Judul: Manusia Makassar
Penulis: Prof. Dr. Hj. Sugira Wahid
Editor: -
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tahun
Terbit: 2007
Jumlah
Halaman: ix + 149
ISBN: 9793570245
Penulis
Resensi: Suharman, S.S., MIM.
Makassar
adalah nama satu suku bangsa di Indonesia dan juga nama daerah atau kota di
Sulawesi Selatan, bagian timur Indonesia. Penulis buku ini, Prof. Dr. Hj.
Sugira Wahid membahas adat istiadat suku Makassar beserta berbagai
permasalahannya. Buku ini sebenarnya mengikuti tren penulisan tentang manusia
dari suatu daerah tertentu, diawali dengan buku Manusia Indonesia karya Mochtar
Lubis, kemudian ada buku Manusia Sunda oleh Ajib Rosidi, dan judul Manusia
lainnya.
Buku
ini Manusia Makassar, dibagi menjadi 5 bagian, diawali dengan pengantar
penerbit dan pengantar dari penulis. Selanjutnya bagian awal ‘Pendahuluan’
menguraikan tentang pengertian, wujud dan isi Kebudayaan, termasuk juga
kerangka kebudayaan, peradaban, upacara tradisional, simbol upacara tradisional
dan adat istiadat.
Selanjutnya
dibahas tentang Makassar sebagai group etnis, juga sebagai nama kerajaan,
sebagai ibukota kerajaan, asal Makassar dalam legenda, perkembangan huruf
Lontara dan daerah pemukiman dan bahasa Makassar. Dijelaskan pula tentan
masyarakat Makassar, kehidupan adat dan feodalisme, dan masyarakat modern.
Nilai
budaya Makassar dibahas dalam bagian berikutnya. Diantara pokok bahasan pada
bagian ini misalnya hubungan nilai, norma dan sanksi, sumber nilai, perjanjian
antar kerajaan, dan nilai nilai Kebudayaannya.
Terakhir
adalah bagian bagian adat istiadat suku Makassar, termasuk rumah adat Makassar,
dimana terdapat perbedaan antara rumah bangsawan dan rumah masyarakat biasa. Misalnya
bagian Timbaksela yang bersusun, semakin banyak susunan Timbaksela-nya
semakin tinggi kebangsawanan pemilik rumah tersebut.
Pada
jenis pakaian tradisional yang disebut Baju Bodo’, warna yang digunakan oleh
perempuan Makassar mengandung makna tertentu. Dijelaskan pada bagian ini
misalnya baju Bodo’ warna hijau hanya dipakai oleh putri putri bangsawan,
sedangkan warna merah untuk gadis remaja, merah tua untuk yang telah menikah,
ungu untuk janda, hitam untuk yang sudah tua dan putih untuk inang pengasuh.
Selain baju bodo’ ada juga yang namanya baju labbu yang jenisnya
panjang.
Adat
upacara perkawinan orang Makassar juga diuraikan pada bagian akhir buku ini.
Adat perkawinan yang dibahas adalah adat perkawinan suku Makassar yang ada di
daerah Gowa. Selanjutnya ada sistem kekerabatan orang Makassar, prinsip
keturunan, stratifikasi sosial sistem religi, dan juga diberikan contoh pantun
pemanggil pengantin yang biasa disebut “Pakkiyo’ Bunting”. Pakkiyo’
Bunting ini digunakan saat mempelai pengantin laki laki datang ke pengantin
perempuan. Pihak pengantin perempuan dan pihak pengantin laki laki akan saling
berbalas pantun sebelum akhirnya mempertemukan kedua mempelai. Bagian akhir ini
ditutup dengan tata cara pengurusan jenazah pada suku Makassar.
Buku
ini cukup lengkap membahas tentang suku Makassar dengan adat istiadat dan
tradisinya. Bagi orang yang ingin mendalami pengetahuannya tentang suku Makassar,
maka buku bisa menjadi rekomendasi. Selain membahas asal usul kota Makassar,
juga membahas tentang Lontara, bahasa Makassar, adat istiadat, rumah adat,
pakaian tradisional, sistem kekerabatan bahkan sampai pengurusan jenazah.
Kekurangan
buku ini adalah kurangnya ulasan atau review dari para pembaca sehingga sehingga
sulit mengetahui kekuatan dan kelemahan buku berdasarkan pengalaman dan penilai
objektif pembaca. Buku ini juga sulit ditemukan di toko buku, karena diterbitkan
dengan jumlah terbatas. Untuk mengaksesnya, pembaca harus ke Perpustakaan
daerah atau Perpustakaan Provinsi.
Buku ini koleksi Layanan
Umum Perpustakaan, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Sulawesi Selatan.

