Showing posts with label Robert Wolter Monginsidi. Show all posts
Showing posts with label Robert Wolter Monginsidi. Show all posts

November 17, 2025

Jejak Kaki Wolter Mongisidi

 


Judul:                           Jejak Kaki Wolter Mongisidi

Penulis:                        S. Sinansari Ecip

Editor:                          -

Penerbit:                     Pustaka Refleksi

Tahun Terbit:             2008

Jumlah Halaman:    viii + 134

ISBN:                            9793570997

Penulis Resensi:       Suharman, S.S., MIM.

Robert Wolter Mongisidi adalah seorang tokoh pejuang Sulawesi Selatan, yang berasal dari Manado, Sulawesi Utara. Robert Wolter Mongisidi yang biasa dipanggil ‘Bote’ dirumahnya, lahir di Malalayang sebuah dusun kecil diluar kota Manado, pada 14 Februari 1925. Dia berasal dari Suku Bantik, salah satu Sub Suku  Minahasa di Sulawesi Utara, tinggal di pesisir dan sekitar Kota Manado, terutama di Malalayang, Kalasey, dan kawasan utara Manado seperti Buha dan Bengkol.

Robert Wolter Mongisidi termasuk salah seorang pelajar yang cerdas dimasanya. Dia menguasai bahasa asing seperti bahasa Inggris, Jerman, Belanda dan Jepang. Selain itu dia juga banyak menulis sajak dan puisi selama masa perjuangannya, termasuk pada saat menjelang eksekusinya.

Awalnya Wolter ikut kakaknya ke Luwuk (Sulawesi Tengah) tapi kemudian pindah ke Makassar, atas ajakan kakaknya yang tertua yang kebetulan menjadi seorang Polisi di Makassar. Selama di Makassar, Wolter sekolah di SMP Nasional  (sekarang sekolah sekolah Perguruan Nasional di Jalan Dr. Ratulangi).

Di Makassar, Wolter dan kawan kawannya siswa SMP Nasional turut aktif dalam laskar laskar pemuda yang menentang penjajahan Belanda. Ada Laskar Pemberontak Indonesia Sulawesi (LAPRIS), ada Laskar Harimau Indonesia. Laskar Harimau Indonesia terdiri dari dua kelompok salah satu kelompok dipimpin oleh Wolter dan dua orang lainnya.

Ada 12 bagian dalam buku ini yang mengisahkan perjuangan Robert Wolter Mongisidi dan kawan kawannya. Bagian akhir diuraikan tentang kata dan nama nama asing yang digunakan, daftar laskar perjuangan yang menjadi anggota LAPRIS, daftar ekspedisi dari Jawa dan ditutup dengan biografi singkat penulis.

Buku ini banyak menampilkan percakapan perkapan antara para tokohnya, termasuk percakapan antara para pejuang kemerdekaan dengan para tentara Belanda (KNIL), atau percakapan antara sesama pejuang. Termasuk pula ada percakapan antara pihak Belanda yang sedang mencari pemberontak Wolter dan kawan kawannya.

Penulis buku ini meneliti dengan seksama dan menggunakan banyak sumber informasi termasuk hasil wawancara terkait perjuangan Robert Wolter Mongisidi. Meskipun terasa singkat, namun ulasannya cukup padat dan dapat dijadikan bahan referensi bagi siswa, mahasiswa, masyarakat umum maupun peneliti, yang ingin menulis lebih lengkap tentang hidup dan perjuangan Robert Wolter Mongisidi.

Membaca buku ini juga membawa kita ke masa masa perjuangan di kota Makassar dan sekitarnya. Selama ini lebih banyak buku yang membahas tentang serunya perjuangan di tanah Jawa atau Sumatra, sehingga perjuangan rakyat Sulawesi juga bisa berbicara di tingkat Nasional. Buku ini dapat dijadikan salah satu sumber sejarah lokal Sulawesi Selatan, khususnya sejarah perjuangan Robert Wolter Mongisidi dan kawan kawan.

Pembaca yang ingin mendalami kisah perjuangan Robert Wolter Mongisidi dan kawan kawan, munkin akan merasa kurang dalam hal analisis. Buku ini lebih ke pembahasan deskriptif dibanding analitis. Hasil wawancara yang digunakan sebagai sumber informasi juga oleh sebagian masyarakat dianggap tidak terlalu valid, karena bisa saja informan yang diwawancarai tidak lagi mengingat peristiwa peristiwa dimasa silam, terutama jika informannya adalah orang yang sudah sepuh.

Adanya dua penerbit yang menerbitkan buku ini pada masa yang berbeda, juga dapat membingungkan pembaca, yang mana yang lebih lengkap, karena bisa saja ada perbedaan antara penerbitan pertama (Sinar Harapan 1981) dan penerbitan kedua (Pustaka Refleksi, 2008).

Buku ini sangat bermanfaat dibaca oleh para generasi muda, pemuda, pelajar dan mahasiswa. Banyaknya sumber informasi wawancara (oral history) dapat dijadikan langkah awal sebelum menggunakan sumber informasi primer, buku buku dan arsip perjuangan yang ada di Perpustakaan atau kantor Arsip.  

Buku ini koleksi Referensi, Bidang Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. 




January 20, 2021

KUBU DI ATAS BUKIT

Tojeng adalah pahlawan muda dari Makassar, seorang pemberani, pantang mudur dalam menghadapi berbagai hal terutama menghadapi pertempuran melawan penjajah Belanda. Ia ditugaskan oleh pamannya mengantar beberapa bungkusan yang berisi makanan untuk keperluan penghuni kubu.

Pada suatu waktu, selagi Tojeng mengatar makanan, di perjalanan ia bertemu dengan pemuda penghuni kubu yang bernama Daeng Bote. Keduanya menjadi bersahabat dan bekerja sama dalam merencanakan strategi perang.

Dengan modal semangat yang tinggi dan benda pusaka peninggalan ayahnya serta lencana merah putih yang digantungkan di kantong bajunya, bersama Tentara Bajeng, ia mengadakan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Lambat laun Belanda mundur, maka kesempatan ini dimanfaatkan oleh Tentara Bajeng untuk mengadakan upacara mengibarkan bendera sebagai tanda pembebasan diri dari penjajah.

Dibalik kebahagiaan, penderitaan dan kesedihan pun dirasakannnya pula oleh masyarakat Kubu. Salah seorang dari tentara Bajeng yang sudah lama berjasa ditangkap oleh Belanda dan dihukum mati. Dia adalah Robert Wolter Monginsidi dengan sebutan sehari-hari Daeng Bote.

Buku KUBU DI ATAS BUKIT salah satu koleksi novel tentang pahlawan Robert Wolter Monginsidi. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KUBU DI ATAS BUKIT
Penulis: S. Sinansari Ecip
Penerbit: Alumni
Tempat Terbit: Bandung
Tahun Terbit: 1991
ISBN: 979-414-183-6

November 26, 2020

JEJAK KAKI WOLTER MONGISIDI



Robert Wolter Monginsidi adalah tokoh pejuang, dalam kamus hidupnya sejak kecil, dia tidak kenal istilah "tidak tahu". Nama panggilan kesayagan dirumahnya ialah Bote, dari Bahasa Bantik yang artinya "mari". Bote menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jerman, dan Jepang dengan baik. 

Wolter menjadi salah satu orang yang ikut dalam pembentukan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS). Meskipun masih muda, keberanian dan kemampuan sudah teruji. Monginsidi tidak kenal takut dan menyerah melawan Belanda yang bersenjatakan lebih canggih. Ia seorang pemuda pemberani, teguh iman, disiplin, dan baik hati. Juga dia seorang berjiwa seni seperti hanya Bung Karno. Ia pernah menulis sejumlah sajak. Sajak-sajak tersebut menyajikan konflik batin yang hebat, perjuangan jiwa saat menanti eksekusi; sajak-sajak religius serta sajak-sajak perjuangan yang penuh api kehidupan.

Dalam hal sikap hidup dan kepribadiannya, lebih terlihat nyata pada saat dia berada dalam penjara Belanda guna menantikan eksekusinya. Ia tidak mau meminta grasi dan ampun, bahkan dengan gagah menulis surat-surat kepada saudara-saudaranya, yang isinya memastikan tekadnya bahwa ia dengan rela dan akan dengan tabah menerima hukumannya. Dalam Alkitab yang digenggam saat menghadapi eksekusi regu tembak, terselip secarik kertas bertulis “Setia Hingga Akhir di Dalam Keyakinan

Robert Wolter Monginsidi pun gugur pada usia muda, namun bukan mati sia-sia. Gugur demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dan dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia dan mendapat penghargaan tertinggi Negara Indonesia, Bintang Mahaputra (Adipradana).

Buku JEJAK KAKI WOLTER MONGISIDI disusun berdasarkan pada sebagian besar penelitian lapangan yang mendalam, melalui wawancara yang direkam, dan tulisan yang pernah dimuat surat kabar "Suara Merdeka", Semarang 1978. Buku ini merupakan salah satu koleksi refrensi, Layanan Perpustakaan Umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar.


JEJAK KAKI WOLTER MONGISIDI
Penulis: S. Sinansari Ecip
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008
ISBN: 979-3570-99-7