La Toa merupakan sastra yang berbentuk prosa seperti istirahara, Indra Putra, Saehe Maradang dan sebagainya. Sedangkan puisi adalah sastra yang bersifat terikat, memiliki syarat-syarat tertentu, khususnya puisi klasik "gubahan Galigo". Gubahan Galigo terdiri dari tiga baris, masing-masing baris terdiri dari delapan, tujuh, enam (8,7,6) huruf aksara lontara. Jenis-jenisnya antara lain: Galigo, Elong, Moseng, Enjaeja, Ulu Ada dan termasuk Tolok, Meongpalo, Manajeng dan sebagainya.
Salah satu sastra yang berbentuk puisi yang perlu diangkat adalah "Surek Manajeng To Gagaggana Tana Wajo". Manajeng adalah salah satu bentuk karya sastra daerah di daerah etnis Bugis yang bertendensi roman (roman Bugis). Bahasanya indah menarik dan termasuk puisi yang memiliki syarat-syarat tertentu. Manajeng merupakan untaian kalimat bersambung seperti bacaan yang berbentuk prosa. Pada Manajeng, setiap kalimatnya terdiri atas delapan (8) huruf aksara lontarak, sama dengan Tolok dan Meongpalo Karellae.
Buku SUREK MANAJENG TOGAGGANA TANA WAJO Transliterasi dan Terjemahan Naskah Tua merupakan milik I Seni (almarhuma), tante saudara Muhammad Hatta yang berdomisili di Siwa. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
Isi Surek Manajeng bersifat romantis. Mempunyai hubungan erat dengan suasana hati, perasaan dan pikiran bagi orang yang melahirkannya. Kata- katanya amat halus, indah dan menarik. Kalimatnya padat dan tepat kepada sasarannya. Sebab itu surek Manajeng merupakan media komunikasi untuk mencurahkan perasaan dan pikiran kepada seseorang. Pemegang peran dalam Manajeng tersebut, ialah seorang bangsawan yang terpikat hatinya terhadap seorang gadis pujaan yang bernama Bunga Sitambol. Informasi di kalangan keluarga terdekat I Seni, menyebutkan bahwa bangsawan di maksud adalah turunan Petta Ranreng Talotenreng Andi Samalangi. Dia memiliki beberap nama samaran dengan gelar: arung lolo magaggae, passaung lele pojie, betta lele angkurue, puanna sengerengede. Kesemuanya itu bermakna gagah, yakni bahasa yang benilai sastra.
Transliterasi dan Terjemahan Naskah Tua
Penulis: H. Palippui, Muhammad Hatta, Aminuddin Palippui
Penerbit: Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1993

No comments:
Post a Comment