Semenjak kedatangan Belanda di Indonesia, sejak itu pula selalu mendapatkan perlawanan dari raja-raja. Keadaan inilah yang mendorong pemerintah Belanda berusaha mempelajari keadaan dan kondisi setiap daerah yang dikunjungi. Sehingga kedatangannya di daerah Pemerintahan Kerajaan Datu Soppeng dengan saksama terlebih dahulu berusaha mendapatkan informasi tentang letak atau pusat pangkalan dari Menteri/Panglima Angkatan Perang Datu Soppeng, yaitu Watan Lipu La Palloge.
Dalam usaha mempertahankan kedaulatan Kerajaan Soppeng terhadap campur tangan pemerintah Kolonial Belanda, maka La Palloge selaku Menteri/Panglima Kerajaan Soppeng sangat menentang kehadiran Belanda dalam daerah kekuasaan Kerajaan Soppeng. Hal ini didasarkan oleh beberapa faktor, seperti politik, ekonomi dan sosial budaya.
Dalam menghadapi pasukan militer Belanda, sistem perlawanan yang digunakan oleh La Palloge, ada tiga macam yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketiga macam bentuk perlawanan tersebut adalah penggalangan massa, taktik dan strategi perang gerilya dan bekerja sama dengan raja-raja terutama dari daerah daerah terdekat. Sistem penggalangan massa, yaitu dengan cara menggalang persatuan bersama rakyat dengan membentuk pasukan inti atau pasukan khusus, yaitu pasukan pembunuh yang berani mati yang tidak kenal mundur atau menyerah, dikenal dengan nama pasukan passiuno.
Sedangkan taktik dan strategi sistem perang gerilya yaitu menghindari pertempuran secara frontal dengan pasukan militer Belanda yang memiliki peralatan persenjataan yang lebih lengkap dan modern serta dengan taktik perang yang sudah cukup terlatih dan berpengalaman di medan perang.
Selanjutnya sistem kerja sama dengan raja-raja di Sulawesi Selatan yang juga menentang kehadiran imperialisme dan kolonialisme Belanda, terutama hubungan raja-raja terdekat.
Pasukan La Palloge berusaha menempati tempat-tempat yang strategis, seperti pada puncak puncak gunung atau tempat ketinggian serta persimpangan persimpangan jalan yang diperkirakan akan dilewati pasukan tentara Belanda. dalam usahanya menyerang untuk merebut pusat pertahanan La Palloge.
Demikian pula, penggalangan massa dalam rangka propaganda untuk melakukan perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme Belanda tersebut tidak mengalami kesulitan, karena di kalangan masyarakat daerah wilayah kerajaan Soppeng, masih sangat kuat berlaku budaya panutan yang lazim disebut "Polo pang, polo panni, assalaeng puangkumuwa, narekko naposirini puatta, napomatennitu joana". Artinya, saya merelakan paha dan sayap atau tangan saya patah, asalkan demi membela rajaku/pemimpinku, kalau rajaku sudah merasakan sesuatu yang memalukan, maka rakyat/pengikutnya sudah harus bersedia mati.
Buku PERLAWANAN LAPPALOGE WATANLIPU/PANGLIMA PERANG KERAJAAN SOPPENG TERHADAP BELANDA membahas perlawanan pahlawan khususnya putera-putera Soppeng yang telah berjasa dan berkorban demi membela dan mempertahankan bangsa dan daerahnya dari serangan-serangan kerajaan lain atau bangsa lain. Buku ini merupakan salah sati koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
Penulis: Nonci
Penerbit: CV. Aksara
Tempat Terbit: Makassar

No comments:
Post a Comment