Showing posts with label Toraja. Show all posts
Showing posts with label Toraja. Show all posts

August 25, 2022

KUASA BERKAT DARI BELANTARA DAN LANGIT

Orang Toraja hidup di kawasan pegunungan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Akar-akar agama tua mereka, aluk toyolo, berasal dari masa sebelum agama Hindu dan agama Buddha masuk di Indonesia sekitar 1500 tahun lalu. Aluk toyolo memiliki ciri-ciri yang berhubungan dengan perbedaan antara unsur-unsur perempuan dan laki-laki. 

Buku KUASA BERKAT DARI BELANTARA DAN LANGIT membahas kosmologi dan klasifikasi ritual-ritual keagamaan Toraja Mamasa yang berhubungan dengan kepercayaan orang terhadap dewa-dewa serta berkat yang diharapkan oleh orang yang menjalankan ragam ritualnya. 

Pembahasan selanjutnya mengenai struktur kepercayaan lama orang Toraja, seperti ritual kematian, ritual perkawinan serta ritual kelahiran. Pada ritual kematian yang sangat khusus bagi golongan bangsawan dari kasta tinggi, yaitu pendirian tugu-tugu batu, yang menegaskan status khusus dari yang meninggal itu semasa hidupnya.

Beberapa ritual sebagai upaya memahami struktur dalam upaya memahami struktur kepercayaan orang Toraja, ritual tersebut antara lain: ma'dondi, mekolong dan pa'bisuan.

  • Ma'dondi: ritual yang berlangsung di sawah di mana wanita mengundang laki-laki dengan memberi isyarat untuk berpartisipasi dengan mereka
  • Mekolong: ritual yang memisahkan ritual kematian dan ritual kehidupan. 
  • Pa'bisuan: ritual perempuan yang dipimpin oleh pendeta perempuan toburake di mana perempuan bergabung dengan dewa-dewa belantara.

Selain itu juga membahas fungsi dan jabatan dari imam perempuan, toburake, yang memimpin ritual-ritual tersebut. Terdapat pula ritual 'berburu kepala' oleh kaum laki-laki, bulu londong, yang masih dijalankan di daerah Mamasa. 

Buku ini merupakan hasil studi antropologi yang dipertahankan di Up Leiden, Belanda, pada tahun 2004 dengan judul Powers of E from the Wilderness and from Heaven. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7- Makassar.


KUASA BERKAT DARI BELANTARA DAN LANGIT
Struktur dan Transformasi Agama Orang Toraja
di Mamasa Sulawesi Barat

Judul asli: Powers of transformations in the religion of the Toraja
in the Mamasa area South Sulawesi

Penulis: Kees Buijs
Penerjemah: Ronald Arulangi
Penerbit: Ininnawa
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2009
ISBN: 978-602-95231-2-6


March 9, 2022

TORAJA: SIMBOLISME UNSUR VISUAL RUMAH TRADISIONAL

Kepercayaan Aluk Todolo pada hakikatnya merupakan suatu kepercayaan animis berdasarkan mitos dan legenda leluhur orang Toraja, yang mengakui dan menyembah roh-roh yang disebut Puang Matua, Deata-deata, dan Tomembali Puang (Todolo). Kepercayaan ini melahirkan empat tingkatan (pela pisan) sosial dalam masyarakat tradisional Toraja, yaitu bangsawan tinggi (tana' bulaan), bangsawan menengah (tana' bassi), rakyat biasa (tana' karurung), dan hamba sahaja (tana' kua-kua).

Dalam melaksanakan ritual upacara-upacara adat Aluk Todolo selalu diawali dengan melakukan penyembahan da pemujaan kepada Todolo (leluhur). Hal ini merupakan penghormatan berlebihan yang melahirkan suatu sikap peng'kultus'-an terhadap leluhur, yang selanjutnya mengakibatkan segala mitos dan legenda yang disampaikan oleh orang-orang tua menjadi suatu kebenaran yang mutlak dan diterima sebagai dogma yang tidak dapat ditentang kebenarannya, seperti aturan-aturan adat, ataupun asal-usul nenek moyang mereka dan keberadaan Tongkonan dalam kaitan dengan Aluk Todolo.

Bangunan Tongkonan merupakan representasi dari budaya kepercayaan Aluk Todolo dan dianggap sebagai mikrokosmos. Tongkonan adalah rumah yang hanya dimiliki oleh keluarga bangsawan Toraja, mempunyai fungsi adat dalam kaitannya dengan kepercayaan Aluk Todolo, selain sebagai tempat tinggal penguasa adat/bangsawan (dahulu) juga berfungsi sebagai pusat penyelenggaraan upacara adat yang religius yaitu pesta adat: Rambu Tuka dan Rambu Solo.

Budaya 'perahu' pernah dikenal oleh masyarakat Toraja yang dapat dibuktikan dengan: adanya bentuk erong (peti mati) yang mirip dengan bentuk perahu, yang menurut kepercayaan Aluk Todolo dianggap sebagai 'kendaraan’ orang  mati menuju alam puya (alam sesudah mati); perbendaharaan kata puang lembang (puang = yang empunya; lembang = perahu) yang dahulu dipakai untuk menyebut pimpinan kelompok orang berperahu yang datang ke Toraja. Istilah lembang itu masih dapat ditemukan dan tetap digunakan sampai sekarang di bagian utara dan selatan Toraja, meskipun arti kata itu sudah bermakna lain yaitu wilayah atau daerah kecamatan. 

Oleh karena itu, orang Toraja sendiri pada saat ini mengartikan bentuk atap Tongkonan sebagai abstraksi dari bentuk perahu; istilah tulak somba yang dipakai oleh orang-orang pesisir untuk menamakan 'tiang utama' perahu mereka, juga dipakai untuk memberikan predikat pada tiang penyangga Longa (atap rumah bagian depan dan belakang yang menjulang ke atas) pada bangunan Tongkonan; bentuk arsitektural Tongkonan memperlihatkan kemiripan dengan bentuk 'perahu upacara' dengan penutup atap melengkung yang sedang disimpan seperti yang terdapat di pesisir pantai di Ceylon. 

Buku TORAJA: SIMBOLISME UNSUR VISUAL RUMAH TRADISIONAL memotret budaya Toraja masa lalu dengan membandingkan keadaannya di masa kini yang telah mengalami pergeseran nilai dalam pandangan umum masyarakat. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


TORAJA: SIMBOLISME UNSUR VISUAL RUMAH TRADISIONAL
Penulis: Abdul Azis Said
Editor: M. Nursam
Penerbit: Ombak
Tahun Terbit: 2004
ISBN: 979-3472-4-6




November 3, 2021

TARI PA'GELLU': MAKNA DAN KESEIMBANGAN HIDUP

Pa' gellu' berasal dari bahasa Toraja, dapat diartikan sebagai menari-menari dengan riang gembira sambil menggerakkan tangan dan badan bergoyang dengan gemulai. Konsep dasar tari Pa'gellu adalah hiburan dan bersifat rekreatif, biasanya dilakukan untuk menyambut tamu terhormat. Rasanya kurang lengkap sebuah pesta keramaian tanpa menyaksikan tari Pa'gellu'.

Orang Toraja yang sangat dominan dengan upacara Rambu Solo, sebuah upacara kematian dengan mengorbankan kerbau dan babi dengan jumlah yang besar. Bagi orang Toraja, terdapat keseimbangan hidup antara suka dan duka di mana keduanya bagian integral dari proses kehidupan. Ungkapan rasa duka dimanifestasikan dalam bentuk nyanyian ratapan atau ma'badong dan saat senang, gembira  ma'gellu, ma' boneballa, dan mallambu pare. Tariataran ini tidak boleh dilakukan pada saat upacara kematian. Oleh karena itu, kehadiran tari pa'gellu adalah sebuah manifestasi kegembiraan yang diekspresikan dalam bentuk gerak yang lembut dengan alunan musik tradisional.

Tari pa'gellu' digelar di halaman rumah atau di depan tamu agung. Orang menari kapan saja diminta oleh yang punya hajatan, baik pada siang hari maupun pada malam hari. Dibandingkan dengan tarian Toraja lainnya, tari pa'gellu' banyak mempunyai ruang dan waktu dipertontonkan. Tari pa'gellu' dilakukan oleh lima atau tiga orang gadis. Akan tetapi jika seorang penari memiliki anggota keluarga yang meninggal dan belum dimakamkan, maka ia tidak diperbolehkan menari karena dianggap masih berduka. Konsep ini memperlihatkan bahwa orang Toraja memiliki cara pandang hidup ini yang memiliki sisinya tersendiri. Suka dan duka, di dalamnya terdapat apresiasi penuh dan harus didedikasikan pada tempatnya masing-masing.

Tari pa'gellu' dilakukan oleh wanita dengan memakai pakaian khas Toraja dan aksesoris juga khas Toraja. Gerakan-gerakan mengikuti irama gendang yang ditabuh oleh beberapa pria. Tari ini merupakan satu tarian tradisional Toraja yang berkembang sejalan perkembangan zaman. 

Tari ini termasuk kelompok tari pujaan yang merupakan ungkapan syukur. Terdapat 12 (dua belas) gerakan utama sebagai filosofi hidup dan etos kerja orang Toraja. Gerakan-gerakan dalam tarian ini mengandung makna yang demikian mendalam, seperti 

Ma'tabe': Geran ini mengandung nilai kesopanan, nilai luhur keimanan, nilai kesalehan dan nilai kesadaran sosial.

Pa'dena'-dena': Gerakan ini memberi makna hidup yang perlunya mengedepankan kerja sama dan saling memberi jalan dan ruang. Kebersamaan dan kesatuan adalah segalanya.

Pa'gellu' tua: Gerakan ini memberikan makna tidak boleh melupakan jasa-jasa baik orang telah membesarkan, menumbuhkembangkan hidup, menolong dan menopang hidup, menolong dan menopang hidup kita saat masih lemah dan tak berdaya.

Pa'kaa-kaa bale: Gerakan ini memberikan makna bertindak bijaksana dalam menghadapi setiap persoalan hidup. Jangan ada yang tergusur dan terlanggar haknya karena tindakan kita dan menghindar dari potensi terjadinya konflik dengan menghindar.

Pa'tulekken: Gerakan ini memberikan makna hidup dijalani dengan kesadaran dan keserasian.

Pa'langkan-langkan: Gerakan ini memberikan makna masalah tidak boleh dihindari tetapi diambil manfaat dari tantangan hidup dan keluar dari masalah hidup yang dihadapi.

Passiri: Gerakan ini memberi makna wanita tetap pada kodratnya yakni menikah, mengandung dan melahirkan serta membesarkan anaknya.

Pangallo: Gerakan ini memberi makna manusia dalam bertingkah laku harus terbuka dan transparan dalam hidup sehingga menjadi orang yang bertanggung jawab.

Panggirikan tang tarru: Gerakan ini memberi makna manusia harus punya batas dan pengendalian diri, ada aturan yang harus ditegakkan yang membatasi kesewenang-wenangan.

Pa'lalok pao: Gerakan ini memberi makna dalam bergaul tidak boleh kaku dan berat karena hanya dengan bergaul dapat mengembangkan diri dengan baik.

Pangrapanan atau pelepasan: Gerakan ini memberi makna manusia senantiasa sadar akan kekurangan dan kelebihannya.

Buku TARI PA'GELLU: MAKNA DAN KESEIMBANGAN HIDUP merupakan tari tradisional yang tidak hanya sekedar kumpulan gerakan, tetapi didalamnya mengandung nilai-nilai tinggi yang menggambarkan dinamika kebudayaan masyarakat Toraja. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


TARI PA'GELLU: MAKNA DAN KESEIMBANGAN HIDUP
Penulis: Simon Petrus
Penerbit: Balai Pelesatrian Nilai Budaya Makassar.
Tempat Terbit: Makassar




January 12, 2021

DAMPAK MODERNISASI TERHADAP HUBUNGAN KEKERABATAN DAERAH SULAWESI SELATAN

Masyarakat Sulawesi Selatan merupakan masyarakat majemuk, terdiri atas empat suku bangsa, yaitu suku bangsa Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Setiap suku bangsa tersebut di atas secara geografis menempati wilayah-wilayah tertentu dalam keadaan terpisah-pisah, dimana masing-masing membentuk kelompok sosial serta mengembangkan kebudayaannya sendiri-sendiri. Kelompok-kelompok sosial ini memiliki pula norma-norma sosial tersendiri yang senantiasa mengatur pola tingkah laku mereka dalam hubungan bermasyarakat. Norma-norma umumnya bersumber dari adanya istiadat maupun agama, kebiasaan serta nilai-nilai sosial lainnya yang ada.

Kebudayaan Sulawesi Selatan yang menyangkut kenyataan/pola aktual dalam hal-hal yang berkaitan hubungan kekerabatan pada masyarakat suku bangsa di Sulawesi Selatan dengan fokus perhatian yang dititik beratkan kepada suatu kompleks masalah, menyangku: lapangan pekerjaan; hubungan kekerabatan serta pegeseran kedudukan dan peranan individu-individu dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga sebagai unit sosial, setelah mendapat pengaruh dari unsur modernisasi khusunya suku bangsa Toraja yang bertempat tinggal di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu Kota Ujung Pandang.

Buku DAMPAK MODERNISASI TERHADAP HUBUNGAN KEKERABATAN DAERAH SULAWESI SELATAN menjelaskan tentang penyesuaian diri orang-orang Toraja terhadap pola kehidupan kota, terutama yang berkaitan dengan lapangan kerja telah mengalami pula perubahan pola hubungan kekerabatan mereka, perubahan-perubahan itu sendiri, seperti dalam kenyataannya telah menimbulkan terjadinya pergeseran-pergeseran, baik menyangkut kedudukan maupun peranan dan orientasi terhadap kerabat dalam lingkungan keluarga suku bangsa orang Toraja di daerah Sulawesi Selatan. Buku tersebut membahas lima bab. 

Bab pertama merupakan pendahuluan, termuat uraian tentang: masalah tujuan; ruang lingkup; dan pertanggungan jawab penelitian. Selanjutnya Bab dua beisikan: pandangan penduduk suku bangsa Toraja baik di daerah asal maupun di Ujung Pandang: sistem mata pencarian dan sistem kekerabatan mereka. Pada Bab tiga diuraikan mengenai lapangan kerja; tenaga kerja; pola pemukiman tenaga kerja dan sifat hubungan dan kesempatan kerja. Setelah itu, Bab empat menguraikan mengenai hubungan kekerabatan orang Toraja di Ujung Pandang, berisi: pola hubungan kekerabatan dalam rumah tangga; hubungan kekerabatan diluar keluarga batih; hubungan kekerabatan dalam keluarga luas. Akhirnya Bab lima: mengemukakan beberapa analisa yang terdiri atas: pergeseran kedudukan dan peranan suami; pergeseran kedudukan dan peranan isteri; dan pergeseran kedudukan dan peranan isteri; dan pergeseran kedudukan dan peranan anak dalam lingkungan keluarga.

Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala'salapang, Makassar membahas mengenai pola hubungan kekerabatan suku bangsa Toraja mulai dari jenis-jenis lapangan kerja sampai mengenai pergeseran kedudukan dan peranan individu dalam lingkungan keluarga dan rumah tangga pada masyarakat suku bangsa Toraja di Kota Ujung Pandang yang timbul karena pengaruh dari perkembangan lapangan dan kesempatan kerja. 


DAMPAK MODERNISASI TERHADAP HUBUNGAN KEKERABATAN 
DAERAH SULAWESI SELATAN
Penulis: Pananrangi Hamid, M. As'ad Bua, Malik Djumali, et. al
Penerbit: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1986



January 6, 2021

SENI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN


Sejak masuknya Islam sekitar abad XVI, tradisi Masyarakat Sulawesi Selatan, sangat dipengaruhi oleh tatanan dan nilai ajaran Islam yang menjadi panutan masyarakat melalui pendekatan kekuasaan. Islam diterima dan disebarkan melalui pendekatan raja-raja, sehingga secara cepat mempengaruhi tatanan sosial, masyarakat yang akhirnya membentuk tradisi baru atau terjadi alkulturasi tradisi dan akhirnya mewarnai budaya Sulawesi Selatan.

Seni tradisional, bertahan, tumbuh, berkembang dan melekat pada tradisi masyarakat sesuai perkembangan zamannya. Namun yang penting ditegaskan bahwa, seni tradisional selalu memiliki makna religius. Memiliki makna spritual yang dalam, karena hakekat tradisi masyarakat Sulawesi Selatan yang religius, terutama setelah masuknya pengaruh Islam.

Seni tradisional yang semula milik kerajaan dan dilakonkan oleh para "Bissu" serta petugas-petugas kerajaan, kemudian keluar dari lingkungan istana menjadi milik masyarakat luas, hingga kini melekat dalam komunitas adat atau kelompok masyarakat sesuai rumpun budayanya, sebab sistem pemerintahan 'adat' telah melebur dalam pemerintahan modern di Republik Indonesia.

Buku SENI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN membahas seni tradisi Sulawesi Selatan dan kilas balik seni tradisional yang terdiri dari 4 (empat) rumpun serta prospek dan masalah seni tradisional Sulawesi Selatan. Berikut peta seni tradisional Sulawesi Selatan berdasarkan rumpun:

Rumpun Bugis

  • Pajaga Makkunrai
  • Pajago Angkong
  • Sere Bissu Manggiri
  • Sere Bissu
  • Maddoja Bine
  • Pejaga Bone Balla
  • Tari Pangayo
  • Kaliao
  • Pasere
  • Mappadendang Ogi
Rumpun Makassar
  • Upacara Adat Gaukang
  • Salonreng
  • Paddekko
  • Sere Jaga
  • Dengka Tulembang
    Kondo Buleng
  • Gandrang Bulo
  • Pa'sempa
Rumpun Mandar
  • Tudduq Sarabadang
  • Sayyang Patuddu
  • Tari Pallake
  • Mappande Banua
Rumpun Toraja
  • Pa'randing
  • Pa'gellu
  • Ma'badong
  • Ma'papangan
  • Burake
Selain itu alat musik tradisional Sulawesi Selatan:
  • Kecapi
  • Suling Bulatta
  • Gesong Kesong
  • Bacing-Pacing
  • Gendrang Ogi
  • Anak Baccing
  • Appo
  • Suling Lembang
  • Gandang Simbuang
  • Pompang
Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar untuk menumbuhkan kesadaran semua pihak untuk menjadikan Seni Tradisional Sulawesi Selatan sebagai sumber gerakan pembelajaran dalam menggali dan mengungkap serta mengembangkan nilai luhur budaya lokal Sulawesi Selatan.


SENI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN
Penyusun: Goenawan Monoharto, Nurlina Syahrir, Pangeran Paita Yunus, et al
Penerbit: Lamacca Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2005
ISBN: 979-97452-0-9

August 5, 2020

GELONG SANGPULO DUA HASIL SASTRA LISAN TORAJA



Suku Toraja di daerah Sulawesi Selatan tidak mempunyai tradisi tertulis. Meskipun demikian, suku ini mempunyai hasil sastra lisan tertentu yang dapat ditemukan di seluruh daerah kediaman suku ini dalam versi-versi daerah masing-masing. Hasil sastra lisan itu diceritakan oleh tua-tua adat setempat pada waktu sedang melaksanakan upacara penguburan jenazah orang mati. Sebahagian daripada hasil sastra itu bahkan menjadi bahagian yang utama dalam upacara pelaksanaan upacara itu, antara lain diucapkan atau dinyanyikan sambil melaksanakan acaranya.

“Gelong Sangpulo Dua” ‘dua belas nyanyian’ yang tersebar di seluruh daerah kediaman suku ini dengan versi-versi tersendiri namun dengan inti yang sama dan juga dengan fungsi yang sama yakni bahwa nyanyian itu dilagukan sambil menari dalam upacara itu di Makale disebut “maqbigiq”, di daerah Kasuq, Rantepao disebut “maro” dan di daerah Saqdan, Rantepao disebut “maqbate”. Gelong Sangpolu Dua tersebut masih dapat didengarkan dari tua-tua adat setempat di daerah ini yang dikenal dengan panggilan Tominawa ‘ahli adat”.

Buku GELONG SANGPULO DUA –HASIL SASTRA LISAN TORAJA memuat transkripsi dan terjemahan jenis-jenis Gelong Sangpulo Dua : Gelong Maro (Gelong Bugiq), Gelong Tallang, Gelong Tabang, Gelong Tondok, Gelong Pare, Gelong Tedong, Gelong Api, dan Gelong Banua.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassar merupakan bahagian dari bentuk sastra lisan warisan budaya turun temurun dan mempunyai nilai-nilai luhur yang perlu dilestarikan dalam pengembangan budaya nasional.

TRANSKRIPSI DAN TERJEMAHAN
GELONG SANGPULO DUA –HASIL SASTRA LISAN TORAJA
Team Peneliti: J.S. Sande, C. Salombe, L.T. Tangdilintin, C. Parinding
Penerbit: Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan LaGaligo
Penerbit: CV. Persatuan Muliyah Karsa
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1986

February 20, 2020

Toraja Warisan Dunia




Buku : Toraja Warisan Dunia
Penulis : Muhammad Natsir Sitonda
Penerbit : Pustaka Refleksi, Makassar 2007
Jumlah Halaman:  viii + 96
ISBN : 979-3570-15-6

Toraja dengan segala keunikan adat istiadatnya adalah pokok bahasan buku ini. Keunikan adat istiadat Toraja ini sudah sangat terkenal di Nusantara bahkan sudah mendunia dan menjadi World Heritage (Warisan Dunia). Penulisan buku ini dimaksudkan sebagai bahan sumber informasi bagi siapa saja yang berminat mengetahui adat dan budaya Toraja.

Diawali dengan asal usul ethnic Toraja, tentang kedatangan leluhur merka dari selatan melalui Sungai Saddang. Pada bagian ini, penulis mengutip hasil penelitian ahli Antropologi Budaya dari Universitas Hasanuddin Makassar, C. Salombe tentang asal muasal suku Toraja, dari sumber cerita rakyat dan tradisi lainnya. 

Pada bagian selanjutnya, penulis membahas bagaimana suatu daerah, suku, situs atau adat budaya bisa menjadi Warisan Dunia (World Heritage) dengan mengajukan kriteria tertentu sehingga layak disebut warisan dunia.  Juga dibahas contoh warisan dunia yang ada di Indonesia misalnya Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Komodo, Sangirang, Borobudur, Prambanan dan lain lain.
Peninggalan budaya, situs dan monumen sebagai bagian dari suatu warisan dunia. Peninggalan leluhur Toraja, misalnya bangunan Rumah, lumbung padi, tempat persemayaman mayat, menhir, patung, rante (tempat upacara), dan upacara adat. 

Pada bagian akhir, dibahas tentang upacara adat Rambu solo dan prosesnya. Dimulai dari pertemuan keluarga, pembuatan pondok upacara, persediaan peralatan upacara, petugas upacara, perataan upacara pemakaman, termasuk kegiatan yang dilaksanakan selama 4 hari perkabungan.
Buku ini bisa menjadi sumber inforamasi yang tepat bagi siapa saja yang tertarik meneliti tentang adat budaya Toraja, terutama tradisi kematian (Rambu Solo) yang unik. 

Buku koleksi Perputakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.