Judul: Jejak Kaki Wolter
Mongisidi
Penulis: S. Sinansari Ecip
Editor: -
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tahun
Terbit: 2008
Jumlah
Halaman: viii + 134
ISBN: 9793570997
Penulis
Resensi: Suharman, S.S., MIM.
Robert Wolter Mongisidi
adalah seorang tokoh pejuang Sulawesi Selatan, yang berasal dari Manado,
Sulawesi Utara. Robert Wolter Mongisidi yang biasa dipanggil ‘Bote’ dirumahnya,
lahir di Malalayang sebuah dusun kecil diluar kota Manado, pada 14 Februari
1925. Dia berasal dari Suku Bantik, salah satu Sub Suku Minahasa di Sulawesi Utara, tinggal di pesisir
dan sekitar Kota Manado, terutama di Malalayang, Kalasey, dan kawasan utara
Manado seperti Buha dan Bengkol.
Robert Wolter Mongisidi
termasuk salah seorang pelajar yang cerdas dimasanya. Dia menguasai bahasa
asing seperti bahasa Inggris, Jerman, Belanda dan Jepang. Selain itu dia juga
banyak menulis sajak dan puisi selama masa perjuangannya, termasuk pada saat
menjelang eksekusinya.
Awalnya Wolter ikut
kakaknya ke Luwuk (Sulawesi Tengah) tapi kemudian pindah ke Makassar, atas
ajakan kakaknya yang tertua yang kebetulan menjadi seorang Polisi di Makassar. Selama
di Makassar, Wolter sekolah di SMP Nasional
(sekarang sekolah sekolah Perguruan Nasional di Jalan Dr. Ratulangi).
Di Makassar, Wolter
dan kawan kawannya siswa SMP Nasional turut aktif dalam laskar laskar pemuda
yang menentang penjajahan Belanda. Ada Laskar Pemberontak Indonesia Sulawesi
(LAPRIS), ada Laskar Harimau Indonesia. Laskar Harimau Indonesia terdiri dari
dua kelompok salah satu kelompok dipimpin oleh Wolter dan dua orang lainnya.
Ada 12 bagian dalam
buku ini yang mengisahkan perjuangan Robert Wolter Mongisidi dan kawan kawannya.
Bagian akhir diuraikan tentang kata dan nama nama asing yang digunakan, daftar
laskar perjuangan yang menjadi anggota LAPRIS, daftar ekspedisi dari Jawa dan
ditutup dengan biografi singkat penulis.
Buku ini banyak
menampilkan percakapan perkapan antara para tokohnya, termasuk percakapan
antara para pejuang kemerdekaan dengan para tentara Belanda (KNIL), atau
percakapan antara sesama pejuang. Termasuk pula ada percakapan antara pihak
Belanda yang sedang mencari pemberontak Wolter dan kawan kawannya.
Penulis buku ini meneliti
dengan seksama dan menggunakan banyak sumber informasi termasuk hasil wawancara
terkait perjuangan Robert Wolter Mongisidi. Meskipun terasa singkat, namun ulasannya
cukup padat dan dapat dijadikan bahan referensi bagi siswa, mahasiswa,
masyarakat umum maupun peneliti, yang ingin menulis lebih lengkap tentang hidup
dan perjuangan Robert Wolter Mongisidi.
Membaca buku ini juga
membawa kita ke masa masa perjuangan di kota Makassar dan sekitarnya. Selama
ini lebih banyak buku yang membahas tentang serunya perjuangan di tanah Jawa
atau Sumatra, sehingga perjuangan rakyat Sulawesi juga bisa berbicara di
tingkat Nasional. Buku ini dapat dijadikan salah satu sumber sejarah lokal
Sulawesi Selatan, khususnya sejarah perjuangan Robert Wolter Mongisidi dan
kawan kawan.
Pembaca yang ingin
mendalami kisah perjuangan Robert Wolter Mongisidi dan kawan kawan, munkin akan
merasa kurang dalam hal analisis. Buku ini lebih ke pembahasan deskriptif
dibanding analitis. Hasil wawancara yang digunakan sebagai sumber informasi
juga oleh sebagian masyarakat dianggap tidak terlalu valid, karena bisa saja
informan yang diwawancarai tidak lagi mengingat peristiwa peristiwa dimasa
silam, terutama jika informannya adalah orang yang sudah sepuh.
Adanya dua penerbit
yang menerbitkan buku ini pada masa yang berbeda, juga dapat membingungkan pembaca,
yang mana yang lebih lengkap, karena bisa saja ada perbedaan antara penerbitan pertama
(Sinar Harapan 1981) dan penerbitan kedua (Pustaka Refleksi, 2008).
Buku ini sangat bermanfaat
dibaca oleh para generasi muda, pemuda, pelajar dan mahasiswa. Banyaknya sumber
informasi wawancara (oral history) dapat dijadikan langkah awal sebelum menggunakan
sumber informasi primer, buku buku dan arsip perjuangan yang ada di
Perpustakaan atau kantor Arsip.
Buku ini koleksi Referensi,
Bidang Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi
Selatan.



