Showing posts with label Lontara'. Show all posts
Showing posts with label Lontara'. Show all posts

August 23, 2022

LONTARA’ MINRURANNA SUPPA TRANSLITERASI DAN TERJEMAHAN

Lontara’ atau lontaraq adalah salah satu karya Bugis yang sudah memasyarakat ditengah-tengah masyarakat Bugis sejak zaman dahulu. Sebagaimana sastra budaya bahasa lainnya, sastra Bugis juga memiliki sifat-sifat tertentu yang harus diperhatikan, selain itu sastra Bugis juga potensial dalam membentuk kebudayaan nasional yang akan memberikan corak dan warna bagi karakteristik pembentukan kepribadian bangsa.

Lontara’ merupakan lembaran yang berisi tulisan yang telah terhimpunkan. lontara’ juga salah satu peninggalan kerajaan Bugis-Makassar yang pernah berjaya di masa lalu. Naskah lontara’ awalnya dituliskan di atas daun Lontar yang kemudian digulung dan disimpan. Teknik penulisan seperti ini juga dilakukan di berbagai daerah lain yang ada di Indonesia. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa aksara lontara’ merupakan aksara turunan dari Pallawa yang berasal dari India dan dibawa ke Nusantara pada masa penyebaran agama Hindu. Dari kepenulisan aksara lontara di masa lalu jugalah epos La Gagaligo lahir dan menjadi epos terpanjang di dunia melebihi panjang epos Mahabharata yang berasal dari India.

Naskah lontara’ memegang peran penting dalam kehidupan bermasyarakat Bugis, sebab di dalamnya terdapat catatan sejarah, juga terhimpun catatan mengenai nailai-nilai dan kearifan lokal yang dipahami oleh orang-orang terdahulu seperti adab-adab kerajaan, ucapan para cendekiawan terdahulu hingga cerita-cerita ritual adat dahulu kala. Sayangnya dari waktu ke waktu, keberadaan naskah ini juga semakin jarang ditemukan.

Penulisan dan pencetakan naskah lontara’ juga dilakukan pada masa Belanda menduduki Indonesia. Naskah yang dihasilkan saat itu kini masih tersimpan di perpustakaan Leiden, Belanda. Proses penerjemahan dan penelitian naskah lontara’ masih jarang karena penggunaan dan pembelajaran bahasa daerah semakin tergerus oleh zaman. Belum lagi penggunaan bahasa yang digunakan pada naskah kuno tersebut menggunakan bahasa daerah klasik yang sarat dengan kata-kata isyarat dan tidak langsung menunjuk pada arti sebenarnya, jadi untuk membaca dan menerjemahkannya sangat membutuhkan keahlian khusus.

Andi Maryam dan Nur Ilmiyah memberikan usaha dan upaya khusus dalam melakukan penerjemahan naskah LONTARA’ MINRURANNA SUPPA. Selain itu, dorongan untuk melestarikan dan merakyatkan bahasa dan aksara Bugis juga semakin kuat sebab sumbernya sudah hampir punah. Maka dari itu, kebudayaan ini harus diselamatkan agar budaya lontara’ dapat terus terjaga dan dilestarikan. Rasa tanggung jawab untuk melestarikan budaya ini seharusnya bukan hanya dimiliki oleh penulis dan penerjemah buku ini, namun oleh seluruh generasi lintas usia khususnya generasi muda suku Bugis.

Adapun tujuan yang ingin dicapai dan hasil-hasil yang diharapkan dalm penerjemahan naskah Lontara’ mengenai sejarah daerah Suppa yaitu :

1.     Melestarikan salah satu nilai budaya yang sudah hampir punah.

2.    Memasyarakatkan kembali lontara’ dikalangan masyarakat, peneliti dan memperkenalkannya pada masyarakat luar.

3.    Menyajikan salah satu bentuk nilai sastara budaya daerah di Indonesia.

Buku transliterasi ini dapat dibaca lebih lengkap pada Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala’salapang kota Makassar.

 

LONTARA’ MINRURANNA SUPPA TRANSLITERASI DAN TERJEMAHAN

Penulis : Andi Maryam ; Nur Ilmiyah

Penerbit : De La Macca

Kota Terbit : Makassar

Tahun Terbit : 2014

ISBN : 978-602-263-065-4