Istilah "pembauran" dipakai untuk menghilangkan identitas kebudayaan minoritas dan khususnya minoritas Tionghoa. Sebagai contoh pada tahun 20-an telah ada seorang yang bernama Liem Kheng Yong yang menerjemahkan buku-buku klasik Tionghoa ke dalam Bahasa Bugis-Makassar yang ditulis dalam aksara Lontara. Gambaran ini menunjukkan bahwa unsur cerita Tionghoa tetap utuh sementara medianya adalah bahasa Makassar yang utuh pula. Hal ini menunjukkan bahwa telah ada banyak orang keturunan Tionghoa yang dapat dan fasih membaca aksara Lontara dan berbahasa Bugis-Makassar.
Kemudian pada tahun 30-an muncul Ho Eng Dji yang berhasil "mengawinkan" lagu-lagu Tionghoa dengan dendang-dendang Makassar seperti Sai-long, Ati Radja dsb. Ho Eng Dji menulis dan membawakan syair-syair Makassar dalam lagu yang bernuansa Melayu-Tionghoa. Ditambah lagi dengan kehadiran Ang Ban Tjiong yang menciptakan pantun-pantun, yang setengah berbahasa Makassar dan setengah berbahasa Melayu, maka dapat dikatakan bahwa kebudayaan Peranakan Makassar ini sangat unik.
Buku CINA PERANAKAN MAKASSAR mengungkapkan/memberikan gambaran tentang kondisi kota Makassar sebagai kota pelabuhan yang sangat ramai disinggahi oleh pelancong dari mancanegara. Sebagian di antaranya kemudian memilih untuk menetap di kota ini. Orang Cina sebagai salah satu dari sejumlah suku bangsa yang menetap di Makassar sejak berabad-abad yang lalu. Di kota ini mereka membangun komunitasnya dan membentuk komunitas/masyarakat Cina Peranakan.
Komunitas Cina Peranakan Makassar memiliki perbedaan pola sosial budaya dengan masyarakat Cina totok pada umumnya yang senantiasa memelihara kemurnian keturunan dan budaya Cinanya yang juga berbeda dengan pola sosial budaya orang Makassar.
Dalam masyarakat Cina Peranakan, khususnya pada persoalan perkawinan, memiliki adat dan budaya perkawinan yang berbeda dengan adat perkawinan orang Cina totok. Adat perkawinan mereka lebih condong pada adat dan tradisi orang Makassar, sekalipun dalam prosesi upacaranya masih ditemukan adanya adat atau tradisi dan kepercayaan Cina yang berbeda dari pola tradisi perkawinan Makassar.
Penulis: Shaifuddin Bahrum
Penyunting: Fahmi Syarif, Dafirah
Penerbit: Yayasan Baruga Nusantara
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2003
ISBN: 979-97969-0-3


