Tari pakarena sambori'na merupakan tari tradisional peninggalan masa lampau di Makassar. Kehadiran ini tidak diketahui dengan pasti, akan tetapi masyarakat etnis Makassar meyakini bahwa tari pakarena terkait dengan kemunculan tu manurung di bumi. Kisah tu manurung ini merupakan seorang manusia jelmaan (bidadari) yang turun dari langit dengan menggunakan selendang yang melambai tertiup angin. Bidadari tersebut turun di awal malam dan meninggalkan bumi ketika matahari mulai muncul dari ufuk timur, karena pakarena sebagai simbol dari gerakan tu manurung/manusia jelmaan (bidadari) yang datang ke bumi untuk mengajarkan pada manusia tentang tata krama dan tata kehidupan dalam masyarakat.
Penamaan pakarena sambori'na oleh Angrong guru pakarena Daeng Serang Dakko lebih memiliki makna yang lebih luas dan rasa kekeluargaan, yakni kita semua adalah satu ikatan darah, satu keluarga dan kerabat, dibanding pakarena paulu jaga dengan pakarena sambori'na
Kebiasaan masyarakat Makassar dalam setiap hajatan, misalnya upacara melepas nasar, pabbuntingan (pernikahan), khitanan adalah dengan mempertunjukkan pakarena semalaman. Hajatan bersifat sakral, terlebih dahulu melakukan appalili (pemotongan hewan, biasanya seekor kerbau dengan menyimpan kepalanya dalam wala suji), kemudian i-salonrengi. Setelah prosesi appalili dan salonreng selesai dilanjutkan dengan paula jaga dengan menampilkan pakarena sambori'na/samboritta dan pada pertengahan malam pakarena bisei ri lauk dan ditutup dengan jangan lea-lea.
Adapun ragam gerak tari pakarena sambori'na akan dideskripsikan sesuai dengan teknik volume (ukuran fisik) yang digunakan sebagai berikut:
- Ragam Bunga Karena (penghormatan)
- Ragam Amme'lu (meliuk)
- Ragam Ammempo (duduk rapat)
- Ragam Tile (seretan kaki diikuti lirik mata)
- Ragam Alleko Bo'dong (melingkar sempurna)
- Ragam Kipasa Ta'sungke (kipas terbuka)
- Ragam Sitaklei (berganti tempat)
- Ragam Appalakkana (mohon pamit/izin)