Sungguminasa merupakan ibukota Kabupaten Gowa yang terletak di Kecamatan Somba Opu. Menurut riwayatnya, asal usul Sungguminasa dulunya kampung Tompobalang. Nama Tompobalang ini diberikan orang karena daerah tersebut merupakan sebuah daratan yang dikelilingi oleh hamparan rawa-rawa, Tompobalang berasal dari kata "Tompo" berarti daratan dan "Balang" berarti "'rawa-rawa".
Pada bagian selatan Tompobalang terdapat Sungai Jekneberang; di bagian timur, tepatnya di Cambaya dan Batang Kaluku penuh dengan rawa-rawa, pada bagian barat tepatnya di Lambaselo dan Pandang-pandang juga penuh rawa-rawa yang daerah tersebut banyak ditumbuhi pohon "pandang" (nenas). Itulah sebabnya daerah tersebut dinamakan Pandang-pandang (sebutan orang Makassar), kemudian pada bagian utara, tepatnya di belakang Agraria Gowa membujur ke timur dan ke barat juga penuh rawa-rawa dan ditumbuhi mata air. Itulah sebabnya daerah itu disebut Kampung Timbuseng (Timbuseng berarti mata air). Timbuseng ini menurut riwayat dulu, airnya dipakai untuk mengairi sawah di Lonjok Boko, yakni tanah kerajaan yang letaknya di sekitar Kantor Bupati Gowa sekarang.
Tompobalang ini menurut riwayatnya di masa lalu dipimpin oleh seorang pemimpin kaum yang bergelar Karaeng Tompobalang. Pada masa pemerintahan Raja Gowa XXVII I Mallisujawa Daeng Ri Boko, Arung Mampu, Karaeng Tompobalang Sultan Maduddin, Tumenanga Ri Tompobalang (1767-1769) daerah ini dikuasai Kerajaan Gowa. Sebelum beliau wafat pernah berpesan, "Besok lusa di Tompobalang ini banvak orang yang bermukim dan bisa mendapatkan kebahagiaan dalam mencapai cita-citanya (Tau Sunggu Ri Minasanna)". Selama beberapa tahun kemudian setelah beliau wafat impiannya terbukti dan banyakorang yang bermukim di Tompobalang sehingga daerah tersebut berubah nama menjadi Sungguminasa.
Pada Abad XVIII, Belanda mulai memusatkan perhatiannya ke Sungguminasa dengan jalan mendudukinya. Raja Gowa XXXIV waktu itu dipegang oleh I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang Sultan Husain Tamenanga Ri Bundukna (1895-1906) mengadakan perlawanan terhadap Belanda yang menduduki kota Sungguminasa. Pada masa itu, Raja Gowa I Makkulau kalah perang dan gugur di medan perang. Itulah sebabnya beliau mendapat gelar "Tumenanga Ri Bundukna" (orang yang gugur dalam peperangan). Atas kemenangan itu, Belanda membentuk federasi di Gowa yang berpusat di Sungguminasa.
I Makkulau digantikan oleh I Mangi-mangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin Tumenanga Ri Sungguminasa (1936-1946). Beliaulah yang meneruskan perjuangannya dan atas prakarsanya, ia memindahkan istana Kerajaan Gowa dari Jongaya ke Sungguminasa pada tahun 1936. Istana Kerajaan tersebut sekarang dikenal dengan nama "Ballak Lompo"
Setelah I Mangi-Mangi wafat, beliau digantikan oleh putranya bernama Andi Ijo Daeng Mattawvang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir (1946-1950) yang merupakan Raja Gowa XXXVI. Beliau ini merupakan Raja Gowa terakhir. Selama masa pemerintahannya, ia meneruskan perjuangan pendahulunya hingga memasuki masa peralihan dari kerajaan ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Buku PROFIL SEJARAH BUDAYA DAN PARAWISATA GOWA merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar yang membahas tentang sejarah dan asal usul Gowa yakni masa sebelum kemerdekaan dan masa setelah kemerdekaan.
Profil tokoh-tokoh sejarah Gowa seperti: (1) Karaeng Tumapa'risi Kallonna (2) Daeng Pamatte' (3) Sultan Alauddin (4) Karaeng Pattingngalloang (5) Syekh Yusuf Tuanta Salamaka (6) Sultan Hasarnuddin (7) Karaeng Galesong (8) I Fatimah Daeng Takontu (9) Andi Idjo Karaeng Lalolang (10) Ranggong Daeng Romo.
Falsafah Budaya Makassar: (1) Falsafah Sirik na Pacce (2) Falsafah Sipakatau
Lagenda objek-objek wisata Gowa (1) Wisata Sejarah :
- Benteng Somba Opu
- Balla Lompoa ri Gowa
- Balla Lompoa ri Bajeng
- Rumah Tua di Buluttana Malino
- Makam Sultan Hasanuddin
- Makam Syekh Yusuf
- Mesjid Tua Katangka
- Bungung Barania ri Bajeng
- Gaukanga ri Bontonompo dan di Jipang
- Gedung Konferensi Malino
Penulis: Syahrul Yasin Limpo, Adi Suryadi Culla, Zainuddin Tika
Editor: HD. Mangemba, M. Jufri Tenribali
Penerbit: Pemerintah Daerah TK.II Gowa Kerja Sama Yayasan Eksponen 166 Gowa
Tempat Terbit: Sungguminasa-Gowa
Tahun Terbit: 1996

No comments:
Post a Comment