Perahu layar tradisional Nusantara pernah menjadi simbol kejayaan pelayaran Indonesia sekaligus nadi utama perdagangan antarpulau. Hingga akhir abad ke-20, armada pinisi Bugis tercatat sebagai armada kapal layar terbesar yang masih beroperasi di dunia. Pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an, ratusan perahu bertiang tinggi memenuhi pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta dan Kali Mas di Surabaya, mengangkut kayu dari Kalimantan dan kembali membawa berbagai kebutuhan masyarakat kawasan timur Indonesia.
Armada pinisi bukan sekadar alat transportasi laut, melainkan bagian dari sistem ekonomi rakyat yang menghubungkan pelabuhan besar dengan pelabuhan-pelabuhan kecil di Maumere, Larantuka, Ende, Kupang, hingga Ujungpandang (Makassar). Perahu-perahu ini dibangun di galangan tradisional di pantai-pantai terpencil Sulawesi, seperti Tanah Biru, Bira, dan Teluk Bone, melalui keterampilan turun-temurun para perajin kayu. Proses pembuatannya mencerminkan pengetahuan lokal, teknologi tradisional, sekaligus ikatan sosial antara pemilik kapal, pembuat, dan awaknya.
Namun, sejak pertengahan 1970-an, arus modernisasi mulai mengubah wajah pelayaran tradisional. Dorongan pemasangan mesin motor pada perahu layar melahirkan perahu layar motor (PLM) yang diharapkan lebih efisien. Kenyataannya, banyak masalah muncul. Rancangan lambung pinisi yang tidak disiapkan untuk mesin menyebabkan kerusakan struktural, sementara biaya perawatan, bahan bakar, dan kebutuhan tenaga ahli justru membebani pemilik kapal. Dalam waktu singkat, puluhan PLM dilaporkan tenggelam di Laut Jawa, menandai kemunduran armada layar tradisional Nusantara.
Modernisasi ini juga membawa dampak sosial. Kepemilikan kapal yang sebelumnya berbasis keluarga dan kekerabatan beralih ke perusahaan-perusahaan besar di kota. Awak kapal berubah dari sanak saudara menjadi pekerja bergaji, sementara perajin di pantai terpencil kehilangan peran sentralnya dalam dunia pelayaran rakyat.
Di tengah perubahan tersebut, beberapa perahu tradisional tetap bertahan. Perahu patorani Makassar masih digunakan untuk menangkap ikan terbang dan telurnya yang bernilai tinggi, sementara pelaut Mandar dikenal dengan perahu-perahu yang tangguh dan terawat, seperti leti-leti dan pangkur bercadik ganda yang mampu mengarungi samudera lepas. Keberadaan perahu-perahu ini menjadi penanda hidup tradisi maritim yang belum sepenuhnya hilang.
Buku Perahu Layar Nusantara hadir sebagai dokumentasi penting tentang dunia pelayaran tradisional Indonesia yang kaya, sekaligus tengah menghadapi berbagai tantangan zaman. Buku ini membahas perkembangan perahu layar dari masa ke masa, teknik pembuatan perahu tradisional, kekhasan perahu layar Makassar, hingga masuknya peralatan kapal model Barat dan proses modernisasi yang menyertainya. Pembahasan tentang pelabuhan-pelabuhan perahu layar tradisional melengkapi gambaran ekosistem maritim rakyat Nusantara.
Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi di Jl. Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang, Makassar. Kehadirannya memperkuat upaya pelestarian dan diseminasi pengetahuan maritim kepada masyarakat luas.
Dengan pendekatan historis dan kultural, Perahu Layar Nusantara tidak hanya merekam perubahan teknologi, tetapi juga menyingkap dilema antara kemajuan dan pelestarian tradisi. Buku ini menjadi pengingat bahwa di balik surutnya layar-layar tradisional, tersimpan identitas bangsa maritim yang patut dicatat dan dijaga.
Penulis : Tim Penulis Rosda Group
Penerbit : PT. Remaja Rosdakarya
Tempat Terbit : Bandung
Tahun Terbit : 1995
ISBN : 979-514-463-4
No comments:
Post a Comment