Showing posts with label cina. Show all posts
Showing posts with label cina. Show all posts

March 29, 2022

CINA PERANAKAN MAKASSAR

Istilah "pembauran" dipakai untuk menghilangkan identitas kebudayaan minoritas dan khususnya minoritas Tionghoa. Sebagai contoh pada tahun 20-an telah ada seorang yang bernama Liem Kheng Yong yang menerjemahkan buku-buku klasik Tionghoa ke dalam Bahasa Bugis-Makassar yang ditulis dalam aksara Lontara. Gambaran ini menunjukkan bahwa unsur cerita Tionghoa tetap utuh sementara medianya adalah bahasa Makassar yang utuh pula. Hal ini menunjukkan bahwa telah ada banyak orang keturunan Tionghoa yang dapat dan fasih membaca aksara Lontara dan berbahasa Bugis-Makassar.

Kemudian pada tahun 30-an muncul Ho Eng Dji yang berhasil "mengawinkan" lagu-lagu Tionghoa dengan dendang-dendang Makassar seperti Sai-long, Ati Radja dsb. Ho Eng Dji menulis dan membawakan syair-syair Makassar dalam lagu yang bernuansa Melayu-Tionghoa. Ditambah lagi dengan kehadiran Ang Ban Tjiong yang menciptakan pantun-pantun, yang setengah berbahasa Makassar dan setengah berbahasa Melayu, maka dapat dikatakan bahwa kebudayaan Peranakan Makassar ini sangat unik. 

Buku CINA PERANAKAN MAKASSAR mengungkapkan/memberikan gambaran tentang kondisi kota Makassar sebagai kota pelabuhan yang sangat ramai disinggahi oleh pelancong dari mancanegara. Sebagian di antaranya kemudian memilih untuk menetap di kota ini. Orang Cina sebagai salah satu dari sejumlah suku bangsa yang menetap di Makassar  sejak berabad-abad yang lalu. Di kota ini mereka membangun komunitasnya dan membentuk komunitas/masyarakat Cina Peranakan.

Komunitas Cina Peranakan Makassar memiliki perbedaan pola sosial budaya dengan masyarakat Cina totok pada umumnya yang senantiasa memelihara kemurnian keturunan dan budaya Cinanya yang juga berbeda dengan pola sosial budaya orang Makassar. 

Dalam masyarakat Cina Peranakan, khususnya pada persoalan perkawinan,  memiliki adat dan budaya perkawinan yang berbeda dengan adat perkawinan orang Cina totok. Adat perkawinan mereka lebih condong pada adat dan tradisi orang Makassar, sekalipun dalam prosesi upacaranya masih ditemukan adanya adat atau tradisi dan kepercayaan Cina yang berbeda dari pola tradisi perkawinan Makassar.

Buku ini membahas tentang sebuah komunitas peranakan yang telah lama hidup di Makassar dan telah membaur dan membentuk tradisi-tradisi mereka sendiri yang banyak kemiripannya dengan kebudayaan Makassar, seperti hanya Tionghoa di pulau Jawa yang juga telah membaur dengan masyarakat setempat, tanpa kehilangan identitas aslinya.


CINA PERANAKAN MAKASSAR
Penulis: Shaifuddin Bahrum
Penyunting: Fahmi Syarif, Dafirah
Penerbit: Yayasan Baruga Nusantara
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2003
ISBN: 979-97969-0-3




March 31, 2020

PANDA RAKSASA



Panda raksasa hitam-putih telah lama dikaitkan dengan Cina dan dijadikan simbol harta nasional. Panda raksasa telah muncul di lukisan-lukisan Cina selama ribuan tahun. Mereka juga merupakan hewan kesayangan di kebun binatang seluruh dunia. Cara mereka berjalan dan memanjat mirip beruang. Seperti juga beruang panda bisa berbahaya dan sangat gesit, jago memanjat pohon dan menggunakan cakarnya untuk mencengkeram batang pohon saat memanjat. Tak seperti beruang, panda tidak berhibernasi.

Anak panda terlahir buta dan hanya berbobot 142 gram dan gundul. Bulu khas mulai tumbuh seiring bertambahnya usia dan bersama ibunya sampai 3 tahun. Panda raksasa bertahan hidup hingga 20 tahun di alam dengan ukuran hingga 136 kilogram. 

Panda raksasa hidup pada ketinggian antara 1.524 sampai 3.048 meter di hutan berdaun lebar dan berdaun jarum yang dingin serta sering hujan, dengan pepohonan bambu yang lebat. Di alam bebas, 99 persen makanan panda raksasa adalah bambu. Panda raksasa memiliki geraham besar dan rahang kuat untuk mengunyah bambu yang keras serta memiliki tulang pergelangan tambahan yang disebut “jempol panda” untuk membantu memegang dan memakan bambu.

Panda raksasa dewasa menghabiskan sampai 12 jam sehari untuk makan. Selain itu padan mengembik, mirip seperti suara domba atau anak kambing. Itu adalah suara bersahabat yang digunakan saat saling menyapa.


Kondisi panda raksasa terancam punah akibat kerusakan habitat dan berkurangnya bambu. Ada sekitar 1.600 ekor panda di alam dan 160 ekor di kebun binatang.


NAT GEO ATLAS HEWAN LIAR
Tim Penelusur: National Geographic Washington, D.C.
Penerbit: Erlangga
Tempat Terbit: Jakarta