAMBORI'NA DALAM ETNIS MAKASSAR membahas tentang pakarena dalam masyarakat etnis Makassar, pakarena sambori'na dalam bentuk gerak serta Daeng Serang Dakko sebagai Angrong guru pakarena dan Maestro gendang Makassar. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin, Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PAKARENA SAMBORI'NA DALAM ETNIS MAKASSAR
Penulis" Nurwahidah
Penerbit: Pustaka Almaida
Tempat Terbit: Gowa
ISBN: 978-602-5954-95-5